Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Draft


__ADS_3

"Bunda berharap kalian bisa hidup rukun dan kamu juga bisa cepat sembuh nak."kata bunda Airin.


"Maksih bun doanya, bunda hari ini gak ada acara diluar?"kata Lydia.


"Gak sayang, bundakan gak seperti mamamu yang banyak banget kerjaannya."kata bunda Airin.


"Iya mama memang sering ikut papa kalau papa ada kerjaan diluar kota, belum lagi mama ikut arisan banyak banget. Apalagi saat Lydia kuliah mama semakin sering mencari kesibukan diluar karena dirumah sepi sebab Lydia memilih untuk tinggal dikosan."kata Lydia.


"Kamu dulu ngekos sayang saat kuliah?"kata bunda Airin.


"Iya bun soalnya aku saat kuliah mau cari teman yang benar-benar tulus sama aku."kata Lydia.


"Lalu kenapa harus menyamar nak?"kata bunda Airin.


"Karena saat aku masih SMA temanku mendekatiku karena mereka memanfaatkanku mungkin karena aku terlalu baik. Saat sudah gak butuh aku mereka menjelek-jelekanku. Sejak saat itu aku bertekat untuk mencari teman yang benar-benar tulus sama aku."kata Lydia.


"Oalah, Ryan sejak SMP malah sudah gak mau tinggal disini Ly."kata bunda Airin membuat Lydia memandang kearah mama mertuanya.


"Memangnya kenapa bun kok kak Ryan gak mau tinggal dirumah ini?"kata Lydia.


"Dulu Anton sama Ryan gak akur karena Anton dipengaruhi oleh om Damar. Seandainya Anton gak segera sadar mungkin sampai sekarang Anton sama Ryan masih bertengkar untung saja Anton sadar bunda bersyukur banget."kata bunda Airin.


"Kalau aku boleh tau apa sebabnya bun?"kata Lydia.


"Soal perusahaan ayah Ly, om Damar mau menguasai perusahaan itu lewat Anton, dia gak rela kalau perusahaan jatuh ketangan Ryan padahal memang yang berhak atas perusahaan itu adalah Ryan. Ayah membangun perusahaan itu dari nol, sejak Ryan tau kenapa Anton membencinya dia memutuskan untuk tinggal dikos lalu berjualan saat pulang sekolah. Awalnya dia jualan sayur keliling lalu ada modal dia menyewa sebuah ruko hingga sekarang jadi minimarket dan jadi mall serta apartemen yang kalian tinggali itu."kata bunda Airin.


"Aku pernah bekerja disalah satu toserba milik kak Ryan bun saat kuliah."kata Lydia membuat bunda Airin terkejut.


"Apa darisana kalian kenal?"kata bunda Airin.


"Bukan disana bun, kami pertama kali kenal saat diperusahaan kak Hendru."kata Lydia.


"Ealah, kamu hari ini acaranya mau kemana?"kata bunda Airin.


"Gak mau kemana-mana sih bun, memangnya bunda mau keluar biar aku temenin?"kata Lydia.


"Wah ide bagus tu, kita shopping saja yuk."kata bunda Airin.

__ADS_1


"Ayo bun, tapi aku minta izin sama kak Ryan bentar ya?"kata Lydia.


"Iya silahkan."kata bunda Airin.


Lydia mengambil ponselnya lalu menghubungi Ryan tak butuh waktu lama Ryan mengangkat panggilan dari istrinya karena dia penasaran tumben jam segini istrinya itu menghubunginya.


[Hallo Asalamualaikum...]


[Walaikumsalam, kakak sedang apa?]


[Ini baru selesai meeting mau kembali keruangan ada apa?]


[Aku mau minta izin untuk pergi shopping sama bunda bolehkan?]


[Boleh, apa mau aku temani?]


[Gak usah aku sama bunda saja gak papa kok.]


[Yakin?]


[Tenang saja ada bunda yang menjaga istrimu, lagian sekalian bunda mau habisin uangmu masak ditabung terus?]


[Makasih sayang, kalau gitu kami siap-siap dulu.]


