
Setelah mengantar bapak sakit ke Rumah Sakit dan membicarakan rencannya pada pak Rt, Ryan dan Lydia berpamitan untuk pulang. Sari diajak pulang juga untuk dia antar pulang sebelum berangkat ke Jakarta. Tapi sebelum pergi dari Rumah Sakit Ryan meminta tolong pada Edwin untuk membiayai pengobatan bapak setelah itu dia akan menganti biaya itu.
Ryan membawa kedua perempuan itu untuk dari Rumah Sakit, saat sampai dimobil awalnya Sari meminta diturunkan dihalte karena takut kalau Ryan dan Lydia kemalaman sampai Jakarta nanti.
"Kak, aku turun dihalte depan saja ya?"kata Sari.
"Gak kami akan antar kamu antar sampai depan rumah lagian gak enak sama bapak sama ibu?"kata Lydia.
"Tapi nanti kak Ryan kecapekan nyetirnya soalnyakan bolak-balik. Kalian juga akan lama diperjalanan."kata Sari yang kekeh ingin berhenti dihalte.
"Gak papa kok, lagian kalau kak Ryan capek nanti aku bisa gantiin atau kami akan berhenti ditempat peristirahatan iyakan mas?"kata Lydia meminta dukungan agar Sari mau diantar sampai rumah.
"Iya benar, lagian aku juga sudah janji sama bapak ibu buat ngaterin kamu pulang. Janji adalah hutang jadi harus ditepati dong daripada nanti aku yang dosa."kata Ryan.
"Baiklah, kalau gitu tapi kalau nanti sampai Jakarta kabarin."kata Sari.
"Siap kalau itu mah, oh ya kapan kamu mau ngajar anak-anak dikampung itu?"kata Lydia.
"Aku mau beli alat-alat buat belajarnya dulu kak nanti biar aku ajak temanku yang kuliah disini agar nanti kalau aku kembali kuliah nanti tetap ada yang mengajar mereka."kata Sari.
"Sar, mbak minta no rek kamu dong."kata Lydia.
"Buat apa mbak?"kata Sari.
"Mbak mau kirimin kamu uang buat beli alat-alat belajar."kata Lydia.
"Gak usah mbak aku ada tabungan kok."kata Sari.
"Gak boleh nolak, lagian uang tabungan kamu itu kamu simpan pasti kebutuhan kuliahmu banyak apalagi kamu jauh dari orangtua."kata Lydia.
"Baiklah, aku kirim lewat wa aja ya no rek?"kata Sari yang gak mau berdebat karena percuma dia berdebat nanti pasti tetap akan kalah.
Sari mengirim no reknya setelah itu Lydia mengirim uang ke no rek Sari membuat gadis itu terkejut karena uang yang diberikan padanya itu banyak banget. Sari memandang ke Lydia gak percaya dan dia memberanikan diri mau mengembalikan uang itu.
"Mbak ini banyak banget lo uangnya buat apa?"kata Sari.
"Kan kalian belum ada tempat untuk mengajar nanti harus bikin tempat yang nyaman makanya aku kirimin uang segitu nanti kalau kurang kamu bilang sama aku nanti aku kirim lagi."kata Lydia.
"Baik mbak, nanti aku mau cari tempatnya dulu."kata Sari.
Gak terasa sambil ngobrol mereka sampai juga dirumah Sari, Sari mengajak mereka ke rumahnya tapi mereka gak mau karena mereka mau langsung pulang ke Jakarta. Setelah tak ada Sari didalam mobil, mobil tu terasa sepi karena mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kak..."kata Lydia.
"Ada apa?"kata Ryan dingin.
"Aku lapar kita berhenti cari makan dulu ya sekalian aku mau ganti sesuatu."kata Lydia.
"Memangnya mau ganti apa? Memangnya disini gak bisa?"kata Ryan.
__ADS_1
"Memangnya aku boleh buka celana disini dan diliat orang?"kata Lydia kesal.
"Oh oke kamu mau makan dimana?"kata Ryan yang gak mau jika Lydia ganti celana diliat orang diluar. Ryan lupa kalau kaca mobilnya gak bisa diliat orang saking kalutnya tadi Lydia bilang begitu.
"Tu didepan ada tempat makan kita coba disana saja bagaiamana?"kata Lydia.
"Ayo kalau gitu?"kata Ryan.
Ryan berbelok ke tempat makan yang ditunjuk oleh Lydia, dia mencari parkir untung saja gak rame mobil jadi gampang dia mendapatkan tempat parkir. Mereka berdua keluar dari dalam mobil lalu masuk ke dalam tempat makan itu.
"Kak, kamu cari meja ya aku mau ke toilet dulu sudah gak betah nih."kata Lydia yang sudah gak nyaman kalau gak ganti pembalut.
"Baiklah, kalau kamu lama sekalian aku pesanin apa?"kata Ryan.
"Samain saja sama kamu tapi aku minumnya gak mau kopi."kata Lydia.
"Baiklah, sudah sana pergi."kata Ryan.
Lydia berjalan mencari toilet sedangkan Ryan mencari meja yang nyaman untung saja dia dapat tempat duduk yang nyaman ada dipinggir tapi dia bisa melihat pemandangan. Ryan melihat menu dan memesan 2 porsi makanan yang sama serta minumannya tapi berbeda. Saat dia menimati pemandangan ada panggian masuk dari Lydia karena perempuan itu tak mengetahui dimana Ryan duduk.
