
"Ya begitulah."kata Ryan.
"Sudahkan kak aku mau berbaring diranjang ngantuk banget soalnya?"kata Lydia.
"Kamu gak mau temani aku kerja?"kata Ryan.
"Kak, aku ngantuk banget, oh ya kamu sudah booking tiket lagi belum buat besok?"kata Lydia.
"Besok kita bawa mobil saja soalnya."kata Ryan.
"Memangnya mas gak capek nyetir?"kata Lydia.
"Gak sekalian besok ambil barang-barang kamu yang ada dirumah mama sama papa."kata Ryan.
"Makasih kak."kata Lydia sambil tersenyum dan memeluk Ryan erat membuat Ryan tersenyum.
Ryan berharap pelan-pelan Lydia bisa membuka hati untuknya. Ryan tak tau jika yang sebenarnya Lydia sudah membuka hati untuk dirinya sejak dulu hanya karena kesalahpahaman itu yang membuat Lydia memutuskan untuk menjauh. Lydia yang melihat Ryan diam karena tingkah lakunya merasa kesal ada dirinya kenapa dia bisa berbuat seperti itu pada Ryan. Lydia yang malu melepsakan pelukannya lalu dia berlari menuju ranjang. Ryan yang melihat Lydia lari hanya tersenyum.
"Selamat malam semoga mimpi indah."kata Ryan.
"Selamat malam, kerjanya jangan sampai larut malam. Besok kamu harus nyetir saat pulang ke Jakarta."kata Lydia.
"Iya sekarang kamu tidur gih."kata Ryan.
Lydia setelah mendapat suruhan dari Ryan untuk tidur memilih untuk membalikkan badannya tapi dia tak bisa tidur sehingga Lydia memutuskan untuk berbalik dan memandang kearah Ryan. Ryan sebenarnya tau kalau Lydia memandangnya tapi dia pura-pura gak tau agar istrinya itu bisa tertidur. Benar saja tak lama kemudian Lydia bisa tertidur nyenyak sedangkan Gabriel kembali fokus dengan pekerjaannya. Setelah dia selesai dengan pekerjaannya, Ryan menyusul Lydia diranjang.
Ryan tersenyum memandang punggung Lydia, setelah membenarkan selimut Lydia. Ryan berbaring lalu tak butuh waktu lama dia menyusul Lydia pergi ke alam mimpi. Keesokan paginya Lydia bangun duluan, Lydia terkejut karena dia tidur sambil berpelukan dengan Ryan. Saat dia mau melepaskan pelukannya Ryan semakin erat memeluknya.
"Yan bangun ini sudah pagi."kata Lydia.
"Aku masih ngantuk, memangnya ini jam berapa sih?"kata Ryan.
"Ini sudah jam 6 ayo bangun ah, aku mau mandi dulu lepasin tanganmu."kata Lydia.
"Kayak gini sebentar saja."kata Ryan.
"Kamu kenapa sih dari semalam selalu memelukku ada apa? Apa ada masalah yang sedang kamu hadapi?"kata Lydia.
"Iya, hanya dengan memelukmu aku bisa tenang."kata Ryan.
"Gombal banget sih, sudah lepasin tanganmu aku mau bangun."kata Lydia.
"Baiklah."kata Ryan.
Ryan melepaskan pelukannya setelah itu dia menarik selimutnya lalu tertidur lagi. Lydia yang melihat tingkah suaminya itu hanya mengelengkan kepalanya. Lydia masuk ke dalam kamar mandi saat dia selesai mandi ternyata Ryan masih saja tertidur. Lydia menghera nafas karena Ryan masih saja tetap tertidur padahal ponselnya berbunyi. Lydia mendekati Ryan untuk membangunkannya. Tapi sebelum itu dia melihat siapa yang menghubungi suaminya itu, ternyata no tak dikenal.
"Kak...kak Ryan bangun."kata Lydia sambil mengoyangkan badan suaminya tapi tak ada pergerakan.
Lydia yang bingung bagaimana cara membangunkan Ryan akhirnya memiliki ide. Lydia mencium kening Ryan setelah itu kedua mata Ryan dan yang terakhir ke pipinya. Ternyata cara itu bisa membuat Ryan membuka matanya, Ryan tersenyum saat membuka matanya.
__ADS_1
"Kok bibirnya gak sih sayang?"kata Ryan.
"Maunya, ayo bangun tu ada panggilan dari no tak dikenal."kata Lydia.
"Biar sajalah."kata Ryan yang masih tetap berbaring.
"Tapi itu menganggu tau gak, sudah ayo bangun mandi setelah itu sarapan lalu berangkat ke Jakarta biar nanti gak kemalaman sampai sana."kata Lydia.
"Baiklah, kalau kamu merasa terganggu kamu angkat saja panggilan itu aku malas."kata Ryan.
"Kenapa malas takut dari mantan kamu ya?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Iya aku malas berhubungan dengan orang yang sudah menyakitiku."kata Ryan.
"Kalau aku yang menyakitimu bagaimana?"kata Lydia.
"Kalau kamu yang menyakitiku akan aku kurung kamu dikamar agar kamu gak bisa kemanapun."kata Ryan.
"Baiklah, aku angkat panggilannya. Kamu mandi sana."kata Lydia.
"Aku lebih suka kamu panggil aku kakak daripada nama ataupun kamu."kata Ryan.
"Kalau nanti ingat sudah sana mandi."kata Lydia.
Ryan bangun dari ranjang dan berjalan masuk ke kamar mandi sedangkan Lydia mengambil ponsel Ryan. Lydia terkejut karena panggilan itu sudah berkali-kali menghubunginya. Lydia mengangkat panggilan itu karena dia juga penasaran siapa yang menghubungi suaminya.
