
Rayyan yang malas mendengar tentang pembicaraan pertunangan itu langsung saja berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
"Maaf semuanya aku mau permisi kembali ke kamar."kata Rayyan.
"Kamu kenapa mau kembali ke kamar Yan?"kata mama Dahlia yang gak suka dengan tingkah putranya itu.
"Ma, kepalaku masih terasa sakit sekali."kata Rayyan.
"Ya sudah kalau kepala kamu sakit kamu bisa istirahat sekarang."kata Tina yang gak mau jika Rayyan sakit lagi maka pertunangan keduanya akan diundur.
"Terimakasih tan, kalau begitu aku permisi dulu."kata Rayyan yang langsung meninggalkan ruang keluarga.
"Jeng kok kamu biarin Rayyan pergi sih?"kata mama Dahlia yang gak setuju dengan perkataan Tina.
"Kalau Rayyan sembuhny lama bukannya pertunangan ini akan diundur sampai dia sembuh. 'kan gak mungkin kita ngadain pertunangan jika Rayyan masih sakit."kata Tina.
"Benar kata Tina, ma. Kita gak akan bisa ngadain pertunangan jika Rayyan sakit."kata papa Hans.
"Baiklah, baiklah kalian berdua daritadi diam saja apa ada yang ingin kalian sampaikan atau kalian memberi saran pada kami?"kata mama Dahlia yang ingin suaminya juga ikut andil dalam acara pertunangan ini.
"Aku ikut kalian saja."kata papa Hans.
"Iya kami sebagai pria ikut kalian saja para perempuan yang lebih tau nanti kalau kami ikut campur semuanya gak akan jadi baik."kata Sahrul.
"Tapi memangnya kalian gak ada pendapat atau saran gitu?"kata mama Dahlia.
"Kalau kita beri saran nanti kalian gak akan setuju dan medebat kami. Jadi lebih baik kami ikut saja iya gak Rul?"kata papa Hans.
"Iya benar apa kata Hans."kata Sahrul yang setuju dengan pendapat papa Hans.
"Kalian berdua tu sama saja gak ada bedanya."kata mama Dahlia yang diangguki oleh Tina.
"Ya sudah apa kalian sudah selesai membahas tentang acara pertunangan ini"kata Sahrul.
"Memangnya ada apa pa?"kata Tina.
"Apa mama tak melihat ini jam berapa? Ini sudah malam sehausnya mereka beristirahat."kata Sahrul.
"Tidak apa-apa Rul, kami biasanya jam segini belum tidur kok. Iya gak pa?"kata mama Dahlia.
"Benar apa yang dikatakan oleh istriku itu."kata papa Hans terpaksa berbohong padahal biasanya mereka jam segini sudah istirahat dan berada didalam kamar.
"Tetap saja kami gak enak, kalau begitu kami permisi pulang dulu."kata Sahrul.
"Iya benar apa kata suamiku, lusa kan kita bisa bertemu lagi dibuti untuk mencoba gaun dan jas milik Rayyan dan Rima."kata Tina.
"Ya sudah kalau kayak gitu, mari kami antarkan kalian kedepan."kata mama Dahlia.
Mereka langsung saja ke depan untuk menuju mobil ditemani oleh orangtua Rayyan. Rayyan sendiri hanya melihat mereka dari kamarnya. Rayyan kesal dengan orangtuanya yang tak bisa mengerti keinginannya sama sekali.
Keesokan harinya Rayyan bangun pagi-pagi sekali, dia mau berangkat ke Rumah Sakit pagi agar tak bertemu dengan kedua orangtuanya. Benar saja saat dia turun dia meihat mamanya sedang sibuk memasak didapur. Rayyan terpaksa menghampiri mamanya untuk berpamitan.
"Ma, aku berangkat dulu."kata Rayyan saat sudah berada didekat mamanya.
__ADS_1
"Kamu jam segini sudah mau berangkat?"kata mama Dahlia.
"Iya ma, aku kan sudah beberapa hari gak masuk jadi aku mau memeriksa hasil laporan pasien-pasienku sebelum aku mulai bekerja ma."kata Rayyan berbohong padahal dia ingin berangkat duluan karena tak ingin berbicara dengan mamanya.
"Ya sudah kalau kayak gitu, hati-hati dijalan."kata mama Dahlia.
Rayyan setelah berpamitan langsung saja keluar rumah dan langsung pergi menuju Rumah Sakit dengan mengunakan mobilnya. Sampai diRumah Sakit dia langsung saja pergi menuju ruangan buat anak-anak magang ternyata disana sudah ada Bagas dan Panji.
"Kamu kenapa datang-datang wajahnya sudah murung gitu?"kata Panji.
"Palingan dia lagi mikirin masalahnya dengan Rima kalau gak gitu sama Lydia. 'kan hanya dua perempuan itu yang membuat Rayyan selalu pusing."kata Bagas yang langsung dilempar buku oleh Rayyan.
"Kamu itu beneran ada masalah dengan mereka?"kata Panji.
"Aku mau tunangan dengan Rima 4 hari lagi."kata Rayyan.
"Kamu serius?"kata Panji gak percaya.
"Iya kamu jangan bohong deh? Bukannya kamu bilang gak ingin nikah sama dia?"kata Bagas juga gak percaya.
"Kalian tau sendiri bagaimana mamaku, keputusannya yang gak bisa diganggu gugat. Kalian datang ya dipertunanganku!"kata Rayyan.
