Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia meninggalkan Ryan diruang tamu


__ADS_3

Bunda Airin setelah sampai rumah mengirim pesan ke Lydia jika esok dia akan datang ke apartemennya. Bunda Airin besok mau datang ke apartemen Lydia karena putra dan menantunya itu tak menginap dirumahnya hanya Shinta dan Jono yang ikut pulang kerumahnya. Lydia yang baru sampai apartemennya saat membuka pesan dari mertuany menghela nafasnya, dia takut jika hasil yang mereka dapat besok akan mengecewakan mertuanya itu.


"Kamu kenapa sayang, aku liat daritadi diam saja?"kata Ryan.


"Gak papa kok, hanya capek saja."kata Lydia berbohong.


"Beneran hanya karena capek bukan karena ada masalah?"kata Ryan.


"Iya lagian kalau ada masalah bukannya kamu selalu tau tanpa aku cerita?"kata Lydia sambil memandang suaminya.


"Gak semua masalahmu aku tau sayang, janji sama aku kalau kamu ada masalah atau kepikiran sesuatu kamu cerita sama aku jangan dipendam sendiri."kata Ryan.


"Janji, kak aku boleh tanya gak?"kata Lydia sambil meremas jari tangannya.


"Kamu mau tanya apa?"kata Ryan pensaran.


"Seandainya aku hamil sekarang bagaimana? Apa kamu akan izinkan aku untuk pergi ke Bogor sendirian menjalani pengobatanku?"kata Lydia.


"Kenapa tanya seperti itu? Kalau pun kamu hamil aku malah gak akan biarkan kamu ke Bogor aku akan panggil doktermu kesini."kata Ryan.


"Kalau pun aku gak hamil memangnya kenapa gak boleh aku kesana sendirian bukannya kalau aku cepat sembuh malah bagus ya?"kata Lydia.


"Aku pikir kamu hamil padahal aku sudah senang banget kalau istriku ini beneran hamil."kata Ryan sambil mencubit hidung Lydia.


"Kak, aku serius kenapa aku gak boleh kesana sendirian? Padahal aku ingin segera kesana selain buat pengobatan tapi juga menikmati suasana yang masih asri beda dengan disini."kata Lydia.


"Aku takut kalau kamu sendirian kesana dan taruma kamu kambuh bagaimana? Kalau hanya gak bisa tidur dan teriak histeris aku gak khawatir tapi kalau sudah menyakiti diri sendiri kayak kemarin bagaimana?"kata Ryan mengatakan kekhawatirannya.


"Aku janji gak akan menyakiti diriku sendiri boleh ya aku pergi sendiri?"kata Lydia.


"Gak sekali gak ya gak, memangnya kenapa sih kok ngebet banget sih mau kembali kesana?"kata Ryan.


"Aku kepengen aja."kata Lydia.


"Tunggu ya sebentar lagi kerjaanku selesai kita bisa kesana berdua."kata Ryan.

__ADS_1


"Kapan memangnya pekerjaanmu selesai? Setahuku pekerjaanmu gak selesai-selesai."kata Lydia.


"Kamu mau bantuin gak biar pekerjaannya cepat selesai?"kata Ryan sambil menaik turunkan alisnya.


"Ogah aku mau nyantai malas pikirin pekerjaan yang gak ada habisnya."kata Lydia.


"Itu tau, makanya sabar sedikit lagi ya."kata Ryan.


Ryan belum mendapat kabar dari anak buahnya yang diBogor apakah renovasi rumahnya sudah selesai atau belum. Kalau sudah mendapat kabar dari mereka Ryan akan mengajak Lydia kesana karena Lydia gak tau jika rumah itu sudah dia beli. Lydia yang kesal dengan jawaban Ryan meninggalkan Ryan sendirian diruang tengah itu. Lydia memilih untuk masuk kedalam kamarnya daripada nanti malah emosi yang bikin mereka bertengkar. Lydia masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih setelah itu berbaring diranjang dan tak lama kemudian dia tertidur. Ryan yang masih duduk diruang tengah memutuskan untuk membuka ponselnya untuk melihat email masuk. Ryan menghela nafasnya karena pekerjaannya gak habis-habis yang satu selesai yang satu lagi datang, benar apa kata Lydia jika menunggu pekerjaannya selesai dia akan lebih lama mengantar Lydia ke Bogor. Ryan memutuskan untuk mencari no ponsel anak buahnya yang ada diBogor.


[Hallo tuan ada yang bisa saya bantu?]


[Bagaimana apa rumah yang aku suruh renovasi itu sudah selesai?]


