Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan mengambil laptopnya


__ADS_3

Mama Intan yang gak suka dengan sikap putrinya lalu protes pada suaminya supaya papa Irwan menasehati putrinya itu agar bisa lebih menghormati Ryan sebagai suaminya. Menurutnya Lydia sudah keterlaluan pada Ryan yang dia suruh-suruh itu.


"Pa, tu nasehati putrimu."kata mama Intan.


"Mau nasehati bagaimana ma? Memangnya apa salah Lydia?"kata papa Irwan.


"Pa, apa pantas Lydia menyuruh suaminya untuk mengambilkan camilan yang ada dimobil?"kata mama Intan.


"Mungkin saja Ryan yang bertanya makanya Lydia berani minta tolong."kata papa Irwan.


"Bela terus putrimu itu."kata mama Intan.


Mereka terdiam saat melihat Ryan masuk ke dalam rumah, Ryan mendekati mertuanya sebelum kembali ke kamarnya. Papa Irwan yang melihat Ryan tersenyum lalu menanyakan kok bisa Lydia menyuruhnya mengambilkan camilan supaya istrinya itu tak menyalahkan putrinya terus.


"Yan, papa boleh tanya sama kamu?"kata papa Irwan.


"Papa mau tanya apa katakan saja?"kata Ryan.


"Kamu kok mau disuruh ambil camilan sama Lydia?"kata papa Irwan.


"Bukan Lydia yang menyuruhku tapi aku yang bertanya soalnya sambil ambil laptopku yang tertinggal dimobil."kata Ryan.


"Oalah papa pikir kalau Lydia yang menyuruhmu kalau sampai dia yang menyuruhmu biar papa nasehati dia."kata papa Irwan.


"Bukan kok pa, ma aku yang bertanya pada dia jadi jangan salahkan Lydia. Kalau begitu aku permisi dulu ma, pa kasian Lydia menunggu diatas."kata Ryan.


"Iya."kata papa Irwan.


Ryan naik keatas untuk menuju kamar Lydia sedangkan papa Irwan setelah kepergian menantunya memeluk istrinya sambil tersenyum. Mama Intan yang tau arti ari senyuman itu meminta maaf pada suaminya.


"Maaf pa, mama hanya gak mau Lydia jadi istri durhaka seperti mama dulu saat awal menikah sama papa."kata mama Intan jujur.


"Kamu gak durhaka kok waktu itu, aku sadar karena waktu itu kita menikah karena dipaksa oleh kedua orangtua dan sekarang Lydia juga sama. Hanya saja bedanya aku dan Ryan ada dikesabarannya."kata papa Irwan.


"Maksut papa bagaimana?"kata mama Intan.


"Ryan lebih sabar daripada papa untuk menghadapi seorang perempuan yang bernama istri."kata papa Irwan sambil tersenyum.


"Papa bisa saja, kalau papa gak sabar mungkin waktu itu kita akan berpisah."kata mama Intan yang sadar dulu mereka pernah ingin bercerai karena keegoisan mama Intan.


"Sudahlah itu sudah berlalu yang penting kita bahagia soal Lydia dan Ryan kita doakan saja semoga mereka cepat menyadari perasaan masing-masing."kata papa irwan.


"Iya pa."kata mama Intan.


"Sudah yuk kita kembali ke kamar masak mama gak mau kayak pengantin baru itu?"kata papa Irwan.


"Mama yakin mereka belum melakukan belah duren pa."kata mama Intan.

__ADS_1


"Biarkan saja mereka yang terpenting jatah papa, mama gak lupa."kata papa Irwan.


"Ish sudah tua juga masih saja gak ingat umur."kata mama Intan.


"Sudahlah ayo papa sudah gak tahan mau nyusu."kata papa Irwan yang langsung dapat cubitn maut dipinggangnya.


Walaupun mama Intan mencubit suaminya tapi dia tetap berjalan mengikuti suaminya karena dia tau jika membantah akan dosa. Sedangkan dikamar Lydia saat Ryan masuk ke dalam kamarnya istrinya itu sedang berbaring sambil nonton drakor kesukaannya tapi yang membuat Ryan terkejut adalah pakaian yang dipakai Lydia sangatlah tipis.


"Ly..."kata Ryan mencoba menetralkan detak jantungnya.


"Ada apa?"kata Lydia.


"Ini camilannya, oh ya kamu bisa ganti pakaian kamu gak?"kata Ryan.


"Memangnya ada apa dengan pakaianku."kata Lydia sambil bangun dan memperhatikan penampilannya.


Saat Lydia duduk belahan dadanya terlihat membuat nafas Ryan semakin sesak. Sedangkan Lydia memandang pakaiannya kayaknya biasa-biasa saja.


"Yan, kayaknya pakaianku biasa saja apa yang salah?"kata Lydia yang bingung dengan perkataan Ryan yang menyuruhnya ganti baju.


"Ya sudah ini camilanmu aku mau kekamar mandi bentar."kata Ryan yang langsung membuat Lydia sadar kenapa Ryan menyuruhnya ganti baju.


Lydia teringat dengan apa yang dikatakan oleh Dayat kalau Ryan lama ke kamar mandi berarti dia sedang melakukan sesuatu. Saat Ryan masuk kedalam kamar mandi Lydia yang penasaran mencoba mencari diinternet apa yang dilakukan oleh suaminya. Saat membaca artikel membuat Lydia terkejut dan tak percaya kalau Ryan akan melakukan perbuatan itu. Lydia memutuskan untuk bertanya daripada dia nanti penasaran. Setelah satu jam dikamar mandi Ryan keluar kamar hanya dengan memakai handuk saja. Lydia tersenyum lalu mendekati Ryan membuat Ryan terkejut mau apa istrinya mendekatinya.


"Ada apa?"kata Ryan mencoba untuk tenang padahal jantungnya sudah berdetak.


"Aku sakit perut ada apa?"kata Ryan.


"Benarkah bukannya melakukan hal lain?"kata Lydia sambil tersenyum.


"Memangnya melakukan apa?"kata Ryan.


"Main solo misalnya."kata Lydia sambil tersenyum membuat Ryan terkejut.


"Kamu darimana?"kata Ryan.


"Dari internet, apa benar itu kamu melakukan solo?"kata Lydia.


"Kalau iya memangnya kamu mau membantuku?"kata Ryan yang kepalang tanggung.


"Gak aku gak mau."kata Lydia yang mulai mudur tapi pinggangnya dipegang oleh Ryan sehingga dia gak bisa bergerak.


"Lalu kalau gak mau membantuku ngapain kamu mendekati dan bertanya padaku?"kataRyan sambil menaik turunkan alisnya.


"Aku hanya penasaran saja apa benar yang aku baca itu. Sekarang lepasin aku."kata Lydia yang berusaha memberontak.


"Kalau aku gak mau bagaimana?"kata Ryan.

__ADS_1


"Please aku mohon sama kamu lepasin aku."kata Lydia.


"Aku akan melepaskanmu dengan satu syarat."kata Ryan.


"Apa syaratnya?"kata Lydia.


"Cium bibirku sekarang dan besok pagi harus mengucapkan selamat pagi dengan morning kiss, bagaimana?"kata Ryan.


"Gak mau itu menguntungkan buatmu."kata Lydia kesal.


"Baiklah, kalau kamu gak mau aku akan meminta hakku sekarang. Kamu mau menciumku sekarang dan setiap pagi atau aku meminta hakku?"kata Ryan.


Lydia terdiam sesaat lalu setelah itu menghera nafasnya terlebih dahulu baru setelah itu mencium bibir Ryan.


"Sudahkan?"kata Lydia.


"Itu bukan ciuman tapi hanya menempelkan bibir saja."kata Ryan.


"Lalu kamu maunya bagaimana?"kata Lydia yang sudah mulai kesal.


"Kayak gini."kata Ryan.


Ryan memegang tengkuk Lydia lalu mencium bibir Lydia, awalnya hanya menempel tapi lama-lama Ryan ********** membuat Lydia terkejut. Lydia berusaha untuk melepas ciuman itu tapi lama-lama dia terbuai lalu memejamkan mata saat Lydia memejamkan mata membuat Ryan tersenyum dan lebih bersemangat untuk mencium bibir istrinya yang sudah menjadi candunya sejak pertama kali menyentuhnya.


Tapi ciuman panas itu terganggu saat ada suara ponsel berbunyi, Ryan awalnya tak mau melepaskannya tapi karena Lydia memberontak ingin dilepaskan akhirnya dia melepaskan ciuman itu. Lydia yang tau ada kekecewaan dimata suaminya membuat Lydia sebenarnya tak tega tapi mau bagaimana lagi ada panggilan masuk diponselnya.


[Hallo Cin ada apa?]


[Kamu dimana sekarang?]


[Aku ada dirumah orangtuaku, ada apa?]


[Ly, kamu bisa datang keRumah Sakit gak?]


[Rumah Sakit siapa yang sakit?]


[Ita Ly dia kecelakaan, aku sudah menghubungi orangtuanya tapi mereka tak mendapatkan tiket besok baru mereka datang. Aku mohon sama kamu bisa temani aku disini gak?]


[Aku tanya dulu sama kak Ryan, kamu kirim alamat Rumah Sakitnya dan no kamarnya.]


[Baiklah kalau kayak gitu aku tutup dulu dokter yang menanganinya keluar.]


Lydia menghera nafasnya setelah mematikan panggilan itu. Ryan yang tau kalau wajah istrinya sedang khawatir berjalan mendekatinya.


"Ada apa? Siapa yang sakit?"kata Ryan.


"Kak Ita kecelakaan, kak aku boleh ke Rumah Sakit sekarang menemani Cindy karena orangtua Ita baru bisa datang besok?"kata Lydia.

__ADS_1


"Ya sudah ganti baju setelah itu aku antar ke Rumah Sakit kamu taukan Ita dirawat dimana?"kata Ryan yang diangguki oleh Lydia.


__ADS_2