Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Teman bunda Airin malu


__ADS_3

"Gimana kamu gak kenal sama dia apa kamu gak tau kalau dia putri dari pak Irwan pemilik Emirat grup?"kata teman bunda Airin.


"Ha masak?"kata Ryan membuat perempuan itu terdiam.


Lydia memegang tanga Ryan agar Ryan tak menanyakan lagi tentang perempuan yang ad disebelahnya karena Lydia tau ada yang disembunyikan oleh perempuan itu. Tapi Lydia tau alasan kenapa perempuan itu mengaku kalau dia pewaris perusahaan Emirat agar calon mertuanya yang materai itu mau menerimanya. Ryan sendiri yang diberi kode oleh Lydia menganggukan kepalanya.


"Ini putramu jeng?"kata teman bunda Airin.


"Iya dia putra bungsuku."kata bunda Airin.


"Dia kerja jadi asisten pribadinya Hendrukan tapi kalau gak salah sekarang sudah gak lagi apa karena dipecat?"kata teman bunda Airin yang gak ada habisnya mempermalukan bunda Airin.


"Suami saya gak dipecat bukannya tadi tante sudah dengar kalau dia sekarang kerja diperusahaan Emirat?"kata Lydia.


"Suami?"kata perempuan muda tadi yang terkejut saat Lydia bilang kalau Ryan adalah suaminya sebab yang dia tau kalau istri dari Ryan adalah putri dari pemilik Emirat grup itu sendiri.


Tapi kalau dia putri dari keluarga Emirat kenapa Lydia gak marah saat dirinya mengaku-ngaku sebagai anak pemilik perusahaan itu.


"Iya dia istri saya sekaligus atasanku."kata Ryan tanpa membuka identitas istrinya.


"Maaf."kata perempuan itu membuat Lydia tersenyum.


"Gak usah minta maaf jadikan ini pelajaran carilah seseorang yang bisa menerimamu apa adanya tanpa melihat embel-embel nama belakangmu."kata Lydia sambil tersenyum.


"Makasih."kata perempuan itu tersenyum benar apa kata orang kalau bu Lydia itu baik banget orangnya dan sekarang dia merasakannya sendiri.


"Kamu buat apa minta maaf sama mereka bukannya harusnya mereka yang minta maaf sama kamu karena tak menghargaimu sama sekali."kata teman bunda Airin.


"Cukup tan, aku yang salah disini karena mengaku-ngaku sebagai anak tuan Emirat. Tante tau mbak Lydia inilah putri kandung dari tuam Emirat dan tuan Ryan ini adalah menantunya."kata perempuan itu membuat teman bunda Airin terkejut.


"Jadi selama ini kamu bohong sama tante?"kata teman bunda Airin.


"Iya aku telah menipu tante karena tante hanya melihat seseorang itu dari hartanya saja sedangkan saya hanya anak seorang petani yang mengadu nasib ke kota."kata perempuan itu.


"Aku kecewa sama kamu, aku gak akan merestui hubunganmu dengan anakku."kata teman bunda Airin.

__ADS_1


"Gak papa tan, mungkin aku bukan jodohnya. Lagian aku mau mendapatkan suami yang bisa menerimaku dan keluargaku."kata perempuan itu.


"Aku pergi dulu jeng."kata teman bunda Airin yang gak mau terus disana karena akan semakin membuatnya malu.


"Tunggu tan."kata Lydia.


"Ada apa lagi?"kata teman bunda Airin..


"Tinggalkan barang-barang itu masak tante gak malu menerima barangnya tapi gak menerima orangnya."kata Lydia.


"Nih, aku gak butuh semua barang ini karena aku bisa membelinya sendiri."kata teman bunda Airin.


"Kalau tante bisa membeli semua itu kenapa tante gak bayar saja semua makanan ini?"kata Lydia.


"Gak usah ngaco deh aku baru makan sedikit enak saja aku membayar makanan kalian gak sudi aku."kata teman bunda Airin.


"Kalau gak bisa bayar gak usah bilang gak sudi bilang saja gak sanggup kan enak didengar."kata Lydia.


Teman bunda Airin langsung pergi darisana tanpa memperdulikan yang lain. Bunda Airin yang mendengar perkataan Lydia hanya mengelengkan kepalanya saja.


"Gak bukan itu tapi semua barang itu mau diapakan kalau dibawa pulang gak berguna buatku."kata perempuan itu.


