Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Rayyan dipaksa mama Dahlia


__ADS_3

Saat makanan mereka bertiga datang langsung saja memakan, sambil mencicipi makanan satu sama lain. Selesai makan mereka langsung saja mencari taksi untuk pulang karena badan mereka sudah capek semua.


"Wah enak banget masakannya tadi."kata Ita sambil mereka menunggu taksi.


"Iya kamu benar Ta, kalau dekat dari kosan pasti aku akan beli disana lagi sudah harganya murah masakannya enak."kata Sandra.


"Iya kalian benar nanti kalau kita ada libur lagi bagaimana kalau kita kesini lagi?"kata Lydia.


"Iya kamu benar Ly, eh itu taksi kita datang."kata Ita sambil menujuk sebuah mobil yang mendekati mereka bertiga.


Mobil itu berhenti didepan mereka bertiga dan bertanya apa salah satu dari mereka yang memesan taksi online. Setelah dikonfiramsi mereka langsung saja masuk ke dalam mobil itu. Mereka bertiga langsung pulang ke rumah tanpa pergi kemana-mana lagi. Sampai dikosan mereka langsung masuk ke dalam kamar dan tak keluar-keluar lagi.


Beda lagi dengan Rayyan yang baru saja pulang dari Rumah Sakit sampai rumah langsung dipanggil oleh mamanya untuk mendekati.


"Kamu sudah pulang Yan? Sini dulu mama sama papa ingin bicara sama kamu?"kata mama Dahlia.


"Mama mau ngomong apa?"kata Revan mendekati mereka dan duduk disofa yang kosong diruangan itu.


"Kamu besok harus datang ke butik gimana pun caranya mama gak mau tau."kata mama Dahlia.


"Ma aku gak tau apa pihak Rumah Sakit memberi izin aku sering banget gak masuk soalnya."kata Rayyan.


"Iya karena kamu dulu sering bertemu dengan Lydia itu iya kan?"kata mama Dahlia kesal.


"Ma, bukannya mama ingat kalau aku beberapa hari sudah gak masuk karena kecelakaan kan?"kata Rayyan mengingatkan mamanya.


"Iya tetap saja karena dia yang salah karena kamu menolong dia sehingga kamu yang mengalami kecelakaan itu."kata mama Dahlia.


"Sudah ma, ini bukan salah Lydia."kata Rayyan yang langsung pergi dari sana agar tak mendengar lagi mamanya berbicara tentang Lydia.


"Kamu besok harus datang ke butik, kalau kamu gak datang mama akan berbuat sesuatu pada Lydia."kata mama Dahlia mengancam Rayyan.


"Terserah mama aku gak perduli."kata Rayyan padahal dalam hatinya dia takut jika mamanya benar-benar melakukan sesuatu pada Lydia.


"Liat tu anak kamu pa."kata mama Dahlia kesal pada Rayyan.


"Bukannya dia juga anak kamu juga."kata papa Hans.


"Ish kalian berdua itu sama saja."kata mama Dahlia yang langsung pergi dari sana untuk kembali ke kamarnya.


Papa Hans yang masih berada disana hanya menghera nafasnya. Dia tak tau harus bagaimana lagi karena istri dan anaknya sama-sama keras kepala jika menginginkan sesuatu. Lelah memikirkan anak dan istrinya, dia menyusur istrinya ke kamar untuk beristirahat. Beda dengan Rayyan yang baru saja selesai dalam kamar mandi langsung saja berbaring diranjangnya.


Saat matanya hampir saja terpejam ponselnya berbunyi yang menandakan ada panggilan masuk. Rayyan langsung saja mencari ponselnya dan melihat siapa yang menelpon. Saat dia melihat kalau itu panggilan dari Rima dia hanya bisa menghera nafas.


[Hallo ada apa malam-malam menelponku gak tau kalau ini waktunya orang beristirahat?]


[Maaf Yan, aku hanya mau bilang besok kamu harus datang ke butik untuk fiting baju setelahnya aku mau ajak kamu cari cincin pertunangan kita.]


[Apa maksut kamu?]


[Iya kita harus mencari cincin pertunangan buat kita nanti.]


[Memangnya kamu gak ada teman pria yang bisa membantumu mencari cincin pernikahan itu?]


