
Sampai dipenginapan orangtua Sandra terkejut karena mereka bukan pergi ke tempat penginpan tapi malah pergi ke sebuah hotel.
"Tuan ini bukan penginapan tapi ini hotel."kata ayah Sandra.
"Maaf aku sudah cari penginapan disekitar sini tapi karena mendadak pesannya jadi gak bisa karena penginapan banyak yang penuh."kata papa Irwan.
Jono yang mendengar hanya tersenyum, dia tau memang om Irwan sengaja memesan hotel ini agar orangtua Sandra nyaman.
"Mari kita masuk sudah malam pasti bapak sama ibu sudah lelah."kata Jono mengalihkan pembicaraan agar orangtua Sandra tak bertanya macam-macam lagi.
"Baiklah mari mbak."kata mama Intan yang langsung saja mengajak ibunya Sandra masuk terlebih dahulu.
"Ly, papamu sengajakan memesan hoetel ini untuk orangtuaku?"kata Sandra.
"Aku gak tau kan yang mesan hotel papaku bukan aku."kata Lydia pura-pura gak tau padahal yang punya ide ini adalah Lydia sendiri.
"Masak sih kok aku gak yakin ya."kata Sandra.
"Sudah terima saja, apa salahnya sih sekali-sekali ngebahagiain orangtua."kata Jono.
"Tapi uang darimana kami membayar kamarnya pasti ini mahal banget?"kata Sandra.
"Tenang saja kamu gak usah takut, papaku sudah membayarnya kok tenang saja."kata Lydia.
"Aku banyak berhutang budi pada kalian tau gak."kata Sandra.
"Gak ada hutang budi hutang budi segala, yang penting kamu mau kerja sama aku."kata Lydia.
"Kalau itu sih aku pasti mau, oh ya kapan aku bisa mulai kerja?"kata Sandra
"Kalau soal itu terserah kamu saja kapan bisanya, yang terpentig kamu minta izin dulu sama cafe tempat kamu kerja. Masak masuk baik keluar gak pamitan?"kata Lydia.
"Siap kalau masalah itu mah, lusa saja aku mulai masuk kerja. Bawa surat lamaran kerja gak Ly?"kata Sandra.
"Bawa dong buat data nanti sekalian, biar gak dibilang kamu masuk karena koneksi."kata Lydia.
"Padahal juga ada koneksi orang dalam."kata Jono.
"Kamu mau aku tabok Jon?"kata Lydia.
"Aku hanya bercanda jangan dimasukin ke dalam hati, kerja dimana saja itu gampang asal kamu nyaman dan bisa bergaul sama orang."kata Jono.
"Iya kalau kamu baik mereka gak akan menjelek-jelekkan kamu tapi kalau tingkah kamu jelek pasti mereka akan menjelekkan kamu."kata Lydia.
"Iya."kata Sandra.
Saat mereka sedang membicarakan tentang kapan Sandra mulai bekerja, orangtua Sandra dan orangtua Lydia menghampiri mereka berempat.
"Ini kunci kamar kalian berdua, kamu jadi ikut menginap disinikan Ta?"kata papa Irwan.
"Jadi pa."kata Ita.
"Makasih om, tan. Maaf kalau kami sudah melepotkan kalian."kata Sandra.
"Gak papa San, oh ya om mau tanya kapan kamu mau bekerja diperusahaan om?"kata papa Irwan.
"Lusa om, kalau besok saya belum bisa soalnya mau ngantar orangtuaku pulang dulu setelah itu mau pamitan sama pemilik tempatku kerja kemarin."kata Sandra.
"Ya sudah kalau kayak gitu soalnya om mau suruh asisten om buat ngajarin kamu dulu sebelum kamu akan pindah ke Surabaya."kata papa Irwan.
"Wah setelah ini kita pasti akan jarang ketemu dong kalau kalian berdua pindah ke Surabaya?"kata Jono yang setelah ini pasti akan sibuk mengelola perusahaan papanya.
"Tenang nanti kalau liburkan bisa ketemu atau kamu yang main ke Surabaya?"kata Lydia.
"Kamu itu memang ya, ya sudah kalau kayak gitu aku mau pulang duluan."kata Jono.
"Kami juga mau pulang dulu, oh ya tiket kereta apinya kamu sudah beli belum San?"kata papa Irwan.
