
"Wah kayaknya liburan kali ini aka seru."kata Rani.
"Seru bagaiman Ran?"kata Jono yang baru datang tak tau dengan apa yang terjadi barusan.
"Tadi Lydia dapat uang janjan dari kak Hendru buat besok kita ke puncak."kata Rani.
"Benar itu Ly?"kata Jono.
"Iya, alhamdulilah lumayan nanti bisa buat kita cari makan."kata Lydia.
"Gak usah itukan buat kamu uangnya, masak kita juga dikasih?"kata Jono yang gak enak hati.
"Ya gak papakan ini uangnya sudah dikasih ke aku jadi aku bisa bebas kasih ke siapa saja."kata Lydia.
"Memangnya gak papa kalau buat traktir kita?"kata Jono.
"Ya gak papalah, lagian sekali-kali mumpung aku ada uang kalau gak ada uang juga gak bisa traktir kalian."kata Lydia.
"Baiklah, memangnya kalian sudah siapin barang-barang buat besok 'kan kalian kerja besok?"kata Jono.
"Nanti malam kita siapin semuanya, paginya kita periksa kalau ada yang kurang bisa kita lengkapi besok. Besok pulang kerja kita tinggal berangkat."kata Lydia.
"Kamu sendiri bagaimana San?"kata Jono tanya pada Sandra, Sandra bukannya menjawab malah melamun.
"San, Sandra."panggil Jono dengan berteriak.
Lydia, Rani dan Roni yang melihat Sandra melamun langsung saja saling pandang. Jono memegang lengan Sandra dan mencubitnya membuat Sandra berteriak membuat semua mahasiswa memandangnya.
Sandra yang merasa dipandang langsung saja menunduk malu. Sedangkan Jono yang melihat Sandra langsung saja tersenyum.
"Kamu kenapa kok daritadi melamun?"kata Jono.
"Iya daritadi diajak bicara hanya diam saja makanya sama Jono kamu dicubit."kata Rani.
"Aku gak papa kok."kata Sandra.
"Yakin gak papa, kalau ada masalah cerita jangan dipendam sendiri."kata Jono.
"Aku beneran gak ada masalah, cuma lagi mikirin tugas kuliah saja."kata Sandra.
"Memangnya ada apa dengan tugas kuliah?"kata Jono penasaran.
"Kamu kepo banget sih Jon."kata Sandra kesal karena Jono tanya-tanya terus.
"Sudah Jon, kasian Sandra sudah kesal itu."kata Roni.
"Iya aku hanya gak mau kalau temanku ada masalah dan gak fokus kuliah."kata Jono.
"Fokus kuliah apa fokus kuliah Jon?"kata Roni sambil tersenyum menyeringai.
"Apa maksutmu gak usah bikin sesuatu yang akan merusak persahabatan."kata Jono.
"Iya iya maaf deh kalau kayak gitu."kata Roni yang takut kalau Jono kesal pasti akan sangat menakutkan karena Jono orangnya tak pernah marah.
Jono mau menjawab perkataan Roni gak jadi karena dosen yang mau mengajar masuk ke dalam kelasnya. Mereka semua serius mendengarkan materi yang diterangkan oleh dosen mereka. Selesai mata kuliah mereka langsung saja pergi ke kantin tapi Sandra memilih untuk ke perpustakaan ada buku yang dia cari.
"Ly, ada apa dengan Sandra?"kata Jono yang yakin jika Sandra sedang ada masalah.
"Aku juga gak tau, tapi nanti aku tanya apa yang terjadi dengannya. "kata Lydia.
"Iya kita harus saling tolong menolong kalau ada masalah jangan disimpan sendirian."kata Rani.
"Iya, nanti aku coba tanya habis ini."kata Lydia entah kenapa dia juga khawatir dengan keadaan Sandra.
Selesai makan makanannya Lydia langsung pamit pergi untuk meyusul Sandra ke perpustakaan. Lydia benar-benar akan mencari tau apa yang terjadi dengan Sandra.
"San, kamu kenapa?"kata Lydia saat sudah duduk didekat Sandra.
