Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Shinta pulang ke rumah Seno


__ADS_3

Ryan menghela nafasnya lega semoga saja dengan kejadian tadi semua akan berjalan baik. Sekarang dia akan fokus mencari istri dan anaknya yang baru dia tau saat bundanya bercerita. Dayat yang melihat Ryan melamun menyenggolkan lengannya pada Anton membuat Anton memandang kearah yang dipandang Ryan.


"Kamu kenapa Yan?"kata Anton membuat Ryan tersadar dari lamunannya.


"Aku gak papa kok kak, aku hanya merasa bersalah pada Lydia dan ingin segera menemukannya. Apalagi kalau apa yang dibilang bunda benar jika Lydia sedang hamil waktu itu pasti anakku sudah lahir kak, aku merasa bersalah saat Lydia hamil dan melahirkan tak ada disisinya."kata Ryan berkata panjang lebar.


"Tuan masih ingatkan kalau besok kita harus ke Itali untuk bertemu dengan klien baru?"kata Dayat yang takut jika Ryan berubah pikiran.


"Iya aku tau kok, aku akan meyuruh anak buah kita untuk melakukan pencarian lebih luas lagi."kata Ryan.


"Yan, apa mungkin selama ini kita gak bisa menemukan Lydia karena dia mengubah namanya?"kata Anton.


"Mungkin apa yang dikatakan oleh tuan Anton itu ada benarnya atau mungkin juga nyonya pergi keluar negeri tuan?"kata Dayat mengatakan perkiraannya.


"Mungkin apa yang kalian katakan ada benarnya juga, oh ya apa kamu sudah siapkan semua yang akan kita bawa besok? Aku penasaran siapa yang membuat proyek itu."kata Ryan.


"Kamu hanya ingin tau siapa pembuat proyek itu atau kamu sudah tau siapa yang membuat proyek itu?"kata Anton penasaran.


"Aku beneran penasaran kak, baru kali ini ada seseorang yang masih memikirkan lingkungan dan kesehatan anak-anak yang aku tau orang dewasa jam sekarang hanya mementingkan keuntungan saja."kata Ryan membuat Anton menganggukan kepalannya.


Saat mereka sedang berbicara bunda Airin dan ayah Danny datang menghampiri ketiga pria itu. Mereka berdua duduk dikursi yang kosong, Ryan mengerutkan keningnya ada apa dengan ayahnya yang diam saja tak seperti biasanya.


"Ayah kenapa?"kata Anton.


"Maafin ayah karena telah dibutakan rasa sayang ayah sama Shinta malah membuat kalian kecewa."kata ayah Danny membuat kedua putranya tersenyum.


"Syukurlah kalau ayah sadar, kita gak marah kok sama ayah tapi ayah harus janji sama kita sesuatu."kata Ryan.


"Janji apa kalau ayah bisa akan ayah lakukan?"kata ayah Danny.


"Janji sama kita sesayang apapun ayah sama Shinta tapi ayah juga harus berpikir secara logika, mana ada saudara menikah dengan saudara walaupun diizinkan bukannya kalau terjadi masalah akan menimbulkan masalah besar lagi."kata Anton.


"Maafkan ayah itu memang kesalahan ayah yang paling besar."kata ayah Danny.

__ADS_1


"Sudahlah yah, sekarang kita mulai lembaran baru. Toh sekarang Shinta sudah ada ditangan yang tepat, bunda ingin melihat putri bunda yang manis dan manja."kata bunda Airin.


"Ini semua salah ayah yang terlalu memanjakannya."kata ayah Danny.


Mereka berhenti berbicara saat hari sudah larut malam, Ryan memutuskan untuk kembali ke apartemen karena besok pagi-pagi sekali dia dan Dayat akan pergi ke Itali. Sedangkan Seno mengajak Shinta untuk kembali ke rumahnya, Seno membawa Shinta kerumah yang sangat besar. Saat masuk kedalam mereka sudah disambut oleh bibi yang masih belum tidur.


"Bibi belum tidur jam segini?"kata Seno.


"Belum tuan, bibi sedang memeriksa jendela dan pintu sudah dikunci atau belum."kata bibi yang mendapatkan anggukan dari Seno.


"Oh ya bi, kenalkan dia istriku Shinta. Aku hanya mau bilang mulai sekarang kebutuhanku dia yang akan mengerjakannya seperti memasak dan yang lainnya."kata Seno membuat Shinta terkejut.


"Masak?"kata Shinta.


"Iya memangnya kenapa? Salah kalau aku mau kamu yang masak makanan untukku?"kata Seno memandang Shinta tajam.


