Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia ketemuan dengan Ryan


__ADS_3

"Kamu beneran suka sama hadiahku?"kata Ryan yang gak yakin jika Lydia suka karena perempuan itu langsung menutup kotak itu setelah melihat isinya.


"Aku benar-benar suka memangnya kenapa kak?"kata Lydia bingung dengan perkataan Ryan.


"Kalau kamu suka kenapa hanya sebentar liatnya?"kata Ryan membuat Lydia tersenyum.


"Mau aku pakai langsung kalungnya?"kata Lydia.


"Iya kalau kamu mau."kata Ryan.


"Aku gak mau nanti saja saat dirumah ya, kalau sekarang aku pakai para karyawanmu akan curiga."kata Lydia.


"Baiklah, setelah ini kamu mau kemana?"kata Ryan.


"Aku mau pulang memangnya kenapa kak?"kata Lydia.


"Kamu jam berapa berangkat ke Bandaranya?"kata Ryan.


"Pokoknya sama sana jam 5, kenapa mau nganterin?"kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.


"Maaf aku gak bisa kayaknya aku harus lembur hari ini."kata Ryan.


"Bisa gak kalau kerja jangan malam-malam pulangnya? Ingat kesehatan itu penting daripada uang."kata Lydia.


"Memang kesehatan penting tapi kalau aku gak kerja bagaimana aku bisa melunasi tanggunganku masih banyak."kata Ryan.


"Bukannya hidup sederhana itu lebih enak ya daripada kita hidup mewah tapi mencari uangnya sampai setengah mati?"kata Lydia.


"Memang benar sih tapi aku mau nanti istri dan anakku hidup tanpa kekurangan apapun."kata Ryan.


"Waw memangnya sudah ada calonnya ya?"kata Lydia.


"Sudah ini sekarang dia ada didepanku."kata Ryan.


"Gak usah bercanda deh, kalau ada yang dengar mereka pasti akan salah paham. Nanti kalau sampai Sinta dengar berabe."kata Lydia.


"Apa hubungannya sama mbak Sinta?"kata Ryan.


"Bukannya kamu lagi dekat sama dia?"kata Lydia.


"Aku kan sudah bilang semalam jika aku dekat dengan Sinta dekat karena adiknya adalah temanku."kata Ryan.


"Masak sih aku gak percaya."kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.


"Ya sudahlah kalau kayak gitu."kata Ryan yang sudah gak tau lagi harus menjelaskan bagaimana lagi pada Lydia. Jika dia mau jelaskan sekarang kalau Sinta adalah kakaknya maka penyamarannya akan segera terbongkar.


Saat mereka sedang berdebat ponsel Ryan berbunyi, Ryan langsung saja mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu Sinta.

__ADS_1


"Aku angkat panggilan dulu gak papa ya?"kata Ryan.


"Angkat saja gak ada yang ngelarang kok."kata Lydia.


"Jangan kesal gitu, ini kakakku yang menghubungiku."kata Ryan.


"Aku gak kesal bukannya aku sudah bilang terserah kamu saja kalau mau angkat, angkat saja."kata Lydia.


"Baiklah sebentar ya."kata Ryan yang langsung mengangkat panggilan itu.


[Hallo Asalamualaiku mbak....]


[Walaikumsalam... Kamu dimana?]


[Aku sedang makan siang ada apa mbak?]


[Maaf kalau mbak ganggu makan siangmu, mbak hanya mau bilang pengajuan kerjasama dengan perusahaan tuan Jono berhasil.]


[Wah selamat mbak, lalu ada yang bisa aku bantu?]


[Ada, kamu lembur gak? Kalau gak biar mbak ke apartemenmu ada yang mau mbak tanyakan?]


[Aku hari ini lembur, kalau mau ke apartemen datang saja mbak. Tapi mbak pulang dulu atau mau langsung ke aprtemen?]


[Memangnya kenapa dek?]


[Nanti mbak pulag dulu, kamu pasti pulangnya malam daripada mbak gabut disana.]


[Baiklah kalau gitu jangan lupa bawain masakan bunda, aku kangen tapi mau pulang gak bisa tau sendiri aku sibuk akhir-akhir ini.]


[Ya sudah mbak mau kembali ke perusahaan, kamu lanjutin makan siangnya.]


[Iya mbak hati-hati nyetirnya. Kalau kayak gitu aku tutup dulu panggilannya.]


