
Ryan saat berada diruang meeting langsung saja fokus dengan meeting, banyak karyawan yang takut dengan Ryan karena dia lebih dingin daripada Hendru. Apalagi kalau ada salah sedikit dalam laporan pasti Ryan akan mengerikan. Hendru masih bisa mentoleransi sedangkan Ryan dia akan bertindak tegas dan bisa saja saat itu orang yang melakukan kesalahan itu langsung dipecat.
"Ada yang punya ide tentang proyek ini?"kata Hendru.
Salah satu karyawan mengangkat tanggannya, Hendru langsung bertanya apa karyawan itu memiliki ide baru. Karyawan itu langsung saja menuangkan idenya untuk memulai projek baru. Ryan yang mendengar manggut-manggut karena ide karyawan itu mereka berdua sukai hanya perlu beberapa perubahan.
"Siapa nama kamu?"kata Hendru bertanya pada karyawan itu.
"Saya Haris bos."kata Haris.
"Aku setuju dengan ide kamu ini tapi ada sedikit perubahan dibeberapa tempat. Yan aku mau kamu ikut bertanggungjawb dengan ide baru ini."kata Hendru.
"Baik bos."kata Hendru.
"Apa ada lagi yang ingin ditanyakan?"kata Hendru.
"Sudah gak ada bos."kata semua bersamaan.
"Aku mau kalian saling membantu satu sama lain, nanti kalau sudah siap semua baru kita akan adakan meeting atau nanti setiap 3hari sekali kita adakan meeting untuk membahas proyek baru ini. Sekarang kalian bisa kembali ke tempat kalian masing-masing."kata Hendru.
Mereka langsung saja membubarkan diri, diruangan meeting itu hanya tinggal Hendru dan Ryan. Hendru langsung saja menghera nafasnya karena orangtuanya ingin dia dan Widya segera menikah. Ryan yang melihat atasan dan temannya itu melamun langsung saja bertanya.
"Kamu kenapa?"kat Ryan menyadarkan Hendru.
"Aku dijodohkan sama orantuaku."kata Hendru.
"Bagus dong dengan begitu kamu gak perlu mencari pasangan lagi, lagian pilihan orangtua pasti yang terbaik buat kita."kata Ryan.
"Memang dia baik tapi aku gak yakin apa bisa menerimanya lagian umurnya juga masih muda."kata Hendru.
"Memangnya kalau aku boleh tau berapa umurnya sekarang?"kata Ryan.
"Dia baru lulus sekolah tahun ini, dia juga ingin kuliah dulu sebenarnya tapi keluargaku ingin kami menikah karena kakek banyak berhutang budi pada kakeknya yang sudah meninggal."kata Hendru.
"Wah itu mah masih fresh freshnya Ndru, dia cantik gak?"kata Ryan.
"Ngapain kamu mau tau dia cantik apa gak?"kata Hendru.
"Kalau kamu gak mau buat aku saja kan sama saja."kata Ryan yang langsung dilempar berkas oleh Hendru.
"Bercanda Ndru lagian gak mungkin aku berani mengambil apa yang menjadi miliikmu bisa jadi prekedel aku dibikin sama tante Naya."kata Ryan.
"Sudah gak usah bahas itu ayo kita kembali keruangan ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."kata Hendru.
Kedua pria itu langsung saja keluar dari ruang meeting untuk kembali keruangan Hendru. Sampai diruangan Hendru dia mau berbicara serius tapi diurungkan karena ada panggilan masuk diponsel Ryan. Ryan langsung saja mengangkat panggilan itu
[Hallo Asalamualaikum mbak....]
[Walaikumsalam kamu dimana dek?]
[Aku ada ditempat kerjaku, ada apa menghubungiku jam segini?]
[Kamu pulang sekarang dek.]
[Ada apa mbak?] terdengar suara benda jatuh.
[Mbak ada apa?]
[Kamu pulang dek, ayah sama kak Anton berantem.]
[Baiklah aku pulang sekarang, mbak jagain bunda.]
Ryan seteah memantikan panggilan dari Sinta langsung keluar dari ruangan Hendru tanpa pamit sama Hendru. Hendru sendiri tak mau bertanya karena dia tau pasti ada masalah karena wajah Ryan terliat sangat khawatir.
