
Pak Hardi dan Lydia duduk diruangan Alex dengan Alex yang sibuk dengan laptopnya untuk mengirimkan file proyek yang dikerjakan oleh Lydia dan pak Hardi.
Di Jakarta
Dayat yang baru saja mendapatkan kiriman email itu memeriksa email itu dan ternyata itu email dari kliennya yang baru. Saat melihat file itu Dayat sudah suka baru kali ini dia melihat klien yang benar-benar membuat sebuah proyek yang mementingkan kesehatan dan gizi anak-anak padahal selama ini mereka hanya membuat makanan asal laku saja. Dayat berjalan keluar untuk menunjukan file proyek itu tapi saat mau masuk dalam langkahnya dihentikan oleh Sari.
"Tuan berhenti dulu."kata Sari.
"Ada apa Sar? Apa ada tamu?"kata Dayat.
"Ada orangtua tuan Ryan dan istri mudanya."kata Sari.
"Istri muda memangnya dia punya istri lagi?"kata Dayat.
"Ih kamu nih, itu loh nona Shinta bukannya dia istrimu tuan?"kata Sari kesal membuat Dayat tersenyum.
"Kamu ini ada-ada saja, ya sudah nanti kalau mereka pulang kasih tau aku! Ada pekerjaan yang ingin aku berikan sama tuan."kata Dayat.
"Siap."kata Sari.
Dayat membalik badannya untuk kembali keruangannya ada apa lagi ketiga orang itu datang. Memangnya gak cukup apa masalah dengan atasannya itu, tuannya saja yang gak bisa tegas dengan keluarganya seandainya tuannya itu bisa tegas mungkin sekarang istrinya gak akan pergi meninggalkannya. Sedangkan didalam ruangan Ryan, pria itu hanya menghela nafas.
"Apa yang kalian inginkan sebenarnya? Aku sudah menuruti keinginan kalian apalagi yang harus aku lakukan?"kata Ryan.
"Yan, pulang ayah ingin sekali kita bisa ngumpul sama-sama kayak dulu lagi."kata ayah Danny.
"Maaf yah, aku gak bisa lagian bukannya disana sudah ada putri kesayangan ayah eh lupa menantu kesayangan ayah bukannya itu sudah cukup?"kata Ryan.
"Tapi mas, aku butuh kamu dirumah."kata Shinta.
"aKu sudah pernah bilang sama kamu jangan pernah panggil aku mas, jijik aku mendengarnya."kata Ryan.
"Yan, biar bagaimanapun Shinta ini istrimu?"kata ayah Danny.
"Ayah gak usah maksa aku, oh aku lupa aku sudah mendaftarkan perceraian kita dipengadilan jadi siap-siap saja kamu jadi janda."kata Ryan.
"Aku gak mau cerai sama kamu mas, aku mau kita menjalani rumahtangga kita."kata Shinta.
"Maaf aku gak bisa, menjalani sebuah komitmen tanpa adanya rasa cinta."kata Ryan.
"Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya mas, asal kamu mau berusaha untuk mencintaiku."kata Shinta.
__ADS_1
"Maaf hatiku hanya untuk istriku saja tak bisa terbagi dengan yang lain."kata Ryan.
"Bukannya kamu sudahh cerai sama dia tapi kenapa kamu masih anggap dia istrimu. Lagian kalau dia mencintaimu pasti dia gak akan pergi dari kamu begitu saja."kata Shinta yang gak terima jika Ryan masih mencintai Lydia.
"Walaupun aku sudah bercerai bagiku dia tetap istriku dan aku akan tetap menacari keberadannya sampai dapat."kata Ryan.
"Sudah, sudah Yan, lusa ulang tahun pernikahan ayah sama bunda. Kami mohon sama kamu, kamu datang ya ada yang mau bunda kasih tau sama kalian."kata bunda Airin.
"Memangnya bunda mau kasih tau apa? Lagian gak bisa kasih tau sekarang?"kata Ryan.
"Gak bisa Yan, bunda juga sudah bilang sama kakakmu dan dia mau datang."kata bunda Airin.
Bunda Airin bisa berkata begitu karena bunda Airin bekerjasama dengan Anton untuk mencaritau tentang kebenaran Shinta dan juga perselingkuhan mamanya Anton. Bunda Airin yakin jika ada yang salah apalagi test DNA mengatakan kalau Shinta bukanlah anak kandung adik papa Danny.
"Aku usahakan memangnya kalian buat acara dimana?"kata Ryan.
"Kami bikin diaula perusahaan, kamu datang Yan itu harapan bunda."kata bunda Airin.
"Sudahkan gak ada lagi yang mau kalian bicarakan?"kata Ryan.
"Kamu sibuk banget Yan?"kata bunda Airin.
"Iya nih bun, bundakan tau kalau aku gak hanya punya perusahaan ini saja."kata Ryan.
