Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Menyelidiki masalah diperusahaan Lydia


__ADS_3

"Aku gak tau ini no rek siapa karena aku baru bekerja disini?"kata Sandra.


"Aku juga gak tau. Yat, kamu gak punya kenalan orang bank atau orang yang pintar meretas?"kata Rima.


"Memangnya kalian gak ada kenalan orang yang pandai IT apa?"kata Ryan.


"Gak ada tuan, tapi bukan sebaiknya kita lebih baik memeriksa cctv terlebih dahulu dengan begitu kita bisa melihat siapa yang masuk keruangan saya dan ruangan Sandra ataupun ruangan bu Rima."kata manager keuangan.


"Bapak benar juga kenapa aku gak kepikiran kesana ya, kalau kayak gitu aku periksa dulu."kata Ryan.


Ryan setelah berkata begitu fokus dengan komputernya untuk membuka cctv karena hanya ruangan dia, ruangan Lydia dan ruang kontrol cctv saja yang bisa sewaktu-waktu mengecek cctv. Ryan melihat memang ada seseorang yang masuk keruangan ketiga orang yang ada didepannya itu.


"Memang ada yang masuk keruangan kalian kemarin, apa ada yang tau siapa orang itu?"kata Ryan sambil memperlihatkan monitornya kearah ketiga orang itu.


Ketiga orang yang ada didepan Ryan langsung memandang kearah monitor dan dia bisa melihat kalau didalam rekaman cctv itu ada orang yang sangat mereka kenal. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka liat sebab pria yang ada didalam rekaman itu dikenal sebagai karyawan yang sangat baik dan tak neko-neko dalam bekerja.


"Kalian kenal orang yang ada didalam rekaman cctv itu?"kata Ryan yang gak sabar mendengar penjelasan dari ketiga orang yang ada diidepannya itu.


"Kami kenal dengan beliau tapi kami gak yakin jika beliau yang melakukan semua ini."kata manager keuangan yang disetujui oleh kedua perempuan yang ada disana.


"Kenapa kalian bisa berpikir seperti itu?"kata Ryan.


"Beliau itu sudah lama bekerja disini dan selama ini gak pernah neko-neko dalam bekerja. Apalagi beliau juga salah satu orang kepercayaan tuan Irwan."kata manager keuangan membuat Ryan menganggukan kepalanya.


"Tapi bukannya rekaman cctv itu sudah bisa memastikan kalau orang itulah yang sudah masuk keruangan kalian?"kata Dayat.


"Gak semuanya benar, kalau sebelum dia ada orang lain yang masuk ke dalam ruangan kita lalu menghapus rekaman itu bagaimana? Aku hanya takut kalau kita salah menuduh orang jika apa yang aku katakan itu benar."kata Rima.


"Lalu apa rencanamu untuk memastikan semua ini?"kata Ryan.


"Kami selidiki sendiri saja tanpa ada karyawan yang lain boleh? Masalah ini terjadi karena saya sudah larai jadi biarkan saya menyelidikinya."kata manager keuangan.


"Baiklah aku percayakan masalah ini dan kamu Rim yang melaporkan hasil penyelidikan padaku maupun ke Dayat."kata Ryan.


"Memangnya tuan besok gak jadi ke Bogor mengantarkan nyonya?"kata Dayat.


"Aku tetap akan mengantarkannya ke Bogor tapi bukan berarti Rima gak bisa menghubungiku kan?"kata Ryan.


"Ngapai ke Bogor Yan?"kata Rima.


"Biasalah sekarang dia paling malas kalau disuruh kerja maunya santai saja dirumah katanya sudah ada yang menanggungnya."kata Ryan membuat semua orang yang ada disana tersenyum karena apa yang dikatakan oleh Lydia itu benar.


"Kamu benar, aku saja sebenarnya juga mau istirahat setelah nikah. Tapi kamu tau sedniri bagaimana istrimu?"kata Rima membuat Ryan tersenyum.


"Kamu 'kan tau kalau perusahaan ini yang bangun bukan hanya papa Irwan tapi juga atas bantuan om Sahrul yang selalu ada disaat papa Irwan dalam keadaan susah dan senang. Mungkin karena itu Lydia ingin kamu tetap bekerja agar bisa ikut menikmati apa yang sudah dibangun oleh mereka berdua."kata Ryan.


"Kamu salah kalau bilang kayak gitu, kalau untuk menikmati hasil bukan seharusnya aku hanya tinggal duduk santai dirumah saja. Tapi pada kenyataannya aku malah pusing dengan masalah diperusahaan."kata Rima.


