
Lydia masuk kedalam apartemen Rima sedangkan Ryan yang sedang kesal dengan istrinya memutuskan untuk fokus dengan pekerjaannya yang belum selesai. Ryan tak ingat jika pintu kamarnya dia kunci dari dalam karena kesal dengan istrinya.
"Kamu kemarin kok hanya pakai pakaian rumahan saja ada apa?"kata Rima.
"Aku pergi dari rumah karena aku bingung mau tidur dimana? Kalau aku tidur dikamar lain takutnya orangtua kak Ryan tau kalau kami sedang berantem."kata Lydia.
"Kamu sedang marahan sama kak Ryan karena apa?"kata Rima.
"Aku gak tau apa yang membuat dia marah, aku mau tanya pintu kamarnya malah dia kunci dari dalam."kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu kamu istirahat saja."kata Rima.
"Aku lapar pengen makan kamu masak apa?"kata Lydia.
"Aku gak masak mau aku pesenanin kebetulan aku juga belum makan?"kata Rima.
"Aku mau soto ayam boleh gak?"kata Lydia.
"Boleh dong kalau kayak gitu aku pesenin dulu."kata Rima.
Rima mengambil ponselnya lalu memesan makanan yang dipesan oleh Lydia, sambil menunggu mereka bercerita tentang perusahaan Lydia. Perusahaan itu setelah terjadi masalah kemarin mulai kembali pulih pelahan-lahan karena Ryan membantu mengelola perusahaan.
"Ly, kapan kamu kembali bekerja diperusahaan?"kata Rima.
"Nanti kalau aku mau lagian aku mau santai dulu, aku juga pelan-pelan mau lepasin perusahaan agar kak Ryan yang mengelolanya."kata Lydia.
"Kamu yakin Ly?"kata Rima yang gak yakin dengan keputusan yang diambil Lydia.
"Aku yakin memangnya kenapa?"kata Lydia.
"Aku takut nanti malah Ryan memanfatkanmu dan mengatasnamakan perusahaanmu menjadi miliknya."kata Rima.
"Ya gak mungkinlah, diakan usahanya sudah banyak masak masih mau mengambil perusahaanku?"kata Lydia membuat Rime terkejut.
"Bukannya dia hanya asistennya Hendru ya?"kata Rima membuat Lydia tersenyum.
"Dia memang asistennya kak Hendru tapi dia putra dari pemilik perusahaan Karya grup dan juga Yabi mall."kata Lydia membuat Rima terkejut.
"Kamu serius gak bohongkan bukannya Yabi mall itu pemilik toserba tempat kamu kerja dulu?"kata Rima.
"Iya, kamu benar jadi gak mungkin kak Ryan mau ambil alih perusahaanku. Mengatur perusahaannya saja sudah pusing apalagi kalau ambil alih perusahaanku."kata Lydia.
"Memang kamu beruntung dapat Ryan, untung saja kamu sama Ryan gak sama Rayyan kalau sama dia pasti malah kamu yang diporotin oleh mamanya."kata Rima sambil menghela nafas.
"Kok kamu ngomong kayak gitu, bukannya kamu dulu yang mengejar-ngejar Rayyan dulu?"kata Lydia.
"Itu dulu sebelum aku tau kalau mamanya mata duitan."kata Rima.
"Oh ya memangnya kamu kenapa tanya soal mantan istri kak Kevin?"kata Lydia.
"Kemarin aku bertemu dengan perempuan itu dan dia bilang kalau sekarang dia dekat lagi dengan Kevin."kata Rima.
__ADS_1
"Dia tau kalau kamu calon istri kak Kevin?"kata Lydia.
"Gak tapi temanku yang juga temannya tau tapi aku bilang sama temanku itu untuk tak bilang kalau aku calon istri kevin."kata Rima.
"Kenapa bukannya seharusnya kamu bilang kalau kamu itu calon istri kak Kevin agar tu perempuan gak bicara yang macam-macam."kata Lydia.
