
Lydia selesai berganti pakaian turun kebawah lalu menemui mertuanya yang sedang sibuk memasak untuk makan malam.
"Ada yang bisa aku bantu bun?"kata Lydia membuat dua orang yang ada disana terkejut.
"Kamu Ly, ngagetin bunda saja. Sudah gak usah dibantuin kamu duduk disini saja liatin bunda saja."kata bunda Airin.
"Ya masak liatin bunda sama bibi, aku 'kan jadi gak enak bun."kata Lydia.
"Gak papa sayang, bunda gak mau kau kecapekan."kata bunda Airin.
"Iya non, ibu ingin segera punya cucu katanya kalau nona gak kecapekan 'kan malamnya bisa semangat buat cucunya."kata bibi.
"Bibi ngomong apasih? Lagian apa hubungannya dengan capek sama buat cucu?"kata Lydia.
"Adalah non, kalau nona gak capek 'kan malamnya bisa gas poll sama den Ryan."kata bibi membuat pipi Lydia menjadi merah karena malu sedangkan bunda Airin yang melihat menantunya malu hanya tersenyum.
"Kamu ini tu liat menantuku malu, nanti kalau dia gak mau tinggal disini lagi bagaimana?"kata bunda Airin.
"Bunda ngomong apasih, aku akan tetap tinggal disini kalau kak Ryan mau karena aku sendiri juga sudah betah disini. Bun, aku boleh tanya sesuatu sama bunda gak?"kata Lydia.
"Syukurlah kalau kamu betah disini, kamu mau tanya apa katakan saja."kata bunda Airin.
"Soal kak Anton."kata Lydia ragu-ragu membuat bunda Airin dan bibi mengerutkan keningnya.
"Memangnya kamu mau tanya apa soal Anton?"kata bunda Airin.
"Aku mau tanya apa yang membuat kak Anton dan kak Ryan dulu bertengkar?"kata Lydia membuat bunda Airin dan bibi sama-sama terdiam.
"Tapi kalau bunda gak mau cerita gak papa aku gak mau maksa."kata Lydia yang melihat bunda Airin terdiam.
"Kita cerita diruang keluarga saja kalau bercerita disini gak enak, bi tolong selesaikan masaknya ya aku tinggal kedepan dulu."kata bunda Airin.
__ADS_1
"Ya nyah."kata bibi.
Lydia dan bunda Airin berjalan meninggalkan dapur menuju ruang keluarga, disana mereka terdiam sebentar. Bunda Airin binggung mau cerita darimana soal pertengkaran antara Ryan dan Anton karena permasalahan mereka sangatlah perik. Lydia yang gak enak hati pada mertuanya memutuskan untuk tak bertanya lagi tentang pertengkaran antara suami dan kakak iparnya itu dulu.
"Kamu benaran mau tau soal Ryan dan Anton, Ly?"kata bunda Airin.
"Iya bun, tapi itu pun kalau bunda gak keberatan."kata Lydia yang masih gak enak sama mertuanya.
"Kamu pasti tau kalau Anton dan Shinta itu bukan anak kandung kami, tapi mereka berdua anak kandung adik ayah Danny?"kata bunda Airin.
"Iya kalau soal itu aku sudah dengar dari mbak Tiara tapi dia gak cerita soal pertengkaran mereka dulu."kata Lydia.
"Dulu Anton sangat menyayangi Ryan dan akan selalu membela adiknya kalau Ryan dibully oleh teman-temannya tapi saat Anton duduk dibangku SMA dan dia kenal dengan om Damar. Dari situlah entah mengapa Anton berubah membenci Ryan, sejak saat itulah Ryan memutuskan untuk hidup mandiri tak mau terikat dengan keluarga kita. Dia sekolah mencari beasiswa dan sepulang sekolah berjualan. Bunda sama ayah selalu bertanya tapi gak pernah Ryan mau cerita apa yang membuat dia memilih untuk pergi dari rumah sampai suatu hari ayahmu memergoki Anton dan om Damar sedang merencanakan sesuatu pada Ryan saat dia mau dijadikan direktur perusahaan ayah. Untung saja dalam kecelakaan itu Ryan hany luka ringan kalau gak mungkin kami akan menyesal sejak saat itu sebenarnya ayah mau memenjarakan Anton tapi Ryan melarangnya karena dia tau jika Anton hanya ingin agar bisa menjadi direktur diperusahaan kami."kata bunda Airin menghela nafasnya.
"Tapi sejak kapan kak Anton berubah?"kata Lydia.
