Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan bertemu Lydia diItali


__ADS_3

Lydia bermain sebentar dengan Raka setelah itu berpamitan dengan putranya dah Dahlia. Saat dia keluar rumah bertepatan dengan mak Masnah yang baru datang dengan menaiki taksi. Lydia meminta tolong pada sopirnya untuk mengantarkan ke tempat kerja untung saja sang sopir mau. Sampai diperusahaan Lydia langsung saja berjalan cepat menuju divisinya karena dia masuk telambat hari ini. Pak Hardi dan teman-temannya bernafas lega saat Lydia datang.


"Kamu ini bikin aku khawatir saja."kata Santi.


"Hehehe khawatir kenapa memangnya?"kata Lydia.


"Ish kamu ini hari ini tu hari penting kalau kamu terlambat bisa dimarahi tuan Alex kita."kata Santi.


"Ada kamu tenang saja dia tak akan marah."kata Lydia membuat yang lainnya bingung tapi pak Hardi malah tersenyum karena dia tau jika tuan Alex suka dengan Santi.


"Maksutnya ada Santi bagaimana?"kata karyawan lain.


"Jangan-jangan mbak Santi diam-diam ada hubungan dengan tuan Alex?"kata Nila membuat Lydia tersenyum sedangkan Santi malah mencak-mencak.


"Siapa yang ada hubungan dengan tuan Alex kalian gak usah ngada-ngada bisa gak sih?"kata Santi.


"Kalau gak ada hubungan dengan tuan Alex kenapa mbak Santi takut-takut gitu?"kata Nila sambil tersenyum mengoda.


Nila bisa berkata begitu karena kemarin saat pulang kerja tak sengaja melihat tuan Alex yang sedang mengejar Santi. Lagian kalau meman benar juga gak papa diperusahaan ini tak ada larangan ada hubungan sesama karyawan.


"Sudah-sudah kita meeting terakhir setelah itu Lydia sama pak Hardi mau bertemu tuan Alex kan?"kata Santi.


"Siap bu bos."kata Nila dan karyawan lain bersamaan.


"Ish kalian ini."kata Santi kesal tapi malah membuat yang lain tertawa.


"Kalau suka bilang saja San, nanti kalau diambil orang lain nangis lagi kita gak bisa tolong lo."kata karyawan.


"Sudah-sudah ayo meeting kasian muka Santi sudah merah kayak kepiting itu, nanti kalau kodamnya keluar bahaya kita."kata pak Hardi membuat Santi yang awalnya kesal jadi gak kesal karena candaan pak Hardi.


Mereka mulai melakukan meeting terakhir untuk memantapkan proyek yang akan dipresentasikan oleh Lydia. Baru saja mereka menyelesaikan meeting ponsel pak Hardi berbunyi ternyata itu panggilan dari Rara yang meminta pak Hardi dan Lydia naik keatas. Ryan dan Dayat sampai diItali langsung ke hotel untuk check in setelah meletakkan barang dan bersih-bersih mereka berangkat menuju perusahaan Alex karena Ryan ingin segera menyelesaikan pekerjaan disini agar dia bisa pulang ke Indonesia untuk mencari Lydia.


Lydia yang baru masuk lift merasakan dadanya berdebar, gak biasanya dia gugup jika mau bertemu klien. Pak Hardi yang melihat bawahannya gugup mengerutkan keningnya karena selama ini Lydia selalu percaya diri jika mau melakuan pekerjaan.


"Di, kamu gak papa?"kata pak Hardi.

__ADS_1


"Aku gugup pak."kata Lydia.


"Tumben biasanya kamu kalau ketemu klien akan percaya diri atau mungkin karena dia berasal dari negaramu sendiri makanya kamu gugup?"kata pak Hardi mencoba menebak.


"Kayaknya iya pak, lagian bapak tau sendiri bagaimana perusahaan dari Indonesia pasti banyak banget pertanyaannya kalau kurang puas pasti kita akan gagal."kata Lydia.


"Bapak yakin kamu bisa menyelesaikannya."kata pak Hardi.


Mereka berhenti berbicara saat sudah sampai ditempat tujuan, saat berjalan menuju tempat meeting perasaan Lydia berdebar-debar begitu pula Ryan yang entah kenapa dadanya berdebar. Ryan dan Dayat menatap pintu masuk saat mendengar pintu ruangan itu dibuka dari dalam. Ryan terkejut saat melihat Lydia datang keruangan itu, Dayat yang melihat Lydia juga tersenyum tapi sayangnya perempuan itu tak melihat Ryan dan Dayat.


"Akhirnya kalian datang juga."kata Alex sambil tersenyum.


"Maaf kami tadi harus meeting lebih dahulu sama yang lain."kata pak Hardi.


"Gak papa kok ayo duduk."kata Alex.