"Kok kamu ngomong kayak gitu? Kayaknya kamu benci banget sama perempuan itu?"kata Rima.
"Iya aku benci sama dia gara-gara dia Widya harus menderita."kata Lydia.
"Maksutmu bagaimana?"kata Rima.
"Dia memfitnah kak Hendri sehingga Widya pergi saat dia hamil, untung saja aku bertemu dengannya kalau gak mungkin Widya sampai sekarang gak bisa bersatu sama kak Hendru."kata Lydia.
"Aku bingung Ly."kata Rima.
"Kamu bingung kenapa?"kata Lydia.
"Aku bingung apa Kevin benar-benar mencintaiku atau hanya menjadikanku pelarian saja?"kata Rima.
"Kalau dia jadikan kamu pelarian buat apa dia mau menikah denganmu, sudah besok kamu selesaikan masalahmu sama kak Kevin. Tadi aku ngajak dia bertemu besok dicafe tempat kita janjian. Aku minta dia antarkan aku kesuatu tempat, nanti kamu ikut juga biar gak berpikir yang gak-gak lagi."kata Lydia.
"Memangnya kalian mau kemana?"kata Rima.
"Besok kamu juga akan tau sendiri."kata Lydia.
Saat Rima mau bertanya lagi terdengar pintu apartemennya berbunyi, Rima berjalan untuk membuka pintu karena dia yakin jika itu adalah orang yang mengantar makanan pesanan mereka. Benar saja ternyata itu makanan mereka datang, Rima membawa masuk makanan itu setelah itu memanggil Lydia untuk makan. Mereka berdua makan sambil bercanda tawa setelah makan kedua perempuan itu masuk kedalam kamar mereka masing-masing. Lydia membersihkan diri setelah itu melihat ponselnya dia berharap Ryan menghubunginya tapi nyatanya suaminya itu tak menghubunginya sama sekali. Tapi saat Lydia mau tidur terdengar ponselnya berbunyi, Lydia buru-buru mengambil ponselnya karena dia berharap Ryan yang menghubunginya tapi ternyata yang menghubunginya adalah mama Intan.
[Walaikumsalam, kamu bagaimana kabarnya sayang mama kangen banget?]
[Ish bilang kangen tapi dia sendiri gak ada dirumah.]
[Maaf sayang pekerjaan papa disini masih banyak, papa mau bicara sama kamu.]
[Ya sudah mana papa?]
[Ly, kamu kenapa gak masuk ke perusahaan apa kamu ada masalah?]
[Pa, bukannya aku sudah bilang kalau aku mau pelan-pelan melepas perusahaan kita agar kak Ryan saja yang mengelola perusahaan?]
[Iya papa tau tapi untuk saat ini memangnya kamu gak kasian sama Ryan yang sibuk kesana kemari?]
[Itu sudah jadi konsekuensinya jadi seorang penguasaha pa, pa aku pengen nyantai.]
[Bukannya kamu sudah dapat libur dari papa kemarin-kemarin masak masih kurang?]
[Kurang pa, pa kalau papa masih mau bahas perusahaan sebaiknya akhiri saja panggilannya karena aku mau tidur ngantuk.]
[Ya sudah ya sudah papa ikut kamu saja, tapi papa harap kamu bantuin suamimu agar dia gak terlalu sibuk kasian dia.]
[Bela terus menantunya, sudah aku mau tidur ingat oleh-oleh kalau pulang.]
