Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia mengajak Ryan keliling mall


__ADS_3

Ryan mengirim pesan pada Lydia mau menanyakan kapan dia pulang soalnya nanti acara akad nikah kakaknya jam 3sore. Ryan takut kalau gak bisa jemput Lydia.


Ryan


[Pulang jam berapa?]


Lydia yang baru saja selesai meeting meletakkan ponselnya dimeja kerjanya tanpa melihat ponselnya lagi. Pikiran Lydia lelah karena banyak karyawan yang benar-benar susah diatur dan semaunya sendirir. Lydia saja sampai tak sadar kalau Sandra sudah ada didalam ruangannya bersama dengan Rima.


"Ly...Lydia."kata Rima tapi tak membuat Lydia sadar dari lamuanannya.


"Ly...woe."kata Sandra sambil mengguncang lengan Lydia membuat gadis itutersadar dari lamunannya.


"Eh ada apa?"kata Lydia yang terkejut karena ada Rima dan Sandra diruangannya.


"Kamu ini sedang mikirin apa sih?"kata Rima.


"Maaf aku lagi mikirin meeting tadi yang gak ada titik terangnya."kata Lydia sambil menghera nafas.


"Sudah pikirin itu nanti saja sekarang kita makan dulu yuk."kata Rima.


"Memangnya ini sudah waktunya makan siang?"kata Lydia.


"Sudah malah lebih 15menit, kami tungguin diluar gak keluar-keluar kamunya jadi kami berdua masuk deh. Eh ternyata malah asik melamun."kata Sandra.


"Maaf deh, ya sudah ayo kita mau makan dimana?"kata Lydia.


"Kita makan dinasi padang aja yuk, aku lagi kepengen."kata Rima membuat Lydia dan Sandra memandang kearah Rima curiga.


"Kalian kenapa sih liatin aku kayak gitu?"kata Rima yang risih diliatin kayak gitu.


"Kamu kok kepengen jangan-jangan ao ngaku."kata Sandra.


"Kalian gak usah mikir yang gak-gak deh. Aku memang kepengen tapi aku gak hamil, lagian bagaimana bisa hamil kalau Kevin saja gak pernah nyentuh aku katanya takut kebablasan."kata Rima.


"Seriusan lalu kalau kalian pacaran itu ngapain?"kata Lydia.


"Kami hanya gandengan tangan sama cium pipi kalau gak gitu kening."kata Rima.


"Kalau bibir gimana memangnya gak pernah apa?"kata Sandra yang penasaran.


"Apaan sih itu privasi ya gak akan aku kasih tau ke kalian."kata Rima sambil tersipu malu membuat Lydia dan Sandra bukannya berhenti mereka berdua malah meledek Rima.


"Cie cie cie katanya gak berani ngapa-ngapain tapi cium pipi berani."kata Sandra.


"Apaan sih kalian nih ah, sudah ayo makan aku lapar nih."kata Rima.


"Sudah sudah ayo makan kasian Rima pipinya sudah kayak kepiting rebus itu."kata Lydia.


"Ish ini lagi lebih parah sudah ayo kita jadi makan gak nih?"kata Rima kesal membuat Lydia dan Sandra semakin menjadi.


"Ya sudah ayo."kata Lydia.


Mereka bertiga keluar dari ruangan Lydia, saat mereka sampai dilobby banyak pasang mata yang memandang mereka bertiga. Ada yang kagum dengian mereka ada juga yang mencemooh mereka tapi mereka bertiga tak menghiraukannya. Barulah saat mereka sudah duduk sambil menikmati makanannya Rima kesal sama para karyawan itu.


"Kamu kenapa mukanya ditekuk kayak gitu?'kata Lydia yang melihat wajah kesal rima.


"Aku kesal banget sama karyawan tadi seenaknya saja bicarain orang."kata Rima.


"Sudahlah gak usah bahas mereka lagi, yang terpentingkan kita gak ganggu mereka."kata Sandra.


"Tapi aku kesal saja seenaknya saja ngomongin kita kayak mereka yang paling benar saja."kata Rima.


"Sudah sudah lanjut makan nanti kita telat lagi masuk ke kantornya kalau kamu ngeluh terus. Lagian biar saja mereka mau bicara apa soal kita sekarang yang paling penting kita tunjukan saja kinerja kita kalau kerja kita lebih baik dari mereka pasti mereka akan malu sendiri."kata Sandra.


