Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Berangkat liburan


__ADS_3

Mereka berlima setelah selesai makan langsung saja berjalan meninggalkan kantin untuk kembali ke ruang kelas karena mata kuliah kedua akan segera dimulai. Lydia sangat suka dengan mata kuliah ini sehingga dia benar-benar serius mendengarkan pembahasan dosen itu.


Mereka selesai mata kuliah terakhir langsung saja keluar dari kelas itu untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing. Sampai ditoko Lydia meihat jika Ita sedang berdebat dengan seseorang. Lydia langsung mendekati Ita untuk mencari tau apa yang terjadi.


"Maaf ada apa ini?"kata Lydia yang sudah berada didekat Ita dan perempuan yang mengajak Ita berdebat.


"Kamu gak usah ikut campur urusanku hanya sama dia."kata perempuan itu.


"Maaf ini toko mbak bukan tempat untuk berdebat, lagi memang saya gak ada urusan sama masalah kalian tapi kalau saya gak ikut campur ini akan menganggu pelanggan yang lain."kata Lydia.


"Gampang kamu bisa tutup toko ini."kata perempuan.


"Saya bisa saja menutup toko ini tapi apa mbak bisa menganti rugi kerugian toko jika saya tutup toko ini?"kata Lydia.


"Memangnya berapa sih ganti rugi toko ini biar aku yang bayar."kata perempuan itu membuat Lydia menghera nafasnya.


"Baiklah kalau begitu saya akan bicara dengan manager saya dulu karena beliaulah yang bertanggungjawab."kata Lydia.


"Bilang saja kamu takut kena marah, kalau kamu takut kena marah tolong bilang sama teman kamu ini jangan suka mengganggu suami orang."kata perempuan.


"Memangnya siapa yang diganggu oleh teman saya ini?"kata Lydia yang gak percaya jika Ita menganggu suami orang.


"Dia mengoda suamiku."kata perempuan itu.


"Gak Ly aku gak goda suaminya lagian aku gak tau siapa suaminya."kata Ita membela diri.


Saat mereka sedang berdebat tiba-tiba ada seorang pria masuk ke dalam itu, pria itu langsung saja menghampiri mereka bertiga untuk melerai saat itu juga bu Rosa juga baru datang. Dia terkejut melihat pertengkaran itu dan langsung saja menghampiri mereka semua.


"Ada apa ini?"kata bu Rosa.


"Kamu siapa?"kata perempuan itu.


"Ma, sudah kamu salah paham. Aku sama dia gak kenal sama sekali."kata pria.


"Aku gak yakin kamu pasti membela perempuan ****** ini."kata perempuan itu membuat bu Rosa tak tahan untuk berbicara.


"Jaga mulut kamu, karayawanku gak ada yang seperti kamu ucapkan mereka berdua gadis baik-baik mungkin saja suami kamu itu yang suka bermain perempuan."kata bu Rosa.


"Suamiku tak akan main perempuan kalau gak perempuan itu yang mengoda duluan."kata perempuan.


"Kamu jangan mulut kamu, aku saja gak pernah bertemu sama dia dan baru kali ini aku bertemu dengannya."kata Ita.


"Lalu ini apa?"kata perempun itu sambil melihatkan foto Ita dan suaminya membuat Ita menghera nafasnya.


"Kamu tanya saja sendiri sama suami kamu."kata Ita akhirnya membuat Lydia dan bu Rosa memandang kearah Ita.


"Ta, aku minta maaf. Ayo ikut aku."kata pria itu.


"Aku gak mau dia harus pergi dari sini."kata perempuan.


"Mau sampai kapan kamu menyuruhnya pergi dulu saat dikampung kamu sudah mempermalukannya dan sekarang kamu juga masih ingin dia pergi padahal dia tak pernah menganggu rumah tangga kita sedikitpun."kata pria.


"Aku akan tetap mengusirnya karena kamu sangat mencintainya dan sampai sekarang hati kamu masih ada buatnya."kata perempuan.


