Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Dion dan Aziz datang ke apartemen Ryan


__ADS_3

Selesai mandi Ryan mengambil ponselnya untuk menghubungi Aziz, setelah beberapa kali mencoba barulah Aziz menerima panggilan Ryan. Ternyata tadi kedu orangtua Aziz dan Ita sedang membahas tentang lamaran Aziz ternyata orangtua Aziz yang melihat keadaan Ita memutuskan untuk langsung menikahkan mereka berdua 2hari lagi diRumah Sakit.


[Hallo Asalamualikum Yan...]


[Walaikumsalam sorry kalau aku ganggu kamu, kamu sibuk gak sekarang?]


[Aku gak sibuk kok Yan, maaf baru bisa angkat panggilanmu karena baru saja membahas tentang pernikahanku dan Ita.]


[Kapan kalian akan menikah?]


[2hari lagi aku harap kamu bisa datang.]


[Ly, aku mau menagih janjimu buat menceritakan tentang Lydia dan aku juga ingin tau dia dimana sekarang?]


[Baiklah, kamu dimana sekarang?]


[Aku ada dirumah.]


[Baiklah, nanti aku kerumahmu. Aku mau pamit dulu sama keluargaku sebentar.]


[Baiklah aku matikan panggilannya.]


Ryan setelah mengakhiri panggilannya dengan Aziz berjalan ke lemari untuk mengambil pakaiannya. Saat membuka pintu lemari disebalahnya dia menghera nafasnya karena ada satu buah kotak hadiah untuk Lydia yang belum sempat dia lihat karena keburu mereka perang dingin dan kini istrinya itu menghilang.


Ryan selesai memakai baju berjalan keluar dari kamarnya untuk memasak makanan karena perutnya lapar baru saja dia menyelesaikan memasak makanan terdengar pintu apartemennya berbunyi. Ryan berjalan meninggalkan dapur untuk melihat siapa yang datang ke rumanya. Ryan berharap yang datang Lydia tapi nyatanya dia kecewa karena yang datang bukan Lydia tapi Aziz. Walaupun kecewa tapi gak banyak karena dia bisa tau apa yang terjadi dengan masalalu istrinya agar nanti dia bisa bersikap pada istrinya.


"Ayo masuk Ziz."kata Ryan sambil tersenyum.


"Aku mencium bau masakan kamu habis masak Yan?"kata Aziz.


"Iya aku baru selesai masak, kamu sudah makan atau belum kalau belum ayo kita makan sama-sama."kata Ryan.


"Wah kayaknya hari in hari keberuntunganku karena aku bisa mencicipi masakan seorang Ryan yang super duper sibuk."kata Aziz.


"Kamu ini gak kebalik padahal kamu yang selalu sibuk sampai saat kita ngumpul kamu jarang datang."kata Ryan membuat Aziz nyengir.


"Iya juga sih, nanti Dion juga mau datang kesini."kata Aziz.


"Ada apa apa dia ada masalah?"kata Ryan.

__ADS_1


"Biasalah minta bantuan buat deketin perempuan."kata Aziz membuat Ryan tersenyum.


"Siapa perempuan yang kurang beruntung itu?"kata Ryan membuat Aziz tersenyum tau maksut Ryan.


"Kamu ini jangan gitulah, Dion tu sudah berubah gak suka main perempuan lagi."kata Aziz.


"Iya, dia gak suka main perempuan tapi kalau diclub matanya jelalatan."kata Ryan membuat Aziz tertawa.


"Itu namanya normal, wah enak banget nih kayaknya makanannya?"kata Aziz saat mereka sampai dimeja makan.


"Nih piringnya makanannya ambil sendiri masaka mau aku layani juga?"kata Ryan.


"Aku habisi boleh?"kata Aziz.


"Habisin saja kalau perutmu muat buat memakan semuanya."kata Ryan.


Mereka mulai menikmati makan malam itu saat terdengar suara pintu apartemen Ryan berbunyi lagi, mereka berdua saling pandang satu sama lain. Aziz berdiri untuk membuka pintu apartemen ternyata yang datang Dion sambil membawa makanan yang dia beli saat dijalan tadi.


"Yan, kayaknya hari ini kita makan banyak deh."kata Aziz sambil berjalan menuju meja makan diikuti oleh Dion.


"Memangnya kenapa?"kata Ryan.


