Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan dibuat kesal dua perempuan


__ADS_3

Saat Lydia asik membayangkan tentang jalan-jalan dimall bersama dengan Ryan tadi. Tiba-tiba pintu kamarnya dikeuk dari lar membuat Lydia terpaksa bangun untuk membuka pintu kamar. Saat Lydia membuka pintu kamatnya ternyata mamanya yang mengetuk pintu.


"Mama belum tidur?"kata Lydia.


"Mama mau bicara sama kamu, bi mang bawa masuk barang itu ke kamar Lydia."kata mama Intan.


"Baik nyah."kata bi Nah.


Lydia yang melihat ada banyak barang yang dibawa oleh kedua pembantunya terkejut. Perasaan dia tak membeli atau memesan barang apapun akhir-akhir ini.


"Tunggu tunggu ini barang-barang siapa ma?"kata Lydia.


"Seharusnya mama yang tanya kenapa kamu bisa belanja barang sebanyak ini. Lagian barang-barang ini mama yakin gak berguna buatmu semuanya kecuali kalau kamu menikah nanti."kata mama Intan.


"Maksut mama apa? Aku tadi memang jalan-jalan ke mall tapi aku gak membeli apapun."kata Lydia.


"Kalau kamu gak percaya liat saja semua barang-barang itu milikmu apa bukan."kata mama Intan.


Lydia berjalan mendekati barang-barang yang ditaruh disofa oleh kedua pembantunya itu. Sedangkan pembantunya itu langsung keluar kamar, dikamar itu hanya tinggal Lydia dan mamanya saja. Lydia membuka satu persatu barang itu dan teringat kalau barang-barang itu yang tadi dia tanyakan pada pegawai toko. Lydia menepuk jidatnya sendiri karena gak menyangka jika Ryan benar-benar membeli semua barang-barang itu.


"Kamu kenapa sekarang baru ingat kalau kamu beli barang-barang ini?"kata mama Intan.


"Ma sumpah aku gak beli barang-barang ini."kata Lydia.


"Kalau kamu gak beli kenapa kamu tepuk jidatmu sendiri?"kata mama Intan.


"Sebentar ma."kata Lydia jalan mengambil ponselnya lalu menghubungi Ryan.


Untung saja tanpa menunggu lama Ryan sudah mengangkat panggilan itu jadi tak membuat Lydia kesal seperti kemarin.


[Hallo Asalamualikum...]


[Walaikumsalam kamu dimana Yan?]


[Aku baru saja sampai diparkiran Rumah Sakit ada apa?]


[Kamu gila ya?]


[Eh ada apa nih kok marah-marah.]


[Siapa yang suruh kamu buat beli semua barang-barang yang aku tanya sama karyawan tadi?]


[Bukannya kamu yang bilang tadi kalau nyuruh aku beli.]


[Astaga Yan, aku tadi hanya bercanda tau gak. Sekarang mama marah sama aku katanya aku hambur-hamburkan uang buat hal yang gak perlu.]


[Sekarang tante Intan mana biar aku yang bicara sama beliau?]


"Nih ma, Ryan mau bicara sama mama."kata Lydia memberikan ponselnya pada mamanya.


[Hallo, ini tante Yan. Ada apa?]


[Tan, jangan salahkan Lydia. Aku yang membeli barang itu buat Lydia.]


[Jadi kamu yang membelinya Yan?]


[Iya tan, maaf kalau buat tante marah.]


[Ya jelas tante marah Yan, ini namanya pemborosan. Walaupun yang membelikan kamu tapi pasti Lydia yang memilih barang-barang ini, iyakan?]


[Tan saya yang memaksa Lydia untuk menerima barang-barag itu. Jadi saya mohon jangan salahkan dia.]


[Baiklah tapi apa janji sama tante lain kali jangan terlalu memanjakan Lydia lagi.]


[Baik tante, tapi aku gak janji untuk tak memanjakannya setelah ini.]


[Terserahmu, ya sudah tante kasih lagi ke Lydia.]


"Nih, mama mau masuk kamar lagi papamu pasti sedang menunggu. Ingat jangan minta macam-macam lagi sama Ryan kecuali kalau kalian sudah menikah."kata mama Intan.


