
"Ya sudah iya."kata Ryan.
"Kok iyanya kayak ke paksa gitu memangnya gak mau biayai aku? Bun, kak Ryan nyebelin banget."kata Lydia mengadu pada bunda Airin membuat bunda Airin tersenyum sedangkan Ryan malah mengaruk kepalanya bingung mau jawab bagaimana.
"Bukan begitu sayang, kamu memang tanggungjawabku tapi ya jangan boros-boros nanti kalau tiba-tiba terjadi sesuatu sama perusahaanku bagaimana?"kata Ryan.
"Kan masih ada perusahaanku."kata Lydia membuat semua yang ada disana tertawa.
"Kalau perusahanmu yang masih berjalan berarti Ryan kamu biayai hidupnya dong dek?"kata Anton membuat Lydia terdiam.
"Iya juga ya kak, oke gak papa kak Ryan kerja saja diperusahaan ayah nantikan dapat gaji."kata Lydia.
"Oke,oke kamu gunain saja uangku sesukamu tapi gunain yang bermanfaat."kata Ryan akhirnya mengalah.
"Gitu dong, masak kalah sama kak Anton orang tadi black cardnya aku gunai belanja baju banyak banget."kata Lydia membuat Ryan terkejut.
"Memangnya kamu gunain uang kak Anton berapa biar aku ganti nanti?"kata Ryan.
"Gak usah itu sebagai ganti rugi karena kak Anton sudah bawa perempuan itu sehinga aku sama bunda jadi dihina sama perempuan itu."kata Lydia yang melarang suaminya mengganti uang Anton.
"Memangnya perempuan yang mana kalau aku boleh tau?"kata Ryan.
"Clara karyawan diperusahaan kakakmu, bunda juga gak ngerti kenapa kakakmu bisa membawa perempuan itu?"kata bunda Airin.
"Aku terpaksa mendekati dia karena suruhan Ryan."kata Anton membuat Lydia memandang kearah Ryan.
"Kok mandangnya gitu, tenang saja aku gak akan macam-macam kok aku hanya mau caritau sesuatu saja."kata Ryan.
"Mau caritau soal apa?"kata Lydia.
"Ada deh buat sekarang kamu gak boleh tau dulu nanti kalau sudah saatnya kamu akan tau sendiri."kata Ryan.
"Nyebelin banget sih."kata Lydia.
"Sudah-sudah kok kalian malah berdebat sih, memang benar kalian besok mau ke Bogor?"kata ayah Danny.
"Iya yah, aku mau antar Lydia ke Bogor, nanti niatnya aku mau handel semua kerjaanku darisana."kata Ryan.
"Kapan kalian akan berangkat?"kata ayah Danny.
"Besok pagi-pagi sekali, ada apa memangnya pa?"kata Ryan.
"Gak papa ayah hanya mau tanya saja nanti kalau sudah sampai hubungi kami."kata ayah Danny.
"Oke, aku pikir kalau ayah sama bunda mau ikut kami ke Bogor?"kata Ryan.
"Ayah sama bunda gak bisa ikut karena kami mau mengawasi mbakmu sama suaminya."kata ayah Danny membuat semuanya memandang ayah Danny karena mereka bingung kenapa ayah Danny bicara seperti itu.
"Memangnya ada apa dengan mereka yah? Bukannya mereka sudah baikkan?"kata Anton.
"Iya aku liat mereka juga mesra saja kemarin."kata Ryan.
"Ayah yakin ada sesuatu yang dirahasiakan oleh mereka tentang hubungannya selama ini, ayah gak percaya jika hanya karena cemburu pasti ada alasan lain."kata ayah Danny yang yakin jika hubungan putrinya dan suaminya itu gak sehat.
"Apa perlu aku tanya sama Jono yah?"kata Lydia yang juga takut jika benar perkataan ayah Danny karena perasaan ayah terhadap putrinya itu sangat kuat.
__ADS_1
"Gak usah sayang, biar ayah sama bunda saja yang menyelesaikan masalah ini. Kamu fokus saja dengan pengobatan traumamu itu, ayah mau anak dan menantu ayah bisa bahagia tanpa ada masalah dan buat kamu Ton, ayah ingin kamu cepat mendapatkan jodohmu secepatnya."kata ayah Danny yang diamini oleh bunda Airin.
