
Ryan keluar dari perusahaan ayahnya lalu berangkat menuju Bogor untuk menemui Lydia, awalnya dia akan menghubungi saja tak perlu datang ke rumahnya tapi saat melihat sendiri bagaimana Lydia traumanya kambuh membuat Ryan tak tahan ingin segera menghampiri istrinya. Ryan langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan seperti biasanya dia gak mau terburu-buru saat sampai Bogor dia mampir ke toko kue untuk memberi kue kesukaan Lydia. Dia juga tak lupa memberi bunga dan boneka semoga saja Lydia suka.
Ryan tersenyum sambil membawa bunga yang baru dibeli masuk ke dalam mobil. Tapi Ryan kesal karena dipertengahan jalan terjadi macet parah, Ryan keluar dari mobil untuk bertanya apa yang terjadi kok macet.
"Maaf pak didepan ada apa ya?"kata Ryan.
"Maaf nak didepan ada kecelakaan makanya macet."kata sopir truk.
"Memangnya gak ada yang mengevakuasi ya pak?" Ryan.
"Bapak juga kurang tau, bagaimana kalau kita bantuin mereka saja nak?"kata sopir truk.
"Kita ajak yang lain pak agar nanti gak disalahin."kata Ryan yang disetujui oleh sopir truk itu.
Pak sopir itu meminta bantuan pada sopir yang lain untung saja mereka semua mau, mereka semua membantu mengevakuasai kecelakaan itu. Saat itu pula Lydia terbangun dari tidurnya, Lydia yang melihat kalau panggilannya dengan Ryan mati menjadi panik sendiri. Lydia yang menghubungi Ryan beberapa kali tapi tak ada jawaban membuatnya panik apalagi saat dia menghubungi Dayat, dia dan Anton memanas-manasi Lydia kalau Ryan pergi buru-buru karena dapat panggilan dari seorang perempuan menjadi semakin panik takut kalau Ryan akan meninggalkannya apalagi Ryan tau kalau dia mempunyai depresi.
Ryan yang baru saja selesai membantu evakuasi korban masuk ke dalam mobil, saat dia masuk ke dalam mobil Ryan terkejut melihat ponselnya banyak panggilan tak terjawab dari Lydia. Ryan langsung menghubungi Lydia agar perempuan itu tak mencarinya tapi dalam panggila kedua baru diangkat oleh Lydia.
[Kak...]
[Sayang kamu kemana kok baru diangkat?]
[Kakak yang darimana kenapa aku hubungi gak diangkat?] Lydia sambil menangis.
[Kamu kenapa nangis? Maaf tadi ponselnya tertinggal dimobil tadi aku keluar mobil sebentar.]
[Bohong, kakak lagi sama perempuankan?]
[Ya allah sayang aku didalam mobil sendirian gak ada perempuan.]
[Iya sekarang gak ada perempuan karena kamu sudah mengantarkan dia pulang.]
[Kamu tau darimana kalau aku keluar sama perempuan?]
[Tadi aku hubungi kak Dayat kata dia kamu pergi sendirian dan lagi kak Anton juga bilang kalau kamu buru-buru menyusul perempuan. Pasti kamu sedang menyusul Vira iyakan?]
__ADS_1
[Ya ampun sayang, aku memang buru-buru mau bertemu perempuan tapi bukan dia kamu tau perempuan itu dan kamu yang mengenal dia.]
[Bohong banget sih, itu dibelakang ada boneka sama bunga buat siapa coba?]
[Sebentar lagi kamu akan tau ini aku baru jalan sebentar lagi sampai.]
[Sampai mana?]
[Sampai tempat yang mau aku tuju, aku tutup panggilannya nanti aku hubungi lagi]
[Kamu bohong banget, ya sudah kalau mau tutup tutup saja panggilannya tapi nanti aku gak akan angkat lagi.]
[Ya sudah gak papa, aku sayang kamu.]