"Benar apa kata Sandra."kata Lydia.


Mereka menikmati makanan sambil bercerita satu sama lain. Rima berdebat dengan Sandra membahas saat mereka masih kuliah dulu membuat Lydia hanya geleng-geleng kepala saja.


"Eh kedua temanmu itu kemana sekarang kok gak kelihatan?"kata Sandra.


"Aku gak tau sejak aku ada masalah dulu mereka menjauhiku."kata Rima.


"Masak sih?"kata Sandra.


"Kamu gak percaya sama aku?"kata Rima.


"Lagian kamu salah pilih teman sih."kata Sandra.


"Mana aku tau kalau mereka kayak gitu. Sudah kalian sudah selesai belum ayo kembali ke perusahaan?"kata Rima.


"Oke deh ayo, maaf kalau aku buat kamu gak nyaman."kata Sandra.


"Gak papa kok."kata Rima.


Lydia sendiri daritadi hanya diam saja entah apa yang dia pikirkan sekarang. Lydia juga berjalan tak semangat saat kembali ke perusahaan tapi kedua temannya gak terlalu pehatian karena Rima dan Sandra sedang berdebat satu sama lain.


Saat sampai diruangannya Lydia gak bisa fokus, dia masih berpikir siapa yang akan menikah dengan Shinta. Kenapa Lydia bisa tau karena mamanya mengirimkan sebuah video padanya. Ryan sendiri yang merasa pesannya gak dibalas langsung saja menghubungi Lydia. Awalnya Lydia gak mau menjawab tapi akhirnya gadis itu mau menjawab panggilang itu.


[Hallo Asalamualaikum...]


[Walaikumsalam kamu sibuk banget ya kok pesanku gak dibalas hanya diliat saja?]


[Maaf, aku sibuk banget ada apa kamu menghubungiku?]

__ADS_1


[Kamu mau aku jemput jam berapa?]


[Memangnya aku gak ngerepotin kamu apa?]


[Gaklah, ini sudah jadi tugas aku buat antar jemput kamu.]


[Aku pulang jam 5, tapi kalau kamu sibuk aku bisa pulang sama Sandra.]


[Gak aku jemput kamu.]


[Ya sudah kalau kayak gitu aku mau kembali kerja dulu.]


[Baiklah, semangat kerjanya. Kalau perlu bantuan bilang saja aku siap bantu.]


[Iya.]


Lydia setelah berkata begitu langsung saja mematikan panggilannya membuat Ryan menghera nafasnya karena Lydia memutuskan panggilannya begitu saja.


"Kamu kenapa?"kata Anton yang melihat kalau adiknya sedang kesal.


"Gak papa kok kak."kata Ryan.


"Kamu gak bisa bohong sama aku pasti kamu ada masalah."kata Anton.


"Kak, nanti jam 5 aku harus jemput Lydia ak papakan?"kata Ryan.


"Oh soal itu kalau itu mah gak papa gak usah kamu pikirin pergi saja lagian acara ijab kabulnya sebentar lagi. Kamu ajak dia kemari saja kalau dia mau."kata Anton.


"Aku gak yakin kalau dia mau kak."kata Ryan.


"Makanya kamu jelaskan sama dia agar Lydia gak salahpaham terus sama kamu."kata Anton.


"Aku takut kak kalau dia marah sama aku."kata Ryan.


"Pasti dia akan marah tapi aku yakin pasti dia bisa menerima penjelasanmu. Bukannya lebih baik dia tau dari kamu daripada dia tau dari orang lain?"kata Anton.


"Iya juga sih kak."kata Ryan.


Mereka setelah itu tak berbicara lagi karena mereka berdua dipanggil bunda Arina acara akad nikah itu akan segera dimulai. Acara ijab kabul itu berjalan dengan hikmat.


Ryan pamit pergi keluar saat waku menunjukan pukul 4.30 dia gak mau kalau Lydia menungu dia lama. Ternyata saat dia sampai perusahaan Lydia, Lydia belum keluar jadi Ryan memutuskan untuk menunggu didalam mobil.


Lydia sendiri fokus dengan pekerjaannya sampai tas sadar kalau ini sudah waktunya pulang kalau gak Sandra masuk dan mengajaknya pulang. Lydia melihat jamnya kalau sekarang sudah pukul 5 lebih membuatnya terburu-buru.


