Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan mendapat kabar buruk


__ADS_3

Keesokan harinya Lydia yang bangun terlebih dahulu terkejut karena mereka berdua tidur sambil berpelukan. Pelan-pelan Lydia melepaskan tangannya tapi bukannya terlepas tapi malah Ryan memeluk erat tubuhnya.


"Mau kemana sih pagi-pagi begini?"kata Ryan berbicara tapi matanya masih tertutup.


"Ini sudah pagi aku mau bangun gak enak kalau bangun kesiangan."kata Lydia berbohong padahal sebenarnya jantungnya berdetak keras.


"Biar saja mereka juga tau kalau kita sedang lelah."kata Ryan.


"Memangnya lelah ngapain sejak semalam kita tidur?"kata Lydia.


"Memangnya kamu mau apa kalau gak tidur?"kata Ryan.


"Mana aku tau."kata Lydia.


"Oh aku tau kamu mau tidur lebih dari berpelukan ya?"kata Ryan sambil membuka mata.


"Gak usah aneh-aneh deh, singkirka tanganmu aku mau bangun."kata Lydia.


Ryan tetap saja tak mau menyingkirkan tangannya, Lydia yang sudah kesal dengan Ryan menyingkirkan tangannya dengan kasar. Lydia masuk ke dalam kamar mandi dengan berlari takut kalau Ryan marah. Didalam kamar mandi dia memegang dadanya karena bagaimanapun Ryan sudah jadi suaminya dan tindakannya tadi sudah salah. Ryan sendiri yang terkejut dengan perlakuan Lydia hanya meraup wajahnya dan berpikir apa yang telah dia lakukan membuat istrinya itu marah. Saat dia sedang berpikir ponselnya berbunyi membuat Ryan mencari ponselnya saat tau kalau itu panggilan dari Dayat, Ryan langsung mengangkat panggilan itu.


[Hallo Asalamualikum Yat....]


[Walaikumsalam tuan, tuan masih berada dipuncak sekarang?]


[Iya, ada apa memangnya?]


[Tuan bisa pulang ke Jakarta gak hari ini juga?]


[Ada apa kok menyuruhku mendadak pulang?]


[Ada masalah dengan penyaluran barang yang baru saja kita keluarkan tuan.]


[Apa? Kamu gak bercandakan Yat?]


[Gak tuan buat apa saya bercanda.]


[Baiklah kalau kayak gitu aku siap-siap pulang sekarang.]


[Saya tunggu tuan, kalau begitu saya tutup dulu panggilannya.]


Ryan setelah mengakhiri panggilannya langsung saja bangun dari ranjang, mengambil pakaiannya lalu bergegas ke kamar kakaknya untuk mandi. Dia gak ada waktu untuk menunggu Lydia karena pekerjannya kali ini lebih penting. Saat Ryan mau mengetuk pintu Anton bertepatan dengan Anton yang membuka pintu kamarnya.


"Untung kakak buka pintunya aku gak perlu ketuk pintu lagi."kata Ryan.


"Ada apa kamu? Kenapa wajahmu tampak khawatir sekali?"kata Anton.


"Ada masalah diperusahaan aku harus segera kembali ke Jakarta."kata Ryan.


"Kamu gimana sih? Kamu ini baru saja menikah masak mau pergi?"kata Anton.

__ADS_1


"Pekerjaan ini lebih penting kak, kalau aku gak segera pergi aku rugi banyak."kata Ryan.


"Kamu itu lebih mentingin kerugian atau istrimu?"kata Anton.


"Aku juga mentingin Lydia kak, tapi kalau aku gak kembali ke Jakarta ada banyak orang yang akan menderita kalau sampai perusahaanku rugi."kata Ryan.


"Aku bangga sama kamu, ya sudah sana mandi."kata Anton.


Ryan masuk ke dalam kamar Anton dan langsung menuju kamar mandi kakaknya itu sedangkan Anton memutuskan untuk turun ke bawah. Dibawah ternyata sudah ada keluarga mereka yang berkumpul, mereka memadang Anton sedangkan Anton malah lebih duduk dikursiku sambil mengambil makanannya.


"Adikmu mana Ton?"kata bunda Arina.


"Mana aku tau kayak kalian gak pernah saja jadi pengatin baru?"kata Anton.


"Ton kamu ya kalau bicara suka benar."kata ayah Danny.


"Anak siapa dulu?"kata Anton.


"Anak ayahlah."kata ayah Danny.


"Kalian berdua itu memang gak ada malu apa tu dilihatin banyak orang."kata bunda Arina.


"Gak papa kok Rin, biasa mah kayak gitu."kata mama Intan.


