Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Berbelanja dengan bunda Airin


__ADS_3

"Siap bun."kata Lydia.


"Baiklah kalau kayak gitu ayo ikut bunda ke mall buat mencari kebutuhan untuk ibu hamil."kata bunda Airin.


"Tapi bun, memangnya mau beli apa?"kata Lydia.


"Kita beli makanan dan minuman yang banyak mengandung gizi untuk ibu hamil dan sekalian beli susu untuk ibu hamil."kata bunda Airin.


"Tapi kalau beli susu nanti ketahuan kak Ryan bagaimana?"kata Lydia membuat bunda Airin tersenyum.


"Sudah kalau soal itu serahkan saja sama bunda, kita bisa buang bungkusnya dan beli bungkus yang lain kayaknya ada banyak dijual dibarang pecah belah. Ayo sekarang kita ke bawah dulu nanti keburu Ryan pulang."kata bunda Airin.


"Kak Ryan hari ini kayaknya lembur bun, tadi pagi dia bilang mau menyelesaikan kerjaan disini agar besok seharian bisa bebas."kata Lydia.


"Suamimu itu jarang sekali bisa bebas soalnya dia hidupnya hanya kerja dan kerja. Tapi seandainya Anton bisa mengurus perusahaan ayah sendiri Ryan gak bakalan sesibuk ini belum lagi perusahaan Hendru juga belum bisa dia lepaskan."kata bunda Airin sambil menghela nafas.


"Sudah gak usah bunda pikirkan itu, lagian kak Ryan juga gak mengeluh kok, ya mungkin kadang memang waktunya berkurang untukku tapi aku gak ada masalah karena kalau terjadi sesuatu dengan perusahaan mereka kasian karyawan yang bekerja disana."kata Lydia.


"Pantas saja Ryan terpikat sama kamu mungkin karena ini."kata bunda Airin.


"Maksut bunda?"kata Lydia.


"Kamu lebih mementingkan orang lain daripada dirimu sendiri, sudah ayo kamu mau ganti pakaian atau mau kayak gini?"kata bunda Airin.


"Aku gini saja bun, bentar aku ambil dompet dulu."kata Lydia.


"Sudah gak usah kali ini pakai uang bunda saja, bunda mau belanjaain cucu pertama bunda."kata bunda Airin sambil tersenyum.


"Tapi bun..."kata Lydia.


"Gak papa sayang lagian uang bunda kalau gak dipakai mau diapain?"kata bunda Airin sambil tersenyum.


"Ya sudah ayo kalau kayak gitu."kata Lydia.


Kedua perempuan yang berbeda generasi itu berjalan keluar dari apartemen untuk turun kelantai bawah lalu menuju mall yang ada disebelahnya. Saat keduanya masuk mall banyak pasang mata yang memandang mereka dan lagi mereka gak sengaja bertemu dengan Ziva dan disana juga ada Clara.


"Kok ada mereka sih."kata Lydia lirih tapi masih bisa didengar oleh bunda Airin.


"Kamu kenapa sayang?"kata bunda Airin.


"Gak papa bun hanya saja aku malas ketemu sama kedua perempuan itu yang selalu bikin masalah."kata Lydia sambil menunjuk kearah kedua perempuan itu.


"Biarkan nanti bunda yang menghadapi perempuan itu."kata bunda Airin.


"Ya sudah deh bun ayo kalau kayak gitu."kata Lydia.


Kedua perempuan itu meneruskan langkahnya menuju supermarket dan benar saja saat lewat didepan Ziva dan Clara kedua perempuann itu menghentikan langkahnya.


"Kalian mau apa?"kata Lydia.


"Gak mau apa-apa hanya mau tanya saja apa ini majikanmu?"kata Clara.


"Tunggu, tunggu kalau dia majikanmu berarti pria yang bilang kalau itu pemilik mall ini pasti hanya bohong dong."kata Ziva.


"Kalau dia bohong kenapa managermu tunduk sama kak Ryan?"kata Lydia.


"Sudah deh, gak usah percaya sama perempuan yang sok kaya ini, kamu tau gak calon suamiku ada disini dan dia sangat-sangat kaya pasti kamu gak akan percaya siapa calon suamiku itu."kata Clara.


