
Ryan dan Dayat yang melihat Lydia malah berjalan ke gang kecil saling pandang, tapi saat Ryan mau menyusul Lydia sudah berjalan menghampiri mereka berdua sambil tersenyum. Ryan yang ingin tau apa yang dilakukan oleh Lydia menarik tangan Lydia saat dia sudah dekat sehingga Lydia menabrak dada bidangnya.
"Darimana?"kata Ryan.
"Ambil kunci rumah dirumah bibi."kata Lydia.
"Kok gak bilang, biar aku sekalian kenalan sama keluarga bibi?"kata Ryan.
"Besok saja, kak Dayat bawa mobil masukin ke dalam ya biar aku buka gerbangnya."kata Lydia.
"Biar aku saja yang buka mana kuncinya."kata Ryan meminta kunci pada Lydia.
Lydia memberi kunci rumah pada Ryan, Ryan menerima kunci itu lalu membuka pintu gerbang dan membuka agar mobil yang dinaiki Dayat bisa masuk. Ryan menutup pintu setelah mobil masuk Ryan menutup kembali pintu gerbang tapi tidak mengemboknya supaya pembantu bisa masuk ke dalam. Ryan menyerahkan kunci rumah ke Lydia, agar istrinya itu bisa masuk terlebih dahulu kedalam rumah. Lydia masuk ke dalam rumah sedangkan Ryan membantu Dayat untuk mengeluarkan koper mereka yang berada didalam bagasi mobil. Mereka berdua berjalan beriringan untuk masuk ke dalam rumah.
"Tuan kita besok menandatangani kontrak kerjasama langsung kembali ke Jakarta atau membantu nyonya?"kata Dayat.
"Kamu pulang saja ke Jakarta lebih dulu, biar aku disini membantu Lydia nanti kalau masalah disini sudah selesai aku akan kembali kasian kalau Lydia sendirian."kata Ryan.
"Lama juga gak papa tuan sekalian honeymoon."kata Dayat.
"Ada-ada saja kamu ini, honeymoon apaan kalau pernikahan ini hanya aku saja yang mengharapkannya sedang dia tidak."kata Ryan membuat Dayat terkejut.
"Tapi kalau terpaksa kenapa tadi saya liat nyonya menikmati ciuman kalian tuan?"kata Dayat yang langsung dipelototi oleh Ryan.
"Kamu melihatnya tadi?"kata Ryan.
"Gak sengaja tuan."kata Dayat ssambil nyengir.
"Besok kamu pulang naik pesawat saja biar mobilnya bisa aku bawa kemana-mana."kata Ryan mengalihkan pembicaraan.
"Baik tuan berarti habis bertemu dengan klien saya akan langsung kembali ke Jakarta."kata Dayat.
"Besok aku antar kamu ke bandara baru setelah itu aku menyusul Lydia ke perusahaannya."kata Ryan.
Mereka menghentikan pembicaraan saat masuk ke dalam rumah, Ryan mencari Lydia untuk menanyakan dimana malam ini Dayat akan tidur. Ryan melihat Lydia yang sedang berada dimeja makan sedang menyiapkan sate yang mereka beli tadi sedangkan Dayat menunggu tauannya diruang keluarga sambil bermain ponselnya.
"Sayang..."kata Ryan mendekati Lydia yang berada dimeja makan.
"Ada apa?"kata Lydia.
"Dayat tidur dimana malam ini?"kata Ryan.
"Mana saja dia bisa pilih asal bukan kamar yang tengah sama yang disebelahnya.."kata Lydia sambil kembali menata makanan.
"Memangnya itu kamar siapa sayang?"kata Ryan.
"Kamar tengah punya Widya sedangkan sampingnya yang dekat balkon kamarku."kata Lydia.
"Baiklah, kalau kayak gitu aku bilang dulu ke Dayat."kata Ryan sambil berbalik untuk menemui Dayat.
"Kalian gak makan malam dulu saja?"kata Lydia.
"Ya sudah kalau gitu aku panggil Dayat buat makan dulu habis itu naik keatas."kata Ryan yang setuju dengan perkataan istrinya karena dia juga sudah lapar.
Lydia menyiapkan semuanya saat selesai bertepatan dengan Ryan dan Dayat yang datang ke meja makan. Mereka berdua duduk dimeja makan saling berhadapan satu sama lain membuat Lydiia tersenyum. Saat dia baru saja duduk, Lydia teringat jika belum membuatkan kedua pria itu minum.
