
Mereka meneruskan perjalanan menuju rumah Shinta, saat mereka sampai ternyata Shinta sudah menunggu didepan rumah. Mereka berdua keluar dari dalam mobil untuk menghampiri mbak Shinta tapi mereka terkejut karena mbak Shinta menangis. Lydia dan Ryan cepat menghampiri mbak Shinta.
"Mbak, mbak kenapa?"kata Lydia.
"Dek, bawa mbak pergi sekarang dari sini."kata Shinta.
"Tapi mbak sudah minta izin sama Jono?"kata Ryan yang gak mau kalau Shinta dan Jono salahpaham.
"Bawa aku pergi untuk sementara waktu, aku ingin menenangkan diri dulu. Kalau tetap disini takutnya nanti malah tambah besar masalahnya karena kami sama-sama emosi."kata Shinta.
"Sudah mas, kita bawa mbak Shinta ke rumah bunda saja. Nanti kalau Jono sudah tenang pasti dia akan menyusul mbak Shinta kesana."kata Lydia.
"Lalu dimana sekarang Jono kok gak kelihatan?"kata Ryan.
"Dia pergi dari rumah Yan, aku gak kuat kalau dirumah sendiri karena gak ada yang aku ajak berbicara."kata Lydia.
"Memangnya mertua mbak kemana?"kata Lydia.
"Mama ikut papa bekerja ke luar kota, lusa baru pulang."kata Shinta.
"Ya sudah ayo kita berangkat ke rumah bunda tapi nanti mampir ke penjual es disebelah sana tadi Lydia mau, mbak mau dibeliin sekalian gak?"kata Ryan.
"Memangnya es apa?"kata Shinta.
"Es buah mbak, mbak mau gak biar nanti sekalian dibeliin sama kak Ryan?"kata Lydia.
"Mau dek."kata Shinta.
"Ya sudah kalau kayak gitu."kata Ryan.
Ryan menepikan mobilnya ditepi jalan setelah itu keluar untuk membeli es buah yang diinginkan oleh istrinya. Saat Ryan pergi membeli es Lydia mencoba berbicara dengan kakak iparnya siapa tau kakak iparnya itu mau bercerita padanya.
"Kak kalau aku boleh tau kalian ada masalah apa?"kata Lydia.
"Kami hanya salahpaham kok dek, aku saja yang gak bisa menahan emosiku. Kamu kan tau kalau aku anak perempuan satu-satunya yang selalu dimanja dan kalau punya keinginan pasti dituruti oleh mereka. Mungkin sejak aku menikah aku terlalu menuntut mas Jono untuk menuruti semua keinginanku."kata Shinta sambil menghela nafas gak mungkin dia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada rumahtangganya.
Ryan benar jika Jono itu bukan pria yang baik, dia hanya baik padanya saat ada orangtuanya saja sedangkan saat orangtuanya gak ada dia gak akan kasar sama Shinta.
"Mbak sebaiknya mbak jujur sama aku, aku gak akan bilang sama kak Ryan kok?"kata Lydia yang tau jika kakak iparnya menyimpan rahasia.
"Aku gak papa dek."kata Shinta.
"Kak, kita sama-sama perempuan aku bisa melihat kalau mbak merahasiakan sesuatu. Aku tau mbak gak mau cerita sama aku tapi kalau mbak mau cerita aku siap kapan saja mendengar keluh kesahmu."kata Lydia.
"Makasih dek, aku akan cerita sama kamu kalau aku sudah siap dek."kata Shinta.
"Baiklah."kata Lydia.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu Ryan masuk kedalam mobil dengan membawa es buah yang dipesan oleh Lydia dan kakaknya. Ryan juga membelikan es buah untuk bundanya.
"Kak itu apa?"kata Lydia yang melihat ada kotak kecil.
"Ini salad buah kamu mau?"kata Ryan.
"Aku boleh nyicip sedikit gak?"kata Lydia.
"Kamu habisini juga boleh kok."kata Ryan sambil memberikan salad buah itu pada Lydia.
"Makasih."kata Lydia sambil tersenyum.
Shinta yang melihat perlakuan Ryan pada Lydia tersenyum tapi dalam hatinya dia juga iri awal menikah dulu Jono juga perhatian padanya tapi entah kenapa makin kesini suaminya itu semakin kasar.
"Mbak mau?"kata Lydia.
"Gak dek makan saja."kata Shinta sambil tersenyum.
"Ada yang mau dibeli lagi gak mumpung kita masih disini?"kata Ryan bertanya pada istri dan kakaknya.
"Sudah tapi nanti kalau ada penjual molen kita beli ya."kata Lydia.
"Oke kita cari sambil jalan, mbak mau apa?"kata Ryan bertanya pada Shinta biar bagaimana pun dia ingin tetap adil pada istri dan kakaknya dia gak mau salah satu cemburu.
"Aku gak mau apa-apa dek."kata Shinta.
"Siap tuan Ryan."kata Lydia sambil hormat pada suaminya membuat Ryan gemas lalu mengacak rambut istrinya itu.