[Aku ada tapikan ukuran jari tangan kalian berbeda kalau kebesaran bisa diakali tapi kalau kekecilan bagaimana?]


[Terserah kamu saja bagaimana caranya, aku sibuk diRumah Sakit. Aku juga gak yakin jika besok bisa menemanimu untuk fitting baju.]


Rayyan setelah berkata begitu langsung saja menutup ponselnya, sedangkan Rima yang ditutup panggilannya langsung saja kesal. Rayyan setelah menutup panggilan itu langsung meletakkan ponselnya lalu dia berbaring diranjang dan langsung tertidur.


Keesokan paginya mama Dahlia yang sudah berada dimeja makan matanya selalu melihat ke atas karena tumben Rayyan belum datang ke meja makan.


"Kamu kenapa ma, kok papa liat khawatir gitu?"kata papa Hans.


"Mama kok gak liat Rayyan ya?"kata mama Dahlia.


"Mungkin sebentar lagi dia akan datang."kata papa Hans.


"Aku takut kalau dia pergi pagi-pagi sekali kayak kemarin."kata mama Dahlia.


"Kalau mama takut kenapa kamu malah tetap menjodohkannya pada Rima?"kata papa Hans.


"Papa gak tau hanya Rima yang pantas jadi istrinya Rayyan."kata mama Dahlia.


"Kamu kenapa selalu keras kepala?"kata papa Hans yang gak habis pikir dengan istrinya yang dari dulu selalu ingin menang sendiri.


"Papa gak tau bagaimana rasanya selalu direndahkan oleh orang lain?"kata mama Dahlia.


"Apa maksut kamu ma?"kata papa Hans.


"Papa gak pernah mendengar bagaimana keluarga kita selalu mengejek kita karena papa hanya seorang karyawan biasa diperusahaan beda seperti mereka yang kaya itu."kata mama Dahlia.

__ADS_1


"Ma, kebahagiaan seseorang tak diukur dari betapa kaya orang itu, tapi bagaimana orang itu bertingkah laku pada yang lain."kata papa Hans.


"Sudahlah pa gak usah berdebat denganku lagi."kata mama Dahlia.


Kedua orang itu berhenti berbicara saat ada suara kaki berjalan menuruni tangga. Mereka tau jika itu Rayyan yang sedang turun tangga. Benar saja itu Rayyan, dia langsung saja duduk dikursi yang biasa duduki tanpa menyapa kedua orangtuanya.


"Yan ingat kamu harus datang ke butik hari ini, kalau tidak mama akan berbuat sesuatu sama Lydia."kata mama Dahlia mengancam putranya itu.


"Terserah mama aku gak perduli, pa aku berangkat dulu."kata Rayyan.


"Kamu gak habisin dulu sarapan kamu, tadi baru satu sendok papa liat."kata papa Hans.


"Nanti aku sarapan diRumah Sakit lagi saja pa, sekarang aku malas sarapan dirumah."kata Rayyan yang langsung pergi dari meja makan.


"Liat anak kamu."kata mama Dahlia.


"Bukannya mama yang mulai duluan, sudahlah aku pergi dulu."kata papa Hans yang juga meninggalkan istrinya sendirian dimeja makan.


Mama Dahlia hanya menghera nafasnya saja, dia berkata jika nanti Rayyan tak datang ke butik maka dia akan membuat masalah dengan Lydia.


Siang harinya saat mama Dahlia datang ke butik ternyata disana sudah ada Rima dan kedua orangtuanya. Mama Dahlia langsung saja menghampiri mereka bertiga.


"Maaf kalau aku telat."kata mama Dahlia saat mereka sudah dekat dengan mereka.


"Eh jeng Dahlia gak papa kok, kami juga baru saja datang."kata Tina.


"Oh ya tan, om Hans sama Rayyan mana kok tante yang datang sendiri?"kata Rima yang tak melihat kedua pria itu.


"Om Hans gak bisa datang maklum kan dia hanya bekerja sebagai karyawan."kata mama Dahlia.


"Kalau Rayyan bagaimana tan?"kata Rima lagi.


