Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia dan Ryan disuruh nikah


__ADS_3

[Aku sudah mau sampai kamu nunggu aku dimana?]


[Aku keluar sekarang, aku tutup panggilannya ya?]


[Baiklah.]


Lydia pamitan pada yang lain setelah menutup panggilan itu. Semua karyawan yang ada disana penasaran siapa yang dijemput oleh Lydia kok sampsi bela-belain keluar.


"Rim, siapa yang dijemput oleh nona Lydia?"kata karyawan.


"Aku gak tau kalau mau tau liat saja kalau orang itu sudah datang."kata Rima.


"Masak kamu gak tau selama ini kamu yang dekat sama nona?"kata karyawan.


"Dekat bukan berarti tau semua tentang masalah pribadinya."kata Rima.


Lydia berjalan menuju jalan raya mencari tempat yang teduh baru dia berhenti. Sudah 15menit menunggu mobil Ryan tak kelihatan membuat Lydia kesal. Tapi saat dia mau kembali masuk ke villa terdengar suara klakson mobil.


Tiin


Lydia mengurungkan niatnya dan berbalik badan ternyata itu suara mobil Ryan. Lydia tersenyum saat tau itu mobil Ryan. Ryan berhenti didepan Lydia dan membuka kaca mobilnya. Seketika itu wajah Lydia berubah menjadi masam karena lama menunggu pria didepannya itu.


"Maaf ya tadi ada masalah dijalan jadi lama nyampeknya."kata Ryan.


"Memangnya masalah apa?"kata Lydia tetap dengan muka masamnya.


"Masuk dulu ya, diluar memangnya gak panas?"kata Ryan.


"Ya panaslah."kata Lydia sambil masuk ke dalam mobil Ryan.


"Kita masuk ke dalam sini atau ke Villa yang lain?"kata Ryan.


"Sini villa buat karyawan gak satu villa lagi baru villa tempat kita menginap."kata Lydia.


"Kok gak disebelah ini saja?"kata Ryan.


"Kan karyawan laki-laki sama perempuan dipisahkan takut kalau terjadi sesuatu yang gak diinginkan."kata Lydia.


"Oh gitu, lalu kenapa kita harus satu villa? Kalau karyawan saja dipisahkan."kata Ryan.


"Tanya saja nanti sama mama dia yang nyuruh kamu satu villa sama kita."kata Lydia.


"Mama atau kamu yang mau kita satu villa?"kata Ryan.


"Terserahmulah maunya gimana aku gak perduli."kata Lydia sambil bersedakap tanda kalau dia kesal.


"Baiklah kalau kayak gitu maafkan saya tuan putri. Inikan villanya?"kata Ryan berusaha untuk mencairkan suasana.


"Hmmm."kata Lydia yang masih kesal karena Ryan banyak tanya.

__ADS_1


Mereka berdua keluar dari dalam mobil setelah Ryan memarkirkan mobilnya didalam garasi. Ryan berusaha mengajak Lydia berbicara tapi gadis itu hanya diam saja membuat Ryan menarik tangannya karena Lydia jalan duluan. Sedangkan Lydia yang terkejut karena tangannya ditarik oleh Ryan kehilangan keseimbangannya dan membuat mereka berdua terjatuh.


Lydia terjatuh diatas tubuh Ryan, tanpa sengaja juga dia mencium bibir Ryan. Awalnya hanya menempel tapi Ryan malah memegang tengkuk Lydia sehingga ciuman bibir itu menjadi ciuman panas. Orangtua Ryan dan Anton yang melihat dari jauh hanya geleng-geleng kepala. Mereka gak menyangka jika Ryan yang dingin dan cuek itu bisa mencium bibir anak gadis ditempat umum.


"Yah,bun sebaiknya kalian cepat nikahkan mereka deh daripada terjadi sesuatu yang gak diinginkan."kata Anton.


"Kami mau Ton, tapi bagaimana dengan Lydia kamu tau sendiri dia belum membuka hati."kata bunda Arina.


"Kayaknya kalian salah deh kalau Lydia belum membuka hati."kata Anton.


"Salah gimana?"kata papa Dany.


"Coba ayah sama bunda liat mereka sama-sama menikmati ciuman itu."kata Anton.


"Kamu benar juga sayang, bentar bunda hubungi Intan dulu biar dia keluar."kata bunda Arina.


Bunda Arina mengirim pesan pada mama Intan. Mama Intan yang mendapatkan pesan itu mengajak papa Irwan untuk segera keluar rumah untuk melihat apa benar yang dikatakan oleh Arina. Ternyata saat suami istri itu keluar mereka berdua disuguhi pemandangan yang sangat mengejutkan ciuman panas antara Lydia dan Ryan.


"Hmmmm."kata papa Irwan membuat mereka berdua terkejut.


Lydia yang tersadar langsung bangun dari tubuh Ryan. Dia terdiam saat tau yang memergoki keduanya adalah orangtuanya sendiri. Orangtua Lydia mengajak Lydia dan Ryan masuk. Mereka duduk diruang keluarga dengan Lydia yang tertunduk sedangkan Ryan hanya biasa saja sedangkan orangtua Lydia pura-pura marah.


"Bisa jelaskan apa yang kami liat tadi?"kata papa Irwan dengan suara dinginnya.


"Om kami hilaf tadi Aku yang salah karena sudah memaksa Lydia berciuman didepan umum. Aku akan bertanggungjawab dengan apa yang kami lakukan."kata Ryan.