"Iya, calon suami Clara tadi memberikan satu set perhiasan terbaru dan paling mahal untuk bundannya. Kalau Clara menikah sama pria itu pasti hidupnya akan dijadikan ratu."kata Ziva.


"Kalau saya boleh tau siapa calon suamimu? Kayaknya aku pernah melihatmu tapi dimana ya saya lupa?"kata bunda Airin yang merasa pernah bertemu dengan Clara.


"Namanya Anton, dia seorang Ceo diperusahaan Karya grup. Saya gak merasa pernah bertemu mungkin anda sok kenal kali."kata Clara.


"Oalah calon suami kamu ceo perusahaan Karya grup ya? Pantas saja saya familiar sama kamu karena pastinya kamu sekarang jadi karyawan disana?"kata bunda Airin.


"Bun..."kata Lydia sambil memberi kode pada bunda Airin kalau ada kak Anton.


Anton yang baru membayar satu set perhiasan mau keluar dari toko terkejut karena melihat bunda dan adik iparnya ada disana bisa berantakan rencananya memberi kejutan pada bundannya. Clara yang melihat Anton terdiam tanpa berjalan malah berjalan menghampiri.


"Tuan kok berhenti? tuan saya bisa minta tolong sama tuan gak?"kata Clara membuat Anton mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kamu mau minta tolong apa katakan kalau aku bisa bantu akan aku bantu karena kamu sudah membantuku untuk memilihkan perhiasan untuk bundaku?"kata Anton.


"Tuan liat kedua perempuan itu gak?"kata Clara sambil menujuk Lydia dan bunda Airin.


"Iya ada apa dengan mereka?"kata Anton.


"Tuan bisakan tolongin saya untuk pura-pura jadi kekasih saya?"kata Clara membuat Anton tersenyum.


"Oalah cuma itu, baiklah kalau hanya itu saja baiklah akan aku lakukan."kata Anton.


"Maaf kalau saya pegang tangan tuan."kata Clara pura-pura gak enak padahal dalam hatinya senang karena ini kesempatan langka.


Bunda Airin yang melihat Anton dan Clara bergandengan tangan membuat bunda Airin kesal Lydia yang tau kalau mertuanya kesal mengelus lengan bundanya. Tapi saat Lydia melihat kearah Anton, kakak iparnya itu memberi kode padanya membuat Lydia tersenyum lalu berbisik sama mertuanya.


"Ikuti permainan perempuan itu bun kata kak Anton."kata Lydia sambil berbisik membuat bunda Airin memandang kearah menantunya.


"Kok kamu bicara seperti itu?"kata bunda Airin.


"Bentar lagi juga bunda akan tau sendiri."kata Lydia sambil tersenyum.


"Kalian itu kenapa berbisik-bisik pasti gak nyangka ya kalau calon suaminya Clara itu orang kaya?"kata Ziva.


"Gak kok, aku bersyukur kalau Clara bisa mendapatkan suami yang kaya aku doakan semoga bahagia."kata Lydia.


"Ish jangan sampai bunda gak mau punya menantu kayak dia."kata bunda Airin yang juga didengar oleh Anton karena Anton dan Clara sudah ada didekatnya.


"Siapa yang gak mau punya menantu?"kata Anton.


"Siapa lagi kalau bukan ibu ini, sayang kamu tau gak kalau mereka tadi menghinaku?"kata Clara membuat Anton mengerutkan alisnya.


"Memangnya mereka menghina kamu bagaimana?"kata Anton.


"Masak dia bilang aku gak akan mungkin bisa punya kekasih yang kaya karena aku perempuan miskin padahal dia yang miskin dan mengaku-ngaku sebagai orang kaya."kata Clara.


"Oh benarkah itu? Tapi kayaknya aku pernah liat kamu tapi dimana ya?"kata Anton sambil menujuk Lydia.


"Pasti tuan bertemu perempuan ini saat dia bekerja ditoserba yang ada disebelah kampus."kata Clara.


"Kok manggilnya tuan? Katanya dia kekasihmu atau jangan-jangan kamu berbohong ya?"kata Lydia.