"Ya ampun aku lupa gak buatin kalian minum."kata Lydia sambil menepuk jidatnya.
"Sudah gak usah bikin, kita minum air putih saja nanti kalau mau buat sendiri saja kayak dirumah siapa saja."kata Ryan.
__ADS_1
"Iya, nyonya biar nanti saya bikin minum sendiri saja."kata Dayat.
"Maaf ya."kata Lydia yang masih gak enak hati.
Mereka bertiga makan malam bersama sambil bercanda satu sama lain tapi yang paling banyak berbicara Dayat dan Ryan, Lydia sesekali ikut berbicara. Selesai makan saat Lydia mau membereskan meja makan, Ryan melarangnya.
"Sudah kamu naik keatas biar ini kami yang beresin."kata Ryan.
"Tapi..."kata Lydia.
"Gak ada tapi-tapi sudah sana naik mandi terus istirahat pasti kamu capek."kata Ryan.
Lydia yang tak mau berdebat akhirnya menuruti keinginan Ryan, Lydia naik keatas dan setelah itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Saat dia keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Ryan yang masuk ke dalam kamarnya membuat mereka berdua terkejut karena Lydia hanya memakai handuk saja.
"Kamu mau mengodaku sayang?"kata Ryan sambil tersenyum.
"Siapa yang mau mengodamu, aku lupa bawa bajuku. Lagian biasanya aku gak pernah bawa baju ke kamar mandi."kata Lydia.
"Gak papa sih, aku bisa liat tubuh kamu."kata Ryan menyeringai.
"Gak usah macam-macam kamu, sudah sana mandi."kata Lydia.
"Mandi lagi mau?"kata Ryan.
"Gak sudah sana mandi."kata Lydia sambil mendorong tubuh Ryan.
"Kalau kamu mendorongku kayak gini awas nanti handukmu jatuh."kata Ryan yang langsung membuat Lydia memegangi handuknya.
"Ih kamu bisa gak serius sedikit."kata Lydia.
"Kamu mau aku serius?"kata Ryan berbalik badan memandang Lydia.
"Baiklah aku akan serius sekarang."kata Ryan.
Ryan memegang pinggung Lydia dan mendekatkan badan istrinya itu ke badanya membuat Lydia berusaha meronta tapi tenaganya kalah kuat dari Ryan.
"Kalau kamu tetap bergerak jangan salahkan aku kalau aku melakukan lebih dari ini."kata Ryan.
"Apa maskutmu?"kata Lydia.
"Kalau kamu terus bergerak lama-lama milikku akan bangun dan kamu harus tanggungjawab, memangnya kamu sudah siap?"kata Ryan.
"Gak aku gak mau, lagian pernikahan ini dilakukan karena terpaksa."kata Lydia.
"Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku sayang bagaimanapun caranya."kata Ryan yakin.
"Coba saja kalau bisa."kata Lydia.
Ryan tak menjawab perkataan Lydia, dia memilih untuk mencium bibir Lydia awalnya hanya Lydia tak membalas tapi semakin lama Lydia mulai membuka bibirnya sambil menutup mata menikamti ciuman itu. Ryan pelan-pelan menidurkan Lydia diranjang, Ryan masih menahan hasratnya dia tak mau jika Lydia melakukan dengan terpaksa. Saat Ryan sudah mulai gak tahan dia melepaskan ciuman itu lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Pakai bajumu, aku takut nanti jika kamu tetap kayak gitu aku gak bisa nahan diri lagi."kata Ryan sambil meninggalkan Lydia.
Lydia yang ditinggalkan Ryan kecewa karena Ryan meninggalkannya begitu saja, tapi Lydia sadar kalau tadi sudah bilang dengan Ryan kalau dia tak akan melakukan hubungan itu dengan Ryan ternyata suaminya itu benar-benar tak ingin menyentuhnya. Lydia bangun dari ranjang lalu memakai bajunya, sedangkan Ryan memilih untuk bermain solo daripada dia harus memaksa Lydia untuk melakukan hubungan badan tanpa kerelaan Lydia. Ryan takut jika gadis itu akan membencinya, Ryan gak sanggup baru saja dia bisa memiliki Lydia setelah beberapa waktu kehilangan jejaknya.