"Bagaimana kalau kamu tukarkan semua barang-barang ini Yan, lagian bunda yakin jika uang yang dipakai buat berbelanja itu pasti uang yang dipakai mungkin uang tabungannya saat bekerja diperusahaan Emirat."kata bunda Airin.


"Baiklah kalau kayak gitu tunggu sebentar biar aku hubungi Dayat dulu."kata Ryan.


Ryan mengambil ponselnya untuk menghubungi Dayat agar dia menukarkan semua barang belanjaan perempuan itu. Tak butuh waktu lama Dayat datang mengambil belanjaan itu setelah itu dia keluar lagi untuk mengembalikan barang-barang itu. Untung saja mall itu milik Ryan jadi gak susah Dayat mengembalikan barang-barang itu. Saat Dayat kembali dia menyerahkan amplop berwarna coklat pada perempuan tadi membuatnya terkejut karena uang itu banyak bukankah kalau mengembalikan barang pasti harga kembalinya akan dipotong.


"Ini banyak banget tuan bukannya semua barang itu gak bisa dikembalikan begitu saja ya?"kata perempuan itu heran.


"Apasih yang gak bisa dilakukan, inikan mall milik Ryan jadi bisa lakuin apa saja asal gak disalah gunakan."kata bunda Airin membuat perempuan itu terkejut.


"Eh tapi kamu janji jangan bilang kalau mall ini milik suamiku ya."kata Lydia.


"Baik bu, makasih karena kalian sudah membantuku padahal aku tadi memakai identitas ibu."kata perempuan itu.

__ADS_1


"Sudah gak usah dipikirkan, kamu janji sama aku jangan seperti tadi memalsukan identitas hanya untuk mendapatkan restu dari calon mertua. Carilah orang yang menerimamu apa adanya tanpa memperhatikan identitasmu, kamu tau gak jadi diri sendiri itu lebih baik daripada jadi orang lain."kata Lydia.


"Makasih sudah mengingatkanku, kalau begitu aku permisi pulang dulu."kata perempuan itu.


"Iya hati-hati ya, sampai bertemu diperusahaan lagi kalau aku sudah mulai kerja."kata Lydia.


"Iya, kalau kayak gitu aku bayar semua makanan ini sebagai rasa terimakasihku karena kalian membantuku."kata perempuan itu.


"Gak usah, kamu langsung pulang saja. Aku memesan makanan ini karena untuk membalas kesombongan mantan calon mertuamu tadi yang seenaknya saja menjelekan bunda Airin."kata Lydia.


"Makasih banyak kalau kayak gitu, terimakasih banyak sekali lagi."kata perempun itu.


Mereka bertiga memakan semua makanan itu setelah itu mereka pulang. Saat berada didalam mobil Lydia memarahin Dayat yang gak ikut makan dengan mereka karena lebih memilih makan disebelah. Bunda Airin tersenyum saat mendengar perkataan Lydia karena menantunya itu tak membeda-bedakan orang. Bunda Airin bangga punya dua menantu yang sama-sama baik. Semoga saja putra sulungnya juga segera mendapatkan jodoh yang baik seperti kedua menantunya.


"Kalian gak masuk dulu?"kata bunda Airin.


"Gaklah bun, kami mau kembali ke perusahaan karena masih ada yang harus kami kerjakan. Lagian ini belum waktunya pulang kerja aku gak mau kasih contoh yang gak baik paa karyawan."kata Ryan.


"Ya sudahh hati-hati kalau kayak gitu."kata bunda Airin.


"Kak..."kata Lydia.


"Ada apa sayang?"kata Ryan.


"Aku boleh nitip belikan aku martabak saat pulang kerja nanti gak?"kata Lydia.


"Baiklah nyonya Ryan, nanti saat mau pulang kerja ingatkan lagi kamu 'kan tau aku gampang lupa orangnya."kata Ryan.


"Oke, nanti belikan yang original ya."kata Lydia.


"Siap, bunda gak mau nitip?"kata Ryan.


"Gak usah, kamu pulang dengan selamat saja itu sudah bikin bunda senang."kata bunda Airin.


"Baiklah, kalau kayak gitu aku pergi dulu."kata Lydia.

__ADS_1


Bunda Airin dan Lydia masuk kedalam rumah saat mobil yang dikendarai Ryan sudah tak terlihat. Lydia berpamitan pada bunda Airin mau keatas untuk ganti baju sedangkan bunda Airin istirahat sebentar diruang keluarga sebelum dia membantu bibi masak untuk makan malam.


__ADS_2