Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia pergi ke salon dengan mama Intan


__ADS_3

"Gak gimana gimana juga, sudah ah aku mau ke atas dulu mau mandi bau asem."kata Lydia.


"Cepat tidur jangan begadang besok ikut mama ke salon sebelum ke hotel."kata mama Intan.


"Ngapain sih harus ke salon segara ma?"kata Lydia paling anti yang namanya salon.


"Kamu itu gimana sih besok itu acara kamu seharusnya kamu dandan dong.'kata mama Intan.


"Dandan sendiri saja memangnya gak bisa apa?"kata Lydiia.


"Gak bisa mama mau kamu dandan yang cantik siapa tau mama dapat menantu."kata mama Intan.


"Gak usah aneh-aneh deh ma, kalau kayak gitu aku pergi dulu ma."kata Lydia.


"Kamu mau kemana mama belum selesai bicara."kata mama Intan.


"Aku mau ke kamar capek banget ma."kata Lydia yang langsung pergi dari sana meninggalkan mama papanya.


Lydia sampai kamar langsung saja meletakkan tasnya dan setelah itu masuk ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi dia langsung saja berbaring diranjangnya. Saat dia baru saja menutup matanya ada panggilan masuk ke ponselnya ternyata itu panggilan dari Ryan. Lydia langsung menangkat panggilan itu.


[Hallo Asalamualaikum...]


[Walaikumsalam kamu sudah tidur? Maaf kalau aku ganggu kamu malam-malam begini.]


[Gak kok ini baru saja mau tidur, ada apa?]


[Akuu cuma mau bilang kalau mobilmu sudah diperbaiki, kamu bisa ambil besok. Kalau mau biar aku jemput atau aku antar ke rumahmu. Tapi sepulang aku pulang kerja maklum aku masih ikut orang gak bisa seenaknya pergi gitu saja.]


[Kayaknya kalau besok aku gak bisa deh, bagaimana kalau lusa saja?]


[Baiklah kalau kayak gitu, kamu kabari aku lagi saja kapan bisanya.]


[Iya nanti aku kabari, makasih dan maaf sudah ngerepotin kamu.]


[Gak papa, bukannya kita harus saling tolong menolong ya? Ya sudah kalau gitu aku tutup dulu, aku cuma mau kasih tau kamu ini.]


[Baiklah makasih, selamat malam.]


Ryan setelah mematikan panggilan itu langsung saja menyalakan mobilnya untuk pulang ke apartemennya. Lydia sendiri setelah mengakhiri panggilan itu langsung saja tersenyum entah kenapa rasanya senang banget dihubungi oleh Ryan padahal mereka baru bertemu 2 kali. Lelah berpikir Lydia memutuskan untuk tidur karena besok pagi-pagi sekali mamanya pasti akan mengganggunya.


Benar saja pagi-pagi sekali mamanya sudah mengedol-gedol pintu kamarnya. Mama Intan yang gak sabaran mencari kunci cadangan kamar Lydia setelah menemukannya langsung saja membuka kamar Lydia. Mama Intan sampai didekat Lydia masih belum bangun membuat dia kesal dan menarik selimut putrinya itu membuat Lydia mau tak mau bangun.


"Ma, aku masih ngantuk tau gak sih?"kata Lydia.


"Bangun bukannya mama sudah bilang sama kamu untuk bangun pagi hari ini."kata mama Intan.


"Ma aku masih ngantuk."kata Lydia.


"Semalam pasti kamu begadang lagi?"kata mama Intan.


"Iya semalam aku ngelanjutin nonton drakor."kata Lydia.


"Kamu tu kalau dibilangi susah, ayo bangun atau mama siram pakai air."kata mama Intan.


"Iya iya aku bangun, kalau kasurku basah nanti aku tidur dimana?"kata Lydia.


"Mama gak tau tidur dilantai mungkin."kata mama Intan.


"Mama benar-benar tega sama aku."kata Lydia.


"Sudah ayo bangun mama gak mau tau pokoknya kamu cepetan bangun atau mama seret kamu sekarang juga."kata mama Intan.


"Iya ma ini sudah bangun ini lo."kata Lydia sambil duduk diranjangnya.


"Ya sudah cepetan mandinya mama tunggu dibawah."kata mama Intan yang langsung keluar dari kamar Lydia.