"Hmmm..."kata Anton yang sebenarnya sudah muak dengan sandiwara ini.


"Ya sudah kalau kayak gitu kami permisi dulu mau belanja soalnya takut keburu suami Lydia pulang."kata bunda Airin.


"Kenapa buru-buru pasti karena kalian malu ya saat melihat aku beneran punya calon suami kaya?"kata Clara.


"Aku gak ada waktu buat meladeni orang sepertimu, Ton, bukannya seharusnya kamu masih berada diperusahaankan?"kata bunda Airin membuat Clara terkejut.


"Kamu kenal sama calon suamiku?"kata Clara.


"Aku gak kenal tapi bukannya dia seorang ceo ya? Jadi seharusnya dia masih berada diperusahaannya bukannya malah jalan-jalan kasian karyawannya nanti kalau perusahaan itu bangkrut mau kerja dimana mereka."kata bunda Airin membuat Anton tersenyum.


"Sudah sudah benar apa kata ibu ini aku gak bisa lama-lama meninggalkan perusahaanku, oh ya ini kalau kalian mau belanja pakai ini saja."kata Anton sambil menyerahkan black card pada bunda Airin membuat Clara dan Ziva terkejut.


"Gak usah, bunda pakai uang dari ayahmu saja."kata bunda Airin.


"Kalau bunda gak mau aku mau kak, bolehkan aku habisin uangmu?"kata Lydia sambil tersenyum.


"Boleh, kamu beli apa saja yang kamu mau tapi ingat gunain buat beli yang berguna ya."kata Anton sambil menyerahkan kartu itu pada Lydia.


"Siap, makasih kak."kata Lydia sambil mengambil black card itu membuat Clara dan Ziva terkejut.


"Tuan kenal dengan mereka?"kata Ziva.


"Ya kenallah, asal kalian tau ibu-ibu ini adalah bundaku dan Lydia ini adik iparku."kata Anton membuat Clara dan Ziva terdiam.


"Sudah taukan siapa saya sekarang? Jadi jangan bermimpi kamu akan jadi menantu saya karena sampai kapanpun saya gak mau punya menantu sombong sepertimu."kata bunda Airin.


"Bun sudah gak usah meladeni mereka, kita harus cepat belanja takut nanti keburu kak Ryan pulang. Kak, aku bawa dulu black cardnya."kata Lydia.


"Iya, kamu pakai saja sesukamu sama bunda. Tapi kalau sudah selesai belanja langsung pulang."kata Anton.

__ADS_1


"Kalau gak pulang memangnya mau kemana?"kata Anton.


"Iya, kami hanya mau belanja bahan makanan untuk malam ini saja besokkan mereka berdua mau berlibur ke Bogor."kata bunda Airin.


"Ya sudah nanti kalau pulang aku pesan oleh-oleh ya."kata Anton.


"Bilang sama kak Ryan kalau mau soalnya dia yang tau kesukaan kakak, kami pergi dulu kak."kata Lydia.


Kedua perempuan itu meninggalkan Anton dan kedua perempuan tadi, Anton memadang tajam kearah Clara membuat Clara ketakutan dan tak berani menatap kearah Anton.


"Sekali lagi kamu menghina bundaku akan aku pecat kamu."kata Anton dingin.


"Maafkan saya tuan, saya tidak tau kalau beliau adalah ibunya tuan."kata Clara dengan suara yang bergetar.


"Tuan apa maksutnya ini Cla?"kata Ziva.


"Memangnya Clara gak bilang sama kamu kalau aku ini atasannya?"kata Anton bertanya sama Ziva.


"Jadi tuan Anton ini atasanmu, berarti kamu bohong dong sama aku?"kata Ziva yang merasa dibohongi oleh Clara.


"Memangnya Clara bilang apa sama kamu?"kata Anton.


"Dia bilang kalau anda ini calon suaminya?"kata Ziva membuat Anton mengelengkan kepalanya.


"Kamu dengar ini, kalau sampai kamu melakukan kesalahan lagi disaat itu juga aku akan memecatmu tanpa ada kata ampun ngerti?"kata Anton yang sebenarnya sudah muak tapi karena permintaan Ryan dia berusaha untuk menahan rasa kesalnya.