"Aku gak enak sama kalian semua."kata bunda Arina.


"Dienakin saja Rin."kata Tina.


"Yan, kamu mau kemana?"kata Lydia.


"Aku mau kembali ke Jakarta."kata Ryan dingin membuat Lydia berpikir kalau Ryan benar-benar marah sama dia.


"Ya sudah ada yang bisa aku bantu?"kata Lydia.


"Ini sudah selesai kok, kamu kok gak pakai baju?"kata Ryan yang melihat kalau Lydia hanya memakai kimono mandi saja.


"Akukan gak ada baju lagi."kata Lydia membuat Ryan menepuk keningnya karena lupa.


"Gimana ya, kamu memangnya mau pakai baju bekasku biar yang semalam dicuci sama bibi dulu?"kata Ryan.


"Baju yang mana?"kata Lydia.


"Yang semalam aku pakai tidur? Itu kalau kamu mau kalau gak ya aku bawa balik?"kata Ryan.


"Aku mau lumayan bisa buat gantian nanti malam yang satunya lagi."kata Lydia.


Ryan membuka kembali tasnya dan mengambil baju yang sudah dimasukkan ke dalam tas setelah itu dia memberikan pada Lydia.


"Nih."kata Ryan.

__ADS_1


"Makasih aku pakai dulu, kamu tungguin kita turun sama-sama."kata Lydia.


"Ya sudah sana ganti aku tungguin."kata Ryan.


Lydia berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Ryan menunggu Lydia selesai pakai baju sambil berkirim pesan pada Dayat. Ryan menyuruh Dayat untuk langsung ke lokasi nanti dia akan menyusul, Lydia keluar kamar mandi melihat suaminya sibuk dengan ponselnya sebenarnya curiga tapi dia gak bisa bertanya karena mereka menikah karena terpaksa.


"Yan, ayo turun."kata Lydia.


"Kamu sudah selesai?"kata Ryan sambil memadang Lydia tapi dia terkejut karena Lydia mencepol rambutnya ke atas membuat lehernya panjang dan itu bisa membuat orang tergoda.


"Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?"kata Lydia.


Ryan bukannya menjawab, dia memilih untuk mendekati Lydia dan saat sudah dekat tangannya melepas rambut Lydia membuat dia terkejur.


"Aku gak suka kalau lehermu diliatin orang."kata Ryan berbisik ditelinga Lydia membuat Lydia merinding mendengar suaranya.


"Apaan sih."kata Lydia yang gak mau jika Ryan mendengar detak jantungnya.


"Oke oke terserahmu saja, aku mau berangkat sekarang."kata Ryan.


"Ya sudah ayo aku anterin ke depan."kata Lydia.


Pasangan pengantin baru itu turun ke bawa bersama-sama. Keluarga yang ada dimeja makan melihat mereka berdua, tapi mereka dibuat terkejut karena saat mereka sampai dimeja makan Ryan membawa tas ranselnya.


"Kamu mau makan kemana?"kata bunda Arina.


"Maaf aku harus kembali ke Jakarta."kata Ryan.


"Kamu kenapa kembali cepat sekali kalian baru nikah lo?"kata Tina.


"Ada yang harus saya kerjakan tan."kata Ryan.


"Ya sudah hati-hati deh kalau kayak gitu, masak sih pengantin baru sudah langsung ditinggal apa mungkin nikahnya karena dipaksa?"kata Tina.


"Ma, maaf ya nak Ryan gak usah didengar omongan tante kamu ni."kata Sahrul yang gak enak hati pada yang lain.


"Gak papa kok om. Kalau kayak gitu aku pergi dulu."kata Ryan.


"Hati-hati."kata papa Irwan.


Ryan setelah berpamitan dengan semuanya mengajak Lydia keluar untuk mengantarkan pulang. Lydia keluar menemani Ryan dengan muka yang masam. Dia tak suka diejek oleh tante Tina tadi. Ryan baru sadar kalau istrinya itu menekukan wajahnya saat dia mau pamitan pulang.


"Kenapa muka ditekuk kayak gitu?"kata Ryan.


"Aku gak suka dengan perkataan tante Tina tadi."kata Lydia.


"Sudah gak usah dipikirin, kamu nikmati saja liburanmu disini. Aku pulang dulu."kata Ryan.


"Ya sudah hati-hati kalau sudah sampai aku kabari."kata Lydia.

__ADS_1


"Insyaallah."kata Ryan sambil menyentuh pipi istrinya. Bukannya Ryan gak mau mencium Lydia tapi dia takut jika nanti malah kebabarasan.


Lydia setelah kepergian Ryan merasa kecewa karena Ryan hanya pergi begitu saja.


__ADS_2