__ADS_1
Lydia mematikan panggilan begitu saja, bukannya dia gak mau kembali kerja tapi dengan keadaannya yang gak stabil seperti sekarang dia takut jika malah menimbulkan masalah yang besar untuk Ryan. Teringat tentang Ryan membuat Lydia kesal seharusnya dia yang marah bukannya Ryan tapi malah kebalik. Pusing memikirkan Ryan, Lydia memutuskan untuk memejamkan matanya. Lydia tertidur sedangkan Ryan yang baru selesai mengerjakan pekerjaannya mengerutkan keningnya karena istrinya gak ada dikamar. Ryan berjalan untuk keluar karena dia pikir istrinya pasti sedang berbicara dengan orangtuanya tapi saat dia mau membuka pintu Ryan terkejut karena pintu kamarnya terkunci dari dalam membuat Ryan khawatir kalau istrinya pergi. Ryan buru-buru keluar dari kamarnya untuk mencari istrinya untung saat dia baru turun tangga diruang keluarga masih ada orangtuanya.
"Yah, bun liat Lydia gak?"kata Ryan.
"Tadi dia bilang mau keluar memberi sesuatu memangnya dia belum pulang?"kata bunda Airin.
"Belum bun, dia juga gak bilang sama aku kalau mau pergi."kata Ryan.
"Tadi bilangnya hanya sebentar tapi kok lama ya pa? Padahal tadi dia pergi sehabis makan malam tadi."kata bunda Airin membuat Ryan terkejut.
"Ya sudah kalau gitu biar Ryan cari takut terjadi apa-apa sama dia."kata Ryan.
"Yan..."kata ayah Danny.
"Ada apa yah?"kata Ryan.
"Sebelum kamu pergi sini duduk dulu."kata ayah Danny.
Ryan menuruti perkataan ayahnya lalu duduk didepan kedua orangtuanya.
"Ada apa yah?"kata Ryan yang sebenarnya dia ingin segera pergi mencari Lydia.
"Kamu sadar gak sih kalau kamu tadi sudah buat Lydia kecewa dengan sikapmu?"kata ayah Danny membuat Ryan mengerutkan keningnya.
"Bukannya gak kebalik ya yah?"kata Ryan.
"Yan, kamu ingat gak saat kamu pulang tadi saat ditanya soal Vira apa yang kamu perbuat sama istrimu?"kata ayah Danny membuat Ryan mengingat apa yang sudah dia lakukan.
Saat mengingat kalau tadi Ryan pergi begitu saja hanya pamitan denga ayah dan bundanya padahal disana ada Lydia membuatnya merasa bersalah. Ryan mengusap wajahnya lalu setelah itu menghela nafasnya.
"Sekarang sudah ingat apa yang sudah kamu lakukan?"kata ayah Danny.
"Sudah yah, tapi aku gak bermaskut buat cuek padanya, lagian dia buat aku kesal saat bertelponan dengan seorang pria didekat kolam tadi."kata Ryan.
"Mungkin dia telponan dengan saudaranya, seharusnya kamu tanya dulu pada istrimu bukan langsung menghakiminya kayak tadi dimeja makan. Kalau hanya bunda dan ayah yang melihatnya gak papa tapi tadi ada Dayat apa kamu gak memikirkan perasaan Lydia?"kata ayah Danny.
"Bukankah kamu mau menyembuhkan trauma istrimu tapi kalau kamu terus menyalahkannya tanpa dia tau apa sebabnya kapan lydia akan sembuh dari traumanya?"kata bunda Airin.
"Aku gak bermaksut seperti itu bun, aku hanya kesal saja."kata Ryan.
"Kamu boleh kesal tapi liat kondisi sayang."kata bunda Airin.
"Maaf bun, yah lain kali aku akan berusaha untuk menjaga perasaan Lydia."kata Ryan.
"Bukan pada kami, kamu minta maaf seharusnya kamu minta maaf pada Lydia."kata bunda Airin.
"Iya bun, sekarang aku mau mencarinya dulu takut terjadi apa-apa sama Lydia."kata Ryan.
"Kamu cari menantu kami sampai dapat, kalau gak ketemu jangan pulang."kata bunda Airin.
"Iya, kalau gitu aku pergi dulu."kata Ryan.
__ADS_1