
"Kenapa gak tidur katanya ngantuk kok malah liatin aku terus?"kata Ryan.
"Siapa yang liatin kakak gak ada ini mau tidur."kata Lydia.
"Tidur atau aku akan memakanmu sekarang juga?"kata Ryan.
Lydia yang mendengar perkataan Ryan langsung saja menutup matanya membuat Ryan tersenyum. Ryan memberanikan diri untuk mencium kening Lydia lama.
"Tidur, tapi sebelum tidur buka jubahnya biar nyenyak tidurnya."kata Ryan sambil membalikkan badannya.
Ryan membalikkan badannya karena dia tau jika Lydia memakai baju dinas untuk perempuan. Lydia yang melihat Ryan membalikkan badannya membuka jubahnya, Ryan membalikkan badannya lagi saat dia rasa kalau Lydia sudah membuka jubahnya. Ryan menyelipkan tangannya dibawah kepala Lydia agar menjadi bantal untuk istrinya.
"TIdur, aku gak akan makan kamu sebelum kamu memaafkan aku."kata Ryan sambil berbisik.
Lydia yang mendengar perkataan Ryan merasa lega, malam itu mereka berdua tidur dengan nyenyak. Pagi harinya Lydia terbangun duluan sebelum Ryan, Lydia memanfaatkan itu memandangi suaminya itu lama terlihat sekali dari matanya jika suaminya itu kelelahan. Lydia mendengar ponsel Ryan berbunyi dan melihat kalau mata Ryan berkedip memutuskan untuk pura-pura tidur. Ryan membuka matanya karena mendengar ponselnya berbunyi. Sebelum melihat ponselnya, Ryan memandang kearah Lydia lalu tersenyum saat istrinya masih menutup mata. Saat melihat selimut Lydia turun ke bawah Ryan menarik selimut itu keatas untuk menutupi tubuh Lydia karena Ryan takut jika dirinya kilap jika terus terbuka tubuh istrinya itu. Ryan mengambil ponselnya saat tau siapa yang menghubunginya dia mengusap wajahnya lalu bangun mengambil kaos dan berjalan menuju kolam agar dia tak menganggu tidur Lydia.
[Hallo Asalamualikum kak...]
[Walaikumsalam, maaf kalau aku ganggu kamu. Kamu nanti bisa gak saat aku meeting melakukan video call?]
[Memangnya ada masalah apalagi bukannya kemarin sudah diputuskan semuanya dan ayah juga sudah setuju memangnya ada masalah apalagi?]
[Kamu tau pak Darso gak?]
[Ada apa dengannya?]
[Dia berusaha untuk menjatuhkan perusahaan, dia bekerjasama dengan om Damar.]
[Kakak ada bukti gak kalau mereka berdua kerjasama untuk menghancurkan perusahaan?]
[Ada tapi buktinya belum kuat Yan, jika aku buka sekarang takutnya malah aku yang diserang balik.]
__ADS_1
[Jam berapa meetingnya?]
[Jam 10an bagaimana kamu bisakan?]
[Aku akan usahakan, ya sudah aku tutup dulu panggilannya ada sesuatu yang harus aku kerjakan.]
Ryan mematikan panggilan dengan Anton dengan helaan nafas dan mengusap wajahnya. Ryan pikir dia bisa lepas dari masalah perusahaan ayahnya tapi nyatanya dia tetap pusing dengan masalah yang terjadi diperusahaan itu. Lydia yang melihat wajah Ryan gusar mendekati Ryan lalu menepuk bahu suaminya itu membuat Ryan tersenyum.
"Kamu sudah bangun?"kata Ryan.
"Sudah daritadi, ada apa?"kata Lydia.
"Kak Anton memintaku untuk ikut meeting nanti jam 10, masalah diperusahaan ayah gak selesai tapi malah tambah parah karena salah satu direksi bekerjasama dengan om Damar untuk menghancurkan perusahaan."kata Ryan membuat Lydia terdiam lalu mengelus punggung suaminya.
"Kalau kakak sibuk sebaiknya kakak pulang."kata Lydia yang kasian dengan Ryan.
"Aku gak bisa meninggalkan masalah disini, kamu memangnya mau bantu aku buat urus masalah dihotel ini?"kata Ryan.
"Gak mau, aku saja harus fokus sama proyek kerjasama kita masak suruh ngurus nyelesaiin masalah hotel?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Iya memangnya kenapa?"kata Lydia.
"Aku boleh gak main kerumahmu sambil melihat Raka?"kata Ryan.