"Aku tinggal disini saja dulu, bun."kata Shinta.
"Shin, kamu ikut kami jangan ganggu suamimu yang sedang kerja kasian dia nanti kerjaannya gak selesai-selesai. Bukannya kamu mau dia menemanimu dipesta aniv kami."kata bunda Airin.
"Baiklah bun."kata Shinta akhirnya.
Mereka semua berpamitan bunda Airin memeluk putranya sambil berbisik kalau saat pesta aniv nanti kebenaran akan terbuka membuat Ryan mengerutkan keningnya. Ryan yakin pasti ada yang bunda ketahui tapi apa Ryan hanya berharap apapun itu tak akan buat bundanya dalam bahaya. Ryan baru saja fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba pintunya terbuka dari luar.
"Kamu Yat, ada apa?"kata Ryan.
"Nih, kamu liat."kata Dayat.
"Apa ini?"kata Ryan.
"Buka saja kenapa?"kata Dayat membuat Ryan tersenyum.
Ryan tau jika Dayat bicara seperti itu pasti ada yang menarik, Ryan membuka berkas itu lalu mempelajarinya setelah itu menganggukan kepalanya yangg menandakan kalau dia suka dengan proyek itu.
__ADS_1
"Proyek ini milik siapa?"kata Ryan.
"Punya klien kita yang diItali bagaimana kamu suka gak?"kata Dayat.
"Produk ini utamanya diperuntukan untuk balita yang jarang banget kita temukan disini ya pasti aku setujulah. Apalagi disini bukan hanya makanan tapi juga fashionnya bagus dan aman buat anak kecil maupun dewasa. Kapan kita ke Itali tapi jangan lusa, lusa pesta aniv orangtuaku?"kata Ryan antusias dengan produk itu.
"Aku belum berhubungan lagi dengan beliau, aku minta pendapatmu dulu kalau kamu setuju baru aku akan atur keberangkatan kita ke Itali."kata Dayat.
"Kamu atur saja, aku ingin melihat siapa yang berani membuat produk kayak gini? Selama ini kalau pun ada pasti mereka akan mematok harga tinggi tapi dia gak, dia ingin semua karangan bisa membeli produk yang aman buat anak kecil."kata Ryan.
"Ya sudah kalau gitu aku kembali keruanganku, kamu ada yang perlu aku kerjakan lagi gak selain ini?"kata Dayat.
"Kamu suruh orang kita buat ngawasi bunda, aku yakin bunda tau sesuatu. Aku gak mau bunda dalam bahaya."kata Ryan.
"Baiklah, kalau gitu aku kembali ke ruanganku dulu."kata Dayat.
Ryan menghela nafasnya lalu mengusap wajahnya, Ryan memandang foto pernikahan dirinya dan Lydia yang berada diatas meja.
"Kamu ada dimana sekarang sayang, aku sangat merindukanmu."kata Ryan sambil mengambil pigura itu.
Ryan mengelus foto Lydia lalu tersenyum setelah menciumnya dia kembali meletakkan pigura itu ditempatnya. Ryan kembali fokus dengan pekerjaannya. Dayat sendiri menghubungi Alex kalau dia akan segera pergi ke Itali untuk melakukan pertemuan. Alex yang mendapatkan kabar itu langsung saja memberitau pak Hardi.
"Mohon perhatiannya sebentar ada yang mau bapak sampai sama kalian."kata pak Hardi yang menyuruh karyawan didivisinya memperhatikannya.
"Ada apa pak? Jangan bikin kami penasaran deh."kata Santi.
"Iya pak, apa kami dapat bonus?"kata karyawan.
"Kerja saja belum sudah tanya bonus kamu itu."kata pak Hardi membuat Nila yang mendengarnya tersenyum.
Nila gak menyangka jika didivisi pak Hardi rasa kekeluargaannya sangat erat tak seperti didivisinya dulu yang berebut mencari perhatian manager dan berebut pakai barang-barang mewah.
"Kamu ngelamunin apa?"kata Santi sambil menyenggol Nila membuat Nila terkejut.
"Eh gak, aku hanya gak nyangka saja disini beda banget sama disebelah."kata Nila membuat yang lain memandang kearah Nila.
"Apa yang beda Nil sama saja kita sama-sama kerja?"kata karyawan.
"Disini kalian salin tolong-menolong sedangkan disebelah gak. Kami selalu saingan satu sama lain untuk mendapatkan perhatian dari atasan.Sudah kok malah fokus ke aku memangnya bapak mau kasih berita apa?"kata Nila.
"Iya benar juga."kata karyawan.
__ADS_1
"Ada apa ini?"kata Lydia yang baru keluar dari ruangannya.
"Pak Hardi mau kasih sesuatu sama kita."kata Santi membuat Lydia memandang kearah pak Hardi.