Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Persiapan ulang tahun Lydia


__ADS_3

"Iya mbak aku juga gak tau kenapa bisa kayak gitu, mungkin kalau Lydia sama kayak aku yang mudah percaya sama orang tapi Hendru kenapa bisa begitu?"kata mama Intan.


"Aku juga gak tau, dia selalu bilang kayak Lydia ingin mencari seseorang yang tulus tapi yang mereka dapat malah penghianatan."kata Naya.


"Iya apalagi putriku ini gak sampai difitnah dengan sangat kejamnya dan parahnya lagi yang memfitnahnya anak dari teman baik papanya sendiri."kata mama Intan.


"Sudah dong ma, oh ya mama tadi kesini sama siapa?"kata Lydia.


"Sama sopir papa, memangnya kenapa?"kata mama Intan.


"Tadi aku kesini diantar orang, mobilku mogok ditengah jalan."kata Lydia.


"Lalu bagaimana sekarang mobilmu?"kata mama Intan.


"Dibawa ke bengkel orang yang sudah menolongku, nanti kalau sudah diperbaiki dia akan hubungi aku."kata Lydia.


"Aku gak nyangka kalau masih ada orang baik."kata mama Intan.


"Memangnya mama yang baik dijauhi yang dekat malah didekati."kata Lydia.


"Kamu nyindir mama karena dulu bela Rima dan keluarganya?"kata mama Intan yang membuat Naya tersenyum.


"Sudah sudah kalian ini, oh ya maaf ya sayang ulang tahunmu kali ini keluarga tante gak bisa datang kerena kakakmu mau lamaran didesa Widya."kata Naya.


"Kenapa gak langsung adakan pernikahan saja tan?"kata Lydia.


"Mereka baru saja kenal, kami mau mereka saling mengenal lebih dulu."kata Naya.


"Bukannya enak pacaran setelah menikah?"kata Lydia.


"Kamu benar juga, tante juga gak sabar ingin memiliki menantu."kata Naya sambil memandang Widya.


"Mbak maaf aku harus ajak Lydia pulang karena sopir papanya sudah ada didepan."kata mama Intan.


"Ya sudah kapan-kapan kita ngobrol lagi, nanti kalau tante mau ngadain resepsi buat Hendru kamu mau bantuin tante 'kan?"kata Naya.


"Siap soal itu, kalau begitu kami permisi dulu, kak sampai jumpa lagi."kata Lydia.


Mereka berdua langsung keluar dari butik untuk menuju mobil, ternyata saat mereka sudah ada didalam mobil papa Aknan juga ada disana. Lydia senang sekaligus senang karena papanya ada waktu hari ini.


"Ish ngapain papa ada disini aku jadi obat nyamuk dong kalau kayak gini?"kata Lydia.


"Kamu ini, papa baru saja selesai meeting dengann klien tapi mamamu suruh jemput. Padahal tadi dia bilang mau pulang sama kamu."kata papa Aknan.


"Mobilku mogok, memangnya selama aku gak dirumah gak ada yang manasin mesin mobilku?"kata Lydia.


"Maaf non, mamang gak berani takut kalau nona marah."kata mang Soleh.


"Mang emangnya aku pernah marah sama mamang?"kata Lydia.


"Maaf ya non."kata mang Soleh.


"Iya gak papa mang, tapi lain kali kalau aku gak dirumah tolong sering-sering panasin mobilku."kata Lydia.


"Siap non, oh ya tuan kita mau kemana sekarang?"kata mang Soleh.


"Mama mau kemana?"kata papa Irwan.


"Aku mau pergi ke tempat acara ulang tahunnya Lydia lusa mau ngecek persiapannya."kata mama Intan.


"Ya sudah kalau gitu papa temani kalian."kata papa Irwan.


"Papa gak kembali ke perusahaan memangnya?"kata mama Intan.


"Papa mau temanin kalian saja."kata papa Irwan.


"Gitu dong pa, jangan asik kerja terus."kata Lydia sambil memeluk lengan papanya.


"Kamu ini tadi bilang jadi obat nyamuk, sekarang malah senang."kata papa Irwan yang pura-pura kesal pada putrinya.


"Tadi aku pikir gak mau nemani kami."kata Lydia.


"Hari ini waktu papa buat kalian berdua."kata papa Irwan.


"Benar ya pa, awas saja kalau sampai bohong mama akan aku ajak tidur sama aku."kata Lydia.


"Ya jangan dong sayang nanti kalau papa gak bisa tidur bagaimana?"kata papa Irwan.


"Itu derita papa, mama mau kan tidur sama aku?"kata Lydia bertanya pada mamanya.


"Mama mau tidur sama kamu soalnya mama kangen banget sama kamu."kata mama Intan yang langsung membuat Lydia tersenyum.


"Mama kenapa sih? Daritadi aku liat sibuk banget."kata Lydia.

__ADS_1


"Ini mama lagi cari toko kue buat acara ulang tahunm."kata mama Intan.


