
"Yang lain kemana?"kata Lydia yang tak melihat ketiga teman lainnya.
"Mungkin belum datang."kata Sandra.
"Ly, ada yang deg degan tau gak hari ini?"kata Ita sambil mengkode dengan matanya.
"Siapa?"kata Lydia yang pura-pura gak tau.
"Ta, gak sah mulai deh."kata Sandra.
"Mulai kenapa memang benarkan, tadi kau saja bilang bagaimana penampilan kak Dion saat dia berpakaian formal."kata Ita membuat Lydia tersenyum.
Saat Lydia sedang membantu Ita untuk menggoda Sandra, Lydia tanpa sengaja melihat Ryan berjalan dengan Dion. Mereka berdua berjalan menghampiri mereka bertiga, Lydia langsung saja memberi kode pada Ita. Ita yang melihat kode Lydia langsung saja menghadap ke belakang ternyata Dion dengan seorang pria berjalan kearah mereka.
"Tu yang dibicarain datang."kata Ita membuat Sandra langsung terdiam dan tertunduk membuat kedua temannya tersenyum.
"Maaf aku gak telat kan?"kata Dion saat sudah berada didepan ketiga perempuan itu. Ryan awalnya terkejut tapi dia berusaha untuk menetralkan keterkejutannya saat melihat Lydia. Seandainya dia tau jika ini adalah pesta Lydia pasti dia akan membawakan hadiah buatnya.
"Gak kok kak, lagian kak Aziz belum datang, ini siapa kak?"kata Lydia pura-pura gak kenal.
"Dia Ryan pem...."kata Dion gak jadi meneruskan kalimatnya karena Ryan memotong pembicaraan sahabatnya itu.
"Aku Ryan asisten sekaligus temannya Hendru. Aku kesini mewakili Hendru untuk memberikan ini padamu."kata Ryan berbicara panjang membuat Dion heran karena temannya ini tak biasa berbicara banyak.
"Aku Lydia, makasih sudah datang."kata Lydia.
"Kayaknya aku pernah liat kamu deh?"kata Sandra.
"Ah masak dimana ya?"kata Ryan.
"Ya iyalah kamu sering ketemu San, orang dia sering datang ke cafe sama Hendru kalau dia libur kuliah."kata Dion.
"Ah iya, kalau gak salah kakak yang bantuin aku waktu diganggu orang dulu."kata Sandra tapi bukannya dia dulu dikenal sebagai tuan muda kenapa sekarang dia bilang asistennya kak Hendru apa mungkin dia mau menutup identitasnya.
"Kamu pernah kerja dicafe Dion?"kata Ryan.
"Iya kak, aku pernah kerja disana."kata Sandra.
"Ohhhh, kalau kayak gitu aku kesana dulu."kata Ryan berpamitan karena dia melihat ada orangtua dan kedua kakaknya dia tak ingin bertemu dengan mereka disini.
"Kamu ngapain disana temani aku bentar napa?"kata Dion.
"Ada bahaya yang mengancamku."kata Ryan sambil memberi kode kalau disana ada orangtua dan kedua kakaknya. Dion yang mengerti dengan kode itu langsung saja melihat kearah yang ditunjuk oleh Ryan.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku ikut kamu saja, aku tinggal kesana dulu kalau kalian mau cari kami. Nanti kami disana ya."kata Dion menunjuk sebuah gasebo.
"Ambil makanan sama minuman kak, nanti kalau kami kesana bawa minuman saja."kata Lydia
"Siap apapun buatmu malam ini."kata Dion.
Ryan dan Dion langsung berjalan pergi darisana untuk mengambil makanan dan minuman untuknya sendiri setelah itu mereka berdua pergi ke gasebo yang mereka tunjuk tadi. Saat mereka berdua pergi orangtua Lydia datang dengan orangtua Ryan dan juga kedua kakaknya.
"Ly, kenalin ini om Dany, tante Airin dan juga kedua anaknya."kata papa Irwan.
Lydia berkenal dengan keluarga Ryan, mereka terlihat baik. Mama Intan juga melihat jika Anton tertarik pada putrinya membuat mama Intan tersenyum. Dia akan berusaha untuk mendekatkan Lydia dengan Anton. Sedangkan Lydia sendiri yang dipandang Anton merasa risih.
"Pa, ma semuanya maaf aku sama teman-teman mau menemui teman-temanku yang lain."kata Lydia.
"Kamu ajak Anton sama nak Sinta Ly!"kata mama Intan.