Lydia sendiri menghera nafasnya dan setelah itu bangun malas kalau mendengar suara teriakan mamanya lagi atau mungkin dia langsung ditarik oleh mamanya agar keluar kamar langsung menuju salon. Saat dia sudah selesai dan turun ke bawah, mama Intan sudah berkacak pinggang memandang kearahnya sedangkan yang dipandang malah cengar cengir membuat perempuan paruhbaya itu bertambah kesal.


"Lama banet ngapain sih kamu dikamar?"kata mama Intan.


"Katanya tadi disuruh mandi ya lama lah kecuali kalau aku hanya cuci muka sama sikat gigi itu malah lebih cepat."kata Lydia.


"Kamu itu kalau dibilangin selalu menjawab tau gak, sudah ayo sudah ditunggu mang Soleh."kata mama Intan.


"La papa tadi naik mobil sendiri ma?"kata Lydia.


"Tadi om Doni yang jemput papa."kata mama Intan.

__ADS_1


"Oh aku pikir papa naik mobil sendiri."kata Lydia.


"Sudah ayo kita sudah ditungguin mereka."kata mama Intan yang langsung berjalan keluar menuju mobil diikuti oleh Lydia dibelakangnya.


"Kita langsung mau kemana ini bu?"kata mang Soleh.


"Kita langsung pergi ke salon saja mang."kata mama Intan.


Mang Soleh langsung saja menjalankan mobilnya menuju salon langgannan nyonyanya. Lydia asik dengan ponselnya, saat dia sedang melihat sosial media. Lydia melihat salah satu temannya mengunggah foto kak Hendru dan teman-temannya. Ada salah satu orang yang menarik perhatiannya difoto itu, Lydia lansung memperbesar bagian itu. Ternyata itu benar pria dingin yang sudah membantunya kemarin.


"Ly, kamu sedang ngelihatin apa kok mama liat kamu sibuk banget sama ponselmu?"kata mama Intan yang penasaran dengan apa yang diliat putrinya itu.


"Apasih ma kepo banget, memangnya kita sudah sampai apa?"kata Lydia sambil menjauhkan ponselnya agr mamanya tak melihat jika dia sedang memperhatikan foto Ryan. Lydia sendiri langsung saja menscreenshot dibagian Ryan entah kanapa dia ingin melakukan itu padahal dulu saat kenal dengan Rayyan rasanya biasa saja saat melihat fotonya.


"Sudah ayo turun! Mang mamang nunggu disini atau pulang duluan kalau pulang dulu nanti aku telepon kalau aku sudah selesai?"kata mama Intan


"Disini saja bu, daripada nanti terjebak macet saat kesini, kasian nanti kalian menunggu lama."kata mang Soleh.


"Ya suudh kalau kayak gitu, ini uang buat beli kopi atau makanan lainnya."kata mama Intan.


"Makasih bu, tapi uang ini gak usah gak papa."kata mang Soleh.


"Sudah ambil saja, kalau mamang gak mau nanti aku gak akan mau diantar mamang lagi biar aku bawa mobil sendiri saja."kata mama Intan.


"Jangan bu nanti tuan marah sama saya bisa dipecat saya."kata mang Soleh.


"Makanya kalau gak mau ambil."kata mama Intan.


Mang Soleh terpaksa menerima uang itu setelah itu kedua ibu dan anak itu langsung turun dari mobil. Saat mereka masuk berpapasan dengan Tina dan juga Rima.


"Eh mbak ada disini juga?"kata Tina sambil tersenyum.


"Iya ini sekalian ajak Lydia buat acara entar malam."kata mama Intan.


Rima tau jika tante Intan tak terlalu suka dekat dengan mereka sekarang, tapi mamanya yang gak tau malu tetap saja mendekatinya. Rima langsug memandang Lydia yang sedang sibuk main ponsel.


"Kamu sibuk banget Ly?"kata Rima berusaha untuk mengakrabkan dirinya pada Lydia.


"Ah gak juga, lagi malas dengarin orangtua ngobrol."kata Lydia jujur membuat mama Intan langsung mencubit lengan putrinya.


"Aduh ma sakit tau gak?"kata Lydia kesal sedangkan Rima hanya tersenyum, dia melihat keakraban ibu dan anak itu sangat senang tak seperti dirinya dan mamanya. Mamanya selalu saja menuntut dirinya seperti apa yang mamanya mau.


