
"Siapa yang mikirin pekerjaan?"kata Ryan.
"Syukurlah kalau gitu, ayo kita pergi."kata Lydia.
"Kita naik mobil."kata Ryan.
"Jalan kaki."kata Lydia.
"Kalau jalan kaki ganti baju, diluar dingin."kata Ryan.
"Kak..."kata Lydia.
"Ganti baju atau aku yang pergi sendiri membeli satenya?"kata Ryan.
"Ih nyebelin."kata Lydia yang berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian.
Ryan yang melihat Lydia berjalan sambil memasamkan wajannya hanya tersenyum, Ryan sendiri kembali mengambil laptopnya untuk mengecek email dari kakaknya tadi tapi baru saja dia mengecek emailnya ada email masuk dari Dayat. Ternyata itu foto-foto dirinya dan mantannya dulu membuat Ryan menghera nafasnya mau apalagi perempuan itu datang menganggunya. Ryan mengirim pesan pada Dayat.
Ryan
[Apa yang dia lakukan diJakarta?]
Tak butuh menunggu lama Dayat sudah membalas pesan dari Ryan, awalnya dia ragu tapi ini demi kebaikan Ryan dan Lydia. Apalagi Dayat tau kalau sampai sekarang Lydia belum menerima pernikahan itu sepenuhnya bisa jadi dengan adanya gosip itu membuat Lydia salahpaham dan akan meninggalkan tuannya.
Dayat
[Vira datang kerumah orangtua anda dan bilang kalau anak dalam kandungannya adalah anak anda.]
Ryan
[Kamu selidiki semua ini, besok aku akan pulang.]
Dayat
[Gak jadi hari ini tuan katanya mau ke Jakarta hari ini?]
Ryan
[Gak jadi, aku gak tega ninggalin Lydia sendirian dia sedang sakit. Kamu sudah menyelidiki data yang aku kirim ke kamu itu belum?]
Dayat
[Nyonya sakit apa tuan, jangan-jangan nyonya hamil tuan.]
Ryan
[Maunya sih gitu sayangnya bukan, sudah nanti lagi kirim pesannya Lydia sudah keluar dari kamar mandi.]
__ADS_1
Dayat
[Baik tuan semangat untuk mendapatkan hati nyonya, kalau soal Vira serahkan saja padaku.]
Ryan menyimpan ponselnya ke dalam sakunya setelah itu menutup laptopnya lalu meletakkannya diatas meja. Lydia yang melihat itu kesal karena daritadi suaminya itu mengerjakan pekerjaannya terus. Lydia bukannya mengambil tasnya tapi malah duduk disofa sambil mesedekapkan tangannya membuat Ryan yang melihat mengerutkan alisnya lalu mendekati istrinya itu.
"Kamu kenapa lagi?"kata Ryan yang bingung dengan sikap Lydia yang berubah-ubah.
"Katanya tadi gak mikirin pekerjaan baru saja aku tinggal kamu sudah buka laptop lagi."kata Lydia dengan nada kesalnya.
"Aku hanya buka laptop saja gak ngerjain tugas kok."kata Ryan.
"Bohong.."kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.
"Kalau kamu gak percaya kamu bisa liat laptopku."kata Ryan tapi setelah berkata begitu terdiam karena tadi belum menghapus foto dirinya dan Vira yang dikirimkan oleh Dayat.
"Malas, ayo keluar sekarang."kata Lydia sambil berjalan keluar.
"Ponselmu?"kata Ryan.
"Malas bawa kakak bawa ponselkan nanti kalau ada apa-apa aku bisa gunain ponsel itu."kata Lydia.
"Ya sudah ayo berangkat, nanti makan dirumah saja ya?"kata Ryan.
"Memangnya kenapa?"kata Lydia.
"Kita bagikan saja makanan itu, aku mau makan disana gak mau dibawa pulang."kata Lydia ngeyel padahal yang sebenarnya dia hanya ingin berdua dengan Ryan.
"Terserahmulah."kata Ryan.
Lydia yang melihat wajah tak senang Ryan kecewa, Lydia berjanji setelah ini gak akan memaksa Ryan lagi. Lydia semakin yakin kalau Ryan menikahinya karena paksaan dari orangtua seandainya kemarin tak terpegung sedang berciuman mungkin mereka sekarang belum menikah. Apalagi tadi Lydia mendengar Ryan berkata 8tahun berhubungan pasti yang Ryan hubungi tadi seorang perempuan.
