
"Ryan sudah lama tau tapi aku bilang agar merahasiakan ini dulu sama ayah karena aku mau memberi kesempatan pada om Damar untuk bertobat tapi nyatanya dia gak bisa bertobat malah semakin parah."kata Anton membuat ayah Danny menghera nafasnya.
"Lalu kalian tau dimana keberadaan Damar sekarang?"kata ayah Dany.
"Belum yah, makanya aku minta bertemu sama kak Anton untuk menanyakan kemana saja saat om Damar pergi kalau ada masalah mungkin sekarang dia ada ditempat-tempat itu."kata Ryan mengatakan apa maksutnya mau bertemu dengan Anton.
"Lalu kalau kalian sudah tau Damar ada disana apa yang akan kamu lakukan mau penjarakan dia?"kata ayah Danny.
"Kami akan mendekati dia dulu kami mau bertanya kenapa dia masih saja menganggu kami."kata Ryan.
"Dia gak akan pernah mengaku."kata ayah Danny.
"Kami tau kalau dia gak akan pernah mengaku."kata Anton.
"Lalu kenapa kalian masih mau bertanya sama dia gak langsung memasukkannya ke penjara?"kata ayah Danny.
"Karena kami mau caritau apa yang akan dia lakukan."kata Ryan membuat ayah Dany terkejut.
"Maksut kalian bagaimana ayah gak mengerti?"kata ayah Danny yang gak paham dengan kedua putranya.
"Yah, aku gak yakin kalau om Damar bisa melakukan semua ini sendiri pasti dibelakangnya ada yang bekerjasama untuk menghancurkan perusahaanku."kata Ryan membuat ayah danny menganggukan kepalanya.
"Ayah ikut saya ayah yakin jika kalian pasti punya rencana yaang lebih baik."kata ayah Danny.
Saat mereka sedang berbicara serius Dayat masuk kedalam ruangan itu membuat ketiga pria yang ada didalam memandang kearah pintu ruangan itu untuk melihat siapa yang masuk kedalam ruangan tanpa permisi.
"Kamu kok masuk gak ketuk pintu dulu sih Yat?"kata Ryan.
"Maaf tuan saya masuk tak ketuk pintu terlebih dahulu, kita harus segera ke perusahaan karena sebentar lagi meeting akan dimulai."kata Dayat.
"Ya sudah ayo kalau kayak gitu. Yah, kak aku pamit dulu."kata Ryan.
"Iya salam buat adik iparku kalau buat tanda jangan ditempat terbuka."kata Anton membuat ayah Danny dan Dayat tersenyum sedangkan Ryan terkejut mendengar perkataan kakaknya.
__ADS_1
"Iya, ayah berharap kalian bisa mendapatkan kebahagiaan masing-masing sampai kakek nenek."kata ayah Danny yang semakin membuat Ryan bingung.
"Memangnya ada apa sih kok kalian ngomongnya kayak gitu?"kata Ryan membuat ketiga orang itu malah tertawa.
"Yat, kamu gak bilang sama atasanmu ini kalau dilehernya ada nyamuk yang mengigitnya?"kata Anton.
"Maaf tuan muda saya takut nanti saya yang disalahkan."kata Dayat membuat Ryan yang penasaran lalu mengambil ponselnya.
Ryan menyalakan kamera ponselnya untuk melihat ada apa dilehernya saat tau kalau ada tanda merah banyak dilehernya membuat Ryan memadang kearah Dayat tajam. Dayat yang diliat seperti itu hanya tersenyum sedangkan ayah Danny dan juga Anton hanya mengelengkan kepalanya.
"Kamu jangan salahkan Dayat, memangnya kamu saat mandi gak liat kaca apa?"kata ayah Danny yang membela Dayat.
"Atau jangan-jangan kamu gak mandi tadi?"kata Anton semakin menjahili adiknya membuat Ryan menjadi kesal.
"Terserah kalian ayo pergi Yat."kata Ryan bangun dari duduknya lalu keluar ruangan diikuti oleh Dayat.
Ayah Danny yang melihat putra bungsunya berjalan dengan kesal hanya menghera nafasnya beda dengan Anton yang tersenyum karena bisa membuat adiknya itu kesal. Ryan sendiri yang sudah berada didalam mobil masih kesal dengan Dayat kenapa dia tak memberitaunya dulu dan parahnya lagi dia tak sadar saat mandi tadi ada tanda merah dilehernya membuat dia malu dengan kakak dan ayahnya.