"Gak papa kok Ly."kata Sandra berbohong.
"San, kamu anggap aku teman kamu bukan sih?"kata Lydia sedih.
"Kamu kok ngomongnya kayak gitu sih Ly?"kata Sandra.
"Kalau kamu anggap aku sebagai teman pasti kamu akan cerita masalah kamu sama aku bukan kamu simpan sendiri kayak gini."kata Lydia.
"Kemarin waktu aku bekerja aku gak sengaja dengar kalau kak Dion akan segera bertunangan."kata Sandra.
"Kamu dengar dari siapa kalau kak Dion mau bertunangan? Setauku kak Dion gak punya kekasih."kata Lydia.
"Aku dengar dari teman-teman yang lain, lagian memang pantas sih kalau kak Dion mau dengan perempuan itu secara dia cantik dan kaya sama kayak kak Dion."kata Sandra.
"Kamu tau darimana kak Dion kaya? Memangnya kamu sudah melihat perempuan yang mau bertunangan dengan kak Dion?"kata Lydia.
"Aku tau dari managerku ternyata cafe tempat aku bekerja itu milik kak Dion dan kak Hendru. Kalau perempuan itu aku sudah bertemu dengannya saat kak Dion dan dia datang ke cafe kemarin."kata Sandra.
"Sudah ya gak usah mikirin kak Dion, sekarang kita fokus saja sama kuliah gak usah mikir yang lain dulu. Bukannya kamu bilang mau membuat kedua orangtua kamu bangga?"kata Lydia mengingatkan apa tujuan awal Sandra kuliah.
"Kamu benar Ly, makasih sudah mengingatkan aku kalau tidak mungkin aku akan tetap sedih."kata Sandra.
"Itulah gunanya sahabat sekarang kamu senyum, kasian Jono, Roni dan Rani khawatir liat kamu kayak gini."kata Lydia.
"Iya aku senang banget dapat teman-teman kayak kalian yang selalu mendukung dan mengingatkanku. Janji sama aku jangan kasih tau Ita aku gak mau membuat dia khawatir."kata Sandra.
"Siap, ya sudah kalau kayak gitu ayo kita kembali ke kelas sudah waktunya mata kuliah kedua."kata Lydia mengajak Sandra pergi dari perpustakaan.
Mereka berdua kembali ke kelas mereka, untung saja mereka cepat masuk ke dalam kelas kalau tidak mungkin sekarang mereka berdua tak boleh masuk kelas karena dosennya datang lebih dulu.
Selesai mata kuliah kedua mereka langsung saja pergi untuk ke tempat kerja masing-masing. Sampai ditempat kerja Lydia disibukkan dengan pekerjaannya hari ini pelanggan mereka banyak.
"Kamu capek Ta?"kata Lydia yang melihat wajah kelelahan Ita.
"Iya tapi gak papa harus semangat cari uang buat ditabung dan kirim uang ke kampung"kata Ita.
"Ta kalau ada beasiswa penuh kamu tahun depan mau gak ikut test?"kata Lydia.
__ADS_1
"Maulah Ly siapa sih yang gak mau kuliah, apalagi yang aku dengar toko ini akan dijadikan dua shift."kata Ita.
"Kamu dengar darimana?"kata Lydia.
"Aku dengar dari orang yang bekerja ditoko yang sama dengan kita tapi lain tempat mereka sudah mulai memberlakukan sistem sifht ini."kata Ita.
"Kalau kayak gitu kita tanya bu Rosa saja biar lebih jelas."kata Lydia.
"Iya nanti kalau kita gak sibuk kita tanya."kata Ita.
Setelah berbicara begitu mereka kembali fokus bekerja karena ada pembeli yang mau membayar belanjaannya. Pulang dari toko karena mereka malah berjalan jauh akhirnya mencoba penyetan yang ada dijalan yang mereka lalui. Mereka berdua tak makan makanannya disana tapi bawa pulang.