Ryan menjalankan mobilnya saat diperjalanan Lydia selalu berusaha untuk mengajak kakak iparnya berbicara tapi respon Shinta hanya singkat saja. Ryan yakin jika masalah yang dihadapi kakaknya itu pasti besar dan sulit diselesaikan, Ryan habis mengantar kakaknya akan mengajak Jono untuk bertemu. Dia ingin mendengar langsung dari Jono masalah apa yang dihadapi oleh keduanya karena kalau Ryan tanya pada Shinta pasti kakaknya itu gak akan jawab jujur.
Sampai dirumah orangtua Ryan, Ryan membantu Shinta turun lalu mengajak mereka berdua masuk. Bunda Airin yang melihat putrinya datang bersama anak dan menantunya terkejut.
"Loh kalian datang bertiga Jono mana?"kata bunda Airin.
"Dia sedang sibuk kerja bun, daripada aku dirumah sendiri aku suruh Ryan jemput untuk diantar kesini."kata Shinta berkata duluan kalau Ryan yang berbicara duluan pasti adiknya itu akan cerita jika dia dan Jono sedang bertengkar.
"Yah, yah sini. Ini ada Shinta, Lydia dan Ryan nih."kata bunda Airin berteriak.
"Memangnya ayah sedang apa bun?"kata Lydia.
"Biasa ayahmu kalau jam segini pasti semedi diruang kerjanya."kata bunda Airin.
"Biarkan saja bun gak usah dipanggil mungkin ayah sedang sibuk dengan pekerjaannya."kata Shinta yang gak mau menganggu ayahnya.
"Ya sudah kalau kayak gitu ayo kita keruang tengah saja disana lebih nyaman daripada disini."kata bunda Airin.
Mereka semua menuju ruang keluarga sampai disana Lydia duduk disofa sedangkan Ryan dan bunda Aisha mengapit Shinta. Lydia yang melihat keakraban itu senang karena keluarga Ryan benar-benar saling sayang satu sama lain.
__ADS_1
"Sayang aku mau pergi sebentar ya."kata Ryan.
"Kamu mau kemana kak? Aku boleh ikut gak?"kata Lydia.
"Maaf ya sayang aku gak bisa ngajak soalnya temanku ini laki-laki nanti kalau kamu ikut dia gak nyaman."kata Ryan.
"Ya sudah deh tapi kakak gak lama 'kan perginya?"kata Lydia.
"Gak kok, kamu mau nitip apa biar nanti aku bawakan?"kata Ryan.
"Gak usah, aku hanya mau kamu cepat pulang."kata Lydia.
"Aku janji akan cepat pulang kalau kayak gitu aku pergi dulu, bun nitip istriku yang paling aku sayang ini ya."kata Ryan sambil mengelus rambut Lydia.
"Sayang, beneran sayang masak ditinggalin terus?"kata Lydia kesal membuat Ryan dan kedua perempuan yang ada disana tersenyum.
"Kamu gak biasanya manja kayak gini deh Ly?"kata Ryan.
"Hmmm berarti aku gak boleh manjalah ini? Kalau gak boleh manja ya sudah aku gak akan manja lagi."kata Lydia.
"Sayang bukan maksutku gak boleh manja tapi gak biasanya istri aku ini menempel sama aku, biasanya paling susah kalau mau didekati."kata Ryan.
"Sudah pergi sana atau aku malah mau ikut kamu pergi nanti."kata Lydia kesal.
"Ya sudah aku gak akan lama kok, aku tau kamu ingin ke resto 'kan? Nanti aku bilang sama pemiliknya suruh buka sampai kita datang."kata Ryan berbisik pada Lydia.
"Janji."kata Lydia penuh harap membuat Ryan tersenyum ternyata membahagiakan Lydia itu mudah sekali dengan menuruti keinginan dia yang sederhana saja sudah buat dia bahagia.
"Iya nyonya Ryan, aku pergi dulu ya. Awas saja kamu teleponan sama pria kayak semalam."kata Ryan.
"Kayaknya semalam aku gak teleponan sama siapa-siapa deh hanya teleponan sama Rima dan kak Kevin."kata Lydia.
"Kamu bilang kangen kemarin sama siapa?"kata Ryan membuat Lydia tersenyum.
"Kamu tau siapa yang aku bilang sayang itu, sudah katanya mau pergi nanti kemalaman."kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku pergi dulu."kata Ryan.
Ryan mencium kening Lydia setelah itu berpamitan pada kedua bunda dan kakaknya. Saat Ryan meninggalkan rumah itu Shinta mengoda Lydia membuat Lydia malu.
"Bun, kayaknya sebentar lagi kita akan dapat anggota baru."kata Shinta.
"Semoga saja amin, Kita liat saja nanti siapa yang duluan memberikan mama cucu?"kata bunda Airin.
"Ah bunda bisa saja, aku yakin kalau dari tingkah laku Ryan dan Lydia pasti merekalah yang akan dapat momongan duluan."kata Shinta.
"Doakan saja yang terbaik buat kami bun, mbak."kata Lydia.
__ADS_1