"Yat, kamu tau bagaimana caranya menghilangkan bekas ini?"kata Ryan sambil menujuk kearah lehernya.
"Kamu cari cara untuk menutupi leher saya kalau kamu gak tau caranya saya akan potong gaji kamu atau mungkin saya akan pindahkan kamu ke daerah yang terpencir."kata Ryan.
"Janganlah tuan kalau saya dipotong gaji gak papa tapi kalau dikirim tempat terpencil jangan tuan."kata Dayat.
"Kalau gak mau makannya cari cara bagaimana aku menutupi leherku agar gak diliat oleh karyawan lain apalagi habis ini kita akan rapat."kata Ryan.
"Tuan bagaimana kalau tuan tutupi pakai syal saja?"kata Dayat.
"Ini panas apa kata orang nanti."kata Ryan.
"Kita pakai pondasen saja bagaimana tuan muda?"kata Dayat.
"Maksutnya?"kata Ryan yang gak paham dengan perkataan Dayat.
__ADS_1
"Nanti pondasennya kita oleskan ke leher tuan agar nanti bisa menyamarkan tanda merah itu."kata Dayat.
"Kamu benar juga, ya sudah kalau kayak gitu kamu yang beli aku tunggu dimobil."kata Ryan.
"Kita berhenti disupermarket sana semoga saja disana jual pondasen tuan."kata Dayat.
"Dimana saja asal bisa menutup ini."kata Ryan.
Dayat memarkirkan mobilnya diparkiran didepan supermarket setelah itu Dayat masuk kedalam supermarket untuk membeli pondasen untuk menutupi leher Ryan. Setelah mendapatkannya Dayat langsung masuk kedalam mobilnya lagi setelah itu membantu Ryan mengoleskan pondasen dengan rata untuk menyamarkan tanda merah. Ryan yang melihat lehernya dikamera ponselnya tersenyum lalu mengucapkan terimakasih pada Dayat. Mereka melanjutkan perjalanan menuju perusahaan Ryan, sedangkan Lydia yang niatnya berbelanja barang-barang kebutuhan kulkas bukannya belanja tapi malah ngobrol sama Rini.
"Ish kamu ini buat aku lama disini padahal tadi aku bilang sama kak Ryan keluar sebentar tapi ini sudah 1jam aku disini."kata Lydia sambil melihat jam tangannya.
"Kak Ryan gak ada diapartemenkan jadi gak papa?"kata Rini.
"Aku gak mau dosa karena aku bohong sama kak Ryan padahal aku janji cepat pulang, oh iya aku bisa minta tolong sama kamu gak?"kata Lydia.
"Mau minta tolong apa katakan?"kata Rini.
"Aku mau beli beras bisa gak berasnya dibawain sama karyawan disini keapartemenku? Aku gak kuat kalau disuruh bawa sendiri."kata Lydia.
"Memangnya kamu mau beli berapa kilo?"kata Rini.
"Sepuluh atau lima ya enaknya ya soalnya hanya berdua saja aku diapartemen?"kata Lydia.
"Lima saja biar nanti gak rusak berasnya biar tetap enak."kata Rini.
"Oke, deh kamu bantuin aku pilih mana beras yang enak dimasak."kata Lydia.
Rini meminta list yang mau dibeli oleh Lydia setelah itu dia mengambilkan semua kebutuhan Lydia setelah selesai mereka mengantri dikasir. Saat Lydia sedang mengantri Rini meminta izin untuk bertemu orang untuk meminta bantuannya agar membawakan barang belanjaan Lydia. Awalnya dia dimarahi oleh atasannya tapi saat tau yang mau dibantu adalah istrinya pemilik mall itu atasannya itu mengizinkan karaywan laki-laki membantu membawakan barang Lydia.
"Ini siapa?"kata Lydia yang melihat Rini datang dengan seorang karyawan pria dibelakangnya.
"Dia yang akan membantumu untuk membawakan barang belanjaanmu."kata Rini.
__ADS_1
"Memangnya gak papa nanti kalau dimarahi atasanmu bagaimana?"kata Lydia.
"Kalau sampai dia marah nanti aku akan mengadu pada kak Ryan biar dia dipecat."kata Rini membuat Lydia hanya geleng-geleng kepala.