"Sudah om tadi aku sudah booking besok jam 10 mereka berangkatnya."kata Sandra.
"Maaf ya besok aku gak bisa ikut antar bapak sama ibu."kata Jono.
"Saya juga minta maaf gak bisa mengantar kalian."kata Lydia.
"Gak papa kok, kalian sudah nganterin kami kesini saja, kami sudah berterimakasih."kata ayah Sandra.
"Baiklah San cepat ajak orangtuamu naik ke atas ke kamar kalian biar mereka cepat istirahat. Kami mau pamit pulang dulu takut kalau nanti kemalaman sampai rumah."kata mama Intan.
Lydia dan orangtuanya setelah berpamitan langsung saja pergi dari hotel begitupun dengan Jono. Lydia sampai mobil langsung saja masuk ke dalam karena dia sudah capek dan ingin segera istirahat.
"Kamu kenapa sayang?"kata mama Intan.
"Aku mau istirahat sebentar badanku capek banget ma."kata Lydia.
"Kamu itu kalau kayak gitu capek tapi kalau bekerja saja gak."kata mama Intan.
"Beda ma, kalau bekerjakan dapat uang."kata Lydia.
"Lah nanti kalau kamu diAusi bagaimana?"kata papa Irwan.
"Beda lagi pa, aku paling kalau disana akan menikmati pemandangan."kata Lydia.
__ADS_1
"Kamu ya, memangnya kenapa kamu mau ke Ausi?"kata mama Intan.
"Pengen saja aku mau menikmati hidupku sebelum bolak balik Surabaya-Jakarta. Pasti nanti aku gak akan ada waktu lagi buat main-main."kata Lydia.
"Kalau untuk main-main bukannya disini bisa main-main juga ya?"kata papa Irwan.
"Aku mau ganti suasana pa, boleh ya?"kata Lydia takut jika papa mamanya membatalkan izinnya tadi.
"Kami hanya khawatir sama kamu, kami gak bisa ikut karena papamu sedang sibuk disini."kata mama Intan.
"Ma, pa aku bisa jaga diriku sendiri kok tenang saja. Aku mau hidup mandiri ma pa sebelum aku tinggal diSurabaya nantinya."kata Lydia.
"Ya sudah kalau itu keputusanmu, kalau kamu mau berangkat nanti bilang sama papa biar papa siapkkan kebutuhanmu disana.'kata papa Irwan.
"Siap papa."kata Lydia
Mereka bertiga langsung keluar mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Lydia sendiri langsung naik keatas untuk menuju kamarnya. Sampai dikamarnya dia langsung saja masuk ke dalam kamar mandi. Niatnya untuk menyegarkan diri setelah itu dia mau tidur. Tapi saat dia baru saja berbaring diranjang Lydia teringat jika tadi sudah janji untuk menelpon Hendru dan Aziz.
Lydia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi mereka, tapi saat menghubungi Hendru ponselnya tidak aktif. Akhirnya Lydia memutuuskan untuk menghubungi Aziz terlebih dahulu. Untung saja hanya sekali menghubungi Aziz sudah mengangkat panggilan itu. Tapi Lydia terkejut karena ditempat Aziz terdengar sangat berisik.
[Hallo ada apa Ly?]
[Kakak dimana?]
[Aku sedang diluar ada apa?]
[Tadi ngapain kak telpon aku?]
[Oh tadi aku mau ngucapin selamat atas kelulusanmmu, aku ada hadiah buatmu besok akan kakak berikan padamu. Kamu mau bertemu dimana?]
[Memang kakak gak kerja besok?]
[Aku kerja, besok saat makan siang saja gimana ketemunya?]
[Baiklah kalau begitu besok kita bertemu dicafe dekat perusahaanmu kak, sekalian aku mau ke perusahaann papa.]
[Kamu sudah membuka identitasmu?]
[Sudah kak, tadi waktu dikampus mama yang memberitau ke semua orang yang ada disana.]
[Wah bagus dong kalau kayak gitu, kamu gak perlu sembunyi-sembunyi lagi kayak kemarin kalau mau pulang ke rumah.]
[Iya kak, kalau kayak gitu aku tutup dulu.]