"Hallo aku ada dilantai 2."kata Ryan.
"Baiklah, tapi jangan dimatiin dulu."kata Lydia.
"Iya."kata Ryan.
Lydia naik ke lantai 2 dan mencari keberadaan Ryan ternyata suaminya itu duduk dimeja yang paling ujung. Lydia melihat kalau Ryan sedang melihat sesuatu sambil melamun jauh membuat Lydia penasaran apa yang terjadi dengan Ryan.
"Kamu ini bikin aku terkejut saja."kata Ryan.
"Maaf ya aku gak maksut ngejutin."kata Lydia sambil duduk tak lupa mematikan panggilannya.
"Lain kali jangan kayak gitu nanti kalau aku jantungan bagaimana?"kata Ryan.
"Aku malah bersyukur kalau kakak jantungan."kata Lydia sambil tersenyum.
"Iya kamu senang karena setelah aku meninggal kamu bisa cari pria lain."kata Ryan.
"Iya dong apalagi usaha mas banyak jadi aku janda kembang yang kaya raya."kata Lydia.
"Kamu niat banget doain suamimu meninggal."kata Ryan.
"Siapa suruh gitu saja terkejut dan lagi kamu tu lagi ngelamunin apa?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Aku lagi mikir..."kata Ryan gak jadi meneruskan ceritanya karena pesanan makanannya datang.
Setelah pelanyan yang mengantarkan makanan pesanan mereka pergi barulah Lydia memandang kearah Ryan tapi Ryan yang dipandang gak perduli. Ryan malah memilih untuk menikmati kopinya sambil melamun.
"Kak..."kata Lydia.
__ADS_1
"Apa?"kata Ryan.
"Kakak kenapa sih kok sering melamun dan tadi apa yang mau kakak bicarakan?"kata Lydia.
"Aku lagi banyak pekerjaan nanti kalau aku pulang malam bagaimana denganmu?"kata Ryan.
"Aku gak papa kok lagian aku sudah biasa tinggal sendirian."kata Lydia.
"Kamu yakin?"kata Ryan.
"Iya nanti kalau aku bosan bolehkan aku turun ke bawah temanku kan bekerja dimall bawa apartemen?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Boleh tapi jangan malam-malam atau saat temanmu pulang kerja ajak ke apartemen kita saja."kata Ryan.
"Boleh kak memangnya aku bawa teman datang ke apartemen?"kata Lydia.
"Boleh dong, memangnya kenapa?"kata Ryan sambil memakan makanannya.
"Aku takutnya gak dibolehin sama kakak."kata Lydia.
"Boleh kok, sudah ayo makan habis ini kita lanjutkan lagi perjalanan."kata Ryan.
"Iya."kata Lydia.
Lydia mulai menikmati makanan itu sedangkan Ryan malah memandang Lydia sambil melamun.
Bagaimana lagi aku harus meluruhkan hatimu, aku pikir setelah kita menikah akan mudah untuk meluruhkan perasaanmu tapi nyatanya malah lebih susah lagi. Batin Ryan.
Lydia yang merasa diperhatikan memandang kearah Ryan, Lydia terkejut karena Ryan sedang memandangnya bukannya memakan makanannya.
"Kak... kok malah liatin aku sih?"kata Lydia.
"Siapa yang liatin kamu geer banget."kata Ryan.
"Baiklah, kalau kayak gitu ayo makan katanya tadi mau cepat pulang ke Jakarta."kata Lydia.
"Iya, iya bawel."kata Ryan.
Ryan memulai memakan makanan setelah selesai makan mereka langsung saja berangkat kembali ke Jakarta. Saat diperjalanan mereka tak berbicara satu sama lain. Lydia karena kekenyangan jadi mengantuk tapi dia gak enak dengan Ryan. Ryan yang melihat kalau Lydia ngantuk tersenyum.
"Kalau ngantuk tidur saja."kata Ryan sambil tetap fokus nyetir.
"Memangnya gak papa aku tidur mas, lalu kamu bagaimana kalau gak ada temannya?"kata Lydia.
"Gak papa tidur saja."kata Ryan.
"Baiklah, kalau kayak gitu aku tidur dulu."kata Lydia.
Benar saja setelah Ryan mengizinkan istrinya itu tidur Lydia sudah menutup matanya dan tertidur pulas. Ryan yang melihat Lydia tertidur langsung tersenyum dan meminggirkan mobilnya. Ryan membenarkan tidurnya Lydia agar badan istrinya itu tak sakit. Setelah membenarkan tidur Lydia, Ryan menjalankan lagi mobilnya. Tapi saat dipertengahan jalan Ryan melihat kalau bensinnya hampir habis. Ryan mencari pom bensin sekalian mau buang air kecil. Saat sampai dipom bensin, Ryan mematikan mesin lalu keluar takut kalau Lydia terbangun. Benar saja saat dia masuk ke dalam mobil lagi Lydia bangun karena merasa kepanasan.
__ADS_1
"Maaf ya aku ngisi bensinnya lama ya makanan kamu bangun?"kata Ryan.