"Tapi kalau butuh bantuan hubungi aku atau kak Anton yah pasti kita siap buat bantu."kata Ryan.
"Iya yah, biar bagaimanapun Shinta juga tanggungjawabku."kata Anton.
"Iya tapi kalau ayah sama bunda bisa menanganinya biar kami saja sendiri takutnya nanti dikira gak menghargai Jono."kata ayah Danny.
"Siap yah, kami siap membantu kapanpun ayah sama bunda butuhkan. Baiklah karena tadi bunda dan Lydia yang masak kini giliran aku sama Ryan yang membersihkan semua ini."kata Anton.
"Gak usah kak biar aku saja yang bersihin."kata Lydia yang gak enak sama Anton dan Ryan.
"Gak papa kamu istirahat saja sama bunda pasti kalian berdua capek apalagi pasti tadi pasti keliling dulu dimall buat belanja."kata Anton.
"Hehehe tau saja kamu kak, oh ya tadi aku sama bunda beliin kemeja buat kalian tapi kak Dayat lupa gak dibeliin maaf ya kak?"kata Lydia yang baru ingat.
"Gak papa kok nyonya."kata Dayat.
"Ya sudah kalau kayak gitu ayo kak kita beresin ini dulu habis itu baru ngobrol lagi."kata Ryan.
"Oke, ayo."kata Anton.
Kedua pria itu membawa piring bekas makan mereka dan juga makanan yang tersisa dibantu oleh Dayat. Tapi Dayat hanya menyimpan sisa makanan setelah itu kembali keruang tengah karena Dayat tau jika kedua pria itu sedang ingin berbicara berdua tanpa ada gangguan. Dayat kembali ke ruang tengah lalu berbicara dengan ayah Danny dengan masalah pekerjaan sedangkan bunda Airin dengan Lydia browsing tentang hamil muda agar Lydia bisa mempelajarinya sendiri sebab kalau bunda Airin bicara pasti ayah Danny dan Dayat tau mereka pasti akan bilang sama Ryan. Didapur kedua saudara itu mencuci piring sambil berbicara serius.
"Ada apa kakak mengajak aku bersih-bersih pasti ada yang mau dibicarakan kan?"kata Ryan.
"Iya memang ada yang mau aku bicarakan."kata Anton.
"Mau bicara soal apa?"kata Ryan.
"Ada apa dengan mereka berdua?"kata Ryan.
"Yan, aku yakin kalau kamu tau sesuatu tapi kamu gak mau cerita sama aku."kata Anton membuat Ryan menghela nafasnya.
"Bukan aku gak mau cerita kak tapi aku berharap agar masalah mereka bisa diselesaikan sendiri tanpa kita ikut campur."kata Ryan.
"Apa ini tentang sikap Shinta?"kata Anton.
"Bukan."kata Ryan.
"Lalu soal apa kalau bukan itu?"kata Anton.
"Biarkan mereka menyelesaikan sendiri kak karena masalah mereka kita gak bisa menyelesaikannya."kata Ryan.
"Baiklah, aku percaya sama kamu, tapi bagaimana kamu bisa tau masalah ini?"kata Anton.
"Kemarin setelah mbak Shinta menyuruh aku menjemputnya aku mengajak Jono untuk bertemu dan dia menceritakan semuanya padaku tanpa ada yang dia tutupi."kata Ryan.
"Ya sudah aku percaya sama kamu,dek. Oh ya bagaimana soal orang-orang yang sudah membuat Lydia trauma sudah kamu temukan?"kata Anton.
"Sudah, satu jadi klienku, dua klien kakak dan satu orang lagi ada diluar negeri."kata Ryan.
"Lalu bagaiamana dengan orang yang dekat dengan Clara itu?"kata Anton.