[Ya sudah kamu istirahat saja, aku mau kembali berkumpul sama teman-temanku.]
[Kakak kumpul dimana sama teman-temanmu?]
[Kakak ngapain disana? Kakak mau mabuk-mabukan?]
[Buat hiburan saja dek daripada sepaneng dengan kerjaan.]
[Terserah kamu kak, tapi awas saja kamu main perempuan.]
[Iya sudah sana tidur.]
Lydia setelah mengakhiri panggilan dengan Aziz langsung saja meletakkan ponselnya dimeja setelah itu dia langsung tertidur. Keesokan paginya dia bangun langsung saja cuci muka dan gosok gigi setelah itu dia langsung saja berganti pakaian olahraga hari ini dia mau lari pagi disekitar komplek. Saat dia turun tangga dia melihat mamanya sedang memasak didapur.
"Mama sedang apa?"kata Lydia mendekati mamanya.
"Lagi masak makanan kesukaan kamu, kamu mau kemana?"kata mama Intan.
"Aku mau lari sebentar keliling komplek."kata Lydia.
"Ya sudah hati-hati."kata mama Intan.
"Siap ma, kalau kayak gitu aku berangkat dulu."kata Lydia.
Lydia langsung saja keluar dari rumah, dia langsung saja berlari keliling komplek baru sekali putaran saja dia sudah capek. Lydia memutuskan untuk istirahat ditaman dan memesan bubur ayam. Saat dia menikmati bubur ayam ada seseorang yang duduk disebelahnya dan dia juga memesan bubur ayam. Lydia tersenyum pada pria itu tapi pria itu hanya diam.
"Dasar es batu, semoga saja aku gak dapat suami kayak dia nanti."kata Lydia yang langsung berdiri dan membayar bubur ayam setelah itu dia pergi.
Ryan yang mendengar perkataan Lydia tadi hanya memandang gadis itu sampai Lydia tak terlihat lagi. Ryan pertama kali melihat Lydia langsung tertarik tapi entah kenapa dia lebih memilih diam saat Lydia bertanya padanya. Ryan berharap bisa bertemu lagi dengan perempuam itu.
Lydia yang pulang ke rumahnya langsung duduk dimeja makan dengan wajah masamnya. Mama Intan yang baru datang dari dapur melihat putrinya memasang wajah masam langsung saja binggung.
"Kamu kenapa? Pulang-pulang memasang wajah masam gitu?"kata mama Intan.
"Tadi aku ketemu sama pria ganteng sih tapi dingin banget."kata Lydia kesal.
"Kamu kenal sama pria itu?"kata mama Intan.
"Gak aku gak kenal sama dia."kata Lydia.
"Gak kenal kok kesal atau jangan-jangan kamu naksir dia lagi?"kata mama Intan mengoda putrinya.
"Amit-amit aku dapat suami kayak gitu."kata Lydia.
"Tapi mama lebih suka kalau kamu nikah sama pria yang dingin soalnya pria dingin itu kalau sudah sayang pasti akan perhatian dan memperjuangkan apa yang ingin dia jadikan miliknya."kata mama Intan.
"Perhatian apa makan hati itu iya."kata Lydia.
__ADS_1
Saat mereka sedang membicarakan tentang lelaki yang ditemui oleh Lydia tadi papa Irwan datang dan dia sekilas mendengar kalau istri dan anaknya sedang membicarakan tentang seorang perempuan entah siapa dia tak tau.
"Kalian lagi bicaraain siapa sih?"kata papa Irwan yang baru saja duduk dikursi.
"Ini lo pa tadi Lydia bertemu dengan seorang pria katanya pria itu dingin kayak es batu."kata mama Intan.
"Memangnya pria mana yang mengabaikan putri papa ini?"kata papa Irwan.
"Aku gak tau dan gak mau tau, sudah gak usah bicarain soal pria itu lagi."kata Lydia sambil berjalan meninggalkan meja makan.
"Kamu gak makan dulu sayang?"kata mama Intan.
"Gak usah ma, aku tadi sudah makan bubur ayam sebelum pulang."kata Lydia.
"Ya sayang dong makanannya padahal mama masakin buatmu ini."kata mama Intan.
"Nanti kalau aku lapar aku makan, aku juga gak mau kemana-mana hari ini."kata Lydia.
