Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Orangtua Lydia berharap Ryan jadi menantunya


__ADS_3

"Syukurlah kalau Ricky tinggal disana daripada dia tinggal sama orangtuanya."kata mama Intan.


"Memangnya kenapa ma?"kata Lydia ingin tau kenapa mamanya bisa berkata seperti itu.


"Nanti kalau kamu punya anak jangan beda-bedain ya walaupun yang satu sakit yang satu gak kamu harus tetap adil sama mereka."kata mama Intan membuat Lydia mengerti kenapa Hendru mengajak Ricky tinggal bersamanya.


"Siap ma, ma makan malamnya sudah siap belum aku sudah lapar tau gak?"kata Lydia.


"Sudah kayaknya, ayo kita liat ke meja makan saja sekarang."kata mama Intan.


Kedua ibu dan anak itu berjalan menuju meja makan, ternyata makanan sudah siap. Mereka berdua duduk untuk makan malam, saat mereka sedang menikmati makan malamnya terdengar bel pintu berbunyi. Bi Nah cepat-cepat kedepan agar kedua majikannya itu tetap menikmati makan malamnya.


"Tuan besar sudah datang."kata Bi Nah.


"Iya bi, istri sama anakku dimana kok sepi bi?"kata papa Irwan.


"Mereka sedang makan tuan, sini biar bibi yang bawa kopernya tuan. Tuan bisa langsung menemuai nyonya sama nona."kata bi Nah meminta koper milik papa Irwan.


"Tolong ya bi, maaf ngrepotin bibi."kata papa Irwan.


"Sudah tugas saya tuan."kata bi Nah.


Papa Irwan masuk duluan menuju meja makan, sedangkan bi Nah menutup pintu depan terlebih dahulu. Lydia yang melihat papanya bangun dari duduknya dan memeluk papanya membuat mama Intan geleng-geleng kepala.


"Kamu itu sudah gadis mau jadi istri orang tapi masih manja saja sama papa."kata mama Intan.


"Bilang saja mama iri karena aku yang duluan memeluk papa."kata Lydia mengejek mamanya.


"Mama gak iri lagian nanti malam mama bisa minta peluk papa sampai besok pagi, iya gak pa?"kata mama Intan mencari dukungan.


"Kamu itu ngomong apasih ma."kata papa Irwan yang gak suka jika istrinya itu berkata terlalu terbuka sama putrinya.


"Memangnya kenapa putri kita tu sudah besar jadi wajar saja dia mendengar kita ngomong apa pasti dia sudah mengerti."kata mama Intan.


"Putriku ini akan selalu masih kecil bagiku walaupun dia nanti sudah menikah."kata papa Irwan sambil mencium kening Lydia.


"Mama juga tau itu pa."kata mama Intan sambil tersenyum, sedangkan Lydia malah menangis mendengar perkataan mama sama papanya.


"Kenapa kamu nangis?"kata papa Irwan yang tau jika putrinya itu sedag menangis.

__ADS_1


"Makasih ma, pa kalian selalu sayang dan mndukung semua apa yang aku inginkan. Kalian juga selalu menasehatiku jika aku salah."kata Lydia.


"Itu sudah jadi tugas kami sayang, tugas papa masih ada lagi yaitu menikahkanmu dengan seseorang yang bisa menjaga dan menyayangimu."kata papa Irwan.


"Pa, aku masih belum kepikiran tapi kalau ada seseorang yang melamar dan menurut papa sama mama pria itu baik aku akan terima pria itu."kata Lydia yang sudah pasrah karena dia tau gak mungkin dia bisa memiliki Ryan.


"Kalau kamu mama jodohkan sama Rayyan bagaimana? Mamanya selalu menanyakanmu setiap kali berkumpul sama kita."kata mama Intan.


"Rayyan siapa ma?"kata papa Irwan sambil mengajak putrinya untuk duduk dimeja makan.


"Itu lo pa mantan Lydia yang jadi rebutan sama Rima itu lo pa."kata mama Intan.


"Gak, kalau sama dia papa gak akan mengizinkannya tapi kalau sama asistennya Hendru papa setuju."kata papa Irwan membuat Lydia terkejut.


"Mama juga setuju kalau sama dia, tapi papa 'kan tau kalau dia sudah punya kekasih."kata mama Intan yang tau jika Ryan digosipkan berpacaran dengan Sinta putri dari temannya Airin.


"Kita gak tau apa yang terjadi nantinya ma, lagian janur kuning belum merengkung kemungkinan bisa saja dia menjadi menantu papa. Tinggal gimana putri kita menikung Ryan disepertiga malam."kata papa Irwan membuat Lydia tersenyum.