"Tumben mama gak pesan sama teman baik mama itu."kata papa Irwan.


"Sudah deh papa gak usah nyindir bisa gak sih?"kata mama Intan.


"Yang nyindir mama tu siapa sih, papa kan cuma tanya memangnya salah ya?"kata papa Irwan.


"Salah besar."kata mama Intan.


Mereka berdua berhenti berdebat setelah sampai dihotel tempat mau diadakannya acara ulang tahun Lydia. Mereka langsung masuk kedalam untuk melihat persiapannya. Sampai dalam mereka disambut oleh tim yang menangani acara ulang tahun Lydia.


"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?"kata penanggungjawab.


"Bagaimana persiapan acaranya apa sudah semua?"kata papa Irwan.


"Persiapannya sudah 85% tuan."kata penanggungjawab.


"Baiklah kalau begitu kami mau liat-liat boleh?"kata mama Intan.


"Boleh nyonya, mari saya temani."kata penanggungjawab.


"Bagaimana dengan makanan dan kuenya?"kata mama Intan.


"Kami sudah pesan seperti yang nyonya inginkan."kata penanggungjawab.


"Baiklah kalau kayak gitu aku bisa tenang, kita mau kemana lagi pa?"kata mama Intan bertanya pada suaminya.


"Kamu ma kemana setelah ini Ly?"kata papa Irwan.


"Kemana saja asal sama kalian."kata Lydia yang masih melihat-lihat dekorasi untuk acara ulang tahunnya.


"Apa ada yang ingin nona ubah?"kata penanggungjawab bertanya pada Lydia. Dia takut jika Lydia tak suka dengan dekorasi.


"Aku suka kok hanya saja bunga disana tolong dikurangi, ini acara ulang tahun bukan pernikahan."kata Lydia.


"Baik nona."kata Penanggungjawab.


"Tapi sayang banyak bunga seperti itu bukannya bagus ya?"kata mama Intan yang suka dengan banyak bunga disana.


"Memang bagus ma tapi ini acara ulang tahun jangan disamain sama pernikahan, nanti saja kalau ada acara pernikahan mama dekor banyak bunga gak masalah."kata Lydia.


"Memangnya kapan kamu mau nikah?"kata mama Intan.


"Itu terus alasan kamu, bilang saja kamu masih trauma sama Rayyan."kata mama Intan.


"Itu tau kenapa masih tanya lagi? Ma, menikah itu bukan hal mudah."kata Lydia.


"Terserah kamulah, pa kita cari makan dulu setelah itu pulang ke rumah mama capek banget."kata mama Intan.


"Ya sudah ayo."kata papa Irwan yang tau jika istrinya sedang kesal.


"Ma, jangan ngambek dong, nanti cantiknya hilang lo."kata Lydia saat mereka berada didalam mobil.


"Biarin kamu buat mama kesal sih."kata mama Intan.


"Ma, bukannya aku gak mau cari pacar tapi sekarang belum ada yang menurut aku cocok."kata Lydia.


"Kamu mau mencari yang seperti apa?"kata mama Intan.


"Aku mau cari yang baik dan nerima aku apa adanya."kata Lydia.


"Gimana kamu menemukan pria seperti itu juga kamu main sandiwara sama Hendru kalau kalian itu sudah bertunangan."kata mama Intan.


"Ma, sebentar lagi kak Hendru kan mau nikah bukannya itu bagus ya aku bisa mencari kekasih."kata Lydia.


"Memangnya Hendru mau nikah sama siapa?"kata papa Irwan.


"Dia dijodohkan sama perempuan yang bekerja dibutik Naya."kata mama Intan.


"Wah bagus dong kalau kayak gitu, Ly bagaimana kalau kamu juga papa sama mama jodohin?"kata papa Irwan.


"Kalau papa jodoh-jodohin aku sam anak kenalan kalian jangan salahkan aku kalau aku bakal kabur dan gak mau bantu papa diperusahaan."ancam Lydia.


"Jangan gitu dong sayang."kata mama Intan yang gak mau ditinggal sama Lydia.


"Kita mau makan dimana?"kata Lydia.


"Kita ke tempat biasanya saja mang aku sudah lama gak makan disana sama istri dan anakku."kata papa Irwan.


"Nanti mamang ikut masuk ya."kata mama Intan.


"Gak usah nyonya nanti saya malah ganggu lagi."kata mang Soleh.

__ADS_1


"Kamu gak ganggu kok mang, kita malah senang lagi."kata mama Intan.


"Baik bu."kata mang Soleh.


"Gitu dong mang."kata Lydia.


Setelah mendapatkan tempat parkir mereka semua masuk ke dalam, sopir papa Irwan pun juga ikut. Mereka langsung disambut oleh pelayan restaurant dan langsung diarahkan ke tempat yang masih kosong. Mereka memilih menu dan setelah itu langsung saja memanggil pelayan.


"Iya ada yang bisa saya bantu?"kata pelayan.


"Kami mau pesan makanan."kata papa Irwan.