Saat Lydia duduk barulah dia sadar jika yang ada diruangan itu adalah Ryan dan Dayat. Lydia terkejut tapi langsung saja mengubah rasa keterkejutannya menjadi senyum. Ryan juga ikut tersenyum tapi senyuman Ryan bukan senyuman biasa membuat Lydia meremas jari tangannya, Lydia tau jika senyuman dan tatapan itu tatapan kemarahan.


"Tuan, maaf mereka..."kata pak Hardi untuk mencairkan susana.


"Oh ya aku sampai lupa mereka klien kita yang dari Indonesia, ini tuan Ryan dan ini asistennya tuan Dayat. Mereka pak Hardi dan Lydia yang akan mengurus kerjasama kita."kata Alex.


"Salam kenal tuan saya Hardi dan ini Lydia."kata pak Hardi yang diangguki oleh Ryan sedangkan Dayat tersenyum.


Pak Hardi merasakan kalau klien kali ini bukan orang yang mudah untuk ditangani apalagi tuan Ryan terlihat sangat dingin. Lydia hanya bisa menghela nafasnya saat melihat reaksi Ryan saat pak Hardi berkenalan. Kali ini Lydia akan mendapatkan masalah besar, Ryan pasti tak akan melepaskannya dan akan meminta penjelasan.


"Mari kita mulai presentasinya silahkan nona Lydia!"kata Ryan.


"Terimakasih tuan."kata Lydia.


Lydia memulai presentasi itu dengan sangat lancar dan jelas membuat Dayat kagum karena istri tuannya itu tak getar walaupun berhadapan dengan suaminya sendiri. Benar dugaan Lydia jika Ryan akan memojokkannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya akan terdesak untung saja dia sudah menyiapkan semuanya jadi dia bisa menjawab semua yang ditanyakan oleh Ryan.


"Bagaimana tuan, apa tuan suka dengan presentasi Lydia atau masih ada yang mau ditanyakan?"kata Alex yang tau jika temannya itu sudah terdesak dengan pertanyaan Ryan.


"Bagus, baiklah aku akan terima kerjasama ini tapi aku harap nona Lydia sendiri yang akan bertanggungjawab dalam proyek ini."kata Ryan membuat Lydia terkejut lalu memandang kearah Ryan.

__ADS_1


"Bisakan pak Hardi saja yang menangani proyek kerjasama ini?"kata Lydia pelan-pelan membuat Ryan tersenyum samar.


"Kalau boleh saya tau siapa yang punya ide proyek ini?"kata Ryan santai.


"Lydia yang akan menangani semuanya karena dia yang punya ide ini."kata Alex.


"Tapi..."kata Lydia berhenti bicara karena Alex dengan pandangan memohonnya membuat Lydia akhirnya menganggukan kepalanya.


Ryan yang tau itu tersenyum lalu memadang Lydia dengan pandangan kemenangan sedangkan Lydia kesal membuat Ryan tersenyum.


"Maaf tuan setelah ini saya boleh minta izin untuk bicara empat mata dengan nona Lydia?"kata Ryan sambil menandatangani kontrak kerjasama.


Lydia mengeleng saat Alex memandangnya tapi Alex gak bisa menolak karena kerjasama kali ini sangatlah penting baginya. Lydia kesal karena Alex mengizinkannya bicara dengan Ryan berdua. Lydia akan membalas semua ini sama Alex, Alex yang tau hanya menyiapkan mentalnya jika temannya itu akan mengomel padanya. Mereka semua berpamitan keluar dari ruangan meeting yang berada disana tinggal Lydia dan Ryan.


"Bagaimana kabarmu?"kata Ryan.


"Seperti yang kamu liat aku baik, kamu mau bicara apa cepat katakan masih banyak kerjaan yang harus aku kerjakan?"kata Lydia yang gak nyaman jika berdua dengan Ryan.


"Aku gak akan bicara disini, aku tunggu kamu nanti malam dihotel delaza."kata Ryan sambil bangun dari duduknya.


"Kalau aku gak datang bagaimana?"kata Lydia.


"Kalau kamu gak datang aku akan batalkan kerjasama ini, bukannya kerjasama ini sangat penting bagi perusahaan ini?"kata Ryan sambil mendekatkan wajahnya ke Lydia.


"Baiklah, kamar no berapa?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Kasih tau aku saja kalau kamu sudah dihotel aku akan jemput kamu ke bawah. No ponselku masih kamu simpankan?"kata Ryan.


"Sudah hilang."kata Lydia dingin membuat Ryan tersenyum.


"Baiklah, ini kartu namaku."kata Ryan.


Ryan setelah menyerahkan kartu nama itu pergi meninggalkan Lydia diruangan itu, Lydia yang ditinggalkan hanya menghela nafasnya. Lydia kembali ke divisinya dengan berjalan gontai membuat Santi dan Nila saling pandang begitu dengan karyawan lain. Sikap Lydia berbeda dengan pak Hardi yang bahagia.


"Mbak ada apa dengan mbak Lydia?"kata Nila.

__ADS_1


"Aku juga gak tau, sudah kamu kerja saja biar aku yang tanya sama dia ada apa?"kata Santi.


__ADS_2