"Lalu Lydia bagaimana?"kata Bagas yang dianggukin oleh Panji.
"Aku gak akan undang dia, walaupun aku tau dia hanya menganggapku sebagai teman tapi aku tak mau membuat dia terluka."kata Rayyan.
"Baiklah kalau begitu kami akan merahasiakannya. Oh ya pertunangan kalian diadakan dimana?"kata Bagas yang mengalihkan pembicaraan.
"Kamu serius gak bohongkan sama kita?"kata Panji.
"Iya bagaimana bisa dihotel itu, hotel itu paling susah dibooking karena ada banyak yang ingin mengadakan acara dihotel itu."kata Panji.
"Bukannya kalian tau kalau papanya Rima bekerja diperusahaan itu?"kata Rayyan.
"Iya juga kok aku lupa, pantas saja kalian bisa mengadakan pertunangan disana."kata Bagas.
Mereka bertiga berhenti berbicara saat jam sudah menunujukan kalau sudah harus mulai bekerja. Mereka bertiga pergi ke tempat kerja mereka masing-masing.
Beda lagi dengan Lydia sejak kejadian kecelakaan itu gadis itu tak ada raut kesedihan diwajahnya. Dia lebih fokus dengan pekerjaan dan juga kuliahnya tak sekalipun mengingat masalahnya dengan Rayyan.
Sandra dan Ita yang melihat itu merasa senang padahal mereka tau jika sekarang Lydia perasaannya sedang kacau tapi dia tetap tegar.
"Kalian sedang apa?"kata Lydia melihat kedua temannya itu memandanginya.
"Eh kita gak sabar mau ajak kamu ke pantai."kata Sandra.
"Kalian itu, tunggu bentar taksi kita belum datang. Kalian sudah siapin semua yang perlu kita bawa belum?"kata Lydia.
"Sudah, kita tinggal tunggu taksi datang saja, lagian aku sudah gak sabar bermain air hari ini."kata Ita.
"Dasar kamu ya, memangnya kamu gak pernah bermain air apa?"kata Sandra.
"Aku sering main air tapi kalau main air dipantai sudah lama aku gak pergi."kata Ita.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita berangkat taksinya sudah sampai."kata Lydia.
"Ayo."kata Sandra dan Ita bersamaan.
Mereka bertiga membagi barang bawaannya untuk dibawa masing-masing orang. Setelah itu mereka berjalan menuju taksi yang sudah menunggu mereka digerbang. Mereka sampai dipantai langsung saja mencari tempat untuk duduk.
"Wah aku senang banget hari ini."kata Ita.
"Kita juga senang, akhirnya kita bisa main air sepuasnya."kata Sandra.
Mereka bertiga bermain-main air dengan riangnya tanpa sadar jika hari sudah petang. Mereka baru sadar saat perut mereka sudah berbunyi.
"Eh memangnya jam berapa ini?"kata Sandra.
"Aku gak tau memangnya kenapa?"kata Lydia.
"Perut aku sudah kelaparan, makanan yang kita bawa juga sudah habis."kata Sandra.
"Iya juga aku juga sudah lapar tapi liat tu Ita masih saja asik bermain air."kata Lydia.
"Ita kenapa sih akhir-akhir ini aku melihat dia sering melamun apa dia ada masalah?"kata Sandra.
"Aku gak tau tapi dia pernah bilang jika dia menyukai kak Aziz. Tapi aku juga gak yakin jika itu masalahnya gak mungkin Ita seserius itu."kata Lydia.
"Bukannya kamu bilang kalau dulu Ita suka dengan kak Dion kenapa sekarang berubah menyukai kak Aziz?"kata Sandra.
"Dia tau kalau kamu juga menyukai kak Dion makanya dia memutuskan untuk melupakannya."kata Lydia.
"Tapi kalau masalah perasaan gak mungkin Ita bisa seperti itu kita harus menanyakan sendiri."kata Sandra.
"Tapi apa kamu yakin jika dia akan bercerita pada kita."kata Lydia.
"Kita coba saja dulu."kata Sandra.
Saat mereka berdua sedang asik berbicara Ita yang melihat kalau kedua sahabatnya itu sedang berbicara berdua langsung saja menghampirinya.
"Kalian sedang apa?"kata Ita yang datang menemui mereka berdua.
"Gak ada apa-apa, kamu sudah selesai belum mainnya?"kata Lydia.
"Memangnya kenapa?"kata Ita.
"Kami berdua lapar."kata Sandra.
Mendengar perkataan kedua sahabatnya itu Ita langsung melihat jam tangannya ternyata ini memang sudah petang dan sebentar lagi sudah mau makan malam makannya kedua temannya itu lapar.
"Ya sudah ayo kita beres-beres trus cari makanan dipinggir jalan. Kalian mau makan apa?"kata Ita.
"Aku mau makan yang berbau laut."kata Lydia.
"Aku juga, ayo kita bereska ini dulu."kata Sandra yang dianggukin oleh kedua temannya itu.
Mereka bertiga langsung saja membereskan barang-barang mereka. Lalu mereka mencari makanan pinggir jalan, saat mereka mendapat tempat makanan yang mereka inginkan mereka bertiga langsung masuk ke dalam dan memesan makanan yang mereka mau. Sambil menunggu mereka membicarakan lelucon.
__ADS_1