Ryan sendiei langsung pulang ke rumah dia tak tau apa yang membuat kakak dan ayahnya bertengkar. Sampai rumah dia langsung saja berlari masuk ke dalam benar saja didalam ayah dan kakaknya saling pukul satu sama lain sedangkan bundanya menangis histeris dipelukan mbak Sinta.
"Mbak ada apa?"kata Ryan mendekati bunda dan mbaknya.
"Kak Anton melakukan kesalahan yang besar dengan perusahaan tapi dia tak mau mengakuinya."kata Sinta.
"Yan, tolong pisahkan mereka nak."kata bunda Airin.
Ryan langsung saja berjalan mendekati kedua pria itu untuk memisahkan mereka. Tapi bukannya pisah Anton malah memukul Ryan membuat ayah Dany murka.
"Kenapa kamu pukul adikmu?"kata ayah Dany.
"Ini semua dia yang salah karena lebih memilih bekerja diperuusahaan orang lain."kata Anton menyerahkan Ryan yang bekerja diperusahan orang lain.
"Bukannya kamu bilang bisa memegang perusahaan sendiri lalu kenapa sekarang kamu salahin aku kak? Lagian memangnya ini gak bisa diselesaiin baik-baik apa gak usah pakai banting barang ataupun kekerasan kalau kalian mau bertanding aku akan bawa kalian ke ring tinju. Disana kalian bisa saling memukul satu sama lain."kata Ryan.
"Sudah kalian duduk kita bicarakan ini dengan kepala dingin, mbok."kata bunda Airin.
"Ada apa bu?"kata si mbok.
__ADS_1
"Tolong mbok bersihkan ini semua mbok."kata mama Airin.
"Baik bu, kalau begitu saya ambil ambil alatnya dulu.'kata si mbok.
Mereka semua duduk diruang tengah beda lagi dengan Sinta yang lebih memilih kotak p3k dan alat kompres buat kakak dan ayahnya. Bunda Airin yang melihat itu hanya terdiam sambil menghera nafasnya.
"Ada apa sebenarnya sampai kalian bisa berkelahi seperti ini?"kata Ryan memulai pembicaraan.
"Kamu gak perlu ikut campur."kata Anton.
"Bagaimana aku gak ikut campur kalau yang kamu pukul itu ayah kita? Ayah yang sudah merawat dan membesarkan kita semua. Kak apa mau kamu sebenarnya?"kata Ryan.
"Tanya saja sama ayah ngapain kamu tanya sama aku."kata Anton membuat Ryan menghera nafasnya lelah dengan semua ini.
"Sudah nanti saja bicara lagi sekarang diobati dulu luka kalian, Yan kamu bisa kompres sendiri bibir kamu itu?"kata Sinta.
"Bisa mbak mana kompresannya?"kata Ryan meminta kompres yang dibawa oleh Sinta. Sinta juga memberikan satu pada bundanya untuk mengompres punya ayahnya sedangkan dia sendiri mengompres dan mengobati kakaknya itu.
"Apa yang dilakukan oleh kak Anton, yah?"kata Ryan bertanya pada ayahnya.
"Kakak kamu itu berbuat sesuatu yang membuat perusahaan kita rugi besar."kata ayah Dany.
"Apa yang dia lakukan yah?"kata Ryan kesal.
"Dia menjalin kerjasama dengan klien baru tanpa dia cari tau dulu apa yang diajak kerjasama itu perusahaan asli atau hanya perusahaan bodong. Akhirnya setelah kita kerjasama dan sudah mengirim barangnya perusahaan itu gak bisa dihubungi."kata Sinta.
"Benar apa yang dibilang mbak Sinta kak?"kata Ryan minta penjelasan.
"Kalau iya memangnya kenapa?"kata Anton.
"Kak, kenapa kakak bisa seceroboh ini sih?"kata Ryan.
"Sekarang itu tugas kamu buat memperbaiki perusahaan agar normal kembali."kata Anton.
"Kamu yang salah kenapa harus Ryan yang harus bertanggungjawab?"kata ayah Dany kesal.
"Bukannya tadi ayah bilang kalau akan menyerahkan perusahaan ke Ryan jadi sekarang itu tanggungjawab dia dong."kata Anton.
"Kamu memang gak punya otak tau gak?"kata ayah Dany.
