
Mereka setelah melihat matahari tenggelam langsung saja bergegas untuk pulang ke rumah pamannya Roni. Mereka akan ingin mandi setelah itu langsung saja berangkat untuk pulang ke Jakarta agar mereka sampai rumah tak kemalaman agar besok saat bekerja mereka tak kecapekaan.
Sampai dirumah paman Roni mereka langsung minta izin untuk membersihkan badan mereka. Saat Lydia sedang mandi Rani datang ke kamar mereka, dia ingin tanya apa mereka berempat jadi pulang sore ini.
"Ada apa Ran?"kata Sandra yang melihat Rani masuk.
"Kalian jadi pulang sore ini?"kata Rani.
"Iya, kami habis mandi mau langsung berangkat kembali ke Jakarta."kata Sandra.
"Maafin aku ya gara-gara aku sama Roni kalian gak jadi jalan-jalan."kata Rani sedih.
"Sudah gak papa lagian kami sudah senang kok tadi sudah liat pemandangan indah, apalagi melihat kedua teman kami menikah rasanya bahagiannya melebihi apapun."kata Sandra.
"Iya lagian itukan gak direncanaiin jadi kamu gak perlu minta maaf."kata Ita.
"Eh lagi ngomongin apasih?"kata Lydia yang baru keluar dari kamar mandi.
"Lagi ngomongin kamu."kata Rani berbohong.
"Memangnya ada apa denganku?"kata Lydia penasaran.
"Kamu setelah ini rencananya mau cari kekasih baru atau mau gimana?"kata Rani yang membuat kedua temannya terkejut karena Rani mngingatkan tentang Rayyan.
"Aku mau fokus kerja kuliah dan jalan-jalan."kata Lydia.
"Wah itu bagus malah akan buat kita bahagia setiap saat."kata Rani.
"Iya dong, gantian siapa yang mau mandi duluan?"kata Lydia bertanya pada kedua temannya.
"Biar aku saja yang mandi duluan."kata Ita yang sudah menyiapkan pakaiannya daritadi.
Mereka selesai bersiap-siap langsung keluar kamar ternyata disana sudah ada Jono yang menunggu. Mereka tidak enak hati karena membuat Jono menunggu lama.
"Maaf ya Jon, pasti kamu menunggu lama ya?"kata Lydia.
"Gak papa kaliankan bertiga sedangkan aku hanya sendiri."kata Jono.
"Kalian mau kemana?"tanya mama Roni.
"Kami mau kembali ke Jakarta tan."kata Jono.
"Kok buru-buru amat, sekarang kalian makan dulu saja sebelum berangkat. Tante punya sesuatu untuk kalian bawa pulang."kata mama Roni.
"Tan, gak usah repot-repot kita sudah senang kok diizinin istirahat sebentar disini."kata Jono.
"Iya tan, Jono benar."kata Lydia.
"Sudah gak papa, sekarang ayo kalian makan dulu sebelum kalian berangkat kembali ke Jakarta."kata mama Roni.
Mereka berempat langsung saja menuju meja makan agar nanti saat kembali ke Jakrta tidak kesorean. Setelah makan mereka langsung saja berpamitan untuk pulang. Benar saja mama Roni memberikan mereka oleh-oleh khas daerah sana tak lupa juga beliau memberikan makanan untuk mereka makan dijalan.
"Jon, berhenti didepan ya!"kata Lydia.
"Memangnya mau apa?"kata Jono.
"Air kita habis aku mau beli didepankan ada supermarket."kata Lydia yang melihat ada supermarket didepan mereka.
"Ya sudah oke,tapi gak usah beli kopi lagi kopi kemarin masih ada. Beliin aku air mineral saja."kata Jono.
"Siap, kamu gak mau ikut kami turun?"kata Sandra.
"Gak deh kalian saja, aku mau rokok tu disana."kata Jono menunjukan tempat rokok.
"Baiklah nanti kami panggil kalau sudah selesai belanjanya."kata Lydia.
Ketiga perempuan masuk ke dalam supermarket itu sedangkan Jono keluar mobil untuk merokok. Tak butuh waktu lama mereka sudah keluar lagi dari supermarket. Jono yang melihat ketiga temannya langsung saja mematikan rokoknya yang tinggal sedikit dan mengambil premen yang selalu dia bawa untuk dia makan setelah merokok setelah itu dia langsung saja berjalan kembali ke mobilnya. Mereka berempat meneruskan perjalanannya untuk pulang ke Jakrata.