"Aku siap om."kata Ryan.


"Yan, pa ma aku gak mau nikah sama dia lagian tadi kami gak sengaja berciuman."kata Lydia yang gak mau menikah.


"Gak sengaja kamu menikmatinya Ly, kalau kamu gak mau gak bakal ada ciuman itu. Mama sama papa gak mau tau hari ini juga kalian harus segera menikah."kata mama Intan.


"Ma..."kata Lydia.


"Iya menikah secara agama dulu setelah itu kita urus diKUA surat-suratnya."kata papa Irwan.


"Ma, pa aku gak mau nikah. Yan jangan diam aja dong?"kata Lydia.


"Aku siap hari ini menikah om, tapi aku harus mengabari orangtuaku dulu."kata Ryan.


"Aku benci sama kamu Yan."kata Lydia yang pergi dari sana menuju kamarnya.


"Sudah gak usah pikirkan Lydia. Kamu siapkan saja dirimu malam ini. Orangtuamu sebentar lagi juga akan datang.'kata mama Intan.


"Maksutnya tan?"kata Ryan.


Mama Intan menceritakan rencana mereka sebenarnya. Tapi ternyata mereka malah dibuat terkejut dengan kejadian tadi membuat mereka sadar jika Ryan dan Lydia sudah ditakdirkan untuk bersatu.


Ryan yang terkejut pada awalnya tapi akhirnya tersenyum senang karena dia gak menyangka jika kedua orangtua mereka mendukung penuh hubungannya dengan Lydia.

__ADS_1


Anton dan papa Irwan menemui pak Rt dan juga penghulu agar datang ke ruamh untuk menikahkan Lydia. Orangtua Ryan menemani Ryan dikamar Ryan untuk mempersiapkan pernikahan itu. Orangtua Ryan memberikan nasihat-nasihat pada Ryan apalagi mereka tadi sempat mendengar perkataan Lydia kalau dia menolak keras pernikahan ini.


Mama Intan masuk ke dalam kamar Lydia yang sedang menangis. Mama Intan menghera nafasnya sebenarnya dia tak ingin memaksa putrinya menikah tapi dia juga gak mau melepaskan Ryan sebagai calon menantunya. Mama Intan yakin jika putrinya itu akan bahagia jika Lydia menikah dengan Ryan.


"Ly,kita siap-siap ya."kata mama Intan.


"Ma, aku gak mau nikah sama Ryan."kata Lydia.


"Boleh mama tau kenapa kamu gak mau nikah sama Ryan?"kata mama Intan.


"Ma, aku gak mau disebut pelakor ma."kata Lydia.


"Kamu bukan pelakor sayang, lagian Ryan juga belum menikah kalau dia sudah menikah baru kamu disebut pelakor."kata mama Intan.


"Tapi aku gak cinta dengan Ryan ma."kata Lydia berbohong padahal dalam hatinya dia sangat mencintai Ryan tapi dia gak bisa mengatakannya karena dia belum tau bagaimana perasaan Ryan yang sebenarnya.


"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu sayang."kata mama Intan.


"Tapi ma..."kata Lydia gak jadi meneruskan perkatannya karena mamanya sudah memotongnya duluan.


"Sudah gak usah bicaralagi, ayo kamu dandan sebentar lagi papa datang dengan pak penghulu."kata mama Intan.


"Aku belum siap ma."kata Lydia.


"Siap gak siap harus siap sayang apalagi kalau sampai kejadian dihalaman tadi diliat orang bagaimana apa kata mereka? Mama sama papa gak ada pilihan lain selain menikahkan kalian."kata mama Intan.


"Baiklah ma, tapi aku gak janji akan menerima pernikahan ini."kata Lydia.


"Pelan-pelan sayang mama yakin kamu akan menerima pernikahan ini."kata mama Intan.


Akhirnya setelah dibujuk mamanya Lydia mau juga menikah. Saat mamanya mendandani Lydia sekalian beliau memberikan nasihat pada putrinya itu kewajiban dan tugas seorang istri. Yang paling utama seorang istri tak bisa membantah atau menolak keinginan suami. Asal apa yang dilakukan suami itu dijalan yang benar kalau dijalan yang salah barulah seorang istri bisa menegur dan menolak kemauan suami. Istri juga dilarang meninggikan suaranya pada suami.


"Ingat pesan mama tadi sayang."kata mama Intan sambil meneteskan airmatanya.


"Kenapa mama menangis?"kata Lydia.


"Mama gak nyangka kalau putri mama sudah dewasa dan mau menikah. Mama gak nyangka kalau putri yang mama gendong dulu sudah menjerma menjadi seorang perempuan yang cantik."kata mama Intan.


"Ma, sampai kapanmu aku akan jadi putri kecil mama sama papa."kata Lydia.


"Iya sayang."kata mama Intan sambil memeluk putrinya.


Lydia selesai ganti baju kebaya bertepatan dengan Rima yang masuk kamar. Rima terpesona melihat kecantikan temannya itu, dia juga gak menyangka kalau Lydia yang akan menikah.


"Ya ampun kamu cantik banget Ly."kata Rima sambil memutar badan Lydia.


"Iya dong siapa dulu mamanya?"kata mama Intan.


"Iya deh tante juga cantik. Sudah ayo kita keluar akadnya mau dimulai tinggal nunggu pengantin perempuannya."kata Lydia

__ADS_1


__ADS_2