
Malamnya setelah pulang kerja langsung saja menuju rumah Ryan sedangkan mak Masnah dan Raka sudah berada disana sejak tadi pagi. Tapi saat kedua perempuan itu sampai rumah Ryan tak terlihat mobil Ryan yang berarti jika Ryan belum pulang.
"Waw ini beneran rumah Ryan, Ly?"kata Dahlia kagum dengan rumah mewah Ryan.
Dahlia memang anak orang kaya tapi rumahnya diJakarta tak sebagus dan semewah ini. Apalagi tadi jarak antara pintu masuk dan rumah sangat jauh jika jalan kaki pasti akan capek banget.
"Iya, memangnya kenapa?"kata Lydia.
"Ryan itu seberapa kaya sih? Aku yakin pasti dia kaya banget bisa diliat dari rumah mewah ini, orangtuaku saja gak bisa membangun rumah semewah ini."kata Dahlia.
"Kalau itu kamu tanya saja sendiri nanti sama kak Ryan, sekarang masuk dulu yuk."kata Lydia.
Kedua perempuan itu masuk rumah disambut oleh pak Hans, pak Hans tersenyum saat melihat Lydia nyonya dirumah ini. Dia mengantarkan kedua perempuan itu untuk menemui Raka dan mak Masnah. Mak Masnah yang melihat kedua majikannya tersenyum lalu mengatakan kekesalannya karena pak Hans tak mengizinkan dirinya untuk membantu pekerjaan rumah.
"Lah, bukannya malah enak ya mak gak capek?"kata Dahlia sambil tersenyum.
"Mak, sudah terbiasa kerja kalau gak kerja badan rasanya sakit semua."kata mak Masnah.
"Tuan bilang mak Masnah gak boleh berbuat kerja karena tuan ingin mak Masnah fokus dengan tuan muda Raka."kata pak Hans.
"Pak Hans benar mak, mak fokus saja merawat Raka lagian aku akhir-akhir ini kayaknya akan pulang malam terus."kata Lydia.
"Memangnya kerjaanmu numpuk ya?"kata mak Masnah.
"Aku harus segera menyelesaikan proyek kerjasama dengan perusahaan kak Ryan. Kami dikejar deadline jadi aku butuh mak Masnah untuk menjaga Raka."kata Lydia.
"Baiklah, sekarang kalian berdua mandi setelah itu kita makan malam."kata mak Masnah.
"Kak Ryan belum pulang?"kata Lydia.
"Tuan Ryan pulang malam karena masalah dihotel belum selesai, nyonya disuruh makan malam terlebih dahulu."kata pak Hans.
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan pak Hans kedua perempuan itu naik keatas menuju kamar mereka masing-masing. Lydia masuk ke kamar utama saat dia membuka kamar dia takjub karena dekorasi ruangan itu seperti keinginannya, saat dia membuka lemari ternyata didalam lemari ada pakain miliknya dan milik Ryan membuat Lydia menghela nafas. Kalau pakaian itu berada disatu lemari tandanya mereka berdua akan tidur didalam satu kamar. Memang gak ada masalah karena mereka masih sah suami istri tapi Lydia belum siap jika harus memenuhi kewajibannya. Lydia tak mau berpikir itu lagi memutuskan untuk mandi, saat dia keluar dari kamarnya bertepatan dengan Dahlia yang juga keluar dari kamarnya terlihat sekali kalau Dahlia sangat senang tinggal disana.
"Kenapa senyum-senyum kayak gitu?"kata Lydia membuat Dahlia terkejut.
"Kamu tau gak kamar yang aku dapat bagus banget aku suka apalagi kamar mandinya bikin aku betah didalam. Kalau aku libur aku mau berendam nanti."kata Dahlia.
"Ish dasar, sudah ayo turun aku lapar setelah itu aku mau main sama Raka mumpung dia belum tidur."kata Lydia.
"Ly, selama dua hari bermalam sama Ryan, kalian berdua melakukan hubungan badan gak?"kata Dahlia sambil tersenyum.
"Apaan sih gak usah tanya yang aneh-aneh deh."kata Lydia kesal.
"Aku yakin kalian belum melakukan hubungan badan lagi, lagian apa salahnya kalau kalian melakukannya lagi toh kalian masih sah suami istri. Jangan sampai nanti Ryan akan mencari pelampiasan diluar."kata Dahlia sambil berjalan cepet meninggalkan Lydia takut jika temannya itu marah.
Lydia yang mendengar perkataan dari Dahlia membuat dia berpikir kalau apa yang dikatakan oleh Dahlia itu benar. Bagaimana kalau Ryan mencari kepuasaan diluar sana, tapi Lydia belum siap jika melakukan hubungan itu tapi dia juga tak rela jika Ryan berpindah hati. Malam itu saat makan lalu bermain dengan Raka pikiran Lydia tak berada disana dia membayangkan jika Ryan bersama dengan perempuan lain. Dahlia yang melihat kalau Lydia melamun menghampiri lalu menyenggol lengan Lydia.
"Kamu kenapa?"kata Dahlia.
"Kamu yakin gak papa atau kamu sedang memikirkan kata-kataku tadi?"kata Dahlia.
"Apaan sih, sudah deh gak usah aneh-aneh kenapa bicaranya."kata Lydia kesal.