"Tante gak tau, soalnya tante telepon gak diangkat-angkat mungkin sedang memeriksa pasien. Dia kalau sedang bekerja ponselnya ditinggal."kata mama Dahlia.


"Ya sudah kalau kayak gitu kita mulai mencoba gaunnya saja gimana?"kata Tina.


"Lalu jasnya Rayyan bagaimana?"kata Rima.


"Pasti pas kalau mereka bikin sesuai dengan ukuran yang tante kasih ke mereka."kata mama Dahlia.


"Iya, mama sama tante juga coba gaun kalian."kata Rima.


"Yan, aku pikir kamu gak datang?"kata Rima.


"Iya tadi boleh minta izin sama pihak Rumah Sakit tapi hanya dikasih 1 jam saja."kata Rayyan.


"Ya sudah kalau gitu kamu coba jas kamu setelah itu kita akan mencari cincin."kata Rima.


"Aku tadi sudah mencoba jasnya sama om Sahrul. Sebaiknya sekarang kita pergi mencari cincin agar cepat."kata Rayyan.


"Baiklah kalau begitu kami berdua aan pergi mencari cincin."kata Rima berpamitan pada yang lain.


Mereka berdua langsung saja meninggalkan butik itu dan pergi ke toko perhiasan untuk mencari cincin pertunangan. Saat mereka sedang mencari bukan mereka berdua tapi Rima saja karena Rayyan sibuk dengan ponselnya itu membuat Rima kesal.


"Yan, liat ini kamu pilih yang mana yang ini atau yang ini?"kata Rima sambil menunjukan cincin yang berada dikedua tangannya.


"Kedua duanya bagus, terserah kamu mau pilih yang mana."kata Rayyan sambil tetap fokus dengn ponselnya.


"Yan, aku serius."kata Rima sambil mengambil ponsel Rayyan.


"Kamu apa-apaan sih, kembalikan ponselku."kata Rayyan.


"Gak sebelum kamu pilih mana cincin yang bagus."kata Rima.


"Baiklah kembalikan ponselku dulu baru aku kan pilih cincinnya."kata Rayyan menyerah.


Rima mendengar perkataan itu langsung saja menyerahkan ponsel Rayyan kembali padanya. Rayyan juga setelah menerima ponselnya kembali langsung saja memilih cincin dan langsung mencobanya. Setelah dapat mereka langsung saja membayar cincin itu.


"Maaf Rim, kamu bisa pulang sendirikan?"kata Rayyan.


"Memangnya kamu mau kemana?"kata Rima.


"Aku harus kembali ke Rumah Sakit ini sudah terlambat."kata Rayyan sambil melihat jam tangannya padahal yang sebenarnya dia minta izin masuk kerja setengah hari saja. Setelah ini dia ingin pergi ke apartemen Bagas.


"Baiklah kalau begitu aku pulang naik taksi saja, kamu hati-hati dijalan."kata Rima.


Rayyan bukannya menjawab dia malah pergi begitu saja membuat Rima kesal. Rima memutuskan untuk pergi dari mall itu tapi tak pulang ke rumah. Rima pergi ke suatu tempat dimana saat dia sedang banyak pikiran dia akan pergi kesana.


Rayyan yang sudah pergi duluan sudah sampai diapartemen Bagas, Rayyan baru pertama kali ini pergi kesini ternyata apartemen yang dimiliki oleh Bagas ada dikawasan orang-orang kaya.


Rayyan langsung saja berjalan membuka apartemennya saat mendengar suara bell berbunyi. Dia tau jika itu pasti Rayyan karena tadi Rayyan bilang ingin main ke apartemennya.

__ADS_1


"Masuk Yan."kata Bagas.


"Makasih."kata Rayyan yang mengikuti Bagas masuk ke dalam setelah dia menutup pintu.


"Kamu mau minum apa nanti ambil sendiri didapur, anggap saja seperti rumah kamu sendiri."kata Bagas.


"Oke, aku gak nyangka kamu bisa punya apartemen semewah ini?"kata Rayyan.


"Kamu terlalu memuji, ini bukan apartemenku ini milik kakakku. Mana mungkin aku bisa punya apartemen semewah ini kerja saja gak."kata Bagas sambil tersenyum.


"Kamu yakin, kamu gak bohongkan?"kata Rayyan.