Sejak saat itu setiap hari libur kerja pasti mereka akan menyempatkan keluar dan tak ada yang memikirkan tentang percintaan karena mereka sibuk dengan kuliah dan kerja.
Hingga hari yang dinanti-nanti yaitu wisuda tapi hanya Ita hari ini tak diwisuda karena kuliah mereka beda satu tahun. Walaupun begitu Ita tetap datag diacara wisuda kelima temannya. Dihari ini juga Lydia dan Jono membuka identitas mereka yang sebenarnya.
"Ly, kamu mau ngomong apasih sama kami?"kata Sandra.
"Iya kamu mau ngomong apasih? Bisa gak gak usah buat kami penasaran kayak gini?"kata Rani.
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi kalau mereka sudah datang akan aku kasih tau pada kalian."kata Lydia.
Saat mereka sedang penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Lydia, Jono datang dengan kedua orangtuanya. Rani terkejut karena pria yang ada disebelah Jono adalah seorang pengusaha sekaligus juga seorang anggota kepolisian.
"Kamu kenapa Ran?"tanya Jono.
"Mereka siapa Jon? Jangan bilang mereka orangtua kamu kalau iya berarti kamu selama ini membohongi kami."kata Rani.
"Maaf karena aku membohongi kalian, aku memang sengaja berbuat begitu agar aku bisa jadi diriku sendiri tanpa khawatir tentang nama besar keluargaku. Kalian kan tau sendiri kalau sampai orang tau siapa orangtua kita pasti mereka akan mebandingkan kita kalau gak gitu mereka selalu mengejek kalau aku berdiri dibbawa ketiak nama besar orangtuaku."kata Jono.
"Itu baru contoh anak sukses dimasa depan."kata papa Irwan.
"Tuan Irwan anda ada disini?"kata papa Jono yang gak menyangka jika bisa bertemu dengan pemilik perusahaan Emirat.
"Iya, kami menghadiri acara wisuda putri kami."kata papa Irwan.
"Putri tuan kalau saya boleh tau siapa ya?"kata papa Jono penasaran.
"Kamu gak mau peluk papa sayang?"kata papa Irwan yang langsung membuat Lydia berjalan untuk memeluk papanya.
"Mama mana pa?"kata Lydia membuat semua orang yang ada disana terkejut.
"Kalian pasti bingung ini putriku, dia nakal sejak dulu gak mau kalau aku buka identitasnya."kata papa Irwan.
"Kamu ya."kata Sandra pura-pura marah.
"Maaf ya aku gak bermaksut buat bohongi kalian aku hanya mau cari teman yang benar-benar tulus sama aku tanpa melihat siapa diriku."kata Lydia yang langsung membuat Ita berjalan dan memeluknya.
"Apa karena mereka berdua kamu menyembunyikan identitas kamu?"kata Ita.
"Iya, kamu tau kan bagaimana mereka menghinaku?"kata Lydia.
"Memang siapa yang menghina kamu kok kamu gak bilang sama kita?"kata Rani.
"Iya kalau kamu kasih tau kami sejak dulu sudah aku bikin prekedel mereka."kata Sandra membuat Lydia tersenyum.
"San, aku butuh kamu setelah ini."kata Lydia.
"Kamu butuh aku buat apa memangnya?"kata Sandra.
"Kamu gak mau kerja disini saja Ly?"kata papa Irwan.
"Malas ketemu sama keponakan papa itu."kata Lydia yang langsung membuat semua temannya tertawa tapi para orangtua bingung.
"Kamu itu, tapi papa belum bisa lepasin kamu diSurabaya begitu saja."kata papa Irwan.
"Aku akan bolak balik Jakarta-Surabaya pa, makanya aku mau Sandra menetap disana. Gimana kamu mau gak?"kata Lydia.
"Ya pasti maulah apalagi aku dapat kerja tanpa harus melakukan interview."kata Sandra.
"Lah, aku gak kamu kasih kerja Ly?"kata Rani.
"Lalu rumah makan kamu mau kamu kemanain lagian memang siap berpisah sama kakanda?"kata Lydia yang langsung membuat temannya tersenyum.
"Lah kamu kok belum diwisuda Ta?"kata papa Irwan yang sudah dekat dengan Ita karena beliau sering datang ke toko.
"Saya kurang satu tahun lagi om."kata Ita.