[ya sudah kalau ada apa-apa kalian hubungi aku lagi.]


[Iya, lagian bunda tau kalau kamu pasti diam-diam sudah suruh pengawal buat ikutin kami.]


[Bunda tau saja, ya sudah kalau kayak gitu aku tutup dulu panggilannya karena masih ada kerjaan.]


[Ya sudah kalau kayak gitu.]


Setelah menutup panggilan mereka berdua naik keatas untuk bersiap-siap, bunda Airin menyuruh sopirnya untuk menyiapkan mobil. Mereka berdua pergi ke mall yang ada didekat rumah bunda Airin.


"Kalau disini mah kamu bisa ambil apa saja karena ini milik suamimu."kata bunda Airin.


"Benar ini mall miliknya kak Ryan?"kata Lydia gak percaya.

__ADS_1


"Iya, ini mall pertama kali yang dibangun oleh Ryan."kata bunda Airin.


"Bun, ini mah bukan mall tapi ini konsepnya bagus banget."kata Lydia membuat bunda Airin tersenyum.


"Kamu suka, kalau kamu suka biar nanti Ryan ganti mall ini atas namamu?"kata bunda Airin.


"Gak usah bun, lagian ini usaha kerasnya kak Ryan."kata Lydia.


"Dia mah sudah banyak usahanya, kamu tenang saja."kata bunda Airin.


"Itu hasil kerja keras kak Ryan aku gak enak bun."kata Lydia.


"Ya sudah ayo kalau kayak gitu kita keliling mall siapa tau ada yang kamu suka."kata bunda Airin.


Saat mereka baru masuk kedalam toko ternyata mereka sudah disambut oleh manager toko itu sebab mereka tau kalau bunda Airin adalah ibu dari pemilik mall ini. Mereka penasaran siapa yang bersama dengan bunda Airin, walaupun penampilannya sederhana tapi perempuan itu cantik.


"Ada yang kamu suka dari toko ini Ly?"kata bunda Airin bertanya pada Lydia.


"Gak ada bun, aku kan niatnya mau nemanin bunda saja."kata Lydia.


"Kamu benaran gak mau membeli sesuatu? Kalau begitu kita pergi ke toko lain."kata bunda Airin yang diangguki oleh Lydia.


Beberapa kali mereka masuk ke toko tak ada yang mereka beli, hingga akhirnya bunda Airin mengajak menantunya pergi ke toko emas yang ada disana. Bunda Airin membelikan Lydia satu set emas awalnya Lydia gak mau tapi setelah dibujuk akhirnya mau, bunda Airin memang sengaja membelikan satu set emas itu karena saat pernikahan Lydia dan Ryan hanya mengunakan mahar uang itupun gak banyak.


"Bun, aku gak enak menerima ini."kata Lydia.


"Gak papa sayang ini hadiah dari bunda dan ayah atas pernikahanmu kan kemarin kami belum memberikanmu hadiah."kata bunda Airin.


"Aku gak enak bun, bunda dan ayah menerima aku saja itu sudah buat aku bahagia."kata Lydia.


"Bunda lebih bahagia lagi karena sejak mamamu mengenalkan Ryan adalah calon menantunya, bunda senang banget."kata bunda Airin.


"Bunda bohong?"kata Lydia.


"Bunda gak bohong sayang kalau saja waktu itu Ryan mengizinkan bunda untuk membuka identitasnya sebagai anak kami mungkin kalian gak menunggu lama untuk menikah. Mungkin bunda sama ayah sudah punya cucu sekarang."kata bunda Airin sambil tersenyum membuat Lydia tersenyum malu mendengar perkataan mertuanya.


"Mungkin kak Ryan mau mengtes apakah aku serius dengannya atau hanya melihat hartanya saja."kata Lydia.

__ADS_1


"Mungkin juga sayang."kata bunda Airin.


Mereka setelah berkata begitu memutuskan untuk kembali berkeliling, saat mereka baru saja berjalan tak sengaja bunda Airin bertemu dengan teman arisannya. Tapi terlihat sekali kalau teman arisan bunda Airin itu sombong.


__ADS_2