"Gak usah tan, kami gak enak nanti ganggu."kata Sinta yang tau jika Lydia risih dengan kakaknya.
"Gak papa 'kan biar nambah teman nanti."kata mama Intan yang tetap memaksa.
"Ma... Maaf ya istri saya ini memang kayak gini orangnya."kata papa Irwan.
"Gak papa kok om, kami mau kesana saja."kata Anton.
__ADS_1
Anton sebenarnya mau ikut tapi dia tahan saat melihat Lydia yang tak suka dengannya. Tapi dia senang karena mamanya Lydia suka dengannya itu bisa menjadi batu loncatan untuknya agar bisa mendapatkan lydia.
"Kamu kenapa sih Ly, nak Anton itu kelihatannya suka sama kamu?"kata mama Intan setelah mereka pergi sedangkan papa Irwan hanya menghera nafas.
"Aku sudah punya orang lain yang aku suka ma."kata Lydia.
"Siapa kalau dia ada disini panggil dia kesini?"kata mama Intan.
"Ma, aku suka sama dia tapi aku gak tau dia suka sama aku apa gak? Lagian kami baru kenal."kata Lydia berbohong.
"Panggil dia Ly, kalau kamu gak panggil dia mama akan jodohin kamu sama nak Anton."kata mama Intan mengancam.
"Baiklah tunggu sebentar ma."kata lydia yang langsung pergi dari sana menuju tempat Ryan dan Dion duduk membuat Sandra takut jika orang yang disukai Lydia adalah Dion. Lydia sendiri takut jika Ryan tak mau membantunya.
"Kak, maaf kalau aku ganggu."kata Lydia saat sudah berada didekat Ryan dan Dion.
"Ada apa duduk jangan berdiri kayak gitu gak enak diliat?"kata Dion.
"Iya, kak Ryan aku bisa minta tolong sama kamu gak?"kata Lydia takut-takut.
"Kamu mau minta tolong apa kalau aku bisa bantu aku akan bantu?"kata Ryan.
"Kakak mau gak aku kenalin sama orangtuaku?"kata Lydia.
"Maksutnya kenalin bagaimana?"kata Ryan tersenyum samar.
"Aku gak mau dijodohkan sama anak om Dany yang bernama Anton itu, kak bantuin aku ya?"kata Lydia.
"Kamu yakin mau minta bantuan Ryan?"kata Dion takut jika nanti Lydia menyesal jika mamanya saja mau menjodohkannya dengan Anton tapi saat tau jika Ryan adalah anak mereka juga pasti tente Intan dengan senang hati menerima Ryan.
"Gak aku gak akan menyesal."kata Lydia.
"Kamu yakin?"kali ini Ryan yang bertanya pada Lydia.
"Aku yakin kak, kenapa kalian berdua bertanya begitu padaku?"kata Lydia kesal.
"Aku gak akan menyesal kak, kak please aku gak tau lagi mau minta tolong sama siapa lagi."kata Lydia.
"Kenapa kamu gak mau minta tolong pada Dion tapi malah padaku yang baru saja kamu kenal?"kata Ryan.
"Aku gak mungkin minta tolong sama kak Dion karena akan ada yang tersakiti nanti."kata Lydia.
"Siapa yang akan kamu sakiti?"kata Ryan.
"Adalah nanti kak Ryan akan tau sendiri."kata Lydia.
"Kamu ini suka sekali main rahasia-rahasiaan."kata Dion.
"Ayolah kak gak usah bahas kak Dion lagi, kak Ryan mau ya tu liat orangtuaku daritadi liatin terus."kata Lydia.
"Baiklah, asal kamu gak menyesal saja."kata Ryan.
"Aku gak akan menyesal kalau kayak gitu ayo kita kesana sekarang."ajak Lydia.
"Kalian kesana saja aku tunggu disini."kata Dion.
"Kamu gak mau ikut?"kata Ryan.
"Itu urusanmu dan keluarga Lydia."kata Dion.
"Ya sudah aku gak akan lama kok."kata Ryan.
Mereka berdua langsung saja berjalan menghampiri kedua orangtua Lydia. Mama Intan yang melihat Ryan langsung saja tersenyum karena Ryan lebih tampan dari Rayyan dia akan mengenalkan Ryan pada keluarga Sahrul dan besannya.
"Aku bisa pamer pa."kata mama Intan membuat papa Irwan menghera nafasnya.