"Baiklah, sekarang katakan dimana kamarku aku mau tidur capek?"kata Shinta membuat Seno tersenyum.


"Ayo aku tunjukan kamar kita, bibi cepat istirahat sudah malam."kata Seno.


Shinta melihat rumah itu tak ada sama sekali foto keluarga Seno tak seperti rumah orangtuanya yang penuh dengan foto keluarga disetiap acara. Ditangga pun juga tak ada lukisan atau foto Seno yang melihat kalau Shinta sedang melihat kesekeliling hanya tersenyum.


"Jangan berpikir kalau kamu bisa kabur dariku? Aku akan buat hidupmu menderita karena sudah menyakiti Tiara dan Jono."kata Seno.


"Aku gak berbuat apa-apa sama mereka."kata Shinta.


"Gak berbuat apa-apa kenapa bisa kamu bercerai dengan Jono memangnya aku gak tau kalau kamu menikah dengan Jono karena hanya ingin mendapatkan kepercayaan dari ayahmu?"kata Seno.


"Kalau iya memangnya kenapa lagian Jono juga tak ada masalah dengan itu?"kata Shinta.


"Jono memang gak ada masalah karena dia gak ingin menyimpan dendam tapi aku yang akan membalaskan dendamnya. Jadi bersiap saja besok kamu harus menyiapkan semua kebutuhanku jika tidak kamu siapkan maka kamu akan tau apa akibatnya."kataSeno.


"Apa yang akan kamu lakukan?"kata Shinta.

__ADS_1


"Aku akan menghukummu dengan hukuman yang tak akan pernah kamu duga."kata Seno.


"Aku mau liat apa kamu berani? Lagian aku gak takut karena aku yakin jika kamu hanya mengertakku saja."kata Shinta.


"Aku akan membuktikannya padamu."kata Seno.


"Mana kamarku?"kata Shinta.


"Ini kamar kita."kata Seno sambil membuka kamar utama.


"Kita tidur satu kamar?"kata Shinta.


"Memangnya kenapa kita sudah sah menjadi suami istri jadi aku bebas melakukan apapun pada dirimu?"kata Seno.


"Kamu gak usah aneh-aneh, aku mau mandi mana pakaian gantiku setelah itu aku mau istirahat?"kata Shinta.


"Kamu mandi saja dulu soal pakaian nanti pasti ada saat kamu sudah selesai mandi."kata Seno.


Shinta meninggalkan Seno untuk masuk kedalam kamar mandi sedangkan Seno menghubungi asistennya untuk memintanya membeli pakaian Shinta. Seno sambil menunggu Shinta selesai mandi memilih untuk membuka laptopnya sambil mengerjakan pekerjaan yang belum dia selesaikan. Seno gak sadar kalau Shinta sudah selesai mandi, Shinta yang melihat Seno serius dengan laptopnya memperhatikan suami barunya itu. Shinta merasa pernah bertemu dengan Seno tapi dimana. Seno yang merasa diperhatikan mengalihkan pandangannya kearah Shinta lalu terkejut saat melihat istrinya itu hanya menutupi tubuhnya dengan handuk kecil.


"Kamu mau mengodaku?"kata Seno.


"Siapa yang mau mengodamu, aku gak tau harus pakai apa?"kata Shinta yang sudah kedinginan.


"Aku maafkan kamu sekarang tapi kalau lain kali kamu makai handuk saja keluar dari kamar mandi aku akan menerkammu."kata Seno membuat Shinta menyilangkan tangannya kedadanya.


Saat Seno mau berbicara lagi terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar, Seno mengangkat tubuh Shinta lalu menidurkannya diranjang sambil menutupi tubuh istinya itu dengan selimut tebalnya.


"Kamu kenapa?"kata Shinta.


"Aku gak mau tubuh istriku diliat orang lain."kata Seno membuat Shinta terdiam.


"Tapi tubuhku sudah diliat Jono."kata Shinta membuat Seno tersenyum.

__ADS_1


"Gak ada masalah buatku karena dia suamimu dulu sedangkan orang diluar sana bukan. Sudah aku buka dulu pintunya, diam disini jangan coba-coba mengintip."kata Seno.


Shinta hanya menganggukan kepalanya, Shinta memandangi punggung Seno suami barunya. Shinta merasakan sesuatu yang aneh dulu pernikahan dengan Jono dia tak merasakan kalau dia dihargai seperti ini. Jono membiarkan dirinya bebas mau pakai apapun sedangkan dengan Seno, Shinta benar-benar dihargai walaupun suaminya itu dingin padanya.


__ADS_2