[Ish puas kamu ak dimarahin sama mama?]


[Maaf, ya sudah aku gak akan ulangi itu lagi. Ya sudah kalau kayak gitu aku tutup dulu panggilannya. Kamu istirahat besok pagi sudah mau berangkat ke puncakkan]


Lydia tak menjawab perkataan Ryan tadi malah mematikan panggilan itu membuat Ryan menghera nafasnya. Lydia setelah mengakhiri panggilan dari Ryan langsung melempar ponselnya lalu membuka semua paperbag yang dibelikan oleh Ryan tadi.


Lydia saat membuka-buka semua barang-barang itu mempunyai ide untuk menjahili Ryan saat divilla nanti. Lydia membawa satu pasang baju haram dan dia letakkan didalam koper. Setelah dia membereskan barang-barang itu Lydia memutuskan untuk tidur.


Ryan sendiri setelah mengakhiri panggilan dengan Lydia, berjalan menuju ruang rawat kakaknya. Saat dia baru saja masuk ke dalam semua keluarga yang ada disana memandang kearah Ryan.


"Kamu darimana kok gak kelihatan daritadi?"kata bunda Arina.


"Maaf bun, aku tadi jemput Lydia terus mengantarkan dia berbelanja dimall buat acara besok."kata Ryan.


"Memang besok mau kemana?"kata bunda Arina yang pura-pura tak tau Ryan mau kemana.


"Aku mau ke puncak ada acara perusahaan milik om Irwan."kata Ryan

__ADS_1


"Kamu gak mau temani mbak pulang dari Rumah Sakit?"kata Shinta.


"Aku berangkat sorenya setelah mbak pulang dari sini."kata Ryan.


"Kamu memang adik mbak yang paling pengertian sama mbak."kata Shinta sambil tersenyum.


"Oh jadi yang paling pengertian hanya Ryan saja aku gak?"kata Anton yang pura-pura merajuk.


'Ya ampun kakak juga kakak yang paling sayang dan pengertian. Aku tadikan bilang adik memangnya kakak adik aku gitu aja sudah ngambek?"kata Shinta.


"Biarin, kalau mau muji tu jangan satu-satu tapi dua-duanya biar gak ada yang merasa terabaikan."kata Anton.


"Kak, kakak mau dipuji setiap hari?"kata Ryan.


"Ya maulah."kata Anton.


"Kakak nikah gih cepat biar tiap hari dipuji sama istrimu nanti kayak bunda sama ayah."kata Ryan.


"Ish menikah itu gak bisa asal-asalan Yan."kata Anton.


"Baiklah terserah kamu saja kak."kata Ryan.


"Sudah, sudah kalian berdebat terus. Kalian gak mau pulang?"kata bunda Arina.


"Mau dong bun, lagian sudah ada yang menemaninya."kata Ryan.


"Eh kamu baru datang mau pergi lagi?"kata Shinta.


"La aku mau ngapain disini mau jadi obat nyamuk ya gak maulah, besok saja aku datang lagi."kata Ryan.


"Awas saja kalau kamu gak datang besok."kata Shinta.


"Kalau aku gak datang memangnya mbak mau apa?"kata Ryan.


"Ada deh rahasia, sudah sana pergi."kata Shinta.


"Oke, mbak yang ngusir aku lo ya."kata Ryan sambil berjalan pergi membuat mereka hanya geleng-geleng kepala.


"Kak, adikmu tu."kata Shinta.


"Adikmu juga, sudah kakak pulang dulu. Jon jangan macam-macam kamu ini Rumah Sakit."kata Anton.


"Siap kak."kata Jono.


"Kakak ngomong apaan sih."kata Shinta.


Saat Ryan melewati kerumunan itu tak sengaja melihat Diego yang memandangnya tapi Ryan lebih memilih untuk tak perduli. Baginya berurusan dengan perempuan yang berkelahi itu sangat merepotkan bisa-bisa dia yang akan dijadikan sasaran mereka.