"Ayo kita berangkat sekarang?"kata Lydia.
"Iya ayo."kata Ryan.
Lydia berjalan duluan menuju dapur untuk mewadahi makanan yang dimasak oleh bibi. Setelah selesai dia membawa makanan itu dan mengajak Ryan untuk keluar. Lydia menikmati malam hari itu dan saat dia melihat ada seorang yang duduk dipinggiran telotoa Lydia berjalan menghampirinya.
"Bu, ini makanan untuk ibu sama dua anaknya."kata Lydia.
"Makasih ya mbak."kata ibu itu sambil menerima 3 kotak nasi.
"Sama-sama bu, mudah-mudahan adiknya suka ya?"kata Lydia sambil mengelus puncak kepala anak kecil itu membuat anak kecil itu tersenyum.
"Makasih kak, kak aku boleh minta tolong sama kakak?"kata anak kecil itu.
"Kamu mau minta tolong apa kalau kakak bisa bantu akan kakak bantu?"kata Lydia sambil duduk disamping mereka tanpa merasakan jijik.
__ADS_1
Ryan yang melihat interaksi istri dan orang jalanan itu tersenyum Ryan gak menyangka jika Lydia memiliki sifat perduli yang tinggi. Ryan tak salah memilih calon istri, pantas saja bundanya selalu berharap menjadi besan dari mama Intan. Bukan hanya mempererat persahabatan tapi juga menjadikan mereka keluarga.
"Kak, aku mau minta tolong kakak bisa ajarkan aku membaca gak?"kata anak kecil itu.
"Maaf ya sayang kalau mengajarkan membaca kakak gak bisa soalnya kakak gak menetap disini tapi kakak janji sama kamu buat cari orang untuk mengajari kalian."kata Lydia.
"Nanti kalau kakak sudah bertemu dengan orang itu bagaimana?"kata anak kecil.
"Rumah kalian dimana kalau kakak boleh tau?"kata Lydia.
"Didekat pembuangan sampah itu, kami tinggal dirumah kardus bilang saja cari mak Narti pasti mereka tau."kata mak Narti.
"Baik, nanti kakak kabari lagi sekarang kami permisi dulu ya."kata Lydia.
"Ini uang buat beli minum."kata Ryan memberikan satu lembar uang seratus ribuan.
"Makasih mas."kata mak Narti.
Mereka berdua berjalan meninggalkan ibu dan dua anak itu, nasi yang mereka bawa masih ada dua bungkus Lydia memberikan pada bapak-bapak tukang ambil sampah. Tapi dengan bapak itu Lydia tak berbicara seperti tadi dia berjalan menuju tempat penjual sate karena perutnya sudah sangat lapar.
"Pak, bu dua porsi ya."kata Lydia saat sudah sampai dipenjual sate.
"Ish kamu ini nduk ngagetin ibu saja, mau makan disini atau dibawa pulang?"kata Ibu.
"Makan disini bu."kata Lydia.
Saat Lydia sedang berbicara ada seorang gadis yang memeluk Lydia dari belakang membuat ibu penjual sate itu hanya mengelengkan kepalanya. Saat melihat anaknya manja sekali dengan Lydia.
"Kamu ini Sar.."kata bapak.
"Gak papa pak, kamu kapan pulang dek?"kata Lydia.
"Tadi sore mbak masih lama disinikan? Aku dengar Dara sudah gak tinggal disini lagi apa iya?"kata Sari.
"Iya, Dara ikut sama ayahnya. Aku besok kembali ke Jakarta."kata Lydia.
"Ya aku gak ada teman dong kalau mbak ke Jakarta."kata Sari manyun.
"Kamu ini teman sebayamukan banyak?"kata Lydia.
"Malas sama mereka mbak."kata Sari.
"Baiklah kalau kamu malas sama mereka mbak boleh minta bantuan kamu?"kata Lydia.
"Sudah bicaranya sambil duduk nanti kursinya ditempati orang."kata ibu.
"Iya bu."kata Sari sambil menarik tangan Lydia agar mengikutinya sedangkan Ryan hanya mengikuti dibelakang.
__ADS_1