"Sejak dia kehilangan Tiara, Anton menyesal karena gak bisa menjaga Tiara sehingga kecelakaan itu terjadi. Sejak saat itu Anton berjanji merubah sikapnya untuk jadi lebih baik lagi dan yang membuat Anton benar-benar sadar saat dia ditipu oleh om Damar yang ternyata melakukan kerjasama dengan perusahaan ilegal sehingga hampir membuat perusahaan ayah hampir bangkrut untung saja Anton segera sadar sehingga Ryan mau membantu dan akhirnya perusahaan ayah bangkit lagi tapi sampai sekarang Anton kalau ada apa-apa masih selalu minta pendapat Ryan karena dia takut melakukan kesalahan."kata bunda Airin.
"Apa kamu tau siapa yang menyebabkan kecelakaan itu?"kata bunda Airin.
"Aku dan keluargaku sudah tau tapi kami hanya diam saja karena selain keluarga sendiri juga ada campur tangan orang luar."kata Lydia.
"Maksutmu bagaimana Ly, bunda gak paham?"kata bunda Airin.
"Bunda gak perlu tau, aku hanya gak mau nanti kak Anton semakin membenci dirinya sendiri kalau tau soal kecelakaan itu."kata Lydia menghela nafasnya.
"Bunda gak akan bilang sama kakak iparmu kalau kamu gak ingin dia tau."kata bunda Airin yang berusaha untuk membujuk menantunya itu mengatakan siapa yang telah menyebabkan Tiara meninggal.
"Maaf bun, sekali lagi aku minta maaf karena gak bisa kasih tau bunda."kata Lydia yang kekeh gak mau memberitau siapa yang telah membuat kecelakaan itu.
Bunda Airin tak mau lagi membahas soal Tiara, nanti kalau gak ada Lydia. Dia akan memberitaukan pada Anton dan Ryan karena hanya mereka yang bisa mencaritau soal ini. Bunda Airin mengajak Lydia untuk membicarakan hal lainnya.
__ADS_1
"Ly, bunda boleh tanya sama kamu?"kata bunda Airin mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya bunda mau tanya apa?"kata Lydia.
"Apa orangtuamu tau soal traumamu?"kata bunda Airin.
"Gak mereka gak pernah tau karena aku gak mau mereka khawatir, bunda pasti taukan bagaimana sifat mama kalau sudah khawatir bisa-bisa bukannya aku sembuh tapi malah buat aku semakin tambah parah."kata Lydia membuat bunda Airin tersenyum lalu memeluk menantunya itu.
"Mama kamu sangat sayang sama kamu karena kamu anak satu-satunya yang dia miliki."kata bunda Airin.
"Iya bun, tapi mama tu terlalu lebay banget. Padahal aku gak papa tapi mama khawatirnya minta ampun, apalagi saat tau waktu itu Rima dan keluarganya mengolok-olokku kalau aku gak menghalanginya mungkin dia akan membalas mereka lebih kejam lagi."kata Lydia.
"Iya bunda hanya mendengar sedikit tentang masalahmu dan keluarga mantanmu itu, bunda hanya bingung bukannya keluarga Rima itu kenal keluargamu lama tapi mengapa dia gak mengenalimu?"kata bunda Airin membuat Lydia tersenyum.
"Hehehe karena saat mereka kerumah aku gak pernah mau menemui mereka."kata Lydia.
"Tapi bukannya dirumahmu ada foto keluarga Ly?"kata bunda Airin.
"Memangnya bunda saat kerumah melihat foto keluarga kami dipajang dirumah bun?"kata Lydia.
"Gak ada sih Ly, tapi bunda bingung kenapa kamu lebih memilih menyembunyikan identitasmu nak?"kata bunda Airin.
"Aku hanya mau hidup tenang bun, kalau mau ngapa-ngapain gak akan memikirkan nama keluarga."kata Lydia membuat bunda Airin tersenyum.
"Bunda gak nyangka kalau menantu bunda ini ternyata mau bebas dari bayang-bayang nama keluarga ternyata."kata bunda Airin.
"Iya bun, aku malas kalau orang selalu mengaitkan kita dengan nama keluarga. Kalau mereka tau pasti mereka akan mengkaitkan keberhasilanku karena pakai embel-embel nama keluarga."kata Lydia.
"Kamu benar juga sayang."kata bunda Airin.
Saat mereka sedang berbicara ayah Danny pulang tapi kedua perempuan itu tak sadar karena keasikan berbicara satu sama lain. Ayah Danny hanya tersenyum melihat kedua perempuan itu karena mereka mudah sekali akrab satu sama lain.
__ADS_1