Dahlia tau kalau Lydia kesal semakin mengoda temannya itu, Dahlia berharap dengan candaannya itu Lydia bisa berpikir mana yang terbaik buat hubungan suami istri itu. Dahlia walaupun hanya mengenal 2hari Ryan tapi dia bisa melihat kalau Ryan adalah pria baik yang tak seperti dikatakan oleh orang-orang kalau Ryan itu kejam dan dingin. Berbeda dengan Lydia yang sedang bimbang dihotel Ryan marah besar karena mengetahui kenyataan kalau benar ketiga orang yang dia curigai dengan Dani bekerjasama untuk mengelapkan uang. Ryan meminta ketiga orang itu mengembalikan uang yang telah mereka ambil dan juga memasukkan mereka ke penjara. Toni yang gak terima dengan keputusan Ryan berteriak keras kalau Ryan punya perempuan simpanan dikamar hotelnya dan selama ini dia pura-pura tidak suka pada perempuan karena dia ingin menghindari gosip kalau dia sebenarnya suka gonta-ganti perempuan setiap malam. Ryan yang mendengar itu hanya tersenyum lalu berbisik pada Toni.
"Kalau begitu nanti malam putri cantikmu yang akan menemaniku tidur bagaimana?"kata Ryan sambil tersenyum sinis.
"Kamu gila aku gak akan izinkan anakku bermain dengan pria sepertimu."kata Toni keras.
Ryan yang mendengar perkataan Toni malah tersenyum, Ryan tau jika Toni sengaja membesarkan suaranya agar semua yang ada disana berpikir kalau Ryan suka gonta-ganti perempuan yang seperti apa dikatakan diluar sana. Tapi sebelum Ryan menjawab terdengar ponsel Ryan berbunyi, Ryan tersenyum lalu mengangkat panggilan itu setelah mengalihkan panggilan suara ke panggilan Video membuta Lydia kesal.
[Kenapa diubah pakai vc sih?]
__ADS_1
[Maaf sayang sengaja, aku mau kasih tau pada seseorang kalau kamu itu adalah perempuanku satu-satunya.]
[Kamu ini ada-ada saja, kamu dimana katanya tadi hanya sebentar dihotel?]
[Ini masih dihotel sayang ada apa?]
[Cepat pulang aku mau bicara serius soal Raka.]
[Ada apa dengan kesayanganku?]
[Kak...]
[Iya habis ini aku pulang, kalau gitu aku tutuo dulu panggilannya biar aku bisa cepat pulang.]
[Baiklah.]
Ryan setelah mematikan panggilan lalu tersenyum dan memandang kearah Toni, terlihat wajah Toni semakin kesal karena apa yang dia lakukan gagal. Para karyawan malah memuji Ryan yang menjaga privasi istrinya yang gak mau diumumkan ke publik mungkin dia lebih suka hidup bebas daripada identitasnya diketahui menjadi istri Ryan. Ryan tanpa basa-basi lagi menyuruh polisi membawa tiga orang itu pergi dari hotel. Ryan meminta karyawan yang ada disana untuk masalah ini dijadikan sebagai pelajaran siapa yang berani mengkhiantinya maka akan mendapatkan balasan seperti mereka. Ryan memulai membuat pembaruan agar hotel menjadi lebih stabil setelah mengatakan target apa yang ingin dicapai Ryan membubarkan meeting kali itu lalu memberikan waktu untuk karyawan memikirkan promosi apa yang akan mereka lakukan agar bisa membuat hotel stabil lagi.
Ryan meminta agar Dani dan Enzi masuk ke dalam ruangannya dia ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan kedua pria itu. Ryan sekarang sudah gak bisa santai-santai seperti kemarin karena sekarang hotel mereka sedang diambang kebangkrutan. Yah walaupun itu disebabkan bukan karena pelangganya yang datang menginap tapi para karyawan dalam yang membuat Ryan kecewa.
"Kalian tau gak kenapa aku meminta kalian datang kesini?"kata Ryan.
"Kami gak tau memangnya ada apa tuan?"kata Enzi.
"Mau ngaish kerjaan apa sama kita?"kata Dani.
"Dan..."kata Enzi yang gak menyangka kalau Dani bisa berkata begitu pada Ryan.
"Gak papa kok. Dan, aku butuh bantuanmu untuk mencari manager keuangan yang benar-benar bisa dipercaya dan buat pemasaran aku harap dua hari lagi saat aku datang kesini kamu bikin gebrakan baru."kata Ryan.
"Aku akan usahakan tapi kalau masalah cari manager keuangan sebaiknya kamu serahkan pada kak Enzi biar aku bisa fokus untuk rencanakan sesuatu yang ingin kamu inginkan."kata Dani.
__ADS_1
Enzi yang mendengar perkataan Dani hanya mengelengkan kepalanya, dia gak menyangka jika Dani bisa berbicara tak sopan pada Ryan. Dani yang tau jika kakaknya bingung hanya mendiamkan saja. Ryan setuju dengan ide Dani setelah membicarakan keinginannya Ryan pamit untuk pulang karena ini sudah terlambat untuk pulang. Benar saja saat sampai rumah Lydia sudah menunggu sambil memangku Raka tapi Ryan tak melihat Dahlia dan mak Masnah membuatnya penasaran kemana kedua perempuan itu.