"Kamu kenapa?"kata Sandra.


"Ada seseorang yang menungguku dibawah. Tadi aku bilang pulang pukul 5 tapi ini sudah pukul 5 lebih."kata Lydia.


"Kalau aku boleh tau siapa yang menunggumu?"kata Sandra.


"Tunggu aku juga ikut enak saja ninggalin aku sendirian."kata Sandra membuat Lydia tersenyum.


Kedua perempuan itu masuk ke dalam lift yang sama. Mereka berpisah jalan saat sudah sampai didepan pintu perusahaan. Ryan yang Lydia keluar langsung saja menjalankan mobilnya untuk mendekati Lydia.


"Maaf ya aku telat soalnya tadi keasikan ngrejain pekerjaan."kata Lydia yang gak enak hati.


"Gak papa kok, kita mau kemana nih?"kata Ryan.


"Memangnya kamu mau kemana?"kata Lydia malah bertanya balik.


"Kamu mau pulang atau pergi membeli sesuatu dulu?"kata Ryan.


"Kalau aku ajak kamu pergi ke mall bentar memangnya gak papa?"kata Lydia.


"Ya sudah ayo kamu mau ke mall mana biar aku anterin?"kata Ryan.


"Yang ada didekat kantor saja gak papakan?"kata Lydia.


"Oke, kita jalan sekarang."kata Ryan mulai menjalankan mobilnya.


Kebetulan mall dan perusahaan Lydia tak terlalu jauh jadi hanya sebentar saja mereka sudah sampai. Ryan memarkirkan mobilnya setelah itu mengajak Lydia masuk ke dalam.


"Kamu mau membeli apa?"kata Ryan.


"Aku mau jalan-jalan saja gak papakan?"kata Lydia mencoba Ryan apakah pria itu akan gelisah kalau keluar lama atau gak.


"Baiklah, kamu mau beli apa saja terserahmu aku yang traktir hari ini."kata Ryan.


"Seriusan?"kata Lydia senang.


"Iya serius."kata Ryan sambil tersenyum saat melihat Lydia senang.


"Oke kamu jangan nyesal kalau aku kuras tabungan kamu."kata Lydia.


"Buat kamu apa yang gak sih."kata Ryan.


"Kalau aku minta rumah memangnya kamu mau belikan?"kata Lydia.


"Kalau kamu mau menikah denganku aku akan belikan."kata Ryan sambil tersenyum.


"Kenapa harus nikah dulu sih memangnya gak ada cara lain?"kata Lydia.


"Kalau rumah itu buat ditinggali bukan buat dijual lagi, kalau kamu nikah sama aku rumah akan kita tinggali buat selamanya tapi kalau gak pasti kamu akan jual."kata Ryan.

__ADS_1


"Tau saja kamu."kata Lydia.


Lydia tak berbicara lagi tapi dia menarik tangan Ryan masuk ke dalam toko. Tapi dari sekian banyak toko yang dia masukin gak ada satu pun barang yang dibeli oleh Lydia.


"Memangnya gak ada barang yang kamu inginkan daritadi kita masuk toko satu ke toko yang lain kamu gak beli apapun?"kata Ryan yang sudah mulai lelah.


"Gak ada yang menarik menurutku, kenapa kamu bosan ya?"kata Lydia.


"Aku bukannya bosan tapi aku gak enak sama mereka. Mereka sudah capek-capek menjelaskan kamunya gak jadi beli."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.


"Ya sudah kalau kayak gitu barang yang aku sentuh tadi kamu beli semua bagaimana?"kata Lydia.


"Baiklah tunggu sebentar."kata Ryan.


Ryan mengambil ponselnya dan memberitau anak buahnya untuk membeli barang-barang yang disentuh oleh Lydia tadi setelah itu mengantarkan barang-barang itu langsung ke rumah Lydia. Lydia yang melihat Ryan tak mengikutinya berbalik badan dan melihat kalau Ryan sedang sibuk dengan ponselnya.


"Ayo kita makan dulu ya aku lapar."kata Lydia berjalan kembali ke Ryan.


"Mau makan apa?"kata Ryan.


"Apa saja yang enak, eh makanan khas korea boleh?"kata Lydia.


"Baiklah, kamu tau tempatnya gak? Kalau gak tau kita cari dulu."kata Ryan.