Mereka ingin segera pulang karena ingin mempersiapkan barang-barang yang ingin mereka bawa untuk besok. Lydia tak banyak membawa barang, saat dia baru saja menyiapkan barang yang mau dia bawa Sandra dan Ita masuk ke dalam kamarnya.
"Kalian sudah selesai menyiapkan barang yang kalian bawa buat besok?"kata Lydia.
"Sudah kita hanya bawa baju 2 stel saja buat ganti, kan kita gak nginap langsung pulang sorenya."kata Sandra.
"Iya, tapi kayaknya aku harus bawa camilan deh buat dimakan dimobil kasian nanti kalau kita tinggal tidur sopirnya sendirian."kata Lydia.
"Memang kita mau naik mobilnya siapa nanti?"kata Ita.
"Aku mau sama Jono saja, aku gak ingin menganggu Rani dan Roni berduaan nanti yang ketiga setan lagi."kata Lydia.
"Iya kayaknya lebih nyaman kalau sama Jono, nanti uang besinnya kita tetap kasih juga sama Roni."kata Ita.
"Siaplah aku ikut kalian saja."kata Sandra.
"Oh ya kamu mau camilan apa biar besok kita yang belikan?"kata Lydia bertanya pada Sandra.
"Aku sih apa saja, jangan lupa beli kopi."kata Sandra mengingatkan.
"Memangnya kamu minum kopi aku gak pernah liat kamu minum kopi San?"kata Ita.
"Bukan aku tapi Jono kasiankan kalau dia ngantuk kalau nyetir sendirian. Kasian kalau nanti kita ketiduran dimobil."kata Sandra.
"Iya juga aku juga gak ingat kalau kayak gitu besok aku akan tanya kopi apa yang disuka oleh Jono."kata Lydia.
"Sekalian sama Roni walaupun kita mobilnya terpisah harus tetap ingat dia."kata Sandra.
"Siap."kata Lydia.
"Kalau kayak gitu kami kembali kamar kami masing-masing."kata Ita.
"Siap aku juga mau mandi dulu."kata Lydia.
"Kamu belum mandi?"kata Ita terkejut.
"Belum, tadi niatnya setelah menyiapkan ini baru mandi soalnya keringatan badanku."kata Lydia.
"Lalu makanan yang kita beli tadi sudah kamu makan belum?"kata Ita yang khawatir kalau Lydia sakit.
"Sudah aku makan baru setelah itu beres-beres dan kalian datang."kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu kami kembali ke kamar dulu."kata Ita.
Keesokan harinya Lydia bangun pagi sekali, dia mengecek barang yang akan dia bawa nanti malam untuk pergi ke puncak. Setelah mengeceknya dan semua tak ada yang kurang Lydia memutuskan untuk mandi dan akan menunggu Sandra dibawah saja hari ini Lydia mau coba warung pecel yang kemarin dipesan oleh Bagas.
Lydia
[Aku tunggu kamu dibawah kayak kemarin ya San, perutku lapar banget soalnya.]
Lydia gak tau kenapa sejak tau tentang pertunangan Rayyan dan Rima, Lydia jadi sering merasa lapar kalau pagi. Lydia kesal dengan itu semua karena bisa membuatnya gendut tapi mau bagaimana lagi daripada dia kelaparan. Selesai bersiap dan melihat barang-barang untuk kuliahnya dia langsung saja keluar kamarnya untuk memberi pecel.
"Bu, pecelnya satu ya."kata Lydia.
"Mau makan disini atau mau dibungkus nduk?"kata penjual.
"Makan disini saja bu, sekalian nungguin teman saya mau berangkat kuliah sekalian."kata Lydia.
"Baik nduk, tunggu sebentar ya."kata penjual.
Saat menunggu Lydia mendengar kalau ponselnya berbunyi ternyata itu panggilan dari Hendru. Lydia langsung saja mengangkat panggilan itu.
[Asalamualikum kak....]
[Walaikumsalam dek, kamu jadi hari ini ke puncaknya?]
[Jadi kak, tapi aku berangkatnya pulang kerja. Memangnya ada apa kak?]
[Kamu berangkat sama siapa?]
