Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan bingung dengan Lydia


__ADS_3

Lydia senang duduk ditempat itu sambil membayangkan saat dia masih bermain dengan Dara setelah mereka pulang dari membeli sate. Ryan yang melihat kalau Lydia tersenyum-senyum sendiri mengerutkan keningnya. Ryan penasaran apa yang dipikirkan oleh Lydia.


"Kamu sedang mikirin apa kok senyum-senyum sendiri?"kata Ryan membuat Lydia memandang kearah Ryan.


"Aku teringat saat duduk disini bersama dengan Dara dan Widya, dulu kami sering banget duduk disini saat kami masih tinggal disini."kata Lydia.


"Apa kamu mau tinggal disini?"kata Ryan.


"Memangnya boleh aku tinggal disini? Lalu bagaimana dengan perusahaan papa?"kata Lydia.


"Kalau kamu mau kamu bisa tinggal disini untuk sementara waktu tapi aku terpaksa harus ninggalin kamu karena aku gak bisa ninggalin pekerjaan yang ada diJakarta."kata Ryan.


"Aku tau kok, nanti saja saat ada libur panjang kita main kesini lagi itupun kalau kamu mau tapi kalau gak aku bisa kesini sendirian."kata Lydia.


"Aku akan temani kamu kalau kamu mau ditemani, besok habis mengantar Sari kerumah ibu dan anak tadi kita langsung berangkat ke Jakarta gak papakan biar gak kemalaman sampai Jakarta?"kata Ryan.


"Iya aku tau kamu sibuk banget, maaf ya gara-gara aku sakit kamu harus membatalkan kembali ke Jakarta."kata Lydia yang gak enak hati pada Ryan karena membatalkan pulang ke Jakarta.


"Gak papa kok, bagaimana perutmu masih sakit gak?"kata Ryan.


"Sudah, tapi sekarang aku kekenyangan gak bisa jalan."kata Lydia sambil tersenyum membuat Ryan tersenyum.


"Lalu ini siapa yang makan kalau kamu kenyang?"kata Ryan.


"Nanti malam kalau aku lapar aku makan kalau gak bangun ya buat sarapan."kata Lydia membuat Ryan menghera nafas.


"Bisa gak jangan buang-buang makanan diluar sana masih banyak yang gak bisa makan."kata Lydia.


"Aku gak buang makanan, lagian kamu yang bikin aku gak napsu makan lagi."kata Lydia membuat Ryan terkejut.


"Apa maksutnya kok aku yang bikin kamu gak nafsu makan?"kata Ryan.


"Pikir saja sendiri."kata Lydia sambil melanjutkan jalannya karena dia kesal dengan Ryan yang gak peka sedangkan Ryan yang ditinggal Lydia bingung apa salah dia.


"Ly tunggu jangan tinggalin aku."kata Ryan yang berjalan cepat agar bisa menyusul Lydia.


Mereka berdua jalan dengan saling diam satu sama lain. Lydia sampai rumah langsung naik keatas setelah memasukkan satenya ke dalam kulkas. Saat dikamar pun Lydia juga langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih. Ryan yang melihat Lydia mendiamkannya memutuskan untuk mengambil laptopnya lalu kembali fokus dengan pekerjannya yang tertunda tadi. Saat Ryan baru saja fokus dengan pekerjaannya terdengar ponselnya berbunyi membuat Ryan menghera nafasnya karena hari ini dia gak bisa fokus untuk mengerjakan pekerjannya. Selain banyak yang menghubunginya juga masalah Lydia yang mendiamkannya padahal dia tak tau apa kesalahan yang dia buat.

__ADS_1


[Hallo...]


[Yan aku mau bicara sama kamu?]


[Kamu mau bicara apalagi?]


[Yan, aku mohon sama kamu tolong bantu aku buat nutupin semua ini tolonglah menikahlah denganku?]


[Maaf aku sudah bilang sama mamamu tadi kalau aku gak mungkin bertanggungjawab atas apa yang tidak aku lakukan.]


Lydia yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut dengan perkataan Ryan membuatnya mendekati Ryan karena dia penasaran sampai dia gak sadar kalau sekarang Lydia hanya memakai handuk yang dia lilitkan ditubuhnya membuat Ryan menahan nafasnya saat melihat tubuh Lydia.


[Kamu gak kasian sama aku?]