"Baiklah tuan, sekali lagi saya minta maaf."kata Clara.


"Sudah ayo kita kembali keperusahaan."kata Anton.


Anton bersyukur Clara tak mengatakan jika dia membeli satu set perhiasan untuk bundanya sedangkan Clara kesal karena selalu saja Lydia yang beruntung. Clara yakin jika Ziva sekarang kesal dengannya krena sudah berbohong nanti dia akan minta maaf sama Ziva setekah pulang kerja karena hanya Zivalah temannya kalau gak ada dia pasti dia gak akan punya teman. Berbeda dengan ketiga orang itu yang sedang berperang dengan pikiran mereka masing-masing Lydia dan bunda Airin masuk kedalam supermarket untuk membeli bahan makanan yang sehat dan juga tak lupa membeli susu untuk ibu hamil. Selesai membeli semua barang yang mereka butuhkan Lydia mengajak bunda Airin pergi masuk kedalam toko pakaian tadi dia melihat gaun yang menurutnya bagus untuk dipakai mbak Shinta.


"Kamu ngapain ngajak bunda kesini?"kata bunda Airin.


"Aku mau membelikan mbak Shinta guan sekalian kalau bunda mau sayangkan kalau uangnya kak Anton gak dibelanjain."kata Lydia.


"Kamu ini, memangnya kamu sudah maafin kakakmu itu?"kata bunda Airin.


"Maafin aku bun kalau sampai sekarang aku masih belum bisa maafin kak Anton."kata Lydia.


"Ya sudah pelan-pelan saja kami gak memaksamu untuk segera memaafkannya."kata bunda Airin.


"Makasih bun, bun ini menurut bunda bagus gak buat mbak Shinta?"kata Lydia menunjukan satu buah gaun pada bunda Airin.


"Bagus sayang, bagaimana kalau kamu juga beli gaun yang kayak gini tapi warnanya berbeda?"kata bunda Airin.


"Boleh juga tu bun, mbak gaun ini ada warna lain gak?"kata Lydia bertanya sama karyawan disana.


"Tunggu sebentar akan saya carikan."kata karyawan itu.


Kedua perempuan itu sambil menunggu karyawan mencarikan gaun yang mereka minta, memilih-milih lagi gaun lain. Lydia menemukan sebuah gaun yang cantik kalau dipakai bundanya pantas.


"Bun..."kata Lydia.


"Iya, ada apa sayang?"kata bunda Airin.


"Coba bunda coba gaun ini kayaknya ini bagus buat bunda."kata Lydia.


"Gak usah sayang, dirumah masih banyak gaun yang belum bunda pakai."kata bunda Airin.


"Ayolah bun coba dulu masak bunda tega sama aku padahal aku pengen belikan gaun ini buat bunda walaupun pakai uang kak Anton?"kata Lydia sambil memasang muka melasnya membuat bunda Airin gak tega.


"Baiklah, kalau gitu bunda coba dulu kalau gak cocok sama bunda gak usah dibeli ya?"kata bunda Airin mengalah pada menantunya.


"Oke bunda."kata Lydia.


Saat bunda Airin mencoba gaun yang karyawan yang tadi mencarikan gaun Lydia datang. Dia mengatakan kalau warna lainnya hanya tinggal biru sama pink tadi. Lydia membeli kedua gaun itu tapi yang pink dia minta tolong sama karyawan disana untuk mengirimkan ke alamat mbak Shinta setelah dia membayar gaun miliknya, bunda Airin dan juga mbak Shinta. Setelah selesai Lydia juga mengajak bunda Airin untuk masuk ke toko pakaian yang khusus pakaian laki-laki. Dia meminta bunda untuk memilihkan tiga kemeja yang cocok untuk ketiga pria dikeluarganya.


"Kamu hanya membelikan buat kami gak belikan buat mama sama papamu?"kata bunda Airin.


"Kalau mereka nanti saja kalau sudah pulang."kata Lydia.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu kita pulang dulu saja nanti keburu Ryan pulang gak bisa mindahin susumu lagi ke wadah satunya."kata bunda Airin.


"Iya bun."kata Lydia.


__ADS_2