"Gak, percaya ya sudah. Oh ya bukannya hari ini kamu ada kerja kok bisa datang kesini?"kata Bagas.


"Aku minta izin karena mamaku mengancam jika aku gak datang buat fitting baju dan menemani Rima cari cincin mama ku akan berbuat sesuatu dengan Lydia."kata Rayyan.


"Oh pantas saja, lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"kata Bagas.


"Aku akan tetap menerima pertunanganku agar Lydia aman."kata Rayyan sambil menghera nafas.


"Waw, lusa kan kalian akan bertetungan?"kata Rayyan.


"Iya, aku malam ini mau menginap disini bolehkan?"kata Rayyan.


"Tentu saja boleh, tapi jangan beritau Panji soal apartemen ini karena aku malas ditanya-tanya terus dia yang paling cerewet."kata Bagas.


"Siap."kata Rayyan.


Mereka berdua langsung saja membicarakan tentang magang mereka diRumah Sakit dan sekali-kali bercanda. Beda lagi dengan Rima yang sampai kesebuah tempat rahasianya.


Rima sampai sana langsung saja masuk ke dalam, Disana dia hanya sendirian dan menikmati kesendiriannya.


"Aku akan buat kamu mencintaiku bagaimana pun caranya walaupun aku harus mencelakai orang itu."kata Rima berbicara dengan foto Rayyan.


Rima setelah berkata begitu langsung saja tertidur disana sampai malam. Saat hari sudah gelap barulah dia bangun saat dia bangun langsung saja membersihkan diri dan setelah itu pergi keluar untuk mencari makanan diluar.


Tina yang berada dirumah khawatir karena Rima tak pulang-pulang dia takut terjadi sesuatu terhadap putrinya itu. Tina langsung menghubungi suaminya.


[Hallo ma, ada apa kamu menelponku?]


[Pa, apa Rima memberi kabar daritadi kok dia gak pulang-pulang?]


[Bukannya biasanya dia selalu pergi tanpa bilang-bilang. Mungkin saja dia sedang berkumpul dengan temannya pasti sebentar lagi dia akan pulang.]


[Tapi pa aku tetap khawatir.]


[Sudahlah ma, aku tutup dulu aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu.]


Tina yang kesal karena panggilannya dimatikan oleh suaminya langsung saja melempar ponsel itu. Saat dia sedang kesal tiba-tiba pintu rumahnya dibuka ternyata itu adalah Rima. Tina langsung saja mendekati putrinya itu.


"Kamu kemana sih Rim? Jam segini baru pulang."kata Tina mendekati putrinya.


"Aku tadi pergi ke rumah temanku, memangnya ada apasih ma?"kata Rima.


"Kamu tau gak mama khawatir sama kamu karena gak bisa dihubungi."kata Tina.


"Sekarang mama sudah tenangkan karena aku sudah kembali."kata Rima.


"Kamu sudah makan belum?"kata Tina.


"Sudah ma sekarang aku mau istirahat dulu ke kamar."kata Rima.


"Iya kamu istirahat, besok ikut mama."kata Tina.


"Memangnya mau kemana ma?"kata Rima.


"Kita habiskan besok seharian ke salon, mama mau saat pertunangan kamu, kamu yang jadi pusat perhatian."kata Tina.


"Itu harus ma, oh ya ma besok aku bisa ajak Sisil sama Tiara gak? Daripada aku bosan sendirian disana."kata Rima.


"Ajak saja kalau mereka mau, besok adalah waktu buat kamu."kata Tina.


"Makasih ma."kata Tina sambil memeluk mamanya.


"Sudah sana mandi terus istirahat."kata Tina.


"Siap."kata Rima yang langsung pergi ke kamarnya.


Rima sampai kamar langsung saja menghubungi kedua sahabatnya untuk mengajak mereka besok ke salon. Tapi setelah berkali-kali menelpon gak ada yang menjawab dia memutuskan untuk berganti pakaian dulu baru setelah itu menelpon mereka kembali.


Tapi baru saja dia keluar dari kamar mandi ponselnya sudah berbunyi. Rima langsung berjalan mengambil ponselnya dan benar saja itu panggilan dari Tiara.

__ADS_1


__ADS_2