"Pa, Ita 'kan ambil jurusan kedokteran masak papa lupa?"kata Lydia.
"Oh ya maaf ya om lupa."kata papa Irwan.
"Sudah ayo masuk, sebentar lagi segera dimulai acaranya."kata papa Roni.
"Ya sudah ayo."kata para orangtua.
Mereka berjalan masuk ke dalam dan menduduki tempat mereka masing-masing. Mama Intan yang baru saja duduk malah memasamkan mukanya membuat Lydia yang ada disampingnya langsung bertanya pada mamanya itu.
"Mama kenapa sih?"kata Lydia.
"Mama gak suka dengar perkataan Tina."kata mama Intan.
"Memangnya kenapa ma?"kata Lydia.
"Mereka bilang anak mama itu jelek dan bodoh."kata mama Intan membuat Lydia tersenyum tanpa mau menjawab membuat mamanya kesal.
__ADS_1
Acara sudah dimulai dan pak rektor sedang mengumumkan siapa nilai ipk tertinggi tau ini disetiap jurusan. Dijurusan Lydia ada dua orang yaitu Lydia dan Sandra. Papa Irwan tersenyum ternyata ini yang membuat putrinya yakin jika Sandra bisa membantunya diSurabaya. Mama Intan langsung tersenyum senang, Lydia dan Sandra maju secara bersamaan. Mereka berdua bergantian memberikan pidato. Semua orang terkejut saat Lydia mengatakan jika orangtuanya adalah keluarga Emirat banyak yang tidak percaya akan ucapannya. Dia malah dicemooh oleh orang-orang yang ada disana apalagi orangtua Rayyan dan Tina yang gak percaya dengan omongan Lydia dia marah berkata kasar pada Lydia membuat mama Intan geram.
Mama Intan yang sudah geram dan marah langsung saja berjalan kearah depan untuk mengatakan kalau Lydia memang putrinya. Papa Irwan yang tau itu hanya geleng-geleng kepala padahal putrinya sudah memberi kode agar kedua orangtuanya tak perlu ikut campur masalah ini.
"Ngapain mama kesini?"kata Lydia.
"Mama gak suka jika putri mama diremehkan orang lain apalagi yang meremehkan putriku masih dibawah kami."kata mama Intan.
"Ma, aku bisa nyelesaiin masalah ini sendiri tenang saja."kata Lydia.
"Mama gak percaya sama kamu, sini mana micnya kasih ke mama."kata mama Intan.
"Memangnya buat apa ma?"kata Lydia.
"Sudah sini serahkan ke mama."kata mama Intan langsung mengambil mic yang ada ditangan Lydia karena dia sudah gak sabar untuk mengatakan siapa Lydia sebenarnya.
"Disini aku hanya mau bilang sama kalian yang suka meremehkan dan selalu membuat dia tertimpa masalah tetapi dia hanya diam karena dia tak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Dia juga selalu bilang tak ingin orang lain tau identitasnya sampai-sampai orang yang harus menghormatinya berani mengijak-injak harga dirinya inilah Lydia putri satu-satunya Irwan Emirat."kata mama Intan membuat semua orang terkejut terutama orangtua Rayyan dan Tina serta Rima.
"Mbak gak usah bohong deh bukannya dia keponakan kamu kenapa bisa jadi putrimu?"kata Tina.
"Baiklah kamu gak percayakan tapi setelah ini suami dan putrimu tolong keluar dari perusahaan kami. Aku sudah lama menahan sakit hati atas semua perbuatan kamu dan putrimu terhadap putriku. Dokter Harlan tolong jelaskan pada mereka semua."kata mama Intan yang langsung membuat kedua perempuan itu terdiam sedangkan Sahrul hanya diam saja karena dari awal dia sudah tau jika akan seperti ini jadinya. Papa Irwan sendiri terkejut dengan keputusan istrinya yang tak mau mendiskusikan padanya dulu.
Dokter Harlan langsung saja memberikan bukti pada semua orang yang ada disana. Merea semua tak menyangka jika Lydia adalah putri dari keluarga Emirat pasalnya dia tak pernah mengunakan nama orangtuanya untuk melakukan apapun.