"Ko, kalau kamu mau beratem sama dia tolong bawa dia pergi dari sini. Aku benar-benar ingin fokus kerja, kalau untuk pergi dari sini maaf aku gak bisa karena aku yang lebih dulu berada disini."kata Ita membuat Lydia terkejut ternyata pria inilah yang membuat Ita sakit hati.


Bu Rosa yang tau kisah Ita langsung saja naik darah karena bertemu dengan pria yang tak tau malu dan sudah melukai hati karyawannya.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini atau aku akan panggilkan pihak berwajib untuk membawa kalian dan kalian bisa tidur disana dengan nyenyak."kata bu Rosa yang ingin pria itu segera pergi dari sana agar tidak menyakiti Ita lebih dalam lagi.


"Sudah ayo pergi dari sini."kata pria itu sambil menarik tangan istrinya itu.


Ita setelah kepergian mereka berdua langsung menghera nafas, bu Rosa langsung saja mengajak Ita untuk duduk dikursi yang ada didekat tempat kasir itu.


"Kamu gak papa Ta?"kata bu Rosa.


"Nih, minum dulu."kata Lydia memberikan botol air ke Ita.


"Makasih Ly, aku gak papa kok hanya tadi sok saja."kata Ita.


"Kenapa kamu pura-pura gak kenal dengan perempuan itu?"kata Lydia.


"Aku gak mau kalian tau jika perempuan itu adalah masalaluku."kata Ita.


"Sudah gak usah bicara tentang mereka lagi, sekarang lebih baik kamu tenangkan diri kamu saja. Kalau mereka ganggu lagi ataupun datang kesini bilang sama ibu atau Lydia kami akan selalu membantu kamu."kata bu Rosa.


"Iya kalau soal perempuan kayak gitu mah gak usah diladeni toh kamu itu cantik aku yakin kamu pasti bisa dapat pasangan yang lebih dari pria itu. Apa sih yang direbutin dari pria itu ganteng masih gantengan kak Aziz."kata Lydia.


"Kamu kok jadi bahas kak Aziz sih Ly?"kata Ita membuat Lydia nyengir.


"Aku kesal sama perempuan itu, datang-datang langsung saja buat masalah lagian mana mungkin kamu mau sama pria yang sudah beristri. Toh dia sudah menjadi istrinya apalagi yang dia takutkan."kata Lydia.

__ADS_1


"Kamu tadikan dengar sendiri kalau pria itu masih menyukai Ita, Ta kamu jelasin sama kita kenapa bisa begitu?"kata bu Rosa yang ingin tau cerita Ita lebih dalam lagi.


"Dia menikah karena dijodohkan oleh kedua orangtuanya, orangtuanya tak setuju jika ku bersama dengannya. Mereka melakukan berbagai macam cara untuk memisahkan kami, hingga saat malam itu Riko dijembak oleh perempuan itu."kata Ita.


"Dijebak?"kata Lydia.


"Kalian pasti taulah apa jebakan yang aku maksut."kata Ita.


"Ya sudah biarkan sajalah, anggap saja dia bukan jodoh kamu. Maaf kalau ibu buat kamu mengingat tentang masalalu kamu."kata bu Rosa.


"Sudah gak papa kok bu, aku sekarang sudah gak mikirin soal itu yang paling penting sekarang buatku adalah bisa mewujudkan cita-citaku dan mengangkat derajat kedua orangtuaku agar mereka tak dihina oleh orang lagi."kata Ita.


"Aku dukung semua keputusan kamu ini."kata bu Rosa.


"Aku juga akan selalu ada buat kamu."kata Lydia.


"Makasih ya."kata Ita.


"Sudah ayo semangat kerjanya lagi, siapa tau nanti kita dapat penjualan tertinggi dan dapat bonus."kata bu Rosa menyemangati kedua karyawannya.


"Siap bu."kata Ita dan Lydia secara bersamaan.


Bu Rosa langsung saja meninggalkan kedua karyawannya itu masuk keruangannya setelah melihat kalau Ita tenang. Ita dan Lydia sendiri setelah kepergiaan bu Rosa langsung saja kembali semangat bekerja.


"Gimana apa kamu sudah tanya sama kedua pria itu mau kopi apa?"kata Ita.


"Sudah, katanya apa saja yang penting kopi susu."kata Lydia.


