Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Mamanya Vira menghubungi Ryan


__ADS_3

Mereka bertiga duduk ditempat yang baru saja ditinggal oleh pembeli, Sebelum duduk Sari membereskan dan mengelap meja itu setelah itu membawa piring ke belakang untuk dicuci. Selesai dengan pekerjaannya Sari duduk lagi sambil menunggu pembeli yang lain karena tugasnya hanya membersihkan meja dan piring.


"Sar, aku bisa minta bantuan kamu gak?"kata Lydia yang teringat dengan janjinya pada ibu dan dua anaknya tadi.


"Memangnya mbak mau minta bantuan apa kalau aku bisa bantu akan aku bantu?"kata Sari.


"Kamu liburnya masih lama gak? Atau kamu bisa ajak teman kamu buat ajari anak-anak yang tinggal didekat tempat pembuangan sampah."kata Lydia berharap pada Sari.


"Aku sih mau mau saja tapi apa mereka mau aku ajari? Aku gak mau dianggap sok pintar mbak?"kata Sari mengatakan ketakutannya.


"Besok sebelum aku pulang ke Jakarta aku akan ajak kamu kesana buat kenalan sama mereka bagaimana?"kata Lydia.


"Memangnya mbak kenal sama salah satu anak disana?"kata Sari.


"Gak kenal amat sih, baru tadi aku bertemu dengan anak itu dan ibunya. Dia minta aku buat ajari membaca dan menulis karena mereka tak ada biaya untuk bersekolah."kata Lydia.


"Baiklah besok aku ajak Tami siapa tau dia mau, mumpung dia juga libur sekolah."kata Sari semangat.


"Makasih ya kamu sudah mau bantu aku."kata Lydia.


"Kayak sama siapa saja, mbak pria tampan sebelah mbak ini siapa?"kata Sari yang penasaran sejak tadi.


"Dia kak Ryan suamiku."kata Lydia.


"Mbak sudah menikah, kapan mbak menikah kok aku gak tau?"kata Sari.


"Baru kemarin kami menikah."kata Lydia.


"Hai kak aku Sari adik ketemu gedenya mbak Lydia dan mbak Widya."kata Sari sambil tersenyum.


"Kamu kenal dengan Widya?"kata Ryan.


"Iya mereka berdualah yang menyemangatiku untuk mencapai cita-citaku padahal aku dulu sudah putus asa."kata Sari membuat Ryan tersenyum.


Saat Ryan mau bertanya lagi Sari dipanggil oleh ibunya karena pesanan mereka berdua sudah jadi. Sari membawakan pesanan mereka setelah memberikannya pada Lydia dan Ryan mereka meninggalkan kedua pengantin baru itu. Lydia menikmati sate itu dengan sangat lahap membuat Ryan tersenyum. Ryan bukannya makan tapi malah melihat istrinya itu, Ryan lupa kalau tadi sedang kesal dengan istrinya itu.


"Kak.."kata Lydia yang baru sadar kalau suaminya itu sedang memdanginya.


"Ada apa?"kata Ryan yang terkejut saat Lydia memanggilnya.


"Kok gak makan, gak suka ya? Kalau gak suka buat aku saja boleh?"kata Lydia.


"Memangnya kamu belum kenyang?"kata Ryan.


"Belum, soalnya satenya bapak enak banget. Lagian nanti pasti lama lagi aku akan datang kesini lagi."kata Lydia.


"Ya sudah nih makan punyaku."kata Ryan memberikan satenya pada Lydia.


"Makasih kak, bu..."kata Lydia memanggil ibu penjual sate.

__ADS_1


"Ada apa nduk?"kata ibu.


"Satu porsi lagi ya?"kata Lydia sambil tersenyum.


"Iya, kamu ini tumben makan banyak? Jangan bilang kalau kamu hamil?"kata ibu.


"Doain saja bu, tapi aku gak hamil kok bu. Masak pms bisa hamil bu?"kata Lydia.


"Kamu ini pantas saja makanmu banyak, ibu doakan semoga cepat punya momongan."kata ibu.


"Amiin... Jangan lupa satu lagi ya bu."kata Lydia.


"Iya, tunggu sebentar. Itu mbok ya dibagi dulu sama suaminya kasian pasti dia lapar."kata ibu.


"Hehehe, iya bu gak jadi satu, dua porsi lagi ya bu."kata Lydia.


"Sayang memangnya habis?"kata Ryan.


"Habis tenang saja perutku ini karet kok."kata Lydia.


"Terserahmu deh."kata Ryan.


"Tunggu dulu ya."kata ibu penjual sate sambil pergi darisana.


