
"Kenapa menutup mata kayak gitu?"kata Ryan.
"Kakak pakai celananya kenapa masak mau buka pintu gak pakai baju sama sekali mau orang lain liat ularmu itu?"kata Lydia sambil tetap menutup matanya.
"Ya ampun aku lupa sayang kalau tadi tidur lagi gak makai baju."kata Ryan sambil tersenyum.
"Kamu ini ada-ada saja cepat pakai celananya lalu buka pintu itu daritadi diketuk terus."kata Lydia.
Ryan tak banyak bicara menyambar celana boxernya setelah memakainya lalu berjalan untuk membuka pintu sedangkan Lydia menarik seimutnya keatas karena dia masih tak pakai baju. Ryan terkejut ternyata bunda Airin yang mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa bun? Ini masih pagi kok bunda sudah bangunin saja."kata Ryan membuat bunda Airin geram.
"Kamu gak liat jam apa ini sudah jam 9 Ryan."kata Bunda Airin membuat Ryan terkejut saat mendengar perkataan bundanya.
"Apa bun jam 9? Bunda gak bohongkan?"kata Ryan.
"Gak tu liat sendiri jam berapa sekarang?"kata bunda Airin sambil menuju jam dinding yang ada disana.
Ryan yang melihat jam dinding langsung terkejut karena dia bangun kesiangan padahal hari ini jam 10 dia harus mengecek proyek dipinggiran kota sekalian meeting dengan klien.
"Sudah liat sekarang siap-siap sana kasian Dayat menunggumu dibawah."kata bunda Airin.
"Makasih bun sudah bangunin aku kalau gak bisa kacau semua jadwal kerjaku hari ini. Apalagi ada meeting penting lagi."kata Ryan membuat bunda Airin tersenyum.
"Makanya kalau olahraga ranjang jangan sampai pagi 'kan akibatnya kamu sendiri telat bangun. Sudah bunda mau ke bawah lagi kasian Dayat dibawah sendirian."kata bunda Airin.
"Mbak Shinta sudah pulang kerumahnya bun?"kata Ryan.
"Sudah tadi, kamu tau sendiri mama mertua mbakmu itu sayang banget sama menantunya."kata bunda Airin yang diangguki oleh Ryan.
Bunda Airin berjalan untuk kebawah menemani Dayat sedangkan Ryan masuk kedalam kamarnya lagi. Setelah mengunci pintu kamarnya dia langsung berjalan menuju kamar mandi membuat Lydia yang dicuekin oleh Ryan menjadi bertanya-tanya ada apa dengan suaminya. Lydia mengambil pakaiannya yang berserakan lalu memakainya setelah itu berjalan ke lemari untuk mengambilkan Ryan pakaian untuk kerja. Sambil menunggu Ryan datang, Lydia mengambil ponselnya lalu membuka email yang dikirim oleh Sandra. Tak hanya email dari Sandra tapi juga ada email dari Edwin membuat Lydia mengerutkan keningnya.
Saat Lydia baru mau membuka email dari Edwin terdengar pintu kamar mandi dibuka yang membuat Lydia mengurungkan niatnya untuk membuka email itu. Ryan mendekati istrinya lalu tersenyum saat melihat bajunya sudah ada diatas ranjang.
"Makasih sayang."kata Ryan membuat Lydia memandang kearah Ryan.
__ADS_1
"Makasih buat apa kak?"kata Lydia bingung.
"Makasih sudah menyiapkan pakaianku kalau tiap hari kayak gini pasti aku akan senang banget."kata Ryan sambil tersenyum.
"Maunya sudah pakai bajunya ini sudah siang lo."kata Lydia.
"Iya aku harus buru-buru soalnya Dayat sudah menunggu dibawah, kami harus segera pergi kepinggir kota untuk melihat proyek baru dan harusnya tadi jam8 aku bertemu dengan klien tapi sudah gak sempat."kata Ryan menghela nafasnya.
"Makanya kalau olahraga tu ingat waktu biar gak kesiangan bangunnya."kata Lydia menyalahkan suaminya.
"Gak papa yang penting kamu juga menikmati kegiatan kita tadi pagikan?"kata Ryan membuat pipi Lydia menjadi merah.
