
"Dek kamu kemana sih kok baru datang?"kata Shinta.
"Mbak aku tadi bukannya sudah bilang sama kamu kalau aku ke perusahaan Hendru dulu ada kerjaan yang gak bisa aku tinggal."kata Ryan.
"Kamu bohong, pasti kamu mengantar Lydia dulukan?"kata Shinta membuat Ryan menghera nafasnya.
"Mbak bagaimana aku bisa mengantar Lydia ke puncak. Kalau aku mengantar dia pasti sekarang aku gak ada disini. Bukannya mbak tau sendiri berapa jarak antara Rumah Sakit sama puncak?"kata Ryan berusaha untuk menahan kekesalannya.
"Aku gak tau dan gak mau tau."kata Shinta kesal padahal dalam hatinya senang karena sudah buat adiknya itu kesal sedangkan orangtua mereka hanya geleng-geleng kepala saja.
"Kalian ini sudah dong jangan berdebat lagi. Shin kamu gak malu apa diliati mertua sama suamimu itu lo?"kata bunda Arina membuat Shinta tersadar kalau disana ada mertua dan suaminya membuat dia malu.
"Sudah gak papa kok, lagian aku malah senang melihat perdebatan antara saudara itu tandanya mereka saling sayang. Kalau gak ada salah satu pasti mereka cari kalau ada pasti bertengkar terus."kata mama Jono.
"Iya, memang kayak gitulah. Kalau gak ada mereka memang sepi tapi kalau ada pasti pada saling ribut."kata bunda Arina.
"Aku saja pengen kayak gitu tapi gak bisa setelah melahirkan Jono rahimku sudah diangkat kedua-duanya."kata mama Jono.
"Gak papa nanti kita pasti akan dapat cucu yang banyak dari mereka."kata bunda Arina.
"Wah Jon aku buat permintaan sama kamu boleh?"kata Anton.
"Mau minta apa kak?"kata Jono.
"Bikinin aku keponakan yang lucu-lucu jumlahnya enaknya berapa Yan?"kata Anton.
"Sebelas kak nanti tambah satu ayahnya bisa jadi persatuan sepak bola."kata Ryan yang langsung dilempar buah jeruk oleh Shinta untuknya Ryan bisa menghindar.
"Ish mbak makanan kok dilempar-lempar sih?"kata Ryan.
"Biarin kamu nyebelin sih jadi orang. Memangnya aku mesin pencetak anak apa?"kata Shinta.
"Ya siapa yang tau mbak, lagiankan kita gak bisa menentukan kalau yang diatas sudah berkehendak memangnya kita bisa apa?"kata Ryan.
"Iya mbak tau tapi gak sebelas juga kali."kata Shinta.
"Lalu kamu mau berapa sayang?"kata Jono.
"Aku ikut kamu saja."kata Shinta.
"Kok ikut aku kalau aku terserahmu saja. Kan kamu yang mengandung dan melahirkan."kata Jono.
"Sudah sudah kalau mau mesra-mesraan nanti saja dirumah gak ingat apa disini ada yang jomblo?"kata Ryan.
__ADS_1
"Biarin, biar kalian iri dan cepat nikah sana."kata Shinta.
"Ish Jon kamu sudah urus administrasi mbak Shinta?"kata Ryan.
"Eh kamu panggilnya gimana sih? Biarpun dia masih muda tapi dia kakak iparmu lo."kata Shinta yang gak suka kalau Ryan memanggil suaminya dengan nama.
"Maaf, kak kamu sudah mengurus administrasi mbak Shinta belum?"kata Ryan membuat Ryan sebenarnya geli memanggil Jono kak sedangkan Anton hanya tersenyum.
"Sudah kita tinggal pulang saja."kata Jono.
"Ya sudah ayo pulang, mana barang yang harus dibawa?"kata Ryan.
"Kamu kok semangat sekali Yan? Pasti sudah gak sabar ya nyusul Lydia ke puncak?"kata Shinta.
"Itu tau masih tanya lagi."kata Ryan membuat semua orang yang ada disana mengelengkan kepalanya.
"Yan sabar ya."kata Anton.
"Aku sudah sabar kak, tapi kalau menghadapi ke bawelan mereka berdua kayaknya darahlu mau naik saja."kata Ryan.
"Namanya juga pengorbanan buat kakak sama calon istri. Jangan sampai kamu menyesal kayak kakak."kata Anton saat mereka berdua berjalan keluar dari Rumah Sakit.
"Aku yakin kakak pasti akan menemukan penggantinya."kata Ryan.