[Aku kasian tapi aku gak bisa bertanggung jawab. Tenang saja aku akan bantu kamu agar orang yang menghampirimu mau bertanggungjawab atas kehamilanmu.]


"Siapa yang hamil?"kata Lydia membuat Vira terkejut karena ada suara seorang perempuan.


"Temenku dia hamil orang yang menghamilinya tak mau tanggungjawab."kata Ryan.


"Masak tapi yang aku dengar tadi dia mau kamu tanggungjawab?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Cemburu sama kamu ya gaklah, ngapain biar bagaimanapun kamu sudah jadi milikku. Kalau sampai kamu bermain api dibelakangku siap-siap saja nanti apa yang akan aku lakukan."kata Lydia.


"Iya kah, pantas saja kamu mengodaku."kata Ryan.


"Mengoda bagaimana?"kata Lydia bingung.


"Kalau gak mengodaku ngapain kamu mendekatiku hanya pakai handuk saja?"kata Ryan membuat Lydia baru sadar jika dia belum memakai baju.


"Nyebelin sudah lanjut panggilannya sama kekasihmu itu."kata Lydia bangun untuk meninggalkan Ryan tapi tangannya malah ditarik membuat Lydia jatuh kepangkuan Ryan.


"Kak.."kata Lydia.


"Biar kayak begini sebentar."kata Ryan.


[Vir, sorry aku tutup dulu panggilannya.]

__ADS_1


[Yan, aku tau kamu membohongiku. Aku tau dihatimu dari dulu sampai sekarang hanya diriku gak ada yang lain.]


[Nama kamu sudah hilang dihatiku sejak kamu meninggalkan aku dengan pria itu.]


[Yan, aku minta maaf sama kamu.]


[Mbak kalau suami saya sudah bilang gak mau jangan paksa lagi bisa gak.]


[Kamu hanya pelampiasannya saja karena hati Ryan hanya untukku.]


[Kalau memang hati kak Ryan kenapa dia memilih menikahiku bukan menunggumu, dari sini kamu bisa mikirkan kalau perasaan kak Ryan bukan untukmu lagi.]


Lydia setelah berkata begitu langsung menutup panggilan itu, Ryan yang melihat perbuatan Lydia hanya tersenyum. Ryan meletakkan dagunya dipundak Lydia sambil memejamkan matanya. Sedangkan Lydia yang diperlakukan begitu hanya menghera nafasnya.


"Aku pakai baju dulu boleh dingin."kata Lydia.


"Baiklah, tapi setelah itu kamu duduk dipangkuanku lagi ya?"kata Ryan.


"Ada apa?"kata Lydia.


"Aku hanya mau bermanja denganmu, bolehkan hanya seperti ini saja gak lebih kok. Setelah pikiranku tenang kamu kalau mau istirahat silahkan."kata Ryan.


"Baiklah, lepaskan aku dulu."kata Lydia.


Lydia setelah Ryan melepaskan pelukannya berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidur setelah itu memakainya. Ryan kembali fokus dengan laptopnya, dia kali ini memeriksa email yang dikirimkan oleh Anton. Saat dia mempelajarinya berkas itu membuat keningnya mengkerut, laporan itu benar-benar beda jauh dari yang dia kirimkan oleh Dayat tadi. Lydia yang melihat Ryan sedang fokus dengan laptopnya memutuskan untuk mendekati Ryan. Ryan yang tau kalau Lydia menghampirinya memindahkan laptopnya setelah itu menarik tangan Lydia yang membuat istrinya itu duduk dipangkuannya.


"Ada apa?"kata Lydia yang melihat kalau wajah Ryan kusut.


"Aku pusing kerjaanku banyak sekali, belum perusahaanku sendiri sekarang harus ngurus perusahaan ayah dan Hendru."kata Ryan.


"Kenapa perusahaan mereka kamu juga yang mengurusinya?"kata Lydia ingin tau.


"Hendru masih belum bisa percaya dengan asisten pribadinya yang baru sedangkan Kak Anton gak ada orang yang bisa membantunya karena mbak Shinta sudah menikah."kata Ryan.


"Sejak kapan Shinta menikah kok aku gak tau?"kata Lydia.


"Dua hari sebelum kita menikah."kata Ryan.

__ADS_1


"Jadi pas mama sama papa bilang mau menghadiri pernikahan teman mama?"kata Lydia.


__ADS_2