"Aku tau kok."kata Lydia.


Mereka berdua berjalan menuju tempat makan yang diinginkan oleh Lydia. Sampai disana mereka berdua memesan makanan.


"Kamu yakin mau pergi ke puncak besok?"kata Lydia untuk memastikan.


"Iya memangnya kenapa?"kata Ryan.


"Gak papa, kalau kamu sibuk mending gak usah deh."kata Lydia.


"Aku gak sibuk kok tenang saja, memangnya barang yang mau kamu bawa sudah lengkap gak ada yang kurang?"kata Ryan.


"Sudah kok besok tinggal berangkat saja, kamu gak berangkat bareng kita saja?"kata Lydia.


"Aku gak bisa kalau bareng kalian soalnya masih ada kerjaan yang harus aku handel gak papakan?"kata Ryan.


"Gak papa kok, padahal aku berharap kamu ikut berangkat paginya."kata Lydia pura-pura kesal.


"Maaf ya tapi aku akan usahakan biar cepat selesai kerjanya dan langsung berangkat kesana. Nanti saat pulang saja bareng sama aku gimana?"kata Ryan menghibur.


"Baiklah tapi aku nitip sesuatu boleh?"kata Lydia.


"Kamu mau nitip apa?"kata Ryan.


"Aku mau nitip hatiku buatmu."kata Lydia sambil tersenyum.


Ryan yang mendengar perkataan Lydia langsung terpaku. Ryan gak menyangka kalau Lydia berani mengungkapkan perasaannya.


"Kamu gak bercandakan dengan kata-katamu tadi?"kata Ryan.


"Bercandalah kenapa kamu pikir aku serius?"kata Lydia sambil tersenyum dalam hati. 'Aku serius suka sama kamu tapi aku sadar aku hanya bisa menganggumimu tanpa bisa memilikimu.'kata Lydia dalam hati.


"Yah padahal aku sudah berharap lebih."kata Ryan kecewa.


"Sudah gak usah bahas itu ayo makan setelah itu aku mau keliling lagi."kata Lydia mengalihkan pembicaraan.


"Kamu mau kemana lagi kita tadi sudah hampir mengelilingi mall lo?"kata Ryan.


"Kamu gak mau ya, kalau gak mau ya sudah ayo kita pulang saja."kata Lydia.


"Oke kamu habisin dulu makanannya setelah itu kita keliling lagi."kata Ryan membuat Lydia langsung tersenyum.


Mereka berdua keliling mall lagi tapi tak masuk ke dalam toko satu per satu seperti tadi. Mereka hanya mengelilingi saja hingga sampai didepan sebuah toko Lydia menarik tangan Ryan untuk masuk ke dalam.


"Ada yang bisa kami bantu nona, tuan?"kata karyawan.


"Aku mau cari sepatu couple."kata Lydia.


"Baik mari saya tunjukan modelnya setelah itu baru akan saya carikan no sepatunya."kata karyawan itu menujukan dimana letak sepatu couple buat pasangan.


Mereka berdua mengikuti karyawan itu untuk menuju tempat sepatu. Lydia memilih salah satu dan mendapatkan dua buah sepatu dengan model yang berbeda.


"Kak, menurutmu diantara ini mana yang bagus?"kata Lydia menunjukan dua buah sepatu pilihannya.


"Bagus semua."kata Ryan tanpa memandang karena dia sibuk dengan ponselnya membuat Lydia kesal.


"Kak, bisa gak kalau sama aku itu simpan ponselmu."kata Lydia sambil mengambil ponsel Ryan dari tangannya.


"Memangnya mana sepatunya?"kata Ryan berusaha untuk sabar.


"Ini."kata Lydia sambil memperlihatkan dua buah sepatu pada Ryan.


"Pilih yang biru ini saja ya, kamu suka gak?"kata Ryan.


"Iya mbak aku mau size 28 ya, kamu kak berapa?"kata Lydia.


"40 ya mbak."kata Ryan.


"Baik tunggu sebentar saya carikan."kata karyawan.

__ADS_1


Mereka berdua setelah membayar sepatu itu langsung memutuskan untuk pulang. Sampai rumah Lydia, Ryan pamit pulang karena dia harus ke apartemen Dayat buat membahas pekerjaan. Lydia sendiri didalam kamarnya senyum-senyum sendiri.


__ADS_2