"Sudah kok jadi kalian berdebat, kalau kalian berdebat terus bagaimana bisa menyelidiki masalah ini dengan cepat?"kata manager keuangan.


"Maaf pak, oke kita kembali ke kerjaan. Kalian mau menyelidiki masalah ini darimana dulu nih?"kata Ryan.


"Dari laporan pemasaran saja dulu bagaimana dengan begitu kita bisa menghitung untung dan rugi sambil kita melihat siapa yang sudah berkerjasama dalam memalsukan laporan penjualan?"kata manager keuanan.


"Baiklah aku iku bapak saja bagaimana baiknya, kalau begitu kalian bisa kembali ketempat kalian masing-masing."kata Ryan.


Ketiga orang itu keluar dari ruangan Ryan untuk kembali keruangannya, Dayat bingung dengan Ryan karena gak biasanya temannya itu terlalu santai dalam menangani sebuah masalah. Ryan yang sadar kalau Dayat daritadi memandangnya mengerutkan keningnya.


"Kamu kenapa?"kata Dayat.


"Memangnya aku kenapa?"kata Ryan yang bingung dengan pertanyaan Dayat.


"Gak biasanya kamu menyelesaikan suatu masalah seperti ini?"kata Dayat mengatakan kebingungannya.


"Memangnya biasanya aku bagaimana?"kata Ryan.


"Kamu biasanya akan marah dan tak mau tau hari ini juga harus menyelesaikan masalah yang terjadi."kata Dayat membuat Ryan tersenyum.


"Aku sengaja."kata Ryan membuat Dayat semakin bingung dengan perkataan Ryan.


"Yan bisa gak, gak usah bikin aku semakin bingung dengan perkataanmu ini?"kata Dayat yang mulai kesal karena Ryan mengerjainya.


"Oke gini deh, bukannya menyelesaikan masalah korupsi ini gampang banget. Kita sudah mengantongi no rek yang ditransfer oleh perusahaan lalu buat apa kita menyelidiki lebih jauh hanya dengan bertanya dengan bank saja semua sudah selesai."kata Ryan yang membuat Dayat terdiam karena apa yang dikatakan temannya itu benar.


"Lalu kenapa kamu menyuruh yang lain untuk menyelidiki masalah ini kalau dengan cara itu saja semua sudah selesai?"kata Dayat.

__ADS_1


"Aku cuma mengtest mereka sejauh mana mereka bisa dipercaya."kata Ryan membuat Dayat menganggukan kepalanya.


"Gila kok aku gak kepikiran kesana ya daritadi?"kata Dayat.


"Sudah tu kamu retas bank dan caritau rek itu milik siapa?"kata Ryan sambil menyerahkan kertas yang berisi no rek pada Dayat.


Dayat yang mendapatkan perintah dari Ryan langsung saja mengambil laptopnya. Dayat memulai mengotak-atik laptopnya sedangkan Ryan menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda gara-gara masalah tadi. Ryan mengerutkan keningnya saat mempelajari kembali laporan pemasaran karena grafiknya bukannya tinggi tapi malah menurun membuat Ryan mengerutkan keningnya. Ryan menghubungi Sandra untung saja Sandra sudah duduk ditempatnya karena dia baru saja dari toilet.


[Hallo ada yang bisa saya bantu?]


[San, kamu tolong ambilkan laporan pemasaran 3bulan kebelakang bisa?]


[Baiklah, bentar dulu aku ambilkan setelah itu aku antar kedalam.]


[Oke, aku tunggu laporan itu secepatnya karena ada yang harus aku periksa lagi.]


[Baiklah, aku tutup dulu panggilannya untuk mengambil laporan itu.]


Sandra setelah mengakhiri panggilan dengan Ryan berjalan menuju ruangan Rima untung saja hanya beda satu lantai dengan ruangannya jadi Sandra gak perlu jauh-jauh turun kebawah. Saat Sandra berjalan menuju ruangan Rima banyak karyawan yang memberi hormat padanya karena mereka tau jika Sandra adalah sekertaris pemilik perusahaan. Tapi ada juga yang memandang sinis Sandra tapi Sandra tak pernah menangapi orang-orang itu.


Tok tok tok


"Masuk."kata Rima dari dalam ruangannya.


"Sorry kalau aku ganggu kamu."kata Sandra membuat Rima yang mendengar suara Sandra beralih memandang sekertaris Lydia.


"Kamu San, ada apa nih tumben datang gak ada kerjaan memangnya?"kata Rima sambil tersenyum.