[Aku satu mobil sama Jono kak kenapa memangnya?]
[Kenapa gak ajak Aziz saja sih dek?]
[Aku kan cuma sehari saja besok sorenya langsung pulang.]
[Lah kok cuma sehari?]
[Kan kami bertiga hanya sehari saja liburnya.]
[Ya sudah kalau kayak gitu, hati-hati kalau ada masala bilang sama kakak.]
[Siap kak, kakak gak kerja.]
[Ini aku siap-siap mau kerja.]
[Ya sudah kalau gitu, aku tutup dulu kak aku mau makan.]
[Ya sudah kalau gitu makan yang banyak biar gemuk.]
Lydia setelah mematikan panggilan dari Hendru langsung menyimpan ponselnya lalu setelah itu langsung saja makan nasi pecel yang dia pesan. Ternyata makanannya memang enak makannya kemarin kak Bagas bela-belain membeli pecel disini.
Saat dia sedang menikmati pecel itu, Sandra dan Ita datang ke sana. Mereka langsung saja memesan makanan untuk sarapan.
__ADS_1
"Kamu kok beberapa hari ini sering sarapan sih padahal kemarin-kemarin kamu gak pernah sarapan?"kata Ita.
"Aku gak tau akhir-akhir ini aku selalu lapar kalau pagi."kata Lydia.
"Enak Ly?"kata Sandra.
"Enak pantas saja kemarin kak Bagas bela-belain beli disini."kata Lydia.
"Besok pagi aku mau coba deh kalau kayak gitu."kata Ita soalnya dia sudah terlanjur pesan bubur ayam.
Mereka bertiga selesai sarapan langsung saja berangkat Lydia dan Sandra mau berangkat kuliah sedangkan Ita langsung berangkat ke toko. Sampai didepan kampus Lydia tak sengaja melihat Rayyan, awalnya dia terkejut tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Sandra yang melihat wajah gelisah Lydia langsung saja memegang tangan sahabatnya untuk menguatkan sahabatnya itu.
Rayyan sendiri yang melihat ada Lydia dan Sandra didekat gerbang langsung saja menghampiri mereka berdua. Rayyan ingin mendengar sendiri tentang pernikahan antara Lydia dan Hendru. Jika benar kalau mereka berdua akan menikah Rayyan memutuskan untuk mengikuti test diSurabaya.
"Hai bagaimana kabar kalian?"kata Rayyan saat berada didepan Sandra dan Lydia.
"Baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?"kata Lydia berusaha untuk tenang.
"Aku baik juga, Ly aku mau bicara sama kamu berdua bisa gak?"kata Rayyan.
"Memang mau bicara soal apa kak? Emangnya gak bisa kalau ada Sandra disini?"kata Lydia.
"Aku benar-benar ingin bicara berdua denganmu saja ini tentang hubungan kita."kata Rayyan.
"Memangnya ada apa dengan hubungan kita bukannya sudah putus sejak lama?"kata Lydia.
"Ly aku benar-benar serius ini."kata Rayyan.
"Baiklah, San bisa gak tinggalin kami berdua dulu."kata Lydia.
"Tapi Ly...."kata Sandra yang gak mau meninggalkan Lydia sendirian bersama dengan kak Rayyan.
"Gak papa kok, sebentar saja setelah ini aku akan menemuimu."kata Lydia.
"Janji hanya sebentar saja kan?"kata Sandra yang gak ingin jika Lydia disakiti oleh kata-katanya Rayyan.
"Iya tenang saja, aku hanya mau bicara sebentar sama Lydia kok."kata Rayyan.
"Baiklah, aku disini kalau ada apa-apa kamu panggil aku."kata Sandra sambil menujuk kursi yang ada dibawah pohon.
"Iya."kata Lydia.
"Makasih ya kamu bolehin aku bicara sama Lydia berdua."kata Rayyan.
"Terpaksa."kata Sandra sambil meninggalkan mereka berdua.