Setelah mereka menjelaskan tentang identitas Lydia mereka langsung saja turun dari sana menuju tempat duduk mereka masing-masing. Lydia hanya menghera nafasnya karena biar bagaimanapun cara ini membuat keluarga Sahrul malu. Padahal Lydia memang berniat membahas tapi bukan begitu caranya tapi akan lebih membekas agar mereka gak berani menganggu tapi dengan cara mamanya tadi pasti mereka akan sakit hati dan akan membalas perbuatan mereka jika mereka tak terima.
"Kamu kenapa sayang?"kata papa Irwan.
"Aku takut kalau mereka tak terima dan akan membalas dendam nanti karena kita sudah membuat mereka malu."kata Lydia.
"Kalau mereka berani membalas dendam mama yang akan melawan mereka dan akan membalas mereka lebih dari ini."kata mama Intan.
"Sudah, sudah gak usah perdulikan mereka yang terpenting setelah ini kamu bantuin papa bekerja diperusahaan."kata papa Irwan.
"Om Sahrul gak salah biar dia tetap kerja diperusahaan."kata Lydia.
"Liat nanti saja, papa juga sudah muak dengan keluarga itu."kata papa Irwan.
Setelah papanya berkata begitu mereka fokus melihat acara yang diadakan disana. Selesai itu mereka keluar aula setelah semua mahasiswa dan orangtuanya pergi darisana. Saat Lydia dan kedua orangtuanya keluar ternyata disana ada orangtua Rayyan dan juga keluarganya Sahrul.
"Mbak kami mau bicara sama kalian."kata Tina.
"Kamu mau bicara apa?"kata mama Intan.
Sebenarnya Tina kesal dengan sikap mama Intan yang tak perduli padanya lagi dan berani-beraninya memecat suami dan putrinya begitu saja. Tapi dia gak bisa apa-apa kalau dia gak bersikap manis malah takutnya keluarga mereka akan didepak begitu saja.
"Kamu mau ngomong apa? Aku mau ajak teman-teman Lydia buat makan-makan."kata mama Intan yang memang tadi sudah janji akan mengajak teman-teman Lydia dan keluarganya untuk makan bersama.
"Kami gak diajak tan?"kata Rima.
"Kamu mau ikut?"kata mama Intan.
"Iya maulah tan kalau kami diajak."kata Rima.
"Memangnya kamu temannya Lydia?"kata mama Intan membuat Rima langsung terdiam. Rima menyesal karena sudah membuat masalah dengan Lydia, sekarang dia gak mungkin bisa mendapatkan dukungan lagi dari keluarga Emirat dan yang pastinya semua teman-temannya aka menjauh darinya.
"Rim, aku cuma mau ingatin satu hal sama kamu, kamu jangan pernah bangga pada apa yang kamu miliki sekarang karena apa yang kamu miliki bisa saja diam kapan saja. Aku gak marah sama kamu, kamu masih tetap bisa bekerja diperusahaan papa asal dengan satu syarat kamu gak boleh sewenang-wenang pada orang lain. Ubah sikap kamu ini, mungkin sekarang teman kamu baik karena kamu bisa diandalkan tapi saat nanti kamu jatuh mereka yang gak tulus pasti akan meninggalkan kamu. Aku cuma gak mau kamu merasakan apa yang sudah aku alami."kata Lydia membuat Rima langsung memandang kearah Lydia.
"Beneran aku masih boleh kerja diperusahaan Emirat?"kata Rima gak percaya.
"Boleh asal kamu merubah sikap kamu, benar-benar berubah bukan hanya dibibir saja."kata Lydia.
"Aku janji akan merubah sikapku, kalau aku gak bisa berubah kamu bisa langsung memecatku."kata Rima yang benar-benar ingin berubah.
"Ya sudah kalau kayak gitu kalian mau iku kami makan bersama untuk merayakan keberhasilan mereka semua."kata papa Irwan.
"Gak usah Wan, kami sudah janji untuk makan siang bersama mereka."kata Sahrul sambil menunjuk pada orangtua Rayyan.
"Ya sudah kalau kayak gitu kami pergi dulu pasi yang lain sedang menunggu kami diparkiran."kata papa Irwan.
Mereka bertiga langsung saja berjalan menuju tempat parkiran. Benar saja mereka semua sudah menunggu diparkiran. Lydia dan kedua orangtuanya langsung saja mendekati semua keluarga itu.
"Mari berangkat, ibu sama bapak bisa naik mobil sama saya."kata papa Irwan.
"Kami sama mereka saja, anak-anak sudah satu mobil sama nak Jono."kata ayah Sandra.
__ADS_1