
Lydia berjalan menuju kamarnya dengan pikiran yang gak ada disana, dia teringat perkataan teman-temannya tadi saat berada diRumah Sakit. Walaupun Ryan bilang mau menunggunya sampai dia siap tapi Lydia takut jika suaminya itu akan berpindah kelain hati. Ryan yang melihat Lydia masuk kedalam kamar memutuskan untuk berjalan menuju ruang tengah sambil menonton tv. Saat dia sedang mencari cahnnel tv yang menarik baginya terdengar suara ponselnya berbunyi. Ryan mengambil ponselnya ternyata itu panggilan dari Dayat membuat Ryan langsung mengangkat panggilan itu.
[Hallo ada apa jam segini kamu menghubungiku?]
[Maaf tuan kalau saya menganggu tuan, saya mau tanya apa tuan sudah membuka email yang saya kirimkan pada tuan?]
[Aku belum sempat membuka email itu ada apa memangnya?]
[Tuan tolong liat dulu email itu karena ini penting banget saya butuh pendapat tuan.]
[Baiklah, aku liat dulu nanti aku kabari lagi.]
Ryan mematikan panggilan itu setelah itu berjalan menuju ruang kerjanya, Ryan penasaran apa yang terjadi dengan istrinya karena Lydia sedang melamun. Ryan mendekati istrinya untuk bertanya setelah meletakan makanan yang dia bawa diatas meja yang ada didalam ruangan itu.
"Sayang, kamu sedang ngelamunin apa?"kata Ryan sambil memegang bahu Lydia.
"Eh kamu kak, makanannya sudah datang?"kata Lydia.
"Aku tanya apa kok kamu malah tanya apa? Kamu kenapa kok aku liat kamu melamun sendiri?"kata Ryan.
"Tadi ada yang menghubungimu itulah yang membuat aku melamun."kata Lydia.
"Memangnya siapa yang menghubungiku?"kata Ryan.
"Siapa lagi kalau bukan mantanmu."kata Lydia kesal.
"Vira yang menghubungiku memangnya ada apa dengan dia?"kata Ryan.
__ADS_1
"Dia mau minta tanggungjawab darimu 'kan kamu sudah membuat dia hamil."kata Lydia.
"Kamu ini ngomong apasih kan aku sudah bilang sama kamu kalau aku gak pernah tidur sama dia mana mungkin aku menghamilinya."kata Ryan.
"Mana aku tau soal itu."kata Lydia.
"Kamu kenapa? Kamu cemburu sama aku karena masalah ini?"kata Ryan.
"Ya iyalah masak kamu nikah sama aku hamilnya malah sama orang lain."kata Lydia.
"Lah memangnya kamu gak mau hamil sama aku apa?"kata Ryan.
"Aku mau tapi aku gak yakin apa aku bisa."kata Lydia menundukkan kepalanya.
"Mau coba habis ini?"kata Ryan sambil mengeringkan matanya.
"Itu makanannya mau makan sekarang?"kata Ryan.
"Aku mau tapi gendong boleh aku males mau jalan kesana."kata Lydia.
"Baiklah ayo kalau kayak gitu."kata Ryan.
Ryan mengedong Lydia lalu membawanya menujuk sofa yang ada diruangannya itu, Lydia saat digendong Ryan memandang wajah suaminya itu tanpa berkedip. Ryan tau kalau Lydia melihatnya tapi dia hanya diam walaupun jantungnya sudah berdetak kencang dan mungkin Lydia mendengarnya. Ryan menurunkan Lydia pelan-pelan setelah itu membuka makanan Lydia lalu menyerahkan makanan itu pada istrinya.
"Kak..."kata Lydia saat Ryan sudah duduk disampingnya.
"Ada apa sayang?"kata Ryan memandang kearah Lydia.
__ADS_1
"Kak makasih ya mau menerimaku walaupun aku banyak kekurangannya dan lagi aku bukan perempuan normal."kata Lydia membuat Ryan mengerutkan keningnya.
"Apa maksut kamu bukan perempuan normal?"kata Ryan.
"Aku punya trauma yang sampai sekarang belum bisa disembuhkan dan lagi aku gak bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri."kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.
"Memangnya apa kewajiban seorang istri?"kata Ryan.
"Aku belum bisa memberikan diriku seutuhnya padamu kak."kata Lydia.
"Aku bisa menunggu sampai kamu siap aku gak mau kamu terpaksa lagian aku mau trauma kamu benar-benar sembuh agar aku bisa sewaktu-waktu meninggalkanmu kalau ada pekerjaan diluar kota."kata Ryan.
"Tapi sejak kamu ada didekatku sedikit demi sedikit traumaku hilang aku juga saat tidur gak perlu minum obat penenang lagi saat ada kamu disampingku. Kak bisa bantu aku supaya aku bisa menghilangkan rasa traumaku disentuh oleh pria?"kata Lydia.
"Aku coba tapi kalau kamu gak ngizinin aku sentuh kamu bagaimana bisa aku menyembuhkannya."kata Ryan.
"Memangnya harus dengan berhubungan fisik ya?"kata Lydia.
"Itu kalau kamu mau kalau gak mau ya sudah, sudah ayo makan katanya tadi lapar gak usah bahas itu lagi setelah itu kamu istirahat soalnya aku harus ngerjain pekerjaanku."kata Ryan membuat Lydia menundukkan kepala membuat Ryan merasa bersalah karena membuat istrinya itu bersedih.
"Mau disuapin?"kata Ryan agar Lydia gak sedih.
Lydia memandang kearah Ryan lalu menganggukan kepalanya, Ryan tersenyum lalu menyuapin Lydia ternyata saat Ryan yang menyuapinnya makan Lydia bertambah banyak. Ryan yang melihat makan Lydia banyak tersenyum Lydia yang merasa diperhatikan memandang kearah suaminya.
"Kenapa kakak memandang aku kayak gitu?"kata Lydia memberanikan diri untuk bertanya.
"Memangnya kenapa aku gak boleh liat kamu apa?"kata Ryan.
__ADS_1