Mereka berdua berjalan beriringan sambil bercanda tawa. Mereka berdua sampai tak sadar kalau sudah diparkiran karena terlalu asiknya berbicara. Tingkah mereka itu membuat Shinta kesal tapi bukannya menyesal mereka berdua malah membuat Shinta lebih kesal lagi untung saja ada bunda Arina kalau bunda Arina yang melerai ketiganya pasti mereka akan jadi bahan tontonan.
Ryan masuk ke dalam mobil sebelum menjalankan mobilnya dia mengambil ponelnya untuk melihat apa ada pesan atau panggilan masuk dari Lydia ternyata tak ada saru pun membuat Ryan memutuskan untuk menghubungi Lydia lebih dahulu. Beberapa kali panggilan tak diangkat membuat Ryan menyerah karena keluarganya sudah pergi dari Rumah Sakit.
Saat Ryan baru jalan dan menyusul mobil Anton terdengar ponselnya berbunyi. Ryan mengambil ponselnya lalu tersenyum senang karena itu panggilan dari Lydia. Ryan mengambil erphonenya setelah memasang ditelingannya Ryan mengangkat panggilan itu.
[Hallo Asalamualikum....]
[Walaikumsalam, ada apa menghubungiku?]
[Kamu ada dimana kok aku hubungi daritadi gak kamu angkat-angkat?]
[Maaf ponselnya ada dikamar aku tadi sedang kumpul sama karyawan divilla sebelah. Memangnya kamu sudah hampir sampai?]
[Belum aku masih mau mengantar Shinta pulang ke rumahnya.]
[Oh bagaimana kabarnya dia?]
[Alhamdulilah dia baik tapi dia harus duduk dikursi roda untuk sementara waktu.]
__ADS_1
[Kalau kayak gitu ngapain kamu datang kesini? Bukan seharusnya kamu jagain dia dulu?]
[Sudah ada yang jagain dia kok selain aku. Tugasku kan jagain kamu.]
[Ish gak usah gombal gak mempan.]
[Masak sih gak mempan kalau kayak gitu boleh aku vc biar aku bisa liat wajah kamu yang pasti sekarang sudah merah?]
[Gak aku gak mau.]
[Kok gak mau sih berarti benar apa yang aku bilang tadi kalau wajahmu sudah merah seperti tomat?]
[Sok tau sudah ah aku tutup dulu mama manggil mau ngajak makan siang. Kamu jangan lupa makan habis ini.]
[Makasih sudah mau ingetin aku buat makan. Kalau kayak gitu salam buat orangtuamu dan satu lagi jaga hatimu hanya untukku.]
[Kita liat saja nanti disini banyak lelaki tampan.]
Lydia setelah berkata begitu langsung saja mematikan panggilannya sedangkan Ryan malah kesal saat mendengar Lydia berkata banyak pria. Ryan gak rela jika Lydia dekat dengan pria lain.
Ryan sampai rumah Shinta duduknya tak tenang membuat yang ada disana bingung ada apa dengan Ryan. Anton yang gak suka penasaran langsung bertanya pada adiknya itu.
"Kamu kenapa Yan?"kata Anton.
"Gak papa kok kak."kata Ryan.
"Gak papa kok mukanya gelisah gitu?"kata bunda Arina.
"Gak papa bun beneran deh."kata Ryan.
"Yakin gak papa atau kamu sedang gelisah mikirin Lydia?"kata bunda Arina.
"Bunda tau saja."kata Ryan sambil tersenyum.
"Kalau kamu mau nyusul sekarang pergilah gak papa kok."kata Shinta yang gak mau kalau adiknya itu gelisah gak tenang memikirkan Lydia.
"Beneran mbak?"kata Ryan.
"Iya tapi kamu makan siang dulu baru berangkat ke puncaknya."kata Shinta.
"Siap."kata Ryan tersenyum sampai ke matanya.
Mereka semua makan siang bareng-bareng setelah makan siang Ryan memutuskan untuk berangkat ke puncak. Tanpa Ryan sadari jika orangtua dan Anton ikut mengikuti Ryan dibelakangnya. Mereka bertiga meminjam mobil Jono agar tak diketahui oleh Ryan.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju villa Ryan ditemani oleh Lydia walaupun hanya lewat panggilan. Mereka berdua tak berbicara satu sama lain karena Lydia sedang ada kegitan dengan Karyawan lain. Ryan hanya mendengarkan saja sesekali mengajak bicara Lydia agar dia gak bosan.