"Sudah sana berangkat nanti telat."kata Lydia.
"Ya sudah aku berangkat dulu, kamu mandi terus turun kebawah untuk sarapan ya."kata Ryan.
"Iya, maaf aku gak bisa nganterin ke bawah."kata Lydia.
"Gak papa, aku pergi dulu."kata Ryan.
Ryan mencium kening Lydia setelah itu berjalan keluar dari kamarnya. Benar saja Dayat sudah menunggunya sambil berbicara sama bunda Airin.
"Kalian mau berangkat sekarang?"kata bunda Airin.
"Iya bun, aku sudah kesiangan hari ini."kata Ryan.
"Ya sudah ini kamu bawa bekalnya, bisa kamu makan saat diperjalanan."kata bunda Airin memberikan papaerbag pada Ryan yang berisi makanan dan minuman.
"Makasih bun, aku sama Dayat berangkat dulu."kata Ryan.
Kedua pria itu setelah berpamitan dengan bunda Airin berangkat menuju pinggiran kota, dijalan Ryan memakan bekal yang dibawakan oleh bundanya sedangkan Lydia setelah kepergian Ryan dia memutuskan untuk mandi setelah itu dia turun kebawah. Saat Lydia turun kebawah ternyata bunda Airin sedang berada diruang keluarga. Bunda Airin yang mendengar suara langkah kaki langsung saja menoleh kebelakang. Bunda Airin tersenyum saat melihat Lydia turun dengan rambut yang masih setengah basah.
"Kamu sudah bangun sayang?"kata Bunda Airin membuat Lydia tersenyum tak enak pada mama mertuanya.
"Maaf ya bun, aku bangunnya kesiangan."kata Lydia sambil duduk disebelah bunda Airin.
__ADS_1
"Gak papa kok sayang pengantin baru mah bebas."kata bunda Airin sambil tersenyum membuat Lydia semakin malu.
"Bunda apaan sih."kata Lydia mencoba menghilangkan rasa malunya.
"Kamu sudah lapar belum?"kata bunda Airin.
"Sudah bun."kata Lydia.
"Bi, bibi sini sebentar."kata bunda Airin berteriak.
"Ada apa nyonya?"kata bibi datang menghampiri mereka.
"Kamu mau makan disini atau dimeja makan sayang?"kata bunda Airin.
"Makan disini saja ma, biar ada temannya nanti kalau makan dimeja makan aku makan sendirian."kata Lydia membuat bunda Airin tersenym.
"Bi, ambilin makanan buat Lydia ya sekalian aku buatin teh."kata bunda Airin.
"Baik nyonya."kata bibi.
Bibi kembali kebelakang untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk kedua perempuan itu. Sambil menunggu bibi datang kembali mereka berbicara ternyata kedua perempuan itu cepat akrab bunda Airin semakin suka dengan menantunya Lydia bukan hanya cantik dan pintar tapi dia baik dan sopan.
"Ly, bunda boleh tanya sama kamu?"kata bunda Airin.
"Boleh bunda mau tanya apa katakan?"kata Lydia.
"Menurutmu Ryan itu bagaimana?"kata bunda Airin membuat Lydia mengerutkan keningnya.
"Bagaimana gimana bun aku gak ngerti?"kata Lydia yang masih belum paham apa yang ditanyakan oleh mama mertuanya.
"Bagaimana sikap Ryan ke kamu apa dia pernah kasar sama kamu?"kata bunda Airin membuat Lydia tersenyum.
"Kak Ryan selalu baik sama aku, dia yang selalu menjaga dan membuatku nyaman saat ada didekatnya. Kalau bukan karena dia mungkin trauma aku masih kayak dulu."kata Lydia.
"Kayak dulu bagaimana nak, bunda gak ngerti?"kata bunda Airin.
__ADS_1
"Dulu sebelum ada kak Ryan aku selalu bergantung pada obat kalau traumaku kambuh tapi sejak menikah dengan kak Ryan dengan dipeluknya saja aku sudah bisa tenang."kata Lydia membuat bunda Airin tesenyum.
Bunda Airin tak menyangka jika Ryan berpengaruh besar dalam kesembuhan traumanya Lydia.