Ryan baru saja masuk ke dalam unit apartemennya ponselnya berbunyi. Ryan melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari Lydia. Ryan langsung saja mengangkat panggilan itu.


[Hallo Asalamualaikum...]


[Walaikumsalam kamu dimana sekarang?]


[Aku baru saja sampai diunitku, ada apa?]


[Apa mereka berdua tadi sudah berhenti berkelahi?]


[Belum, mereka masih bertengkar saat aku tinggal tadi memangnya ada apa?]


[Kenapa kamu gak melerainya?]


[Aku gak mau, lagian sudah ada Diego.]


[Kalau aku yang beratem apa kamu juga akan meninggalkanku begitu saja?]


[Ya gaklah, tapi aku akan gendong kamu untuk aku ajak pergi jauh. Aku malas kalau melerai perempuan itu pasti akan sangat menganggu iya kalau aku gak sengaja kena bogem bagaimana hilang dong ketampanan saya.]


[Ish pede banget sih, ya sudah kalau kayak gitu aku tutup dulu mau tidur. Ingat besok nyusul ke puncak.]


[Kayaknya berharap banget aku ikut?]


[Siapa yang berharap kalau gak mau ikut ya sudah, bye.]


Lydia mematikan panggilannya dengan Ryan karena dia gak mau kalau sampai Ryan tau jika sebenarnya dia sangat berharap Ryan ikut. Ryan sendiri hanya menghera nafas setelah itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelum tidur dia menyiapkan beberapa pakaian dan dimasukkan ke dalam tas ransel yang akan dia bawa ke puncak besok setelah itu dia meutuskan untuk tidur.


Keesokan paginya Lydia semangat sekali bangun. Dia bangun mandi setelah bersiap-siap membawa kopernya turun kebawah ternyata saat sampai bawa orangtuanya sudah berada dimeja makan.


"Pagi ma, pa...."kata Lydia sambil tersenyum.


"Tumben hari ini ada yang semangat banget ma memangnya ada apa?"kata papa Irwan.


"Mungkin lagi senang karena Ryan mau ikut kita muncak pa?"kata mama Intan.


"Ih kok ke Ryan sih ma, aku senang karena sudah lama gak liburan bareng kalian. Oh ya kak Hendru sama Widya gak ikut ma?"kata Lydia.


"Gak Hendru gak izinin Widya ikut kan sekarang Widya hamil muda masak kamu gak tau sih?"kata mama Intan.

__ADS_1


"Oh ya aku lupa ma."kata Lydia.


"Kamu berangkat bareng kita atau naik bus sama yang lain?"kata papa Irwan.


"Bareng kalianlah, Sandra gak ikut soalnya kalau dia ikut aku mau naik bus nemenin dia."kata Lydia sambil menikmati sarapannya.


"Kapan Sandra kembali ke Jakarta kok papa gak tau?"kata mama Intan.


"Dia datang kemarin tapi langsung masuk kerja."kata Lydia.


"Gak punya rasa lelah memang tu anak."kata mama Intan.


"Iya katanya rasa lelah dia akan hilang kalau sudah melihat kebahagian diwajah orangtua dan adiknya."kata Lydia.


"Adiknya Sandra berapa sih Ly?"kata mama Intan.


"Dua ma, yang satu kuliah yang satu masih SMA."kata Lydia.


"Oalah.."kata mama Intan.


"Sudah habisin sarapannya setelah itu kita berangkat kalau kesiangan nanti takut macet."kata papa Irwan.


Mereka bertiga setelah menyelesaikan sarapannya berangkat menuju puncak. Sedangkan Ryan baru bangun melihat ponselnya ternyata ada pesan dari Hendru suruh datang ke perusahaan pagi ini. Ryan besiap-siap setelah itu berangkat ke perusahaan Hendru tanpa sarapan terlebih dahulu. Tapi dia tak lupa membawa tas ransel yang berisi pakaiannya yang mau dia bawa ke puncak.


Sampai diperusahaan Hendru, Ryan langsung saja menuju ruangan Hendru. Saat dia masuk ke dalam terdengar suara Hendru yang marah-marah dengan asisten barunya.


"Ada apa ini?"kata Ryan.