Lydia setelah kepergian ibu penjual sate kembali fokus dengan satenya sedangkan Ryan hanya memandanginya saja. Saat dia sedang memadang Lydia terdengar ponselnya berbunyi. Ryan mengambil ponselnya ternyata itu dari no tak dikenal, Ryan mengangkat panggilan itu karena dia penasaran siapa yang menghubunginya.


[Hallo Asalamualaikum...]


[Iya ini saya Ryan, kalau saya boleh tau ini siapa ya?]


[Nak ini tante mira nak, ibunya Vira nak Ryan masih ingat sama tantekan?]


[Oh ya tan, ada yang bisa Ryan bantu?]


[Nak tolong nak tolong nikahi Vira.]


[Maksut tante menikahi Vira?]


Saat Ryan berkata Lydia tersedak makanannya membuat Ryan mengelus punggung istrinya setelah itu memberikan teh anget miliknya pada Lydia dengan mengunakan tangannya yang bebas. Lydia memandang Ryan tapi pria itu malah memilih fokus dengan panggilannya membuat Lydia kesal dan akhirnya tak meneruskan memakan satenya memilih pergi untuk cuci tangan dan bilang sama bapak untuk membungkus saja sate yang dia pesan kedua kalinya tadi. Ryan yang melihat Lydia pergi hanya menghera nafasnya, Lydia setelah berkata pada bapak kembali duduk didekat Ryan.


[Vira hamil nak, tante gak mau kalau Vira hamil tanpa seorang suami apa kata tetangga nanti nak.]


[Bukannya seharusnya tante meminta tanggungjawab pada orang yang menghamili Vira?]


[Pria itu tak mau tanggungjawab Yan, katanya anak itu bukan anaknya.]


[Maaf tan, saya hanya bisa membantu untuk pria itu bertanggungjawab pada Vira kalau untuk menikah saya gak bisa karena saya sudah menikah.]


[Kamu bohongkan nak karena yang tante dengar kamu belum menikah?]

__ADS_1


[Saya sudah menikah tan, maaf saya tutup dulu panggilannya. Tapi saya janji untuk membantu Vira agar pria itu mau bertanggungjawab.]


Ryan mematikan panggilan itu setelah itu memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya. Ryan memandang Lydia yang sekarang sibuk dengan ponselnya tak meneruskan makan satenya padahal satenya masih beberapa biji.


"Kok gak dimakan lagi?"kata Ryan.


"Sudah gak ada mood."kata Lydia sibuk dengan ponselnya.


"Biar aku makan boleh aku lapar nih?"kata Ryan.


"Makan saja, tapi kalau sate yang aku pesan jadi nanti langsung pulang."kata Lydia.


"Kamu gak kasian sama aku yang kelaperan ini?"kata Ryan.


"Gak siapa suruh daritadi gak makan."kata Lydia.


"Baiklah, aku makan dulu."kata Ryan.


"Hmmm."kata Lydia yang fokus dengan ponselnya.


Ryan benar-benar gak peka kalau Lydia sedang kesal, Ryan menikmati makan satenya karena dia kelaperan banget membuat Lydia semakin kesal. Tapi walaupun kesal dia juga merasa kasian saat melihat Ryan yang makan dengan sangat lahap seperti orang kelaparan. Lydia diam-diam mengambil video saat Ryan sedang makan. Saat Ryan selesai dengan makannya bertepatan dengan sate yang dipesan oleh Lydia. Ryan mencuci tangannya sedangkan Lydia membayar makanan mereka karena Ryan memberikan dompetnya pada Lydia. Lydia saat membuka dompet Ryan kaget karena didalamnya ada fotonya yang sedang mengendong Dara.


"Ada apa?"kata Ryan.


"Gak papa."kata Lydia.


"Sudah selesai?"kata Ryan.


"Sudah."kata Lydia.


"Mau kemana lagi habis ini?"kata Ryan.


"Duduk ditaman sana ya, aku kekenyangan mau jalan malas."kata Lydia.


"Ya sudah ayo, tapi beliin aku air mineral boleh?"kata Ryan.


"Mau yang botol apa gelas?"kata Lydia.


"Yang botol saja."kata Ryan.


"Dingin atau gak?"kata Lydia.


"Gak."kata Lydia.


"Bu, ada air mineral botolan gak?"kata Lydia.


"Ada nduk, mau yang dingin atau gak?"kata ibu.


"Gak bu, 1 ya bu."kata Lydia.

__ADS_1


Lydia setelah membeli air mineral mengajak Ryan berjalan ketaman lalu saat ada tempat duduk kosong mereka berdua duduk disana. Saat mereka duduk tak ada yang berbicara karena mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing. Ryan sibuk menghubungi Dayat sedangkan Lydia sibuk berkirim pesan dengan Sandra.


__ADS_2