
Sampai dirumah kepala desa mereka berempat langsung masuk ke dalam rumah. Ternyata disana banyak orang yang sudah datang. Disana ternyata orangtua Roni sudah datang hanya tinggal menunggu orangtua Rani. Rani melihat teman-temannya datang langsung saja berlari menghampiri.
"Kalian kok lama sekali aku gak ada temannya?"kata Rani.
"Maaf aku kecapekan makannya susah dibangunin."kata Jono.
"Kalian temannya Roni sama Rani? Ayo sini masuk, maaf ya kalian datang malah terjadi masalah disini."kata bibinya Roni.
"Iya ni anak memang minta dikasih pelajaran sekali-sekali."kata mama Roni.
"Gak papa tan, kan kalau sudah sah mau kemana-mana aman."kata Lydia.
"Iya benar, itu tan biar gak ada yang fitnah."kata Jono.
"Iya tante sih dukung tapi nanti mau dikasih makan apa anak orang? Disuruh bantuin papanya saja susah banget."kata mama Roni.
"Setelah ini pasti Roni akan mikir tan tenang saja."kata Jono yang pikirannya dewasa.
"Iya nanti aku akan bantu papa diperusahaan gak mungkin aku suruh Rani minta sama orangtuanya malu lah aku ma."kata Roni.
Saat mereka sedang berdebat orangtua Rani datang, mama Rani langsung saja menghampiri putrinya itu. Dia langsung memeluk putri satu-satunya itu, awalnya dia marah tapi saat mendengar perkataan dari Roni membuat amarahnya mereda dan dia juga senang karena calon suami putrinya ini belum apa-apa sudah memikirkan kebutuhan putrinya.
"Mama sama papa gak marah?"kata Rani.
"Mama akan marah jika suami kamu gak bertanggungjawab atau kasar sama kamu."kata mama Rani.
"Boleh om tau bagaimana ini bisa terjadi Ron?"kata papa Rani walaupun tadi Rani sudah menceritakan tapi bagaimanapun dia ingin tau cerita langsung dari Roni takut kalau Rani menutup-nutupi takut kalau Roni kena marah.
Roni langsung menceritakan apa yang terjadi yang sebenarnya membuat keluarga besar Roni menghera nafas. Mereka tau jika ini pasti ulah Erick yang gak suka dengan kedatangan Roni kesini. Menurutnya Roni datang hanya menganggu acara pernikahannya dengan gadis pujaan hati Erick. Paman Roni tau jika calon istri dari Erick itu sebenarnya suka dengan Revan.
"Baiklah kalau begitu kalian maunya bagaimana?"kata papa Rani bertanya pada semua orang yang berada disana.
Mereka semua sebenarnya setuju jika pernikahan itu tak dilaksanakan karena tuduhan mereka tak ada buktinya tapi mereka takut dengan ancaman Erick.
"Mereka harus tetap menikah sekarang juga."kata salah satu warga.
"Baiklah kalau begitu tolong panggilkan pak penghulu."kata papa Roni.
"Baiklah siapa yang mau panggil pak penghulu?"kata paman Roni.
"Biar saya saja pak yang panggil."kata seorang pemuda.
Setelah pemuda itu pergi dari sana, para perempuan mengajak Rani untuk ke kamar yang sudah disiapkan. Roni juga disuruh bersiap-siap oleh pamannya dikamar Roni yang biasa dia tempati saat menginap disini.
"Maafkan putra saya pak?"kata papa Roni.
"Gak papa pak, mungkin ini memang takdir mereka daripada mereka buat yang gak gak lebih baikkan dihalalkan mau dibawa kemana-mana saya juga gak kepikiran karena sudah sama suaminya."kata papa Rani bijak.
"Pantas saja nak Rani bijak dan dewasa ternyata orangtuanya juga sangat bijaksana."kata papa Roni yang sejak awal datang kemari sudah suka dengan Rani. Apalagi istrinya itu saat pertama kali bertemu langsung saja menyukai Rani jadi kalau pun mereka gak jadi menikah sekarang nanti pasti istrinya itu akan tetap menginginkan Rani menjadi menantunya.
"Ma, aku harus dimake up ya?"kata Rani.
"Iya dong sayang biar cantik."kata mama Rani
"Tapi aku gak suka kalau dimake up kayak gini rasanya wajahku berat banget."kata Rani.
"Cuma sebentar saja sayang, oh ya ini baju kebaya milik mama dulu mungkin muat buat kamu. Maaf ya mama gak bisa beliin yang baru soalnya kalian menikahnya mendadak gini."kata mama Roni.
"Gak papa jeng nanti saja diresepsi mereka kita pesan gaun buat Rani."kata mama Rani.
"Iya jeng nanti kita atur semewah mungkin resepsi itu karena Roni anak kami satu-satunya."kata mama Roni.
"Tan, eh maksutnya ma aku lebih suka kalau resepsinya sederhana dan mengundang orang-orang terdekat saja ma."kata Rani.
"Gak mungkin sayang keluarga besar mama banyak belum lagi kolega papa kamu."kata mama Roni.
"Iya keluarga besar kita juga banyak apalagi kolega papa kamu juga banyak gak mungkin kita hanya mengundang sedikit orang."kata mama Rani.
"Terserah kalianlah."kata Rani yang membuat ketiga temannya itu tersenyum.
Lydia berpikir bagaimana nanti kalau dia menikah pasti kabarnya menikah akan ada di surat kabar selama beberapa hari. Belum lagi acara pestanya pasti akan membuat dia kelelahan.
"Kamu ngapain ngelamun?"kata Ita yang melihat jika Lydia sedang melamun sambil melihat Rani.
"Aku hanya gak nyangka saja liburan kita kesini membawa berkah karena teman kita harus menikah."kata Lydia yang langsung dipelototi oleh Rani.
"Kenapa melotot kayak gitu Ran?"kata Sandra sambil tersenyum.
"Kalau gak gara-gara para warga yang gelebek aku gak mungkin aku nikah."kata Rani.
__ADS_1
"Tapi menikah itu enak tau kita bisa kemana-mana sama suami gak takut kalau mau pergi karena ada yang selalu menemani."kata Ita.
"Memangnya menikah itu hanya kayak gitu saja, kita juga akan sering bertemu dan kalau ada kebiasaan yang tidak sukai pasti bakal berdebat."kata Rani.
"Menikah itu bukan hanya menyatukan dua kepala tapi juga keluarga jadi harus sering berdiskusi kalau ada perbedaan pendapat agar bisa mencari jalan tengah karena mbak yakin diumuran kalian ini pasti gak ada yang mau mengalah satu sama lainnya."kata perias.
"Iya benar apa kata kamu mbak makanya aku takut kalau nanti akan sering bertengkar sebab kami sama-sama keras."kata Rani.
Saat mereka sedang berbicara tentang sebuah pernikahan mama Rani masuk lagi ke dalam untuk melihat apa putrinya sudah siap. Pak penghulu dan Roni sudah siap didepn untuk memulai ijab kabur.
"Mbak apa pengantinya sudah selesai dirias?"kata mama Rani.
"Sudah bu."kata perias itu.
Lydia dan yang lainnya membawa Rani keluar kamar, saat mereka keluar kamar pandangan Roni tak bisa lepas dari memandang Rani. Kalau bukan Jono yang menyadarkan mungkin Roni gak akan sadar. Untung saja ijab kabur itu berjalan lancar tanpa ada halangan membuat mereka semua lega.
"Selamat ya, kita hadiahnya nyusul."kata Lydia setelah semua orang sudah pergi dari rumah pamannya Roni.
"Maaf ya gara-gara kita berdua kita gak jadi liburan disini."kata Rani yang gak enak hati sama keempat temannya.
"Gak papa kok, kita malah senang karena dapat makan gratis sepuasnya lagi."kata Lydia.
"Ly kamu bisa gak gak usah mikirin makanan melulu?"kata Sandra.
"He dengan makan itu kita akan gembira."kata Lydia.
"Terserah kamu lah yang penting kamu senang."kata Sandra.
"Kalian malam ini menginap disini saja."kata mama Roni.
"Iya daripada pulang memangnya gak capek apa?"kata bibinya Roni.
"Kalau aku terserah mereka bertiga tan."kata Jono.
"Kami gak bisa karena besok kami harus kembali kerja."kata Lydia.
"Kalian bertiga kerja?"kata mama Rani terkejut saat mendengar Lydia bilang kalau mereka bertiga kerja.
"Iya tan kami bertiga bekerja, saya sama Ita satu kerjaan sedangkan Sandra berbeda."kata Lydia.
"Kalian kerja dimana?"kata mama Rani.
"Kami kerja ditoserba dekat kosan sedangkan Sandra bekerja dicafe dekat kampus."kata Lydia.
"Salut kenapa memangnya tan?"kata Ita.
"Kalian kuliah sambil bekerja gak banyak anak muda jaman sekarang yang mau bekerja sambil kuliah."kata mama Roni.
"Tante bisa saja, kami kerja karena mau cari tambahan buat jajan tan."kata Sandra.
"Walauun begitu tapi seenggaknya kalian meringankan beban orangtua. Oh ya ayo terusin makannya setelah ini kalian mau istirahat atau mau jalan-jalan?"kata mama Roni.
"Kami terserah Jono saja dia capek gak kalau Rani sama Roni pasti gak mungkin bisa diajak jalan-jalan."kata Lydia sambil tersenyum jahil.
"Ngapain senyumnya kayak gitu?"kata Rani.
"Lah memangnya kenapa sama senyum kami padahal senyuman kami biasa saja."kata Sandra.
"San sudah dong kasian mereka kamu candain terus nanti malah gak jadi belah durian lagi."kata Jono.
"Punya mulut tu bisa disaring dikit gak?"kata Roni sambil melempar bekas plastik yang dia makan.
"Wih ngeles dia."kata Jono yang langsung membuat mereka tertawa.
"Awas saja kalian ya."kata Rani.
"Memangnya kami kenapa?"kata Lydia.
"Kalau kalian nikah nanti akan aku kerjaiin lebih dari ini."kata Rani.
"Wiiih takut tapi mungkin saat itu kamu sudah lupa. Aku juga mau tau siapa yang akan menikah duluan nanti?"kata Lydia.
"Iya aku juga penasaran tapi kalau aku liat pasti yang akan menikah duluan kamu Ly."kata Rani menebak.
"Kita liat saja nanti karena yang diam-diam itu biasanya menghanyutkan."kata Lydia.
"Sudah-sudah kalian mau jalan-jalan atau istirahat? Kalau jalan-jalan biar aku temani tapi kalau gak ya aku tidur."kata Jono.
"Kami jalan-jalan dekat sini saja, biar kamu istirahat pasti capek apalagi nanti harus bawa mobil."kata Ita.
__ADS_1
"Aku capek bisa ditahan kan 2 hari aku bisa tidur pulas."kata Jono.
"Memangnya gak papa kita gak mau kalau kamu kecapekan?"kata Sandra.
"Gak papa, kalau aku gak ikut malah gak tenang nanti, takut terjadi sesuatu sama kalian."kata Jono.
"Kami gak paksa lo ya kamu yang mau ikut sendiri."kata Lydia.
"Iya iya ayo berangkat sekarang atau nanti?"kata Jono.
"Sekarang saja yuk, aku gak mau menganggu mereka."kata Sandra sambil memberi kode ke mereka.
"Ya sudah ayo kalau kayak gitu."kata Jono.
"Kami pergi jalan-jalan dulu nanti kalau orang tua kamu nanya."kata Sandra bilang sama Rani dan Roni.
"Ya sudah kalian hati-hati."kata Roni.
Mereka berempat langsung keluar rumah itu dan langsung berjalan kearah yang dibilang oleh Roni kalau disana ada sebuah bendungan yang bagus untuk berfoto-foto.
Mereka langsung berjalan kesana karena penasaran dengan tempat yang dibilang oleh Roni. Mereka bertanya-tanya pada warga yang kebetulan mereka temui. Ternyata tempatnya jauh banget tapi saat sampai ditempat yang dibilang itu rasa capek mereka hilang karena pemandangan yang ada didepan mereka sangatlah bagus sekali.
"Ya ampun ini mah bagus banget."kata Sandra.
"Iya apalagi kalau kita bisa liat matahari tenggelam pasti bagus banget deh ini."kata Lydia.
"Kita tunggu sampai matahari terbenam bagaimana?"kata Jono.
"Memangnya nanti kita pulangnya gak kemalaman ya?"kata Sandra.
"Gak papa kok tenang saja."kata Jono.
"Kita mah bisa tenang tapi bagaimana dengan kamu yang nanti pulang sendirian setelah mengantar kami?"kata Ita.
"Aku mah gak papa tenang saja."kata Jono.
"Kamu itu selalu bilang tenang saja terus gak pernah bilang yang lainnya."kata Ita kesal dengan jawaban Jono mebuat Jono hanya tersenyum.
"Kamu kok sewot sih?"kata Jono.
"Gimana gak sewot coba kami tu khawatir sama kamu tapi kamunya malah nyantai."kata Ita.
"Iya kami tu khawatir sama kamu kalau kecapekan, nanti kalau ada apa-apa dijalan bagaimana coba?"kata Sandra.
"Tenang saja kali ini kita pulang aku gak akan buru-buru, nanti kalau capek aku berhenti. Semalam mau berhenti istirahat takutnya kesiangan tapi ternyata malah ada hal yang kita duga."kata Jono.
"Sudahlah toh mereka memang beneran pacaran kalau enggakkan malah berabe."kata Sandra.
"Iya aku bayangi bagaimana ya rasanya menikah tanpa ada rasa cinta?"kata Jono.
"Kamu mau menikah tanpa ada rasa cinta memangnya?"kata Ita.
"Ya gaklah Ta, tapi kalau takdirnya kayak gitu ya tetap harus dijalanikan."kata Jono.
"Memangnya kamu mau nikah sama orang yang gak kamu cintai apa?"kata Ita.
"Kita gak tau dengan siapa kita akan menikah nanti tapi kalau memang harus menikah dulu tanp cinta aku akan tetap menjalankan pernikahan itu dan mencoba bersabar untuk mendapatkan cintanya."kata Jono.
"Bukannya itu akan berat menjalaninya?"kata Lydia.
"Itulah tantangan apa kita bisa menaklukan tantangan itu atau malah kita kalah diawal."kata Jono.
"Sudah gak usah bahas soal itu sekarang tolongin ambilin foto tangan kamu 'kan panjang."kata Sandra.
"Sini mau pakai ponsel siapa?"kata Jono.
"Pakai punya kamu saja nanti kamu kirim ke kita."kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu kalian bikin grup saja biar aku sekali saja kirim dan langsung bisa kalian liat semuanya."kata Jono.
"Ly kamu saja yang bikin grup."kata Ita.
"Baiklah kalau kayak gitu nanti pulang dari sini akan aku buat grup."kata Lydia.
"Tapi jangan gunain grup aneh-aneh ya?"kata Ita.
"Memangnya mau aneh kayak gimana?"kata Jono.
"Kalian para pria nanti kirim gambar-gambar yang gak jelas lagi."kata Ita.
__ADS_1
"Tenang saja kita tau kok soal itu, lagian gak mungkin aku akan kirim kayak gitu memangnya aku sudah gila apa. Tugas aku tu jaga kalian bukan ngerusak."kata Jono.
"Makasih kamu memang sahabat kami yang paling bisa diandalkan."kata Lydia.