"Jadi mama ngancam Lydia tadi hanya untuk pamer sama mereka?"kata papa Irwan.
__ADS_1
"Iya mama mau nunjukin sama mereka kalau Lydia bisa dapat lebih dari Rayyan itu."kata mama Intan yang mebuat Sandra dan Ita tersenyum.
"Kalian kenapa tersenyum?"kata mama Intan.
"Gak papa kok tan, kami setuju dengan perkataan tante."kata Sandra.
"Iya tan sekali-sekali mereka diberi pelajaran."kata Ita.
"Tu dengar pa."kata mama Intan yang senang karena kedua teman putrinya itu mendukungnya.
Mereka berhenti berbicara saat Ryan dan Lydia sudah dekat dengan mereka. Papa Irwan merasa familiar dengan Ryan tapi dimana dia pernah bertemu papa Irwan lupa.
"Ma, pa kenalin ini kak Ryan."kata Lydia.
"Kenalin aku mamanya Lydia, tante Intan dan ini om Irwan."kata mama Intan.
"Saya Ryan tante, om."kata Ryan.
"Kayaknya kita pernah bertemu tapi dimana om lupa?"kata papa Irwan.
"Kita pernah bertemu diperusahaan Hendru om, aku asistennya Hendru."kata Ryan.
"Ah iya pantas saja aku merasa familiar, kamu bagaimana kerja diperusahaan Hendru betah gak? Apalagi sekarang Hendru kerja jadi dosen juga."kata papa Irwa.
"Ya lumayanlah om namanya kerja pasti ada suka dukanya itu wajar."kata Ryan.
"Kalau kamu gak betah tinggal disana kamu bisa pindah ke perusahaan kami."kata mama Intan
"Makasih tante, tapi aku sudah terlanjur kerja disana jadi aku terpaksa menolak saran dari tante karena aku harus tanggungjawab dengan pilihanku."kata Ryan.
"Iya kamu benar, om bangga sama kamu."kata papa Irwan.
"Tapi nanti kalau kamu jadi menantu kami, kamu harus kerja diperusahaan kami."kata mama Intan.
"Ma, mama ngomong apasih. Aku sama kak Ryan hanya dekat saja."kata Lydia yang gak enak hati dengan Ryan.
"Teman sekarang siapa tau nanti jadi kekasih? Kami setuju kok kalau kalian mempunyai hubungan, iya gak pa?"kata mama Intan meminta papa Irwan untuk membantunya.
"Iya, om juga setuju kalau kamu yang jadi menantu kami Yan."kata papa Irwan.
"Au juga setuju."kata Ita.
"Aku juga."kata Sandra.
"Kalian berdua apa-apaan sih, maaf ya kak."kata Lydia.
"Aku sudah bilang sama kamu kan tadi tapi kamu bilang gak akan menyesal."kata Ryan berbisik pada Lydia membuat gadis itu tertegun ternyata ini yang diamaksut oleh kedua pria itu tadi.
"Kalian bisik-bisik apa hayo?"kata mama Intan.
"Gak ada tan, saya hanya mau kembali kesana kasian Dion sendirian."kata Ryan.
"Nanti dulu kamu ikut kami saja Yan, kalau masalah Dion biar Sandra sama Ita yang menemani."kata mama Intan.
"Iya, kalau kayak gitu kami pergi kesana dulu. Ayo Ta."kata Sandra mengajak Ita menemui Dion.
Setelah kepergian Sandra dan Ita mama Intan langsung mengajak Ryan menemui teman-temannya yang diikuti oleh suami dan anaknya. Lydia gak enak dengan Ryan karena mamanya bilang kalau Ryan adalah kekasihnya membuat ibu-ibu disana terlihat kecewa karena mereka sebenarnya ingin menjadikan Ryan menantunya.
"Jeng Airin kenalin ini kekasih putriku namanya Ryan."kata mama Intan saat berada didekat orangtua Ryan.
"Benar apa yang dikatakan tante Intan, Yan?"kata bunda Airin.
"Loh jeng kamu kenal sama Ryan?"kata mama Intan.
"Iya, kami kenal tan, anaknya mereka teman saya waktu sekolah dulu."kata Ryan membuat bunda Airin langsung menghera nafasnya karena putranya tak mau mengaku sebagai putra mereka. Sejak dulu Anton berubah dulu Ryan tak pernah mau diakui sebagai putranya.
"Ealah aku pikir kalian ada hubungan saudara."kata mama Intan.
__ADS_1