"Maaf kak, sejak kcelakaan itu aku sudah bilangkan kalau aku gak mau kerja disana lagi jadi itu sudah jadi tugasmu dan mbak Sinta aku gak akan ikut campur. Walaupun perusahaan itu diserahkan ke aku sekalipun aku gak akan ambil."kata Ryan.
"Iya karena sekarang perusahaan itu ada diambang ke bangkrutan makannya kamu bilang kayak gitu."kata Anton.
"Benar apa Ryan kak, ini saatnya kakak buat membuktika kalau kakak bisa mengurus perusahaan dan membuat perusahaan itu stabil kembali."kata Sinta sambil membujuk kakaknya.
"Baiklah aku akan tunjukan kalau aku bisa mengatasi masalah perusahaan."kata Anton setelah berkata begitu dia langsung pergi darisana.
Ayah Dany yang melihat kelakuan anak angkatnya itu hanya menghera nafas, dia tak tau kenapa Anton bisa berubah serakah seperti itu. Dia yakin jika ada orang yang telah mencuci otak putranya itu.
"Kalau gitu aku harus kembali kerja dulu."kata Ryan.
"Yan, kamu gak mau bantuin kak Anton?"kata ayah Dany.
"Aku yakin kak Anton dan mbak Sinta bisa menyelesaikan masalah ini, aku gak perlu ikut campur bukannya ayah tau jika ini bukan bidangku?"kata Ryan membuat ayah Dany langsung menghera nafasnya. Ayah Dany tau kalau Ryan tak mau kerja diperusahaan miliknya karena dia tak mau terjadi perebutan perusahaan.
"Baiklah kalau memang itu keputusan kamu ayah gak bisa berbuat apa-apa lagi."kata ayah Dany.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku pergi dulu, Asalamualaikum..."kata Ryan setelah berpamitan sama mereka dia langsung keluar rumah untuk kembali ke perusahaan Hendru.
Saat dia dalam perjalanan dia melihat seorang perempuan yang dia temui tadi sedang berada disamping mobilnya yang sibuk menelpon seseorang. Ryan memutuskan untuk menghentikan mobilnya untuk bertanya apa yang terjadi dengan perempuan itu.
Lydia sendiri yang melihat ada sebuah mobil yang menepikan mobilnya langsung tersenyum senang pasti mobil itu akan membantunya. Tapi saat pemilik mobil itu keluar membuat Lydia terkejut karena itu adalah lelaki yang dia temui ditaman kemari. Ryan berjalan kearah Lydia membuat Lydia berusaha untuk tetap tenang.
"Ada apa dengan mobilnya mbak?"kata Ryan saat sudah berada didekat Lydia.
"Mobilku mogok padahal aku sudah buat janji sama seseorang untuk bertemu."kata Lydia.
"Biar aku liat dulu mobilnya kalau aku bisa aku bantu benerin tapi kalau gak bisa mbak bisa panggil orang bengkel."kata Ryan.
"Aku sudah panggil bengkel langgananku tapi gak diangkat-angkat daritadi."kata Lydia.
"Baiklah aku periksa dulu nanti kalau aku gak bisa baru aku panggil bengkel langgananku."kata Ryan.
Ryan setelah berkata begitu langsung saja melihat mobil Lydia ternyata air kabulatornya habis, mau gak mau Ryan harus memanggil tukang bengkel. Ryan langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi orang bengkel.
[Hallo Yan, ada apa?]
[Mobil temanku mogok dijalan kamu bisa ambil gak?]
[Baiklah dimana?]
[Di jalan sudirman, aku tinggal gak papa ni mobilnya?]
__ADS_1
[Gak papa biar aku delek nanti.]
[Baiklah kalau begitu aku tinggalin disini, tapi cepat kamu ambil karena aku gak bisa ganti kalau hilang mobil mahal soalnya.] sambil merilik kearah Lydia tapi gadis itu sibuk dengan ponselnya.
Ryan yang sudah selesai menghubungi orang bengkel langsung saja mendekati Lydia untuk bilang kalau mobilnya akan diambil oleh tukang bengkel nanti.
"Maaf mbak tadi aku sudah panggilin tukang bengkel dan dia bilang kalau akan datang kesini mbak bisa tinggalin mobilnya disini."kata Ryan.
"Baikah terimakasih kalau kayak gitu."kata Lydia sambil masuk ke dalam mobil untuk mengambil barang-barangnya setelah itu dia mengunci mobilnya.