"Gak papa tan, ya sudah kalau begitu kami pergi duluan."kata Rima.


"Kenapa gak bareng sama kita saja sih Rim?"kata mama Intan.


"Iya Rim, sama-sama saja biar aku ada temannya ngobrol."kata Lydia.


"Yakin mau ngobrol sama Rima? Biasanya kamu kan suka tidur."kata mama Intan.


"Ya kalau tidur itu mah sudah biasa."kata Lydia.


"Memangnya gak papa kalau kami ikut gabung sama kalian?"kata Rima gak enak.


"Sudah ayo gak usah banyak bicara daripada kita buang-buang waktu."kata mama Intan sambil menarik Rima.


Lydia yang melihat itu hanya tersenyum karena mamanya tak membenci Rima. Tapi Rima malah yang tak enak hati dengan perlakuan mama Intan dan Lydia yang tetap baik padanya dan beda lagi dengan Tina yang mempunyai rencana diotaknya untuk mmenghasut Lydia.


"Kamu tau gak Ly, kalau mamamu itu sayang banget sama Rima?"kata Tina.


"Memangnya apa masalahnya kalau mama sayang sama Rima tan?"kata Lydia.


"Apa kamu gak cemburu, apalagi dulu mama sama papamu bilang akan mewariskan hartanya pada Rima."kata Tina berusaha untuk memanas-manasi Lydia.


"Oh aku kok gak dengar kapan mereka bilang kayak gitu tan?"kata Lydia yang tau maksut dari Tina berbicara begitu padanya.


"Waktu makan bersama kami tapi kamu gak ada mungkin mereka gak kasih tau kamu takut kamu marah karena perusahaan itu bukannya diwarisakan ke kamu tapi malah ke Rima."kata Tina.


"Kamu ngomong apa Tin?"kata mama Intan marah saat mendengar perkataan Tina barusan.


"Aku gak ngomong apa-apa mbak."kata Tina.


"Gak usah pura-pura kamu, aku sudah dengar yang kamu bicarakan. Kamu itu gak tau malu ya dikasih hati malah minta jantung."kata mama Intan.


"Memangnya ada apa tan?"kata Rima bingung kenapa tante Intan terlihat sangat marah.


"Mamamu ini lo mulutnya gak bisa dijaga, dia mau mengadu domba tante sama Lydia."kata mama Intan.

__ADS_1


"Benar yang dikatakan oleh tante Intan ma?"kata Rima yang gak enak hati jika apa yang dikatakan oleh tante Intan benar.


"Iya, mama hanya bilang jika dulu mereka akan menyerahkan perusahaan padamu."kata Tina dengan pedenya.


"Ma, gak usah omong kosong deh, Ly gak usah percaya apa kata mamaku."kata Rima yang gak mau jika Lydia salah paham.


"Aku gak papa kok, lagian kalau memang papa mau serahkan perusahaan sama kamu aku malah senang karena aku terbebas dari beban."kata Lydia yang langsung membuat Tina terdiam.


Mama Intan yang mendengar jawaban dari Lydia langsung tersenyum, dia tak menyangka jika putrinya itu bisa bekata bijak. Tina sendiri malah malu dengan jawaban yang diberikan oleh Lydia.


"Ly, gak usah dengerin apa kata mamaku ya. Lagian gak mungkin om Irwan nyerahin perusahaan itu padaku."kata Rima.


"Ya sudah, ma kapan perawatannya?"kata Lydia yang mengalihkan pembicaraan karena gak mau jika mamanya tetap membahas soal ini dan akan membuat malu keluarganya.


"Iya ayo, Rim kamu mau sama kami atau mau sama mamamu?"kata mama Intan yang awalnya mau satu ruangan sama mereka berdua tapi setelah mendengar perkataan Tina membuatnya berubah pikiran.


"Aku sama mama saja tan, kalau begitu kami permisi dulu. Ayo ma!"kata Rima.


"Ya sudah ayo kalau gitu kami pergi dulu."kata Tina.


Lydia menghera nafasnya sepeninggalan Rima dan ibunya, sedangkan mama Intan terdiam karena dia teringat jika dulu pernah bilang seperti itu pada. Rima padahal dulu niatnya hanya bercanda, dia hanya ingin jika Rima membantu Lydia bukan ingin memberikan perusahaan itu.