Ryan setelah menutup panggilannya merasa lega karena Sinta berhasil mendapatkan kontra itu berarti bebannya terkurangi sedikit. Sekarang dia hanya tinggal memikirkan toserbanya dan juga perusahaan Hendru yang pekerjaannya masih banya terbengkalai.


"Kamu kenapa?"kata Lydia.


"Gak papa kok, aku lega akhirnya mbakku bisa menyelesaikan masalahnya."kata Ryan.


"Ya sudah kalau gitu ayo makan lagi, setelah ini kamu bisa kembali ke perusahaan biar gak pulang terlalu malam nanti kamunya."kata Lydia.


"Iya, aku mau pulang cepat hari ini mbakku mau datang ke apartemen."kata Ryan.


"Hmmm."kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.


Mereka selesai makan langsung saja berpamitan yang satu kembali ke perusahaan dan yang satunya lagi kembali pulang. Saat dipertengahan jalan ponsel Lydia berbunyi ternyata itu panggilan dari Sandra. Lydia langsung saja mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


[Hallo Asalmualikum San...]


[Walaikumsalam kamu ada dimana? Aku sama Ita ada dirumahmu tapi kamu gak ada?]


[Aku sedang dijalan mau pulang ini.]


[Ya sudah aku tunggu dirumahmu.]


Lydia langsung menutup panggilan dan langsung pulang ke rumah padahal niatnya tadi mau pergi ke perusahaan papanya sebentar. Sampai rumah Lydia langsung saja memarkirkan mobilnya ke dalam bagasi karena selama 1 bulan kedepan mobil itu tak akan dia pakai lagi.


"Non sudah pulang?"kata mang Soleh.


"Iya mang, nanti selama aku gak ada dirumah tolong panasin mobilku setiap pagi ya."kata Lydia.


"Siap nona."kata mang Soleh.


"Ya sudah kalau kayak gitu aku ke dalam dulu."kata Lydia.


Lydia setelah berkata begitu langsung saja masuk ke dalam rumah, saat baru saja masuk terdengar suara gerak tawa dari dalam. Lydia langsung berjalan cepat untuk menghampiri mama dan kedua temannya yang sedang bercanda tawa.


"Kalian sedang ngomongin apasih?"kata Lydia saat sudah sampai didekat mereka dan duduk disamping mamanya.


"Nih Sandra kocak banget ceritanya bikin mama ketawa terus, kamu darimana?"kata mama Intan.


"Ih mama gimana sih aku kan sudah bilang kalau aku mau ketemuan sama teman."kata Lydia.


"Oh ya mama lupa, siapa temannya perempuan atau pria?"kata mama Intan.


"Ih mama kepo."kata Lydia.


"Memangnya mama gak boleh tau? Lagian kalau yang kamu temui itu pria mama senang berarti mama akan segera punya menantu."kata mama Intan.


"Ma, bisa gak sih gak usah bahas soal menantu lagi bisa gak?"kata Lydia.


"Gak bisa, mama mau kamu move on dari Rayyan."kata mama Intan membuat Lydia menghera nafasnya.


"Ma, aku sudah beberapa kali bilang sama mama kalau aku sudah melupakan kak Rayyan."kata Lydia kesal kalau mamanya bicara tentang Rayyan.


"Mama tau, tapi kalau kamu gak segera cari penganti Rayyan pasti mereka akan berpikir jika kamu gak bisa ngelupain Rayyan."kata mama Intan.


"Ma, aku kan sudah bilang sekarang aku mau fokus dengan perusahaan papa, aku mau belajar bisnis dulu agar aku bisa menjalankan perusahaan papa sendiri."kata Lydia.


"Ya sudah terserah kamu lah mama memang gak pernah kamu anggap omongannya."kata mama Intan.


"Ma, cari pasangan itu gak mudah. Aku gak mau salah pilih lagi kayak kemarin."kata Lydia menjelaskan pada mama Intan pelan-pelan.


"Maafin mama kalau mama terlalu memaksa, mama hanya gak suka jika ada orang yang bicarain kamu."kata mama Intan.

__ADS_1


"Biarkan saja mereka berkata apa yang penting kita tetap bahagia menjalani hidup. Bukannya aku gak mau mencari pasangan hanya saja sekarang belum mendapatkan yang pas dihati."kata Lydia.


__ADS_2