Lydia yang menunggu Ryan diranjang lama sekali keluar dari kamar mandi bingung suaminya itu sedang apa sudah hampir satu jam Ryan masuk ke dalam kamar mandi. Lydia takut jika Ryan kenapa-napa berjalan untuk memanggil suaminya.
Tok tok tok.
"Kak, kak Ryan kamu gak papakan?"kata Lydia.
__ADS_1
"Ada apa?"kata Ryan sambil membuka pintu kamar mandi.
"Ih pakai bajunya kak."kata Lydia sambil menutup matanya dengan tangannya membuat Ryan gemas sendiri dengan istrinya.
"Ada apa kamu memanggilku?"kata Ryan sambil berjala menuju kopernya.
"Mas ngapain lama sekali dikamar mandi?"kata Lydia yang tetap menutup matanya dengan tangannya.
"Aku mandilah mau apalagi coba kalau gak mandi? Orang punya istri gak mau diajak mandi bareng."kata Ryan sambil memakai pakaiannya.
"Aku gak mau mandi sama kamu, pasti kamu mengambil keuntungan dariku."kata Lydia.
"Kita sama-sama untung sayang, kamu bisa liat tubuhku juga."kata Ryan sambil mendekati Lydia.
"Sama saja."kata Lydia.
"Sampai kapan kamu mau tutup matamu?"kata Ryan.
Lydia yang mendengar perkataan Ryan pelan-pelan membuka matanya, dia melihat Ryan yang berdiri didepannya sambil tersenyum. Lydia menutup pintu kamar mandi terus berjalan ke ranjang lalu berbaring diikuti Ryan.
"Kak, aku mau tanya sesuatu sama kamu?"kata Lydia.
"Kamu mau tanya apa katakan kalau aku bisa jawab akan aku jawab?"kata Ryan.
"Siapa kamu sebenarnya kak?"kata Lydia.
"Aku Ryan."kata Ryan.
"Kak aku serius."kata Lydia kesal.
"Aku Ryan Abimana anak ketiga ayah Dany pemilik perusahaan Karya grup."kata Ryan.
"Bukan itu, aku memang juga ingin tau itu tapi ada yang aku ingin tau lagi tapi bukan itu."kata Lydia padahal sebenarnya dia terkejut tapi dia juga lega karena dia tak merebut Ryan dari Shinta.
"Lalu kamu mau tau apa sayang?"kata Ryan sambil mengelus rambut Lydia.
"Apa hubunganmu dengan toserba dan apartemen yang kita tempati?"kata Lydia.
"Bukannya kamu sudah tau kalau mall itu milikku, toserba yang mana maksutmu?"kata Ryan.
"Toserba yang sama dengan nama supermarket yang ada dibawah apartemen kita."kata Lydia.
"Itu punyaku, toserbalah yang jadi tonggak awal usahaku baru setelah itu aku membangun mall dan apartemen. Kenapa memangnya?"kata Ryan.
"Jangan bilang kalau kamu sudah kenal aku sejak lama?"kata Lydia.
"Aku baru ketemu kamu saat itu."kata Ryan.
"Aku kerja disalah satu toserba milikmu saat kuliah."kata Lydia membuat Ryan terkejut.
"Benarkah kamu gak bohong?"kata Ryan.
"Gak mungkin kak Dayat tau atau mungkin malah lupa."kata Lydia.
"Aku gak nyangka kamu mau bekerja saat kuliah padahal tanpa bekerja orangtuamu bisa mencukupinya. Aku saat masih punya toserba itu memang tak pernah turun ke lapangan karena waktu itu aku lanjut kuliah diluar negeri."kata Ryan membuat Lydia menganggukan kepalanya.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku mau tidur ngantuk."kata Lydia.
"Ya sudah tidurlah, selamat malam."kata Ryan.
__ADS_1
Lydia berbaring dan membelakangi Ryan membuat Ryan menghera nafas dan memeluk tubuh Lydia setelah itu mendekatkannya ke badannya. Lydia mendapat perlakuan seperti itu tersenyum samar. Ryan mencium kening Lydia sambil mengucapkan selamat malam. Malam ini pengantin baru itu tidur sambil berpelukan sedangkan Dayat masih belum tidur karena ada laporan masuk yang dikirimkan anak buahnya mengenai perusahaan Lydia. Dayat mau menghubungi Ryan takut kalau menganggu suami istri itu akhirnya memutuskan untuk mempelajarinya sendiri.