"Aku disuruh Ryan buat ngambil laporan pemasaran 3bulan belakangan."kata Sandra membuat Rima mengerutkan alisnya.


"Apa ada yang salah dengan laporan itu?"kata Rima.


"Aku juga gak tau, aku hanya disuruh kamu tanya saja sendiri sama Ryan kalau mau tau?"kata Sandra.


"Bentar aku ambilkan laporan itu setelah itu aku ikut kamu naik keatas."kata Rima.


"Oke deh, kok kamu betah sih diruangan ini?"kata Sandra.


"Memangnya kenapa aku gak betah?"kata Rima.


"Kamu ini kayak gak tau saja kepala orang itu beda-beda, kamu gak ingat aku dulu kayak gimana jadi menghadapi mereka itu bukan masalah besar bagiku?"kata Rima.


"Iya juga sih tapi mereka itu kayaknya gak ada apa-apanya dibanding kamu?"kata Sandra.


"Sudah ayo kita ke ruangan Ryan nih sudah ketemu laporan yang diminta Ryan."kata Rima sambil menunjukan 3map pada Sandra.


"Eh tunggu yang bulan ini iya gak ya?"kata Sandra.


"Kamu ini sudah pikun ya bukannya laporan yang bulan ini masih disana ya?"kata Rima.


"Oh ya juga ya maklum beda pimpinan kalau sama Lydia dia memang tegas tapi tak semenakutkan Ryan."kata Sandra membuat Rima tersenyum.


"Padahal Ryan disini tak semanakutkan saat dia bekerja diperusahaannya sendiri gitu saja kamu takut."kata Rima.


"Maksutmu bagaimana?"kata Sandra.


"Maksutmu bagaimana?"kata Rima yang tak menerti dengan perkataan Sandra.


"Kamu coba cari tau informasi bagaimana Ryan saat mengelola perusahaannya sendiri, perusahaan Hendru dan juga perusahaan keluarganya nanti kamu akan mengerti. Sudah ayo kita segera keruangan Ryan daripada nanti kena marah."kata Sandra.


Kedua perempuan itu pergi meninggalkan ruangan Sandra untuk pergi keruangan Ryan. Saat mereka keluar karyawan yang ada diruangan itu ada yang menunduk hormat ada juga yang menatap sinis kearah merka. Kedua perempuan itu tak memikirkan pandangan para karyawan karena baginya yang terpenting mereka segera keruangan Ryan.


"Masuk lewat orang dalam saja belagu."kata karyawan perempuan.


"Kamu tau darimana kalau mereka masuk karena orang dalam?"kata karyawan lainnya.


"Coba kamu pikir gak mungkin mereka cepat naik pangkat kalau gak lewat orang dalam."kata karyawan perempuan.


"Tapi yang aku tau mereka naik pangkat karena kinerja mereka."kata karyawan lain.


"Kalian kok percaya banget sih sekarang gini deh mana ada maling ngaku nanti bisa penuh."kata karyawan perempuan.


"Kamu jaga mulutmu kalau nanti mereka dengar bagaimana bisa dipecat kamu?"kata karaywan pria yang baru datang.


"Gak mungkinlah aku dipecat soalnya aku punya orang dalam."kata karyawan perempuan.

__ADS_1


"Memangnya dimana orang dalam kamu itu kalau aku boleh tau?"kata karyawan lain.


"Dia bekerja diperusahaan cabang dan memilik jabatan penting disana makanya aku gak akan bisa dipecat."kata karyawan perempuan.


"Memangnya apa jabatannya kalau aku boleh tau?"kata karyawan pria.


"Dia orang kepercayaan tuan Irwan jadi kalian pahamkan?"kata karyawan perempuan.


"Hanya orang kepercayaan saja sudah bangga memangnya kamu gak tau kalau bu Rima itu putri salah satu petinggi disini?"kata karyawan pria.


"Mana mungkin dia salah satu putri petinggi disini, mana ada yang mau bekerja dari bawa?"kata karyawan perempuan.


"Siapa tau dia sengaja dari bawah karena ingin merasakan bagaimana susahnya jadi karyawan jika nanti dia dapat posisi tinggi dia bisa adil?"kata karyawan pria.


"Sudahlah bicara sama kamu itu pasti akan membela kedua perempuan itu karena kamu suka dengan salah satu dari mereka."kata karyawan perempuan itu sambil mengajak temannya pergi meninggalkan karyawan pria.


