
"Wah mama memang hebat."kata Lydia sambil menunjukan dua jempolnya.
"Kamu itu sudah sana ke bawah kasih tau bi Nah kalau malam ini akan ada tamu."kata mama Intan.
"Iya ma, aku ke bawah bentar."kata Lydia yang langsung pergi ke bawah untuk mencari bi Nah.
"Apa mama yakin dengan masalah ini bisa selesai?"kata papa Irwan.
"Aku tau kamu pasti gak enak sama Sahrulkan? Tapi apa kamu rela jika putri kamu disalahkan padahal itu bukan dia?"kata mama Intan.
"Aku tau ma, tapi aku benar gak enak sama Sahrul."kata papa Irwan jujur masih takut jika persahabatannya akan hancur hanya gara-gara ini.
"Pa, aku mau tanya sama papa."kata Lydia yang baru datang dari bawah.
"Kamu tanya apa sayang?"kata papa Irwan sambil mengelus rambut sayang.
"Kenapa papa sangat menjaga om Sahrul?"kata Lydia.
"Karena dia yang menemani papa disaat papa susah."kata papa Irwan.
"Apa papa yakin jika om Sahrul juga terima persahabatan yang kalian jalin begitu lama hancur hanya gara-gara sifat putri dan istrinya?"kata Lydia membuat papa Irwan terdiam.
"Aku liat selama ini om Sahrul hanya diam tapi aku yakin dia juga sudah gak tau lagi mau nasehati putri dan istrinya bagaimana."kata Lydia.
"Benar apa kata Lydia, mungkin dengan cara begini kamu bisa menjaga persahabatan kalian."kata mama Intan.
"Baiklah aku ikut apa kata kalian."kata papa Irwan.
Malam harinya mereka bertiga datang, Sahrul terlihat sekali kalau wajahnya tidak senang. Tapi mama Intan berusaha untuk tetap tersenyum sedangkan Tina dan Rima berbicara banyak hal dan sambil tersenyum karena mereka yakin setelah acara makan malam ini semua yang diambil oleh Sahrul akan dikembalikan.
"Irwan mana Tan?"kata Sahrul.
"Aku gak tau sejak tadi siang dia gak pulang."kata mama Intan berbohong.
"Sabar ya tan, lagian Lydia itu memang gak tau diri banget mau-maunya dia mendekati om Irwan. Dia juga bilang kalau gak takut jika bertemu sama tante. Dia juga mengancamku, dia bilang dia mau lihat siapa yang akan dipecat dari perusahaan."kata Rima mengaduh.
"Maksut kamu dia mengancam akan memecat papa kamu?"kata mama Intan.
"Iya tan."kata Rima.
"Berani sekali gadis itu mengancam kamu kalau sampai aku bertemu sama dia biar aku kasih pelajaran."kata mama Intan yang pura-pura kesal.
__ADS_1
Papa Irwan yang baru saja datang langsung saja menghampiri mereka. Papa Gibran langsung saja duduk disebelah Sahrul tapi saat dia baru saja duduk Rima sudah nyeletuk duluan yang membuat Sahrul langsung memandang kearah putrinya dan merasa bersalah pada Irwan.
"Darimana om, oh aku tau bertemu dengan selingkuhan kamu ya?"kata Rima.
"Jaga ucapan kamu Rim, maafkan putriku."kata Sahrul.
"Sudah gak papa kok. Kalian sudah lama disini?"kata papa Irwan.
"Kami baru saja datang."kata Sahrul.
Saat mereka sedang berbicara bi Nah datang untuk memberitaukan jika makan malam sudah siapa.
"Maaf nya, makan malam sudah siap, mau makan sekarang atau nanti?"kata mama Intan.
"Kalian sudah lapar belum?"kata mama Intan bertanya pada yang lainnya.
"Sudah tante aku sudah lapar banget bagaimana kalau kita makan sekarang."kata Rima.
