Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia balas kesombongan teman bunda Airin


__ADS_3

Teman bunda Airin terlihat sangat sombong, dia menyapa dbunda Airin dengan suara sombongnya dan dibuat-buat membuat Lydia mau muntah tapi dia tahan.


"Kita ketemu disini jek, kamu mau beli apa atau sudah beli?"kata teman bunda Airin.


"Aku gak beli apa-apa soalnya keliling-keliling gak ada yang bagus barangnya."kata bunda Airin.


"Gak bagus atau gak kuat beli jeng, disinikan harganya mahal-mahal gak semua orang bisa beli, apalagi aku dengar perusahaan suami jeng Airin ini sedang ada masalah pasti mau beli apa-apa mikir-mikir dulu. Gak kayak saya bebas mau beli apa saja, lagian ya jeng kenalin ini calon mantu saya dia pewaris tunggal perusahaan Emirat grup."kata teman bunda Airin membuat Lydia terkejut begitupun dengan bunda Airin.


"Berarti dia putrinya jeng Intan kok aku gak pernah liat ya?"kata bunda Airin membuat permpuan muda yang mengaku sebagai pewaris tunggal perusahaan menantunya itu terkejut.


"Tante kenal mama saya?"kata perempuan itu.


"Ya kenallah kami teman waktu sekolah dulu, tapi kok aku gak pernah liat kamu ya?"kata bunda Airin.


"Kamu 'kan tau kalau anak perempuan Intan itu gak pernah dipublis ke publik. Mungkin dia juga malu saat ketemu kamu jadi gak mau keluar dari kamarnya."kata teman bunda Airin.


"Bun, kita cari makan yuk aku lapar banget ini?"kata Lydia.


"Ya sudah kita makan, jeng mau makan bareng kami?"kata bunda Airin.


"Boleh, aku mau tau memangnya kalian itu mau makan dimana?"kata teman bunda Airin membuat bunda Airin tersenyum.


Lydia diam-diam mengirim pesan pada Dayat untuk memesan tempat ditempat makan yang termahal dimall itu. Dayat sendiri langsung saja memesan tempat lalu memberitau pada Lydia. Mereka naik lift lalu Lydia menekan no lift yang paling atas sendiri membuat teman bunda Airin terkejut.


"Memangnya kita mau makan dimana?"kata teman bunda Airin.


"Nanti kamu akan tau dimana kita akan makan."kata Lydia dingin.


"Dia siapa sih Rin, kok sok banget jadi perempuan pasti dia asistenmu?"kata teman bunda Airin.


"Dia menantuku istri dari putraku yang bungsu."kata bunda Airin.


"Oalah jadi menantu kamu saja sudah sombong bukan main aku yakin kalau dia dari karangan dibawah kita."kata teman bunda Airin.


Bunda Airin mau menjawab perkataan temannya itu tapi tangannya dipegang oleh Lydia. Lydia mengelengkan kepalanya agar bundanya tak mengatakan siapa dirinya pada temannya itu. Lift terbuka lalu Lydia mengajak kedua perempuan yang sombong itu untuk keresto yang paling mahal dan kalau tidak memesan terlebih dahulu akan susah mendapat tempat.


"Selamat datang kalau saya boleh tau atas nama siapa?"kata pelayan.


"Atas nama bunda Airin."kata Lydia.


"Oh mari saya antar."kata pelayan itu.


Mereka semua mengikuti pelayan itu menuju ruang makan yang sudah dipesan oleh Dayat atas nama bunda Airin.

__ADS_1


"Mari silahkan masuk."kata Pelayan sambil membukakan pintu ruangan itu.


Pelayan itu mendekati mereka berempat saat mereka sudah duduk dikursi masing-masing.


"Kalian mau pesan sekarang atau nanti?"kata pelayan.


"Kami mau pesan makanan favorit disini dan juga minuman favoritnya sekalian ya."kata Lydia.


"Semuanya nyonya?"kata pelayan itu sambil tersenyum.


"Iya semuanya."kata Lydia.


"Baiklah, kalau begitu apa ada lagi yang mau dipesan?"kata pelayan.


"Kalian mau apa?"kata Lydia.


"Kami itu saja nanti gak habiskan sayang."kata teman bunda Airin sedangkan bunda Airin tersenyum.


Bunda Airin tau jika temannya itu pasti berpikir kenapa mereka bisa makan ditempat seperti ini hanya buang-buang uang saja.


"Baiklah kalau begiu silahkan tunggu sebentar."kata pelayan.


Pelayan itu meninggalkan ruangan mereka sedangkan perempuan yang dibilang menantunya teman bunda Airin itu malah berfoto ria membuat Lydia tersenyum. Sedangkan temannya bunda Airin itu malu dengan tingkah menantunya seperti tak pernah datang ketempat seperti ini padahal dia anak seorang tuan Emirat.


"Kamu yakin makan ditempat semahal ini?"kata teman bunda Airin.