"Untung kamu datang, aku tanya sama kamu bagaimana kamu mencarika ku asisten sih?"kata Hendru.


"Memangnya ada apa? Dia asisten terbaik daripada yang lainnya."kata Ryan.


"Terbaik kamu bilang nih kamu liat sendiri bagaimana dia mengerjakan pekerjaannya."kata Hendru sambil melempar berkas ke Ryan.


Ryan mengambil dan membaca berkas-berkas itu ternyata memang salah membuat Ryan menghera nafas.


"Ayo ikut aku biar aku ajari."kata Ryan.


"Awas saja kalau salah lagi."kata Hendru.


"Manusia itu salah wajar kalau gak ada kesalahan itu yang perlu dicurigai."kata Ryan.


"Bela terus, sudah sana ajari sampai dia bisa."kata Hendru.


"Aku gak janji, hari ini aku harus jemput kakakku dari Rumah Sakit. Setelah itu aku harus langsung ke puncak."kata Ryan.


"Oh ya aku lupa, gak papa hari ini kamu bisa bebas tapi setelah dari puncak kamu masih ada tugas buat ngajari dia, walaupun kemampuannya tak sepertimu setidaknya dia berikan yang terbaik dari dirinya."kata Hendru.


"Baiklah, kamu dengarkan apa kata pak bos, aku akan mengajari kamu sampai bisa tapi hari ini hanya memperbaiki ini saja."kata Ryan.


"Baik tuan."kata asisten Hendru.


"Ya sudah ayo sekarang keluar, aku keluar dulu Ndru. Kamu juga jangan terlalu galak sama dia, dia masih baru."kata Ryan.


"Tergantung sama kerjaannya."kata Hendru.


Ryan membawa asisten Hendru yang baru keluar dari ruangan Hendru. Ryan mengajari asisten itu mengerjakan laporan itu sapai benar. Ryan juga memberikan catatan untuk asiste Hendru yang baru itu. Setelah memberikan arahan Ryan pergi dari perusahaan itu, karena mbak Shinta sudh menghubunginya daritadi. Baru saja Ryan masuk dalam mobil ada satu panggilan yang membuatnya tersenyum senang.


[Hallo Asalamualaikum...]


[Walaikumsalam, kamu dimana Yan?]


[Aku ada diperusahaan Hendru ada apa?]


[Kamu jam berapa berangkat ke puncak?]


[Memangnya sekarang kamu ada dimana? Aku gak tau jam berapa sampai sananya soalnya ini aku mau keluar bentar ada yang harus aku urus.]


[Aku baru saja sampai divilla kalau kamu nanti sudah mau sampai sini bilang, biar aku jemput takutnya nanti kamu malah ke villa karyawan lagi.]


[Oke nanti aku hubungi, sekarang aku tutup dulu ya soalnya aku sedang nyetir nih.]


[Ya sudah hati-hati bawa mobilnya]


Ryan menghera nafasnya karena dua perempuan yang dia sayang benar-benar cerewet untung saja dia sayang dengan mbak dan calon istrinya. "Eh tapi kalau aku gak sayang sama Lydia gak mungkin dia akan jadi calon istriku."kata Ryan berbicara sendiri didalam mobil.


Saat dia sampai diparkiran Rumah Sakit ponselnya berbunyi lagi tapi itu panggilan dari Shinta.


[Hallo mbak...]


[Kamu dimana dek, katanya mau ikut jemput mbak?]


[Iya ini lagi jalan keruangan mbak, maaf tadi ada kerjaan diperusahaan Hendru mendadak.]


[Bohong pasti kamu bangunnya kesiangan pakai jadikan Hendru tumbal lagi.]


[Ish kalau gak percaya tanya sendiri sama Hendru. Sudah aku didepan ruanganmu nih.]

__ADS_1


Ryan mematikan panggilan dan masuk ke dalam ruang rawat Shinta. Saat dia masuk sudah ditatap Shinta dengan tatapan intimidasinya membuat Ryan menghera nafas sedangkan Anton malah tersenyum sebab sebentar lagi ada tontonan gratis baginya.


__ADS_2