"Ya sudah bi kalau kayak gitu panggil keponakanku turun, bilang kita makan sama-sama."kata mama Intan yang sudah cerita tentang apa rencana mereka.
"Kamu punya keponakan tan?"kata Rima kaget.
"Iya putri dari kakakku yang ada dijogja kebetulan dia kuliah disini tapi dia baru bisa kesini."kata mama Intan.
"Dia kuliah ditempat kamu, kita juga bertemu dengannya waktu mengantar mama kamu ke kampus kemarin."kata mama Intan.
"Yang benar tan?"kata Rima tak percaya.
"Iya, sudah sana bi panggil dia, kasian mereka pasti sudah lapar."kata mama Intan.
"Ya sudah ayo kita ke meja makan."kata papa Irwan.
Mereka berjalan ke meja makan tanpa ada curiga sama sekali, papa Irwan tetap bicara sama Sahrul seperti biasa dengan mama Intan pun hanya bicara seperlunya saja.
Tok tok tok
"Ada apa bi?"kata Lydia sambil membuka pintu kamarnya.
"Itu non, nyonya suruh turun buat makan malam."kata bi Nah.
"Apa mereka semua sudah datang bi?"kata Lydia
__ADS_1
"Sudah non, non bibi hari ini dapat tontonan gratis."kata bi Nah membuat Lydia tertawa.
"Bibi mah ada-ada saja."kata Lydia.
Mereka berdua turun ke bawah bersama-sama, saat dia sampai bawah Lydia langsung saja menyapa semuanya yang ada disana membuat Rima dan Tina yang awalnya tersenyum menjadi diam seribu bahasa sambil memandang kearah Lydia.
"Tan, kenapa pelakor ini ada disini?"kata Tina.
"Siapa pelakor Tin? Sini sayang duduk dekat tante."kata mama Intan.
"Makasih tan."kata Lydia.
"Kamu mau makan apa? Oh ya ini keponakan aku yang dari jogja itu."kata mama Intan.
"Kenapa kamu gak bilang kalau dia keponakan kamu saat kita bertemu dikampus kemarin?"kata Tina.
"Aku mau bilang tapi dia yang memberi kode sama aku untuk diam."kata mama Intan membuat Tina diam sedangkan Rima juga terdiam tak berani melihat kearah mereka berdua.
"Om nanti anterin aku pulang ke kosan ya."kata Lydia.
"Kamu gak menginap saja, masak kami terus yang datang ke kosan atau tempat kerja kamu."kata papa Irwan sedangkan Lydia hanya tersenyum.
"Iya kamu itu padahal tante sudah bilang sama kamu untuk tinggal disini."kata mama Intan.
"Aku mau mandiri tan, kalau gak sekarang belajar kapan lagi."kata Lydia.
"Biar saja ma, asal dia tau mana yang baik dan mana yang gak."kata papa Irwan.
"Papa tu kalau makan jangan sambil bicara nanti tersedak gimana?"kata mama Intan belum selesai mama Intan berbicara dia sudah tersedak.
"Tu mama bilang juga apa."kata mama Intan sambil menyerahkan air pada suaminya.
"Om, om gak papa?"kata Rima yang pura-pura perhatian.
"Aku gak papa kok."kata papa Irwan dingin membuat Sahrul terdiam.
Sahrul tau jika sahabatnya ini malah besar karena dia sudah dituduh macam-macam oleh putrinya. Apalagi putrinya itu sudah tau salah bukannya minta maaf tapi malah diam saja.
"Wan, aku mau berbicara padamu."kata Sahrul.
"Mau berbicara apa?"kata papa Irwan.
__ADS_1
"Sudah nanti saja bicaranya sekarang kita makan malam dulu, setelah itu kita bicara diruang tengah lebih nyantai."kata mama Intan.
"Iya benar apa kata Intan, kita bicara habis makan saja dulu."kata papa Irwan.