"Tapi ini mahal banget sayang kalau buang-buang uang."kata teman bunda Airin.


"Masak mahal sih tan bukannya tante tadi bilang kalau calon mantunya putri tunggal keluarga Emirat pasti biasa dong dengan makanan seperti ini. Iyakan mbak?"kata Lydia bertanya pada perempuan disebelahnya yang asik berfoto-foto.


"Eh iya aku terbiasa dengan makanan disini."kata perempuan itu.


"Kalau begitu mbak bisa bayar dong semua makanan yang kita pesan?"kata Lydia mencoba melihat ekspresi perempuan itu terlihat terkejut sekali.


"Kok saya mbak, bukannya tadi mbak yang mengajak datang kesini jadi harusnya mbak dong yang bayar?"kata perempuan itu berharap kalau Lydia akan membayar makanan itu karena tabungannya sudah terkuras habis gara-gara calon mertuanya yang matre padahal uang tabungannya itu memang dia kumpulkan untuk acara pernikahannya.


"Oh iya aku yang mengajak ya tadi, tenang saja aku yang bayar kok mbak tenang saja."kata Lydia sambil tersenyum.


Saat perempuan itu tak jadi berbicara karena pelayan yang mengantar makanan pesanan mereka datang. Pelayan itu meletakan semua makanan itu setelah meletakkan semua makanan itu mereka pergi dari ruangan itu.


"Ayo makan."kata bunda Airin.


Teman bunda Airin memandang dengan penuh selera semua makanan yang diatas meja, Lydia yang melihatnya tersenyum saat melihat teman bunda Airin seperti belum pernah makan semua makanan yang ada disana. Lydia geleng kepala setelah itu mengambil makanan kesukaannya. Lydia baru saja mengambil satu sendok makanan itu tapi teman bunda Airin langsung mengambil piring makanan kesukaan Lydia. Raut wajah Lydia menjadi kesal membuat perempuan muda yang satunya lagi gak enak sama Lydia.

__ADS_1


"Maaf ya..."kata perempuan itu gak enak hati.


"Gak papa, kamu yakin mau menikah dengan putranya?"kata Lydia membuat teman bunda Airin itu memandang kearah Lydia.


"Apa maksutmu?"kata teman bunda Airin sambil mengunyah makanan yang ada didalam mulut.


"Kalau bicara itu makananya ditelan dulu nanti keselek bagaimana?"kata bunda Airin.


"Menantu kamu itu gak bisa menjaga ucapannya."kata teman bunda Airin.


"Memangnya salahnya saya dimana ya tan? Sayakan hanya bertanya sama mbaknya dan mbaknya juga belum menjawab?"kata Lydia.


"Tapi pertanyaan kamu itu sama saja melarang dia menjadi menantuku."kata teman bunda Airin.


"Lah, kalau saya jadi mbaknya memang gak akan mau jadi menantu orang yang sok kaya tapi nyatanya gak kaya-kaya amat."kata Lydia.


"Eh jaga mulutmu, untung saja kamu menantunya Airin kalau gak sudah aku...."kata teman bunda Airin gak jadi meneruskan perkataannya karena Ryan masuk kedalam ruangan itu.


"Maaf kalau saya menganggu acara kalian."kata Ryan.


"Kamu kamu tau kami disini?'kata bunda Airin.


"Taulah bun, orang istriku yang bilang."kata Ryan membuat Lydia mengerutkan keningnya.


"Aku gak merasa tu, aku tadikan hanya minta kak Dayat untuk memesan tempat bukannya kirim pesan sama kamu kak?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Kamu kayak gak tau Dayat saja Ly."kata bunda Airin tersenyum.


"Walah tau gitu aku gak usah pesan atas nama bunda tapi nama kamu saja kak, biar nanti billnya kamu yang bayar."kata Lydia tersenyum.


"Kamu ini aku atau kamu yang bayarkan sama saja sayang."kata Ryan.


"Bedalah, kalau aku yang bayar uang jajanku kurang kalau kamu yang bayarkan uang jajanku utuh iya gak bun?"kata Lydia meminta dukungan bunda Airin.


"Ya sudah kalau gitu biar aku yang bayar, tapi aku mau pesan makanan untukku sendiri dulu."kata Ryan.


"Tuan gak usah, makan ini saja masih banyak sayang kalau gak habis."kata perempuan tadi sambil tersenyum.


Ryan memandang perempuan yang berbicara itu sambil mengingat-ingat kayaknya dia pernah bertemu dengan perempuan disebelah istrinya ini.


"Kayaknya kita pernah bertemu tapi dimana ya?"kata Ryan.


"Aku kerja diperusahaan Emirat."kata perempuan itu.

__ADS_1


"Maaf ya aku gak ingat, kamu kan tau banyak karyawan disana aku gak mungkin ingat satu-satu."kata Ryan.


"Gak papa kok tuan, saya baru kerja diperusahaan itu makanya tuan gak kenal saya."kata perempuan itu.


__ADS_2