"Iya papa kamu benar, mama benar-benar ingin Ryan yang jadi menantu mama. Saat diulang tahunmu dulu sebenarnya mama mau langsung ikat kalian tapi mama belum tau siapa orangtua Ryan."kata mama Intan.


"Memangnya mama sekarang sudah tau siapa orangtua Ryan?"kata Lydia.


"Belum, nanti kalau kalian berjodoh pasti mama akan tau."kata mama Intan sambil tersenyum.


"Iya sayang mama tau kok tenang saja."kata mama Intan.


"Pa, papa pulang bawa oleh-oleh gak?"kata Lydia.


"Bawa dong tapi besok saja soalnya sudah dibawa keatas kopernya sama bibi."kata papa Irwan.


"Baiklah, oh ya pa aku mau minta tolong sama papa boleh gak?"kata Lydia.


"Mau minta tolong apa?"kata papa Irwan.


"Papa bisa gak bertemu dengan perwakilan perusahaan itu?"kata Lydia.


"Memangnya kamu mau kemana?"kata papa Irwan.


"Aku gak mau bertemu dengan Anton itu, setiap kali bertemu sama aku dia selalu genit aku gak suka."kata Lydia.

__ADS_1


"Kalau Anton juga tampan lo sayang."kata mama Intan.


"Ma, aku gak mau sama dia, sudah aku mau keatas dulu mau istirahat."kaa Lydia.


Lydia naik ke atas untuk menuju kamarnya sedangkan papa Irwan hanya melihat sambil tersenyum. Tadi Hendru menghubunginya dan mengatakan niat Ryan ingin melamar putrinya. Papa Hendru besok berjanji akan bertemu dengan Ryan diperusahaan Hendru karena Ryan ingin memberikan kejutan diulang tahun Lydia sebentar lagi.


"Ma, besok ikut papa ke kantor Hendru tapi jangan sampai Lydia tau soal ini."kata papa Irwan.


"Kenapa kok Lydia gak boleh tau pa?"kata mama Intan.


"Besok mama juga akan tau sekarang kita ke kamar saja papa sudah capek banget badannya."kata papa Irwan.


Lydia didalam kamarnya langsung saja masuk ke dalam kamar mandi. Selesai mandi dia mau bersiap tidur tapi dia urungkan karena dia teringat dengan sesuatu. Lydia berjalan kearah lemarinya untuk melihat kotak yang selalu dia bawa kemana-mana. Lydia mengambil kalung pemberian dari Ryan, sejak Lydia kembali ke Jakarta dia melepas kalung itu karena dia gak mau jika nanti Ryan tau jika dia masih memakai kalung itu.


"Apa sebenarnya maumu Yan? Aku gak bisa terlalu berharap sama kamu karena aku takut sakit lagi seperti dulu."kata Lydia sambil mengelus kalung itu setelah itu dia letakkan kembali dilaci lemari itu.


Lydia ingat jika sebentar lagi Ryan akan berulang tahun mungkin itu waktu yang tepat untuk memberikan jam tangan itu kalau Ryan merayakan ulang tahunnya dan mengudang dirinya tapi kalau gak ya gak jadi dia berikan jam itu.


Lydia setelah itu tidur, sedangkan Ryan hari ini tumben pulang ke rumah orangtuanya. Anton yang melihat adiknya itu pulang langsung tersenyum begitu pun juga Sinta karena sejak Anton menyesal dengan kesalahannya Ryan jarang pulang.


"Tumben kamu ingat kalau punya keluarga dek?"kata Anton menyindir Ryan.


"Kamu itu Ton."kata ayah Dany.


"Memangnya aku gak boleh pulang?"kata Ryan.


"Boleh tapi bisa gak sering-sering pulang kayak gak punya rumah saja."kata Anton membuat Ryan tersenyum.


"Ish kamu itu kak, kak aku boleh tanya sesuatu sama kamu gak?"kata Ryan.


"Kamu mau tanya apa?"kata Anton.


"Kamu ada perasaan sama Lydia gak?"kata Ryan membuat Anton tersenyum.


"Kamu mau melamarnya?"kata Anton sambil tersenyum.


"Iya kak, kalau kamu suka sama dia aku akan mengalah."kata Ryan.


"Aku mah setuju-setuju saja kalau kamu mau menikah dengannya."kata Anton.

__ADS_1


"Kapan kamu mau melamarnya?"kata mama Airin.


"Besok aku mau bertemu dengan tuan Irwan diperusahaan Hendru, kakak atau ayah yang mau menemaniku?"kata Ryan


__ADS_2