Karyawan pria itu hanya mengelengkan kepalanya seandainya mereka tau kalau Rima adalah putri tuan Sahrul memangnya mereka berani berkata seperti itu. Karyawan pria itu meneruskan pekerjaannya yang tertunda tadi, sedangkan dilantai atas Rima deg-degan saat mau membuka pintu ruangan Ryan. Ryan dan Dayat yang tau kalau ada yang membuka pintu ruangan itu langsung saja menutup laptop Dayat karena mereka sedang menyelidiki masalah yang terjadi diperusahaan ini.


"Maaf aku ganggu ya?"kata Rima gak enak karena tak mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Gak papa kok, kok kamu yang membawa berkasnya sendiri memangnya Sandra mana?"kata Ryan.


"Aku yang maksa Sandra supaya aku yang menyerahkan berkas ini, sekalian aku mau tanya ada apa kok kamu meminta berkas 3bulan terakhir?"kata Rima yang membuat Ryan tersenyum.


"Nih kamu liat sendiri grafik antara bulan ini dengan 3bulan terakhir."kata Ryan sambil menyerahkan tiga lembar kertas yang berisi grafik penghasilan perusahaannya.


Rima mengambil kertas yang diberikan oleh Ryan saat Rima melihatnya dia sangat terkejut.


"Bagaimana ini bisa kayak gini?"kata Rima.


"Mana aku tau, aku mau tanya sama kamu apa beberapa bulan ini kamu gak memerikas kembali laporan penjualan?"kata Ryan.


"Maafin aku ini semua salahku karena sudah larai menjalankan tugas."kata Rima.


"Lalu selain kamu siapa yang bertanggungjawab atas laporan ini?"kata Ryan.


"Bentar aku panggilkan Aryo, aku boleh pinjam teleponnya bentar?"kata Rima.


"Pakai saja."kata Ryan.


Rima mengambil telepon yang ada diruangan itu untuk menghubungi ruang pemasaran, setelah menyuruh Aryo datang keruangan Ryan. Rima mematikan panggilan sedangkan Dayat yang penasaran langsung saja bertanya siapa Aryo karena nama itu gak asing baginya.


"Rim, kalau aku boleh tau siapa Aryo?"kata Dayat.


"Karyawan baru yang akan mengantikanku menjadi manager pemasaran, aku memang sengaja memberi tanggungjawab dia beberapa bulan ini untuk memeriksa semua laporan. Tapi aku salah karena langsung percaya saja tanpa memeriksanya lagi."kata Rima merasa bersalah.


"Sudah jadikan ini pelajaran, aku lupa kalau kamu sebentar lagi mau mengantikan om Sahrul pasti kerjaanmu banyak."kata Ryan.


"Walaupun kerjaanku banyak bukan berarti aku mengabaikan tanggungjawabku memeriksa laporan."kata Rima.


"Sudah gak usah salahkan diri sendiri."kata Ryan gak jadi meneruskan perkataannya karena mendengar suara pintu ruangannya diketuk.


Dayat yang mendengar itu berjalan untuk membukakan pintu ruangan itu untuk mempersilahkan Aryo masuk. Aryo yang mendapatkan tatapan tajam dari Ryan saat masuk gak berani mengangkat wajahnya.


"Kamu ini bukannya karyawan yang awalnya bekerja diperusahaanku karena rekomendasi dari Dayat kamu aku pindahkan kesini?"kata Ryan.


"Iya tuan itu saya."kata Aryo.


"Lalu apa laporan ini percuma kamu direkomendasikan naik jabatan kalau kerjaanmu gak becus?"kata Ryan sambil melemparkan berkas pada Aryo.


Aryo mengambil berkas itu untuk memerikas berkas yang dilemparkan oleh Ryan, Aryo yang memeriksa berkas itu terkejut karena berkas itu gak sesuai dengan apa yang dia kerjakan.


"Maaf tuan, ini bukan laporan yang saya kerjakan ada orang yang sudah mengganti laporan ini."kata Aryo.


"Kalau ini bukan laporan yang kamu buat apa kamu punya bukti?"kata Ryan.


Benar dugaan Ryan jika ada orang dalam yang sudah menyabotase laporan pemasaran dan juga laporan keuangan.


"Saya boleh pinjam laptopnya tuan untuk membuka akun saya?"kata Aryo.


"Yo, kamu simpan laporan itu hanya diakunmu atau diakun lain?"kata Ryan.


"Akun lain ya akun perusahaan tuan."kata Aryo.


"Yat, kasih laptopmu pada Aryo."kata Ryan.

__ADS_1


__ADS_2