Ryan tanpa menunggu lama menutup panggilan itu karena dia sudah sampai didekat rumah kontrakan Lydia. Ryan yang hatinya sedang senang berbeda dengan Lydia yang kesal karena Ryan menutup panggilannya. Lydia merasa dirinya gak ada gunanya karena Ryan mencari perempuan yang sehat bukan perempuan sakit mental kayak dia. Saat dia meratapi nasibnya terdengar suara pintu rumahnya diketuk Lydia mau tidak mau bangun untuk melihat siapa jam segini datang kerumahnya. Setelah mencuci muka Lydia keluar untuk membuka pintu rumahnya, saat dia membuka pintu rumah itu Lydia terkejut karena ada seseorang yang membawa boneka dan bunga tapi wajah pria itu tak terlihat membuat Lydia gemetaran sebenarnya takut kalau kejadian yang dulu terulang.
"Kamu siapa?"kata Lydia dengan suara yang bergetar.
Awalnya Ryan mau menjahili Lydia tapi saat mendengar suara ketakutan istrinya membuat dia tak tega dan akhirnya menurunkan boneka dan bunganya sehingga terlihat wajah Ryan. Lydia yang melihat kalau itu Ryan langsung memeluk suaminya sambil menangis.
"Loh kok nangis?"kata Ryan sambil mengelus punggung istrinya.
"Maaf sayang, aku niatnya mau kasih kejutan sama kamu."kata Ryan.
"Kamu mau kasih kejutan apa kejutan?"kata Lydia.
"Kita masuk dulu ya aku capek."kata Ryan.
"Iya ayo mau aku bikinin minum apa?"kata Lydia.
"Apa saja sebentar aku mau ambil sesuatu dimobil."kata Ryan yang mengingat kalau didalam mobil ada kue kesukaan Lydia.
'Kakak bawa mobil?"kata Lydia.
"Itu didepan sana mobilku."kata Ryan.
__ADS_1
"Kak, kalau mau ambil sesuatu didalam mobil sekalian masukin disebelah ya, daripada disana nanti kalau tetangga mau masuk atau keluar rumah gak bisa."kata Lydia.
"Iya ya sudah kamu masuk gih biar aku masukin mobilnya, oh ya ini bunga sama bonekanya masak mau aku bawa ke mobil lagi?"kata Ryan.
"Iya, makasih kak."kata Lydia sambil mengambil bunga dan boneka dari tangan Ryan.
Ryan berjalan menuju mobilnya tapi sebelum itu membuka pagar rumah itu sedangkan Lydia masuk ke dalam rumah. Lydia meletakan bunga dan boneka itu diatas meja makan setelah itu berjalan menuju dapur untuk membuatkan Ryan minum. Lydia tau kalau Ryan suka kopi tapi Lydia malah membuatkan teh, Lydia berusaha agar Ryan mengurangi kecanduan kopi.
"Sayang nih, aku beliin kue."kata Ryan sambil menaruh kue ke atas meja makan.
"Mas, ini aku bikini teh. Aku ambilin piring dulu buat makan kue bentar."kata Lydia.
"Makasih ya, oh ya ada pakaian bersih gak buat pria bajuku kotor soalnya tadi dijalan aku bantu evakuasi korban kecelakaan. Eh malah kamu bilang kalau aku sedang sama perempuan."kata Ryan sambil meminum teh buatan Lydia.
"Gak ada pakaian pria kak dirumah ini, bagaimana kalau aku beliin ditoko pakaian dekat sini saja?"kata Lydia sambil bangun.
"Kamu mau kemana?"kata Ryan yang melihat istrinya itu berdiri dari duduknya.
"Mau beliin pakaian buatmu mas, toko bajunya gak jauh kok dari sini."kata Lydia.
"Aku temanin tapi habisin teh ini dulu soalnya enak nanti kalau dingin sayang."kata Ryan.
"Kakak gak capek memangnya?"kata Lydia.
"Capek sih tapi aku gak tega biarkan kamu sendirian pergi."kata Ryan.
"Ya sudah habisin tehnya nanti aku bikinin lagi deh."kata Lydia.
"Kamu sudah masak belum buat makan malam?"kata Ryan.
"Belum kak ada apa?"kata Lydia.
"Kita cari makan diluar saja ya, aku mau coba makanan disini."kata Ryan.
"Baiklah, nanti beli sate ya aku mau makan sate soalnya."kata Lydia.
__ADS_1
"Siap tuan putri, ayo berangkat."kata Ryan.
Mereka berdua keluar rumah tapi bukannya pergi bawa mobil, Lydia mengajak Ryan jalan kaki. Ryan yang diajak jalan kaki senang-senang saja karena dia ingin merasakan jalan berdua dengan istrinya sambil gandengan tangan.