Mereka sambil menunggu makanan datang bercerita tentang kegiatan mereka tadi setelah itu ke isengan Lydia muncul dia menggoda mag Soleh membuat kedua orangtuanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Lydia.


"Ly kasian mamang kamu jahili kayak gitu."kata mama Intan.


"Gak papa kok bu sudah lama juga nona Lydia tak jahili saya sejak dia memutuskan untuk ngekos."kata mang Soleh.


"Tu dengerin mamang selalu berain kamu dari dulu, kamunya saja yang selalu nakal sama mamang."kata mama Intan memarahi Lydia..


"Maaf ya mang aku gak maskut buat jahilin mamang."kata Lydia yang sebenarnya gak enak jahili mamang tapi sejak kecil hanya mamang sama si mbok yang selalu ada buat Lydia.


"Saya ga papa kok bu, saya senang kalau nona jahili saya rasanya seperti liat putri saya."kata mang Soleh.


"Apa putrimu gak ada kabar sampai sekarang?"kata papa Irwan.


"Dia gak ada kabar tuan, mungkin juga salah saya yang gak bisa memberikan apa yang dia mau jadi dia membenci saya."kata mang Saleh.


"Mang, mamang bisa anggap aku seperti putri mamang kok. Mamang tau gak? Mamang sama mbok sudah aku anggap seperti orangtua keduaku. Saat papa sama mama gak ada mamang sama simbok yang selalu menemaniku."kata Lydia yang membuat mang soleh terharu.


"Makasih non, sudah mau menanggap mamang sebagai orangtua nona."kata mang Soleh.


"Mang buat apa terimakasih segara, kami sudah anggap kamu seperti keluarga. Seharusnya kami yang mengucapkan terimakasih padamu karena selama ini sudah menjaga Lydia kalau kami gak ada."kata papa Irwan.


"Itu sudah menjadi kewajiban saya tuan, bu."kata mang Soleh.


Mereka mengakhiri pembicaran saat pelayan membawakan makanann yang mereka pesan. Mereka langsung memakan makanan itu sambil tetap berbicara satu sama lain. Inilah kado yang terindah buat Lydia sayang simbok yang merawatnya sejak kecil sudah gak bekerja bersama mereka lagi.


"Mang ada kabar soal si mbok gak?"kata Lydia.


"Sejak mbok Nah memutuskan untuk ikut anaknya, saya sudah gak berhubungan dengan beliau non."kata mang Soleh.


"Ya sudah kalau kayak gitu, ma habis ini mau kemana lagi kita?"kata Lydia.


"Memangnya kamu mau kemana? Bukannya tadi papa bilang kalau hari ini waktu papa hanya buat kita. Nih liat ponsel papa ada dimama."kata mama Intan sambil melihatkan ponsel suaminya yang berada ditangannya.


"Kapan mama ambil ponsel papa kok aku gak tau?"kata Lydia.


"Kamu sibuk jahili mang Soleh sih makanya gak liat ada sedang menyita ponsel papa."kata papa Irwan.


"Siapa suruh ngumpul masih main ponsel terus padahal sudah bilang kalau sedang ngumpl sama keluarga gak akan main ponsel."kata mama Intan.


"Tu dengar apa kata mama."kata Lydia membela mamanya.


"Ya sudahlh kamu mau kemana setelah ini?"kata papa Irwan yang mengalihkan pembicaraan.


"Aku mah ngikut kalian saja yang terpenting sama kalian berdua aku sudah senang apalagi beberapa hari lagi aku mau liburan."kata Lyia.


"Memangnya nona mau liburan kemana?"kata mang Soleh.


"Ak mau ke Ausi tapi kalau mama sama papa jodoh-jodohin aku, aku akan ambil kuliah disana."kata Lydia.


"Kami gak akan menjodoh-jodohkan kamu tenang saja."kata papa Irwan.


"Ma persiapan buat ulang tahunku apa sudah siap semua?"kata Lydia.


"Sudah dong sayang, mama juga sudah undang calon mertuam yang gak jadi itu."kata mama Intan.


"Ngapain mama undang mereka sih?"kata Lydia.


"Memangnya kenapa?"kata mama Intan.


"Ma, aku gak mau mama undang mereka hanya karena ingin balas dendam."kata Lydia.


"Tenang saja, ya sudah ayo kita pergi dari sini daripada sebentar lagi ada peganggu."kata mama Intan yang melihat Tina dan Dahlia yang baru saja masuk ke restoran..


"Memang siapa peganggu yang mama maksut?"kata Lydia.


"Kalau papa gak segera bayar dia pasti akan datang kesini."kata mama Intan.


Papa Irwan langsung saja memanggil pelayan untuk membayar makanan mereka. Benar saja saat mereka mau berdiri dan meninggalkan resto itu Tina dan Dahlia datang menghampiri mereka.


"Selamat siang, kalian sudah mau pergi ya padahal kami mau gabung?"kata Tina.

__ADS_1


"Iya, kami sudah daritadi disini."kata mama Intan.


__ADS_2