"Kalau camilannya apa?"kata Ita.


"Terserah asal bisa buat ngemil, kalau soal sarapan mereka bilang nanti saja beli disana."kata Lydia.


"Sandra sama Rani gak pesan apa gitu buat nanti?"kata Ita.


"Aku lupa gak tanya sama Sandra soalnya tadi waktu istirahat dia keluar sama Jono buat ngprint tugasnya. Tadi aku hanya tanya sama Rani katanya suruh bawain dia youghrt."kata Lydia.


"Ya sudah nanti beliin dia minuman lain masak hanya yougrt saja."kata Ita.


"Siap kalau itu, lalu Sandra mau kamu bawain apa?"kata Lydia.


"Samain kayak kita saja nanti, jangan lupa ingatkan aku buat beli air minum nanti."kata Ita.


Mereka fokus bekerja hingga tak sadar jika sudah waktunya pulang, mereka berdua langsung terkejut saat melihat jam sudah menunjukan saatnya mereka harus pulang. Lydia dan Ita langsung saja beres-beres dan tak lupa mengecek stok dengan cepat karena nanti mereka akan berangkat ke puncak. Saat mereka mau pulang barulah mereka ingat jika mereka lupa mengbeli camilan, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali masuk ke dalam lagi. Mereka setelah membeli camilan dan minuman langsung saja keluar dan mengunci pintunya.


"Untung saja kita ingat kalau tidak kita balik lagi tadi."kata Ita sambil berjalan pulang.


"Iya kalau ingat saat sudah sampai kosan pasti akan ngerepotin yang lain."kata Lydia.


"Oh ya nanti kita bertemu mereka dimana?"kata Ita.


"Jono tadi bilang mau jemput ke kosan tapi kalau Roni sama Rani gak tau 'kan mereka naik mobil sendiri."kata Lydia.


Saat mereka sedang berjalan ada sebuah mobil yang mengikuti mereka dibelakang. Mereka berdua langsung saja menengok ke belakang,mereka tak kenal siapa yang membawa mobil itu karena baru kali ini melihat mobil itu. Lydia memberanikan diri untuk mendekati mobil itu untuk melihat siapa yang ada didalam mobil.


"Ly jangan dekat-dekat aku takut."kata Ita sambil memegang tangan Lydia.


"Sudah gak papa."kata Lydia sambil mengetuk kaca mobil itu.


Pemilik mobilnya membuka kaca mobil sambil tersenyum tanpa merasa bersalah membuat Lydia langsung menepuk jidat pria itu.


"Kamu nakutin kami tau gak Jon."kata Lydia.


"Ya ampun masak gitu saja takut."kata Jono.


"Gimana gak takut kamu ngikutin kami daritadi."kata Lydia.


"Sorry, sorry aku gak maksut. Ayo masuk."kata Jono.


"Kamu kok jam segini sudah datang sih?"kata Lydia.


"Aku mau nunggu kalian sekalian mau beli makan didekat kos kalian ada warungkan?"kata Jono.


"Memangnya kamu belum makan malam?"kata Lydia.


"Belum, tadi dikosan malas masak."kata Jono.


"Memangnya ditempat kos kamu ada dapurnya?"kata Ita yang daritadi diam.


"Ya ada, memangnya kamu pikir gak ada karena itu kosan khusus buat pria?"kata Jono.


"Iya aku pikir kosan pria itu gak ada dapurnya 'kan jarang anak pria bisa masak."kata Ita.

__ADS_1


"Wah kalau harus beli setiap hari itu pembolosan, aku 'kan belum kerja nanti bukannya malah merepotkan orangtuaku lebih lagi."kata Jono.


"Kalau gitu kenapa kamu gak mau kita ajak patungan?"kata Ita.


"Aku habis menang main game jadi bisa buat jalan-jalan."kata Jono.


"Kamu suka sekali main game ya?"kata Ita.


"Kalau menghasilkan pasti aku suka."kata Jono.


"Itu bukannya malah menghabiskan uang ya?"kata Ita.


"Ada yang menghasilkan ada yang gak, tergantung sama keberuntungan."kata Jono.