"Lalu pekerjaan kakak bagaimana? Aku takut kakak bukannya fokus dengan pekerjaan tapi malah main dengan Raka nanti."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Aku akan membagi fokusku, bolehkan aku main kesana?"kata Ryan.
"Lalu siapa yang ngantar Dayat ke bandara nanti?"kata Lydia.
"Dia bisa jalan sendiri, boleh ya?"kata Ryan sambil menatap Lydia manja.
__ADS_1
"Ya sudah kalau kayak gitu aku mandi dulu."kata Lydia.
Lydia meninggalkan Ryan masuk kedalam untuk mandi, Ryan tersenyum karena istrinya itu tak memakai jubahnya lagi seperti semalam mungkin dia lupa. Pantas saja dia semalam tak mau melepas jubahnya ternyata benar dugaannya kalau Dayat dan karyawan hotel itu membelikan pakaian dinas untuk Lydia. Ryan memutuskan untuk ikut masuk lalu mengambil laptopnya untuk memeriksa masalah yang dikatakan oleh Anton tadi. Ryan juga menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki kasus pak Darso.
Lydia sendiri baru sadar saat berada didalam kamar mandi kalau tadi dia hanya memakai baju haram tanpa memakai jubah. Untung saja Ryan gak terpengaruh dengannya untuk melakukan hubungan badan. Lydia merasa ada yang aneh apa Ryan sudah tak punya serela padanya karena Ryan sudah tak tertarik padanya. Lydia mendengar gosip jika Ryan suka gonta-ganti perempuan setiap malam, Lydia yang gak mau berprasangka buruk memutuskan untuk mandi. Saat Lydia keluar dari kamar mandi dia tak melihat Ryan berada dikasur ataupun kolam. Lydia memakai baju yang semalam lalu setelah itu berjalan ke sofa karena mendengar suara Ryan yang sedang berbicara. Ryan yang melihat kalau Lydia mendekatinya langsung saja menepuk tangannya supaya istrinya itu duduk disampingnya. Lydia tanpa banyak bicara duduk disampingnya, Ryan sendiri kembali berbicara dengan orang yang dia hubungi.
[Kamu kirimkan bukti itu ke emailku atau kamu datang sendiri temui Zen.]
[Baiklah, aku temui Zen saja untuk bertemu dengan kak Anton.]
[Baiklah, setelah itu kamu kerjakan sesuai dengan rencana kita tadi. Ya sudah kalau gitu aku matikan panggilannya, aku tunggu kabar dari kalian.]
[Baik, aku nanti kabari kalau sudah bertemu dengan Zen.]
Ryan mematikan panggilannya setelah itu memandang kearah Lydia yang sibuk dengan ponselnya.
"Lagi ngapain?"kata Ryan membuat Lydia memandang kearah Ryan.
"Nih, lagi kirim pesan sama temanku. Dia mengajak jalan-jalan tapi aku bilang gak bisa."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Kalau kamu mau keluar jalan-jalan keluar saja biar aku dihotel saja ngerjain pekerjaanku."kata Ryan sambil mengusap rambut Lydia.
"Aku dirumah saja lagi malas juga mau keluar, lagian semalam aku sudah gak bertemu dengan Raka. Aku mau seharian ini main sama Raka mumpung libur."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Ya sudah kalau gitu aku mandi dulu setelah itu aku antar kamu pulang."kata Ryan.
"Ini mana yang mau dibawa kerumah?"kata Lydia.
"Bawa tablet sama berkas yang ada diatas meja tapi sedikit saja. Nanti biar aku selesaikan saat dihotel daripada gak ngapa-ngapain disini."kata Ryan.
"Ya sudah mandi gih, biar aku yang memasukan semua ini kedalam tas. Mana tas kerjamu?"kata Lydia.
__ADS_1
"Aku gak bawa tas kerja, masukkan saja ke dalam map itu saja."kata Ryan.
Ryan setelah berkata begitu meninggalkan Lydia sendiri karena dia mau mandi. Lydia melihat berkas mana yang harus dikerjakan dulu, saat melihat berkas itu Lydia menghela nafas karena masalah yang dihadapi hotel ini parah masak laporan keuangan bisa acak-acakan. Lydia yakin jika laporan ini memang sengaja dibuat begitu untuk mengelabuhi orang lain karena entah karyawan itu sendiri atau ada orang lain dibaliknya. Lydia memutuskan untuk membawa semua karena dia mau membantu Ryan menyelesaikan masalah dihotel setelah dia melihat pesan dari Dayat dan Anton. Lydia tak menyangka kalau suaminya sekarang sedang banyak masalah yang harus dia selesaikan.