[Hallo Asalamualikum...]
[Iya ini memang ponselnya kak Ryan, kalau saya boleh tau dengan siapa saya berbicara?]
[Saya mamanya Vira, nak tolong kasihkan ponselnya ke nak Ryan.]
[Maaf ya tan, kak Ryannya sedang mandi. Memangnya tante mau bicara apa nanti biar saya kasih tau kak Ryan?]
[Bilang sama nak Ryan kalau sekarang Vira ada diRumah Sakit, dia nekat mau bunuh diri.]
[Maaf ya tan, setahuku mereka sudah gak ada hubungan lagi. Kenapa sekarang tante sama Vira mengganggu rumahtangga kami.]
[Maksutmu rumahtangga kalian?]
[Saya istrinya kak Ryan, saya hanya bisa membantu tapi kalau untuk mengizinkan kak Ryan menikah maaf saya tidak akan mengizinkan.]
[Maaf nak, tante mohon hanya nak Ryan yang bisa membantu. Apa kamu tega jika anak yang ada dikandungannya Vira tak memiliki seorang bapak?]
[Saya memang gak tega tapi saya tak akan mempertaruhkan rumahtangga saya demi seorang perempuan yang meninggalkan suami saya saat dia dulu masih tak memiliki apa-apa.]
Lydia lalu mematikan panggilan itu dengan sepihak setelah itu meletakkan ponsel Ryan ke meja kembali. Ryan mendekati Lydia lalu duduk didepan Lydia membuat Lydia terkejut.
"Kak, kamu ngapain ayo bangun?"kata Lydia.
__ADS_1
"Makasih sayang, kamu mau mempertahankan rumahtangga kita."kata Ryan sambil mencium tangan Lydia.
"Kak sudah bangun, pakai baju. Aku mau turun ke bawah untuk memanasi sate yang semalam."kata Lydia.
"Nanti kalau bibi masak lagi bagaimana?"kata Ryan.
"Bibi gak akan masak kalau dia lihat ditempat penyimpanan masih ada makanan."kata Lydia.
"Ambilin baju aku boleh, aku mau kamu mempersiapkan kebutuhanku setiap hari?"kata Ryan.
"Baiklah, ayo bangun."kata Lydia.
Lydia mengambil pakaian santai Ryan tak lupa juga ****** ***** milik Ryan. Lydia memberikan pada Ryan, awalnya Ryan terkejut karena pakaian yang diambil oleh Lydia hanya celana pendek dan kaos tapi Ryan tak komen. Dia memakai baju itu, sedangkan Lydia mengambil pakaian Ryan yang ada didaam tas lalu memasukkannya didalam lemari. Baju milik Ryan dan Lydia yang kotor mau dia bawa kebawah untuk dicuci.
"Kok bajuku dimasukin ke dalam?"kata Ryan.
"Bukannya kamu janji mau antar aku kesini lagi, daripada bawa baju kesana kemari bukannya lebih baik meninggalkannya disini?"kata Lydia.
"Ya sudah, aku boleh tanya sama kamu?"kata Ryan sambil mendekati Lydia.
"Mau tanya apa?"kata Lydia yang masih tetap fokus dengan pakaian Ryan.
"Kenapa kamu memberikan aku kaos dan celana pendek?"kata Ryan membuat Lydia memandang kearah suaminya.
"Memangnya kakak mau pakai kemeja? Kak kita mau pulang ke Jakarta bukan buat kerja jadi apasalahnya pakai baju santai? Lagian kalau kayak gini suamiku ini terlihat tampan."kata Lydia sambil tersenyum.
"Benarkah, nanti kalau ada perempuan yang mendekatiku bagaimana?"kata Ryan.
"Aku akan acak-acak hidupnya, lagian kalau kamu pakai kayak gini mungkin mereka hanya melihat saja kecuali kalau kamu pakai baju kemeja pasti mereka akan mengejar."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
pengantin baru itu turun ke bawah setelah bersiap-siap, saat sampai dimeja makan ternyata bibi sudah menyiapkan sate yang semalam. Lydia dan Ryan duduk dimeja makan, Lydia mengambilkan makanan untuk Ryan setelah itu baru mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Nona..."kata bibi.
"Iya bi ada apa?"kata Lydia.
"Hari ini nona mau pulang?"kata bibi.
"Iya bi, hari ini aku sama kak Ryan mau kembali ke Jakarta. Oh ya bi aku lupa tadi gak bawa pakaian kotor ke bawah nanti tolong ambil diatas ya bi."kata Lydia.
"Iya nona, kalau begitu bibi permisi dulu."kata bibi.
"Iya bi, nanti bahan makanan yang ada didalam kulkas bawa pulang saja bi daripada gak kemakan."kata Lydia.
"Baik nona."kata bibi.
Lydia kembali menikmati makanannya setelah bibi pergi darisana, setelah sarapan mereka berdua berpamitan dengan bibi lalu setelah itu menuju rumah Sari dulu untuk menjemputnya dan mengantarkannya menuju tempat seorang ibu dan dua anaknya yang kemarin minta tolong Lydia untuk mengajarinya membaca dan menulis. Saat sampai rumah Sari, Ryan terkejut karena rumah penjual sate itu sederhana tapi nyaman jika ditinggali karena didepan rumah ada banyak pepohonanya.
"Kamu kenapa kak?"kata Lydia yang melihat suaminya terdiam.
__ADS_1
"Rumah ini asri, aku yakin jika ditinggalin pasti nyaman."kata Ryan.
"Makanya nanti bikin rumah yang nyaman untuk ditinggali."kata Lydia.