"Kamu beli minum gak?"kata Ryan.


"Minum apa dulu nih?"kata Dion.


"Minuman yang buat pikiran tenang."kata Ryan membuat Aziz menghera nafasnya.


"Kalau Lydia tau kamu minum pasti tu anak marah sama kamu, dia paling gak suka sama pria yang suka minum."kata Aziz.


"Mumpung dia gak ada lagian aku juga sedang pusing banyak banget masalah yang harus aku urus."kata Ryan.


"Yan, bukannya Hendru sudah ada asisten kenapa dia masih memintamu buat mengerjakan pekerjaan diperusahaannya?"kata Aziz.


"Iya kamu harus tegas biar bagaimanapun kamu sudah menikah kasian Lydia kalau kamu sibuk dengan pekerjaanmu."kata Dion.


"Aku masih mengajari asistennya Hendru itu agar bisa cekatan dikit dalam bekerja."kata Ryan.


"Terserah kamulah, oh ya jadi beli minum gak ini?"kata Dion.

__ADS_1


"Jadilah, kamu pesan sekarang. Kamu mau gak Ziz?"kata Ryan.


"Ya maulah masak aku sendiri yang gak minum."kata Aziz.


"Memangnya kamu gak pergi ke Rumah Sakit malam ini?"kata Ryan.


"Gak tadi katanya 2hari ini aku gak boleh ke Rumah Sakit."kata Aziz membuat Ryan dan Dion tersenyum.


Mereka selesai makan malam memutuskan untuk duduk diruang tengah sambil menunggu minuman mereka datang. Tapi sebelum duduk diruang tengah Dion sama Aziz mencuci semua bekas makanan mereka tadi. Ryan yang duduk sendirian mengambil laptopnya untuk memeriksa pekerjaan yang dikirim oleh Dayat. Saat dia sedang fokus dengan laptopnya terdengar ponselnya berbunyi, Ryan mengambil ponselnya ternyata itu panggilan dari papa mertuanya. Ryan mengangkat panggilan itu takut kalau terjadi sesuatu sama mereka.


[Hallo Asalamualaikum pa...]


[Walaikumsalam Yan, kamu sama Lydia kan sekarang nak?]


[Memangnya ada apa pa kok tanya kayak gitu?]


[Itu mamamu menghubungi Lydia gak diangkat-angkat daritadi kata mamamu perasaannya gak enak takut terjadi apa-apa sama Lydia.]


[Aku gak lagi sama Lydia pa, aku hubungi juga gak diangkat tapi papa tolong jangan bilang sama mama takut kalau mama khawatir. Aku mau cari keberadaan Lydia dulu.]


[Ya sudah papa tunggu kabar dari kamu, kalau Lydia gak ada kabar papa bisa minta tolong sama kamu?]


[Memangnya papa mau minta bantuan apa pa?]


[Kamu bisa bantu papa buat meeting dengan klien besok soalnya sekarang papa sama mama sedang berada diperjalanan menuju bandara.]


[Papa sama mama mau kemana?]


[Papa ada kerjaan diluar negeri sebenarnya kemarin papa sudah minta Lydia yang menghadiri meeting ini tapi dia menolak.]


[Baiklah pa, memangnya jam berapa besok meetingnya?]


[Sekitar jam 10an kamu bisakan? Kalau kamu bisa papa akan kirim berkasnya.]


[Kalau jam 10an aku bisa pa, nanti papa bisa kirim berkas itu ke emailku.]


[Ya sudah nanti papa kirimkan sekarang papa tutup dulu soalnya ini sudah sampai bandara.]


[Baik pa Ryan tunggu berkasnya.]

__ADS_1


Ryan setelah mengakhiri panggilan itu menghera nafasnya karena pekerjaannya semakin bertambah sedangkan masalahnya dengan Lydia saja belum selesai. Ryan ingin segera tau cerita masalalu Lydia biar dia bisa memutuskan pernikahan mereka mau lanjut atau hanya sampai disana saja. Saat Ryan sedang berpikir kedua temannya yang baru saja beres-beres melihat Ryan yang sedang banyak pikiran mereka saling pandang tapi saat dia mereka mau menghampiri Ryan terdengar bunyi bell apartemen Ryan berbunyi. Dion berjalan untuk membuka pintu sedangkan Aziz berjalan menghampiri Ryan yang sedang termenung jauh.


__ADS_2