"Ya sudah terserah kamu, tu warung yang enak masakannya kami mau masuk mandi bentar. Aku taruh camilan dan minuman disini ya? Ini nanti satu buat Roni."kata Lydia.


"Kalian sudah makan belum?"kata Jono.


"Belum, nanti saja sebelum berangkat kami bungkus makan malam."kata Lydia.


"Nanti aku bungkusin tiga sekalian kalau kalian lama, kalau gak lama nanti makan langsung diwarung."kata Jono.


"Nih, uangnya aku pesan ayam penyet."kata Lydia memberikan uang berwarna merah satu lembar.


"Aku ada pakai uangku saja."kata Jono.


"Gak, pakai ini saja kalau kamu gak mau terima aku gak jadi pesan makanannya."kata Lydia.


"Baiklah kalau kayak gitu, kamu mau pesan apa Ta?"kata Jono.


"Samaiin saja kayak Lydia, kalau kayak gitu kami masuk dulu."kata Ita.


Mereka berdua masuk ke kosan untuk bersiap-siap sedangkan Jono langsung pergi ke warung untuk makan dan memesan makanan untuk ketiga perempun yang akan satu mobil dengannya itu.


Sandra yang baru saja datang langsung saja masuk ke dalam kamar kosnya untuk bersiap-siap. Dia gak mau jika teman-temannya menunggu dirinya lama. Saat dia baru saja selesai mandi dan mau berdandan pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


"Masuk."kata Sandra dari belakang.


"Kamu sudah siap San?"kata Ita.


"Ini masih mau pakai cream bentar habis ini siap dah, Lydia mana?"kata Sandra.


"Lydia sudah kedepan menemui Jono kasian menunggu daritadi dia."kata Ita sambil masuk ke dalam kamar Sandra.


"Mobil yang ada didepan kos itu punya Jono?"kata Sandra.


"Iya itu mobil Jono."kata Ita.


"Tapi kok tadi aku liat gak ada orangnya dia kemana?"kata Sandra.


"Dia beli makan diwarung tempat biasanya kita beli makan."kata Ita.


"Aku tadi belum sempat makan malam nanti aku mau beli dulu gak papakan?"kata Sandra.


"Tenang saja tadi Lydia sudah pesan sama Jono untuk membungkuskan makan malam kita. Nanti kita bisa makan dimobil."kata Ita.


"Baiklah, kalau gitu ayo kita berangkat."kata Sandra sambil mengambil ranselnya.


Mereka berdua keluar menghampiri yang lainnya ternyata disan sudah ada Roni dan Rani. Mereka sedang asik mengobrol dan bercanda tawa. Sandra dan Ita langsung saja menghampiri mereka agar mereka tak kemalaman berangkatnya.


"Ayo berangkat."kata Sandra.


"Iya ayo, eh tunggu dulu camilan sama minuman kalian berdua ada dimobil Jono. Ran kamu ikut aku dulu buat ngambil camilan kalian."kata Lydia.


"Oke."kata Rani sambil mengikuti mereka berempat menuju mobil Jono.


Lydia langsung mengambil dan menyerahkan satu kantong plastik yang berisi makanan ringan dan minuman pada Rani. Rani yang melihat jika makanan itu terlalu banyak terkejut dan mau memberikan lagi beberapa pada Lydia.


"Kamu mau apa?"kata Lydia.


"Ini banyak banget makananya."kata Rani.


"Gak papa ambil saja."kata Lydia.


"Seriusan, aku gak enak sama kamu dan Ita."kata Rani.


"Gak papa kok, sudah ayo berangkat daripada nanti kemalaman kasian Jono sama Roni."kata Lydia.


"Ya sudah kalau kayak gitu, makasih ya."kata Rani yang setelah mengucapkan terimakasih langsung saja kembali ke mobil Roni.


Lydia sendiri langsung saja masuk ke dalam mobil Jono dan mulailah perjalanan mereka malam ini untuk pergi ke puncak. Didalam mobil Sandra suka sekali menjahili Jono, untung saja pria itu sabar kalau gak mungkin mereka akan berentem.

__ADS_1


__ADS_2