Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Rayyan mencari Lydia


__ADS_3

Keesokan harinya Rayyan benar-benar gak tenang mau ngapa-ngapain, kedua sahabatnya yang melihat jika sejak tadi Rayyan Gelisah langsung saja menghampiri sahabatnya itu. Mereka berdua tau jika sekarang Rayyan pikirannya sedang kacau saat tau jika orang yang dia sukai ternyata tak bersalah dan Rayyan sudah mengatainya.


"Yan, kamu kenapa?"tanya Panji.


"Aku gak tu harus bagaimana lagi."kata Rayyan.


"Bagimana apa maksutnya?"tanya Bagas.


"Aku minta maaf sama Lydia."kata Rayyan.


"Kalau untuk minta maaf aku yakin dia akan memaafkanmu tapi kalau untuk balikan lagi aku gak tau."kata Bagas.


"Apalagi saat mendengar ceritamu kemarin, aku yang laki-laki aja gak terima apalagi Lydia."kata Panji yang tau jika Rayyan memang sudah keterlaluan.


"Aku harus bagimana?"kata Rayyan.


"Seenggaknya walaupun kamu sama dia gak bersama lagi yang terpenting kalian berdua masih bisa jadi teman. Lagian aku yakin walau kalian balikan lagi mama kamu pasti akan cari cara buat misahin kalian berdua."kata Bagas.


"Kamu kok bisa ngomong kayak gitu sih?"kata Rayyan yang gak mengerti dengan pemikiran Bagas.


"Gini deh Yan, coba kamu ingat saat mama kamu tau tentang Lydia bagaimana sikapnya? Apa yang dilakukan oleh mama kamu terhadap Lydia."kata Bagas mengingatkan Rayyan kejadian saat berada dirumahnya kemarin.


"Aku tau, tapi aku akan yakinin mamaku agar dia bisa menerima Lydia."kata Rayyan.


"Sekarang gini saja deh Yan, kamu minta maaf dulu sama Lydia kalau dia sudah maafkan kamu baru kamu bujuk mama kamu untuk menerima Lydia."kata Bagas.


"Bagas benar Yan, sekarang yang terpenting kamu minta maaf dulu sama Lydia baru setelah itu kamu memikirkan yang lainnya karena memaafkan itu mudah tapi buat kembali bersama setelah kamu menyakitinya itu akan sangat susah."kata Panji.


"Sudah sekarang kita fokus kerja dulu nanti aku bantuin meminta maaf sama Lydia."kata Bagas.


Mereka betiga langsung saja pergi ke tempat kerja masing-masing, Panji dan Rayyan satu ruangan beda dengan Bagas yang terpisah. Sedangkan dikampus Lydia dan teman-temannya disibukkan dengan tugas-tugas menjelang akhir semester.


"Huft serasa mau pecah kepalaku."kata Rani.


"Benar, kalian berdua itu kok nyantai banget sih?"kata Roni.


"Mereka berdua mah, otaknya encer gak kayak kita yang harus bekerja keras dulu."kata Jono yang mendekati mereka berempat.


"Kamu bisa saja, orang kita juga belajar kayak kalian."kata Lydia.

__ADS_1


"Iya kalian saja yang berlebihan."kata Sandra.


"Kayaknya kapan-kapan kita harus belajar kelompok deh, biar kita bertiga otaknya paling tidak ada dibawah kalian bukannya jauh dibawah kalian."kata Roni yang disetujui oleh Jono dan Rani.


"Kalau soal belajar kelompok mah gampang, kalian atur saja waktunya."kata Sandra.


"Kalian berduakan harus kerja, mana berani kami menganggu daripada nanti kalian dipecat sekarang susah tau cari pekerjaan yang boleh sambil kuliah"kata Rani.


"Kalau aku hari jumat libur."kata Lydia.


"Aku kapan saja bisa minta izin."kata Sandra.


"Baiklah nanti hari jumat saja kita belajar kelompoknya tapi saat ada materi yang tak dimengerti bagaimana?"kata Roni.


"Kami ikut kalian saja tapi bilangnya jangan dadakan ya, takutnya aku gak bisa ambil cuti."kata Sandra.


"Tenang saja gak setiap hari jumat kok."kata Jono.


"Ya sudah ayo ke kantin dulu, setelah itu aku mau langsung ke tempat kerja."kata Lydia.


Mereka berlima langsung saja pergi ke kantin lalu memesan makan, setelah makanan mereka habis Lydia dan Sandra pamit untuk pergi ke tempat kerja. Beda lagi dengan Rayyan yang minta izin untuk pulang lebih awal. Dia ingin bertemu dengan Lydia untuk meminta maaf. Rayyan sudah tak bisa menahan rasa bersalahnya pada Lydia takutnya kalau ditunda lagi dia tidak fokus bekerja dan takutnya dia juga salah melakukan pekerjaannya karena pekerjaan yang dia tekuni menyangkut nyawa orang.