[Belum tuan, besok kami akan membersihkan rumah itu lusa baru bisa ditempati. Jadi kalau tuan mau kesini lusa sudah bisa kesini.]


[Oke, kalau gitu aku kesana lusa kamu siapkan semuanya.]


[Baik tuan, apa ada lagi yang mau saya kerjakan tuan?]


[Sudah gak ada, aku hanya mau tanya saja kalau gitu aku tutup dulu panggilannya.]


"Tenang sayang aku ada disini kamu tidur lagi ya."kata Ryan berbisik ditelinga Lydia.


Lydia sendiri saat mendengar dan medapatkan pelukan dari Ryan pelahan-lahan mulai tenang dan akhirnya tertidur pulas lagi.


"Ini yang buat aku tak izinkan kamu pergi sendirian."kata Ryan sambil mencium kening Lydia lama.


Ryan setelah mencium kening Lydia lama memutuskan untuk ikut tidur dan dia akan berbicara dengan Lydia besok pagi saja. Pasti istrinya itu sangat senang kalau tau lusa mereka akan ke Bogor. Apalagi Ryan tau bagaimana Lydia ingin sekali sembuh dari rasa traumanya, Ryan berjanji jika Lydia sembuh dia akan membalas para pria yang sudah membuat istrinya trauma. Bukan hanya para pria tapi juga perempuan yang sudah menyuruh mereka untuk melakukan perbuatan itu. Keesokan paginya Lydia saat bangun merasakan badannya sakit semua tapi walaupun begitu dia tersenyum karena suaminya memeluknya erat sekali. Lydia mencium pipi Ryan agar suaminya itu bangun.


"Pagi sayang."kata Ryan sambil memeluk erat lagi Lydia.


"'Ih kak, aku gak bisa nafas kalau kamu peluk aku kayak gini. Ayo bangun kamu kerjakan hari ini."kata Lydia.


"Malas bangun sayang, bentar lagi ya bangunnya. Lagian kalau aku kerja nanti kamu sendirian diapartemen."kata Ryan sambil tetap memejamkan matanya.

__ADS_1


"Nanti bunda datang mungkin sama mbak Shinta kesini."kata Lydia membuat Ryan membuka matanya.


"Mau apa bunda kesini?"kata Ryan.


"Memangnya bunda gak boleh datang kerumah anaknya sendiri?"kata Lydia.


"Boleh sih, lagian aku juga senang kalau bunda sama mbak kesini soalnya nanti aku harus lembur."kata Ryan.


"Kok lembur sih? Memangnya sampai jam berapa pulang nanti malam?"kata Lydia.


"Aku gak tau sampai jam berapa nanti kalau kamu mau tidur, tidur saja dulu jangan ganggu aku pulang ya."kata Ryan.


"Memangnya gak bisa pulang cepat ya kak?"kata Lydia.


"Maaf sayang, hari ini aku harus selesaikan pekerjaanku agar lusa saat kita ke Bogor aku gak memikirkan pekerjaanku biar aku bisa fokus sama kamu."kata Ryan.


"Lusa kita ke Bogor kak?"kata Lydia meyakinkan lagi dengan perkataan suaminya.


"Iya sayang lusa kita ke Bogor, kamu mau pergi atau gak? Kalau gak mau aku gak jadi lembur hari ini."kata Ryan.


"Maulah, aku malah sudah gak sabar lagi untuk pergi kesana. Sudah sekarang bangun nanti siang aku janji akan antar bekal buat kakak tapi nanti kakak bekerja dimana?"kata Lydia.


"Nanti siang aku akan kasih tau kamu soalnya aku juga gak tau nanti siang ada dimana, kamu 'kan tau kalau aku masih belum bisa menetap kerjanya."kata Ryan.


"Oke deh, memangnya kakak mau dibawain apa nanti siang?"kata Lydia.


"Bikinin aku nasi goreng selimut bisa?"kata Ryan.


"Oke, nanti aku minta bunda buat ajari ya kalau gak enak jangan marah ya?"kata Lydia.


"Aku gak akan marah, lagian apapun yang kamu masak mau bagaimanapun rasanya akan tetap aku makan."kata Ryan.


"Ya sudah sekarang mandi gih biar aku siapin sarapan dan baju kerjamu kak."kata Lydia.


"Cas dulu batreinya sayang biar semangat."kata Ryan.

__ADS_1


"Bukannya tadi sudah?"kata Lydia.


"Sudah tapikan bukan ini."kata Ryan sambil menunjuk bibirnya.


__ADS_2