
Sampai mereka divilla, Rayyan langsung mendekati Lydia. Dia sudah tak sabar untuk mendengar ceritanya. Sedangkan Ryan memutuskan untuk pergi dari sana karena pkerjaannya sudah selesai.
Ryan sendiri juga harus bersiap untuk kembali ke ausi karena cuti kuliahnya sudah selesai. Jefri yang melihat Ryan pergi darisana langsung saja mengikuti kemana temannya itu pergi.
"Yan, kamu mau kemana? Kamu gak mau mendengar penjelasan mereka?"kata Jefri.
"Gak, tugasku disini sudah selesai. Aku mau pulang mengambil barang diapartemen lalu berangkat ke bandara."kata Ryan.
"Kamu benar mau berangkat ke ausi lagi, memangnya masalah kamu sudah selesai?"kata Jefri yang tau jika Ryan pulang ke Indonesia karena ada masalah tentang bisnisnya.
"Iya, aku sudah menyelesaikannya lagian aku juga gak mau lama-lama disini. Kamu tau apa penyebabnya?"kata Ryan.
"Masih tentang kakak kamu."kata Jefri.
"Kamu tau sendiri bagaimana dia, apalagi sekarang mbak Shinta selalu mendekatiku."kata Ryan.
"Apa ada yang salah? Dia kakak kamu sendiri lo?"kata Jefri.
"Kamu nih, pura-pura gak tau atau apa sih Jef?"kata Ryan sambil menoyol kepala temannya itu.
"Kamu tu, lagian gak mungkin kalian bersama, dia itu kakak kamu sendiri lo."kata Jefri.
"Mereka berdua kakak angkatku, yah walaupun begitu itu tak akan mungkin terjadi karena papanya adalah kakak papaku.
"Eh kalian berdua kok malah ada disini sih?"kata dosen.
"Memangnya ada apa pak?"kata Jefri.
"Kami semua akan pulang ke jakarta, kalian berdua cepatlah berkemas."kata dosen.
"Baik pak."kata Jefri.
"Aku pergi dulu."kata Ryan.
Mereka berdua berpisah setelah dosen itu pergi, Jefri yang kembali ke kamar untuk berkemas sedangkan Ryan langsung pergi dari sana. Saat dia berjalan menuju mobilnya, dia tak sengaja menabrak seorang gadis.
"Maaf, aku gak sengaja."kata Ryan sambil menolong Lydia bangun.
"Gak papa kak, aku juga yang salah."kata Lydia.
"Kamu gak ada yang terluka kan? Kalau gak ada aku mau pamit pergi dulu."kata Ryan.
"Aku gak papa kok kak."kata Lydia.
"Maaf sekali lagi, aku pergi sekarang."kata Ryan.
"Iya kak."kata Lydia.
Mereka tak akan tau jika takdir mereka akan dipertemukan lagi suatu saat dan mungkin akan mengikat mereka satu sama lain. Ryan langsung saja pergi darisana menuju apartemennya untuk mengambil pakaiannya dan langsung pergi ke bandara.
Lydia dan Sandra baru saja sampai kosan mereka, mereka langsung masuk ke kosan masing-masing untuk istirahat. Lydia langsung saja membersihkan diri lalu berbaring ditempat tidur. Tak butuh waktu lama dia sudah tertidur mungkin karena kemarin dia tak tidur nyenyak.
Sore hari saat dia masih tertidur terdengar panggilan telepon diponselnnya. Dia tanpa melihat siapa yang menelpon langsung saja mengangkat panggilan itu.
[Ma, jangan telepon aku dulu, sekarang aku capek banget.]
[Ya sudah tidurlah, maaf kalau aku ganggu.]
[Kak Rayyan, maaf aku pikir mama yang meneleponku.]
[Istirahatlah lagi jika kamu masih capek aku gak akan mengganggumu.]
[Gak papa kok kak, kakak gak capek apa?]
[Aku capek sih, tapi saat mendengar suara kamu capekku hilang.]
[Pandai sekali anda mengombal bang.]
[Lah kok abang sih, emang aku abang tukang bakso?]
__ADS_1
[Yah padahal panggilan itu bagus banget buat kamu kak.]
[Mending kamu panggil aku kak, daripada abang aku tak suka.]
[Baiklah, baiklah. Kak aku mandi dulu ya.]
[Ya sudah, kita makan malam diluar kamu mau gak?]
[Gak deh kak, aku capek banget hari ini.]
[Ya sudah nanti aku antar makanan ke kosan kamu aja.]
Setelah mengakhiri panggilan dari Rayyan, Lydia langsung saja bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Saat dia sedang memakai baju terdengar suara pintu diketuk, Lydia langsung bergegas memakai bajunya dan membukakan pintu ternyata itu adalah Ita.
"Ta kamu kok kesini?"tanya Lydia.
"Aku dengar kalian berdua kemarin waktu pergi jelajah kalian tersesat, emang benar itu?"kata Ita.
"Iya tapi untung saja kami gak papa, eh ayo masuk."kata Lydia.
"Way tunggu dulu, aku juga mau ikut masuk."kata Sandra.
"Aku pikir kamu masih tidur, soalnya aku ketuk pintu gak ada yang membukanya?"kata Ita.
"Aku baru saja selesai mandi."kata Sandra.
"Kamu bawa apa tu Ta?"kata Lydia yang melihat jika Ita membawa bungkusan.
"Ini tadi aku beli nasi goreng buat kita bertiga dan yang ini kue dari bu Rosa buat kamu."kata Ita.
"Dalam rangka apa bu Rosa kasih kue ke aku?"kata Lydia bingung seingatnya ini bukan ulang tahunnya.
"Bu Rosa khawatir saat mendengar kamu tersesat dihutan karena dia tak bisa kesini makanya dia nitip kue ini ke aku."kata Ita.
"Eh kalian tau darimana kita tersesat saat berada dihutan?"kata Lydia.
"Kami gak sengaja dengar, ada mahasiswa dari kampus kalian yang bercerita tentang kejadian yang kalian alami."kata Ita.
"Wah, ternyata sudah nyebar."kata Sandra yang gak percaya dengan perkataan Ita jika sudah banyak orang yag tau.
Lydia mendengar itu langsung mengambil ponselnya untuk mengirim pesan ke Hendru. Lydia takut jika Hendru akan mencari tau kebenaran tentang kjadian yang terjadi dihutan kemarin.
Lydia
[Kak, kamu lagi ngpain?]
Hendru
[Lagi berkumpul sama keluargaku dirumah, ada apa?]
Lydia
[Gak papa, aku hanya bertanya saja. Kak kamu tau tentang apa yang terjadi dihutan gak?]
Hendru
[Memang apa yang terjadi disana?] Hendru pura-pura gak tau tentang apa yang terjadi dihtan. Padahal dia sudah tau dari awal.
Lydia.
[Gak ada apa-apa kak, ya sudah kalau kayak gitu aku mau makan malam dulu.]
Lydia lega karena Hendru tak tau jika terjadi sesuatu dengannya. Kedua teman Lydia bingung kenapa Lydia senyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa sih Ly? Kok senyum-senyum sendiri sih?"kata Sandra yang penasaran.
"Gak papa kok, masak aku gak boleh senyum-senyum sendiri?"kata Lydia.
"Kamu kayak orang kesambet tau gak."kata Ita.
__ADS_1
"Enak saja, aku gak kesambet tau."kata Lydia.
"Sudah, sudah ayo kita makan nasi gorengnya kalau dingin gak enak tau."kata Sandra.
"Bilang aja kalau sudah lapar."kata Ita.
"Ih kamu tau saja kalau aku sudah kelaparan."kata Sandra.
Saat mereka bertiga mau makan nasi goreng, penjaga kos datang ke kamar Lydia bilang kalau ada tamu yang dattang.
Tok tok tok
"Siapa?"kata Lydia.
"Ini saya mang Jajang non."kata mang Jajang.
"Ada apa mang?"kata Lydia yang membuka pintu kamar kosanya.
"Itu non, ada teman non yang datang nyari."kata mang Jajang.
"Siapa mang, perempaun apa laki-laki?"kata Lydia.
"Laki-laki non."kata mang Jajang.
"Wah kayaknya itu kakak ayang deh?"kata Ita.
"Iya. 'kan kemarin divilla gak ada waktu buat berduaan."kata Sandra.
"Kalian itu gak usah bikin gosip, ya sudah ayo mang kita kesana."kata Lydia mengajak mang Jajang kedepan.
Lydia takut jika yang sedang ingin bertemu dengannya menunggu lama. Benar saja apa kata kedua teman Lydia itu ternyata Rayyan yang datang.
"Loh kakak kok datang kesini?"kata Lydia.
"Aku mau ngasih ini buat kamu."kata Rayyan sambil menyerahkan bungkusan ke Lydia.
"Ini apa kak?"kata Lydia.
"Makanan buat kamu."kata Rayyan.
"Ini banyak banget kak, mana mungkin bisa aku habisin sendiri."kata Lydia.
"Ini bisa kamu bagi sama Sandra dan Ita, bukannya mereka lagi dikamar kamu."kata Rayyan.
"Kok kamu tau kak, jika dia ada dikamarku?"kata Lydia.
Rayyan langsung mengambil ponselnya dan membuka media sosial milik Sandra. Setelah itu memberkan ponselnya ke Lydia.
"Ih mereka tu ya."kata Lydia
"Biarin saja, ya sudah aku pulang dulu."kata Rayyan.
"Makasih ya kak, hati-hati dijalan."kata Lydia.
Lydia masuk ke dalam setelah melihat Rayyan sudah tak terlihat lagii. Dia juga mengucapkan terimakasih pada mang Jajang, setelah itu dia kembali ke kamarnya.
"Nih, ada makanan buat kalian."kata Lydia.
"Wah, makan enak ni hari ini."kata Sandra.
"Dari siapa ini Ly?"kata Ita.
"Kak Rayyan yang ngasih."kata Lydia.
"Bilang makasih sama kak Rayyan nanti kalau dia menghubungimu."kata Sandra.
"Siap, ayo kita makan."kata Lydia
Mereka bertiga makan degan lahap, setelah makan mereka berbincang-bincang sebentar. Tepat pukul 10 malam Sandra dan Ita kembali ke kamar kos mereka masing-masing.
__ADS_1