"Jam segini pasti dia ada ditoko, aku langsung kesana saja."kata Rayyan.


"Ya sudah kalau kayak gitu, aku doain supaya kamu berhasil."kata Panji.


"Doain ya."kata Rayyan.


Rayyan langgsung pergi ke toko tempat Lydia bekerja, dia berharap kalau Lydia berada disana jadi dia tak akan bingung mencarinya. Sampai ditoserba Rayyan langsung saja memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobil. Saat dia keluar dari mobilnya Ita melihat dan langsung memberitau Lydia.


"Ly tu liat ada Rayyan?"kata Ita memberitau Lydia.


"Biarkan saja."kata Lydia sambil tetap fokus melayani pembeli yang mau membayar.


Rayyan sendiri tak langsung meghampiri Lydia saat melihat ada banyak pembeli yang sedang anteri untuk membayar. Rayyan memilih untuk mencari sesuatu untuk dibeli daripada dia hanya berdiri menunggu Lydia.


"Apa ada lagi yang mau dibeli kak?"tanya Lydia saat Rayyan membayar barang belanjaannya.


"Sudah itu saja, Ly apa aku biisa berbicara denganmu sebentar?"kata Rayyan memberanikan diri untuk bertanya pada Lydia.

__ADS_1


"Maaf kak, apa anda tak melihat kalau saya sedang sibuk."kata Lydia.


"Baiklah kalau begitu nanti aku akan datang lagi saat kamu pulang kerja."kata Rayyan.


"Ini semua jadi 35ribu ya kak."kata Lydia tak menjawab pertanyaan dari Rayyan.


"Ini uangnya 50ribu ya kak, jadi kembaliannya 15ribu. Ini resi dan uang kembaliannya kak."kata Lydia menyerahkan kembalian ke Rayyan.


Lydia menghera nafasnya setelah Rayyan pergi dari sana, Ita yang melihat hanya mengelengkan kepalanya. DIa tau jika Lydia sebenarnya masih menyimpan perasaan suka pada Rayyan, pasti sulit untuk melupakan Rayyan tapi kalau mengingat perbuatan Rayyan pada Lydia, Ita pun juga tak terima. Dia sendiri saja sakit hati apalagi Lydia yang mengalaminya sendiri.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"kata Ita.


Mereka berdua bisa berbicara karena sekarang toko sedang sepi, sehingga mereka berdua ada waktu untuk berbicara. Lydia yang ditanya begitu oleh Ita juga bingung apa yang akan dia lakukan tapi sebenarnya hatinya masih terikat dengan Rayyan. Lydia takut jika berhubungan kembali dengan Rayyan maka dia akan merasakan sakit lagi seperti kemarin walaupun dia tak melakukan perbuatan itu tapi tuduhan Rayyan membuat Lydia patah hati apalagi Rayyan memutuskan sesuatu tanpa mencari tau terlebih dahulu. Sifat itulah yang membuat Lydia yakin untuk melepas Rayyan.


"Ly kok kamu diam aja sih?"kata Ita mengulangi pertanyaannya karena Lydia bukannya menjawab pertanyaannya tapi malah melamun.


"Aku mungkin bisa memaafkan kak Rayyan tapi untuk kembali bersamanya aku gak bisa."kata Lydia.


"Kamu gak boleh memaafkan kak Rayyan begitu saja."kata Ita.


"Maksut kamu gimana Ta?"kata Lydia yang tak mengerti dengan perkataan Ita.


"Kamu harus kasih pelajaran dulu pada kak Rayyan enak saja kamu memaafkannya begitu saja."kata Ita yang membuat Lydia tersenyum karena perkataan Ita itu benar adanya. Lydia tau jika Ita pasti masih gak terima dengan perlakuan Rayyan padanya.


"Baiklah kalau begitu nanti pulang kerja aku minta tolong sama kamu?"kata Lydia.


"Kamu minta tolong apa?"kata Ita.


"Aku akan keluar dari pintu samping, kamu gak papakan nutup toko sendiri?"kata Lydia.


"Lalu bagaimana kamu pergi pasti dia melihat kamu jalan?"kata Ita.


"Aku minta tolong sama Jono saja, untuk sementara waktu aku akan tinggal dirumah tanteku kalau gak gitu aku menginap dirumah Rani. Gak papakan?"kata Lydia.


"Siap, sekarang kamu tanya Jono apa dia bisa menjemput kamu, kalau gak bisa kamu minta tolong saja sama kak Aziz."kata Ita.


"Baiklah kalau begitu, makasih ide kamu cemerlang."kata Lydia.


Mereka menghentikan pembicaraan saat ada pembeli yang mau membayar barang belanjaannya. Lydia pun masih sempat-sempatnya berkirim pesan dengan Jono. Tapi pria itu tak bisa menjemputnya sehingga dia mengirim pesan ke Aziz tapi belum mendapat balasan.

__ADS_1


__ADS_2