"Ma, ngapain malah melamun?"kata Lydia yang melihat jika mamanya sedang melamun.


"Gak mama hanya teringat dengan ucapan Tina tadi."kata mama Intan sambil berbaring karena mereka akan meakukan pijat dulu baru setelah itu perawatan lainnya.


"Memangnya mama pernah bilang seperti apa yang tante Tina katakan itu?"kata Lydia ingin tau.


"Mama memang pernah bilang tapi bukan untuk memberikan pada Rima, tapi mama mau dia membantumu untuk mengelola bukan memilikinya."kata mama Intan.


"Ya sudah biarkan saja, lagian aku senang kalau kalian menyerahkan perusahan itu sama Rima."kata Lydia.


"Mana papau mau, sudah gak usah bahas itu. Mama mau tau siapa foto yang kamu pandaingi saat dimobil tadi?"kata mama Intan.


"Foto mana ma?"kata Lydia pura-pura gak tau padahal dia tau siapa yang dimaksut oleh mamanya tadi.


"Ly, mama serius ini."kata mama Intan yang kesal karena Lydia tak mau mengakuinya.


Mama Intan kesal karena dari awal sampai akhir Lydia tak mau mengaku. Sampai hotel dia tetap menujukan wajah kesalnya. Papa Irwan yang melihat wajah kesal istrinya itu langsung saja mendekati istri dan anaknya.


"Ma, kenapa baru datang wajanya sudah kesal kayak gitu?"kata papa Irwan setelah berada didean anak dan istrinya.


"Gimana gak kesal, sekarang putrimu ini sudah main rahasia-rahasiaan sama mama."kata mama Intan membuat Lydia tersenyum.


"Mamamu, kamu apain Ly?"kata papa Irwan yang beralih pada putrinya.


"Aku gak tau pa, tiba-tiba mama kesal sendiri."kata Lydia.


"Kalian berdua ini kalau salah satu dari kalian gak ada yang mengaku bagaiamana aku bisa tau apa yang kalian inginkan?"kata papa Irwan sambil menghera nafasa karena bingung dengan mereka berdua.


"Putrimu ini lo kenal sama pria tapi tak mau kenal sama kita."kata mama Intan.


"Pa, gak usah percaya sama mama. Aku gak kenal sama pria baru kok, tadi aku liat ada foto seorang pria yang tak asing buatku makanya aku melihat lebih jauh tapi mama sudah salah mengartikannya."kata Lydia berbohong padahal dia penasaran apa hubungan pria tadi dengan Hendru dan yang lain.


"Benar begitu ma?"kata papa Irwan.


"Aku gak tau orang aku tanya Lydia tak mau menjawab."kata mama Intan.


"Bagaimana aku mau jawab kalau aku gak kenal sama dia."kata Lydia.


"Sudah sudah gak usah bahas itu lagi sekarang kalian siap-siap dulu bentar lagi kita harus menyambut tamu."kata papa Irwan.


"Baiklah ayo kita ganti baju!"kata mama Intan mengajak Lydia untuk ganti baju.


Lydia dan mamanya langsung saja masuk ke dalam ruangan yang sudah disiapkan untuk mereka berganti pakaian atau beristirahat. Selesai berganti pakaian mereka langsung saja menemui papa Irwan diluar. Ternyata saat mereka keluar sudah banyak tamu undangan yang datang. Lydia yang melihat kedua temannya langsung saja meminta izin pada mamanya untuk menemui mereka.


"Ma, aku mau menemui mereka gak papakan?"kata Lydia sambil menunjuk ke kedua temannya.


"Ya sudah kalau kayak gitu, tapi nanti kalau mau acaranya dimulai kamu cari kami."kata mama Intan.


"Nanti mama panggil saja."kata Lydia.


Setelah diberi izin sama mamanya dia langsung saja menghampiri kedua temannya itu. Sandra dan Ita yang melihat kalau Lydia langsung saja tersenyum.


"Widih cantik banget kalau kamu dandan kayak gini."kata Sandra.


"Memangnya aku gak cantik kalau aku gak dandan?"kata Lydia.

__ADS_1


"Kamu cantik kok tapi kali ini kamu lebih cantik lagi."kata Sandra.


__ADS_2