Rayyan setelah keperggian Sandra menghera nafas sambil memandang wajah Lydia hingga membuat perempuan yang ada didepannya itu salah tingkah karena diperhatikan seperti itu olehnya.
"Kak, kamu mau ngomong apa?"kata Lydia yang gak betah jika diperhatikan terus oleh Rayyan.
"Aku mau tanya sama kamu tapi jangan marah?"kata Rayyan sambil menghera nafasnya.
"Memangnya kakak mau tanya apa kok sampai aku marah sama kamu kak?"kata Lydia.
"Apa benar kamu akan menikah dengan Hendru?"kata Rayyan membuat Lydia tersenyum.
"Memangnya kenapa kalau aku mau menikah dengannya? Bukannya kakak juga sudah bertunangan dengan Rima?"kata Lydia.
"Kamu tau darimana kau bertunangan dengan Rima? Pasti Rima yang ceritakan?"kata Rayyan.
"Tanpa dia bercerita aku sudah tau sendiri kak, Rima adalah bagian dari keluarga Emirat pasti akan tersebar dengan cepat tentang pertunangan itu."kata Lydia.
"Kalau memang benar selamat ya atas pernikahan kamu."kata Rayyan yang memantapkan hati untuk mengikuti test diRumah Sakit yang berada diSurabaya.
"Makasih kak dan selamat atas pertunangan kakak, aku tunggu undangannya."kata Lydia.
"Nanti kalau kami nikah akan aku kirimkan undangannya, kalau gitu aku pergi dulu. Maaf karena sudah menganggu waktu kamu."kata Rayyan.
"Gak papa kok kak, kalau begitu aku mau ketempat Sandra."kata Lydia.
Setelah berkata begitu Lydia langsung saja pergi meninggalkan Rayyan. Rayyan sendiri hanya melihat Lydia untuk yang terakhir karena setelah ini dia tak tau kapan dia akan berjumpa dengan gadis yang sudah mengambil separuh hatinya itu.
"Ayo kekelas San."kata Lydia saat sudah berada didepan Sandra.
"Sudah?"kata Lydia.
"Ayo kalau kayak gitu, kak Rayyan memangnya tanya apa sama kamu? Dia gak nyakiti kamu kan?"kata Lydia.
"Dia tanya apa aku akan menikah dengan kak Hendru."kata Lydia.
"Lalu kamu jawab apa?"kata Sandra.
"Aku jawab saja kalau itu memang benar, lagian dengan begitu kak Rayyan gak kan mencari aku lagi. Aku ingin hidup tenang."kata Lydia.
"Aku setuju dengan keputusan kamu ini, kamu harus bisa move on dari pria yang gak bisa tegas."kata Sandra yang masih kesal dengan Rayyan.
"Kamu kok sekarang terlihat kesal sama kak Rayyan padahal dulu kamu sama dia suka banget lo sampai bantuin dia nembak aku?"kata Lydia.
"Dulu aku pikir Rayyan itu pria baik dan bisa ngelindungi kamu tapi semakin lama aku liat dia malah gak bisa ngelindungi kamu karena dia gak bisa ngelawan mamanya."kata Sandra.
"Bukannya surga seorang laki-laki itu ada ditelapak kaki ibunya, jadi sudah benar dia membela ibunya."kata Lydia.
Sandra mau menjawab perkataan Lydia gak jadi karena Jono dan Roni datang mendekati mereka.
"Kalian tumben baru datang?"kata Jono.
"Iya tadi ada yang harsu kami urus dulu."kata Lydia yang gak mau jika kedua pria itu tau jika tadi Lydia berbicara dengan Rayyan sebentar.
"Oh aku pikir kalian telat bangun."kata Roni.
"Rani mana?"kata Sandra yang gak melihat Rani karena biasanya tu anak selalu ngintilin Roni kemana pun pria itu pergi.
"Dia sudah masuk duluan tadi diantar sama mamanya."kata Roni.
"Ya sudah kalau kayak gitu ayo kita masuk nanti telat lagi."kata Jono.
__ADS_1
Mereka berempat setelah mendengar perkataan Jono langsung saja melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas.