Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Rima menyuruh orang untuk mengikuti Lydia


__ADS_3

Rima setelah makan malam langsung saja berpamitan pulang ke mama Dahlia. Sedangkan ketiga pria itu langsung naik ke atas untuk ke kamar Rayyan bukannya mengantar Rima dulu ke depan.


"Maafin Rayyan ya Rim, nanti biar tante marahin dia."kata mama Dahlia.


"Sudah gak usah tan mungkin dia sedang capek 'kan kerja diRumah Sakit pasti sibuk."kata Rima.


"Kamu memang calon mantu idaman, semoga saja secepatnya tante sama om datang kerumah kamu buat meminang kamu."kata mama Dahlia.


"Iya tan, aku juga berharap begitu tapi Rayyannya bagaimana?"kata Rima.


"Gampang itu nanti tante yang akan bujuk dia, sekarang yang terpenting kita pisahin dulu Rayyan sama perempuan itu."kata mama Dahlia.


"Baiklah tan, kalau kayak gitu aku permisi dulu tan."kata Rima.


"Iya, hati-hati nyetirnya."kata mama Dahlia.


Saat mama Dalia mau masuk ke dalam rumah, dia melihat mobil suaminya masuk ke dalam. Mama Dahlia memutuskan untuk menunggu suaminya diteras.


"Siapa ma yang datang?"kata papa Hans.


"Rima pa."kata mama Dahlia..


"Tumben, apa Rayyan ada dirumah?"kata papa Hans.


"Iya 'kan Rayyan sudah mulai magang diRumah Sakit."kata mama Dahlia.


"Oh ya, papa lupa."kata papa Hans.


"Papa sudah makan belum?"kata mama Dahlia.


"Sudah tadi dikantor, papa capek banget ma nanti pijitin ya?"kata papa Hans.


"Iya, mau mama buatin teh?"kata mama Dahlia.


"Iya, bawa keatas ya."kata papa Hans.


"Baiklah."kata mama Dahlia.


Sedangka ketiga pria muda itu sehabis mandi dikamar Rayyan langsung duduk lesehan didepan ranjang Rayyan.


"Yan, kamu yakin Rima tadi kesini karena disuruh mama kamu?"kata Bagas.


"Sudahlah Gas gak usah mikir negatif terus."kata Panji.


"Aku cuma mau jaga-jaga saja."kata Bagas.


"Jaga-jaga buat apa?"kata Rayyan.


"Aku cuma gak mau kalau lydia disakiti oleh mama kamu atau Rima. Dia gak gadis baik gak seharusnya disakiti"kata Bagas.


"Kamu kok khawatir banget sih Gas sama Lydia atau jangan-jangan kamu menaruh hati padanya?"kata Panji yang membuat Rayyan langsung mengalihkan fokusnya dari membaca buku tentang kedokteran.


"Apa benar kata Panji, Gas kalau kamu menyimpan perasaan sama dia?"kata Rayyan.


"Gak usah aneh-aneh deh kalian, apa kalian gak ingat apa yang dilakukan Rima saat divilla kemarin. Apalagi kalau orangtua kamu ikut-ikutan membenci lydia apa yang akan kamu lakukan?"kata Bagas membuat kedua pria didepannya itu langsung terdiam.


"Benar juga apa katamu Gas, kalau sudah menyangkut orangtua aku yakin itu akan susah."kata Panji.

__ADS_1


"Aku akan tetap bertahan sama Lydia, aku akan berusaha agar orangtuaku setuju."kata Rayyan..


"Kapan kamu rencananya akan mengenalkan Lydia ke orangtuamu?"kata Panji.


"Saat kita diwisuda rencanaku sekarang aku mau fokus dengan magang kita dulu."kata Rayyan.


"Semoga saja gak terlambat."kata Bagas.


"Kamu kenapa sih daritadi gak dukung banget kayaknya?"kata Panji.


"Gak papa, aku punya firasat buruk soal hubungan kalian."kata Bagas jujur.


"Doain saja semoga firasat kamu itu tak terjadi."kata Rayyan.


"Iya kami selalu doain yang terbaik buat kalian berdua."kata Bagas.


"Sudah ah ayo kita mulai belajar."kata panji.


Mereka bertiga langsung fokus dengan belajarnya. Sedangkan ditempat lain Lydia hari ini capek banget karena Ita gak masuk kerja karena sakit. Saat dia berbalik habis menutup pintu toko ternyata saat melihat diparkiran ada mobil papanya. Dia langsung menghampiri mobil papanya dan langsung masuk ke dalam mobil.


Tanpa Lydia sadari jika sadari daritadi ada yang mengambil gambarnya dari jarak jauh. Iya orang itu adalah orang suruhan Rima. Rima memang sengaja menyuruh orang untuk mengambil foto Lydia agar bisa dia tunjukan ke orangtua Rayyan.


"Papa nagapain kemari?"'kata Lydia.


"Papa gak boleh bertemu dengan putri papa sendiri?"kata papa Irwan.


"Boleh, tapi ini sudah malam. Memangnya mama gak marah apa kalau papa belum pulang?"kata Lydia.