"Kamu gak keluar hari ini Ly?"kata papa Irwan.
"Keluar pa tapi nanti siang mau bertemu kak Aziz sekalian ke perusahaan papa."kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu papa tunggu kamu dikantor, sekalian nanti kamu dekor sendiri ruangan yang akan kamu gunakan setelah pulang dari Ausi nanti."kata papa Irwan.
"Siap, nanti mama ikut gak?"kata Lydia.
"Mama gak ikut hari ini ada arisan dirumah tantemu."kata mama Intan.
"Ya sudah salam saja buat tante."kata Lydia.
Lydia sampai kamarnya langsung saja masuk ke kamar mandi setelah itu dia mnegambil ponselnya. Lydia gak tau kenapa akhir-akhir ini Hendru susah dihuubungi. Mungkin karena dia kerja sebagai dosen merangkap juga kerja diperusahaan makanya dia susah dihubungi. Lydia mengotak atik ponselnya dan tanpa sengaja melihat postingan Rani dan Roni yang sedang berlibur diluar kota.
"Kapan aku bisa kayak mereka ya?"kata Lydia.
Lelah melihat ponselnya gak ada yang menarik dia memutuskan untuk tidur tapi sebelum tidur dia memasang alarm agar gak telat bangun karena dia sudah ada janji untuk bertemu Aziz.
Baru saja Lydia bisa tertidur nyenyak ponselnya berbunyi, Lydia dengan malas mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari Ita.
[Hallo Ta, ada apa kamu menghubungiku?]
[Kamu jam segini masih tidur?]
[Tadi sudah bangun karena gak tau mau ngapain aku tidur lagi, ada apa kamu menghubungiku?]
[Kamu bisa gak jemput aku dan Sandra distation?]
[Lah memangnya kenapa?]
[Dompet kami kecopetan.]
[Ya sudah kalau gitu tunggu disana, sekarang aku mau ganti baju dulu.]
[Kami tunggu.]
Lydia langsung saja bangun berganti pakaian setelah itu langsung saja berangkat menyusul Sandra dan Ita. Saat dia turun ke bawah ternyata mamanya juga mau pergi beliau sedang berbicara dengan bibi.
"Kamu mau kemana sayang?"kata mama Intan.
"Aku mau menyusul Sandra dan Ita diStation, mereka berdua kecopetan."kata Lydia.
"Lah kok bisa?"kata mama Intan.
"Aku juga gak tau ma."kata Lydia.
"Lalu bagaimana dengan tiket orangtuanya Sandra?"kata mama Intan.
"Kalau tiketnya sudah dibayar tapi mereka berdua gak bisa pulang."kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu, tapi nanti kamu antar mereka ke bank buat memblokir atm mereka."kata mama Intan.
"Siap ma, kalau kayak gitu aku berangkat dulu ya."kata Lydia.
Lydia setelah berpamitan dengan mamanya langsung keluar rumah menuju mobilnya. Setelah didalam mobil dan mengambil nafas dia lalu mmenjalankan mobilnya awalnya saat bau menjalankan mobilnya tangannya kaku tapi lama kelamaan dia bisa lancar mungkin karena sudah lama gak mengemuudi jadi agak kagok.
Saat dia sampai station langsung saja memarkirkan mobilnya setelah itu masuk ke dalam station untuk mencari kedua temannya. Untung saja tak butuh waktu lama Lydia dapat menemukan temannya itu.
"Ayo pulang."kata Lydia saat sudah dekat dengan kedua temannya.
"Kamu itu ngagetin kami saja."kata Ita.
"Maaf deh, ayo aku antar kalian pulang."kata Lydia.
"Kita ke bank dulu ya buat blokir atmku sekalian mau ambil uang buat beli ponsel baru."kata Sandra.
"Lah memangnya ponsel kamu juga hilang?"kata Lydia.
"Iya untung saja punya Ita tadi aku liat kalau ada yang mau ambil ponselnya tapi sayangnya dompet kami hilang dua duanya."kata Sandra.
"Sudah gak papa, sekarang berarti kita ke bank dulu."kata Lydia.
"Iya."kata Sandra.
__ADS_1
Mereka bertiga berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil Lydia yang berada disana. Saat melihat mobil Lydia kedua temannya langsung saling pandang.