"Tenang saja dia sebentar lagi akan mendapatkan balasan yang setimpal karena dia yang menjadi dalang semua ini. Tapi kak kalau didekat Lydia jangan bicara soal ini karena aku bilang sama dia kalau aku gak akan membalas mereka sendiri tapi akan memasukkan mereka ke penjara setelah Lydia sembuh tapi bagiku itu gak cukup."kata Ryan.
__ADS_1
"Kenapa istrimu gak mau balas dendam?"kata Anton.
"Dia gak mau kalau masalah ini menjadi saling balas membalas sehingga masalah ini gak bisa selesai sampai kapan pun."kata Ryan membuat Anton menganggukan kepalanya.
"Tapi perkataan Lydia itu ada benarnya juga dan aku juga setuju dengan perkataanmu kalau kita harus balas perbuatan mereka. Apalagi perbuatan mereka sudah buat Lydia menderita beberapa tahun ini."kata Anton.
"Lalu kamu akan buat apa dengan Clara?"kata Ryan.
"Aku masih belum tau tapi aku akan membuat dia menyesal sudah membuat adik iparku menderita selama ini."kata Anton.
"Maksut kakak bagaimana?"kata Ryan.
"Aku tau Clara dan Ziva saat sekolah dulu sering membully Lydia padahal dia yang sering membantu membayar uang sekolah kedua orang itu."kata Anton membuat Ryan yang mendengarnya langsung saja mengepalkan tangannya.
"Kalau soal Clara itu sudah menjadi urusan kakak terserah kakak mau bagaimana kalau Ziva aku tau siapa yang tepat untuk melakukan pembalasan."kata Ryan.
"Aku kenal dengan orang itu Yan?"kata Anton.
"Gak tau kakak kenal gak soalnya dia kerja dimall bawah."kata Ryan.
"Mungkin aku gak kenal dia."kata Anton.
Lydia yang merasa kalau kedua pria itu lama dibelakang menyuruh Dayat untuk melihatnya. Dayat sendiri langsung saja berjalan menghampiri kedua pria itu ternyata mereka berdua sedang berbicara sambil duduk dimeja makan pantas saja mereka gak kembali ke ruang tengah.
"Yan, kak dicari sama Lydia tu."kata Dayat membuat kedua pria itu memandang kearah Dayat.
"Ada apa memangnya Yat?"kata Ryan.
"Istrimu mencari tu jangan sampai Lydia yang datang kemari jika kalian gak kesana."kata Dayat.
"Baiklah, kami akan segera kesana tenang saja."kata Ryan.
"Ya sudah ayo kita kesana daripada nanti Lydia malah marah sama kamu."kata Anton.
Ketiga pria itu kembali ke ruang tengah, saat Lydia tau dia menatap tajam kearah suaminya membuat Ryan hanya tersenyum. Ryan duduk disamping Lydia sambil memeluk istrinya itu.
"Lepas kak."kata Lydia.
"Lah, katanya Dayat kamu cari aku sayang berarti kamu kangen 'kan sama aku?"kata Ryan.
"Siapa juga yang kangen sama kamu, aku hanya pikir kenapa kalian lama sekali didapur ngapain? Atau jangan-jangan kalian berdua?"kata Lydia.
"Ih kami masih normal gak mungkin macam-macam kok pikirannya sudah negatif gitu."kata Ryan sambil memencet hidung istrinya.
"Kak, hidung aku tambah hilang tau gak?"kata Lydia kesal.
"Biar mancung sayang, kami tadi didapur hanya membahas pekerjaan sebelum aku mengantarmu ke Bogor."kata Ryan.
"Memangnya gak bisa ya bahas disini saja?"kata Lydia.
"Bisa tapi kami gak mau ayah berpikir berat bukannya dia masih mau mengurusi masalah mbak Shinta."kata Ryan.
"Hmmm jangan-jangan kalian bahas sesuatu yang gak mau aku atau ayah sama bunda tau?"kata Lydia menebak.
"Kok istriku gak percaya banget sih sama aku?"kata Ryan.
__ADS_1
"Gimana mau percaya kalau kakak saja sering merahasiakan sesuatu dariku."kata Lydia membuat semua yang ada disana terdiam apalagi Ryan karena apa yang dikatakan Lydia memang benar adanya.