"Dia gak akan marah karena papa akan bawa putri papa pulang."kata papa Irwan.


"Maaf pa, nona kalau saya menganggu pembicaraan kalian."kata Ujang.


"Ada apa Jang?"kata papa Irwan.


"Orang yang tadi tuan bilang sedang mengawasi non Lydia sekarang sedang mengikuti kita."kata Ujang.


"Mana Jang?"kata papa Irwan.


"Itu pakai motor tuan."kata Ujang.


"Memang itu siapa pa?"tanya Lydia.


"Papa juga gak tau tapi dari kampus kamu tadi memang kata pengawal kamu ada orang yang mengikuti kamu dan mengambil foto kamu saat kamu sedang berbicara dengan pria tapi kalau kamu berbicara dengan perempuan diam saja."kata papa Irwan.


"Jadi itu sebabnya papa datang menemuiku untuk mencari tau apa yang terjadi?"kata Lydia.


"Pintar putri papa."kata papa Irwan.


"Lalu bagaimana tuan?"kata Ujang.


"Kita pura-pura ke hotel dan setelah itu keluar tapi tukar mobil sama Romi."kata papa Irwan.


"Baik, nanti saya kasih tau Romi, saat diparkiran."kata Ujang.


Mereka berdua turun didepan pintu lobby dan saat keluar dia juga bilang sama satpam agar tak membiarkan orang yang sedang memperhatikan mereka itu masuk.


Sampai didalam ternyata Romi sudah menunggu dengan membawa papaerbag yang langsung dia serahkan ke Lydia.

__ADS_1


"Apa ini bang?"tanya Lydia.


"Pakaian buat nona menyamar."kata Romi.


"Makasih bang kalau gitu aku ganti pakaian bentar."kata Lydia yang langsung masuk ke dalam toilet.


Mereka bertiga langsung keluar dengan memakai pakaian penyamaran. Ternyata rencana papanya berhasil karena orang yang mengawasi mereka tak sadar jika yang lewat itu adalah dirinya. Mereka langsung masuk ke mobil yang dipakai oleh Romi tadi menuju kediaman orangtua Lydia.


"Pa kalau dia nungguin kita sampai pagi gimana?"kata Lydia.


"Biarin saja, bukan urusan kita."kata papa Irwan.


"Mobil papa gimana?"kata Lydia.


"Dibawa sama Romi tapi lewat jalan lain agar gak ketahuan."kata papa Irwan.


"Papa mau tau cerita soal Rima yang ngejebak kamu."kata papa Irwan.


"Ah papa pasti sudah dikasih tau sama bang Romi, kalau gak gitu sama anak buah papa yang lain."kata Lydia sedangkan papa Irwan langsung tersenyum.


"Tapi aku bingung sama papa, kenapa papa gak suruh anak buah papa buat bantu kami?"kata Lydia.


"Kalau papa ikut membantu ya gak seru dong sayang, lagian papa mau mama kamu buka matanya kayak apa orang yang sudah dia anggap sebagai saudara itu."kata papa Irwan.


"Maksut papa apa? Aku gak ngerti?"kata Lydia.


"Mama kamu terlalu percaya sama si Tina itu padahal dia ular yang sangat berbahaya."kata papa Irwan.


"Aku gak mengerti pa?"kata Lydia. Papa Irwan hanya menghera nafasnya.


"Pa jawab, apa yang sebenarnya terjadi?"kata Lydia.


"Kamu tau kenapa toko kue tante Tina laris?"kata papa Ikhsan.


"Karena dia pakai nama mama."kata Lydia.


"Itu kamu tau, kamu juga tau 'kan kenapa om Sahrul sangat disegani oleh keluarga yang lainnya?"kata papa Irwan.


"Karena mereka dekat dengan mama, yang aku gak mengerti kenapa Rima bilang jika dia anak angkat kalian? Sedangkan dia sendiri gak tau siapa aku."kata Lydia.


"Papa memang sengaja berkata kalau Rima adalah putri angkat kami agar kamu tak jadi incaran musuh kita. Lagian kalau mereka tau jika kamu putri kami, gak mungkin kamu nyembunyiin identitas kamu disini."kata papa Irwan.


"Tunggu, jangan bilang selama ini gak ada yang tau jika aku putri kalian?"kata Lydia.


"Iya, dimanapun kamu sekolah hanya kepala sekolah kamu saja yang tau siapa sebenarnya kamu."kata papa Irwan.


"Pantes saja, saat aku diSMA dbilang sok kaya."kata Lydia sekarang baru paham.


"Maaf ini cara papa buat ngelindungi kamu."kata papa Irwan.


"apa mama tau soal ini pa?"kata Lydia.


"Mama kamu gak tau, dia hany tau jika ini agar kamu tidak terganggu jika ada pemberitaan tentang kami."kata papa Irwan.


"Agar aku gak dicari para wartawan maksut papa?"kata Lydia.


"Iya, papa mau bicara banyak hal tapi lain waktu saja sekarang kita masuk. Mama kamu pasti sudah menunggu.

__ADS_1


__ADS_2