"Lalu ini kuncinya bagaimana?"kata Lydia.
"Biar saya bawa saja, oh ya mari saya antar anda buat ketemu orang!"kata Ryan.
"Memangnya gak ngrepotin?"kata Lydia gak enak hati.
"Gak papa kok, mari saya antar."kata Ryan.
Mereka berjalan menuju mobil Ryan saat didalam mobil suasanannya menjadi canggung apalagi Ryan yang membantu memasangkan seltbelt pada Lydia dan Ryan terpaku untuk sesaat.
"Maaf."kata Ryan.
Hmmm
"Kamu mau kemana?"kata Ryan.
"Bisa anterin aku ke butik Beauty?"kata Lydia membuat Ryan terkejut ternyata gadis disebelahnya mau ke butik milik tante Naya.
"Baiklah kalau begitu saya antarkan sekarang.'kata Ryan.
"Oh ya ini kunci mobilku."kata Lydia sambil meletakkan kunci mobilnya ditempat yang dapat diliat oleh Ryan.
"Nanti kalau mobil kamu jadi, aku harus menghubungimu bagaimana?"kata Ryan.
"Boleh aku pinjam ponsel kamu?"kata Lydia.
Ryan langsung mengambil ponselnya dan menyerahkan ponselnya pada Lydia. Lydia langsung mengambil ponsel itu dan mengetikkan no ponselnya diponsel Ryan. Setelah itu memberikan ponselnya ke Ryan kembali.
"Kamu kasih nama apa nomu?"kata Ryan.
"Lydia, nama kamu siapa kalau aku boleh tau?"kata Lydia.
"Aku Ryan,butik ini kan yang mau kamu datangi?"kata Ryan saat mereka sudah sampai dibutik milik tante Naya.
"Ya makasih ya."kata Lydia.
Lydia langsung turun dari mobil Ryan setelah itu masuk ke dalam butik saat Ryan sudah tak terlihat lagi. Lydia langsung dibawah keruangan Widya untuk memesan gaun ulang tahunnya.
"Bagaimana ma?"kata Lydia.
"Ya ampun kamu cantik banget sayang."kata mama Intan.
"Aku suka dengan gaun ini sesuai dengan yang aku inginkan, aku akan rekomendasikan kamu ke teman-temanku."kata mama Intan.
"Wid, kamu sibuk gak?"kata Naya yang langsung terkejut karena disana ada Lydia dan juga Intan.
"Loh kalian disini?"kata Naya.
"Iya nih aku lagi antar Lydia coba gaun, padahal aku bilang supaya datang sendiri saja tapi gadis ini malah gak mau malu katanya.
"Masak sih ma, bukannya tadi mama yang memaksa ikut. Mama mau pesan sebuah gaun lagi buat ulang tahun perusahaan nanti."kata Lydia yang langsung dipelototin oleh mamanya sedangkan Lydia hanya tersenyum.
"Kamu itu Ly, tapi kayaknya saat itu aku gak bisa bikinin gaun buat kamu deh soalnya aku sibuk dengan resepsi Hendru disini."kata Naya.
'Kak Hendru mau nikah tan?"kata Lydia yang terkejut karena pria itu tak berkata apa-apa padanya.
"Iya dan sebelah kamu itu calon istrinya, Gimana calon menantu tante cantik gak?"kata Naya.
"Cantik tan, apalagi desain bajunya bagus, nanti aku gak perlu susah-susah cari orang untuk membuatkanku baju."kata Lydia.
"Memangnya gaun buatan tante gak cocok sama kamu?"kata Naya.
"Cocok tan, tapi buatan Widya ini sesuai dengan stylenya anak muda."kata Lydia.
"Kamu itu, tante harap kalian bisa jadi teman setelah ini."kata Naya.
"Insayaallah, maaf ya tadi aku ngaku-ngaku jadi calonnya kak Hendru."kata Lydia minta maaf.
"Kalian masih pakai alasan itu agar yang mendekati kalian menjauh?"kata Naya.
"Masih tan, tapi setelah ini gak bisa lagi. Aku harus cari pengganti kak Hendru yang mau diajak pura-pura."kata Lydia.
"Kalian berdua itu, aku gak habis pikir kenapa kita punya anak yang goblok saat jatuh cinta Tan."kata Naya.
__ADS_1