Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan berangkat ke Itali


__ADS_3

Shinta berusahha membuang perasaannya itu karena dia meyakinkan dalam hatinya dia akan bercerai dengan Seno. Walaupun dia tak bersatu dengan Ryan tapi yang terpenting dia bisa pergi dari kota ini, Shinta malu jika bertemu dengan orangtua dan keluarga lainnya karena pada kenyataannya dia adalah anak dari hasil perselinggkuhan dan tak diinginkan oleh orangtuanya.


Shinta mencoba untuk tidur sedangkan Ryan sampai apartemennya memeluk foto istrinya sambil tertidur pulas. Pagi harinya Dayat mengetuk pintu kamar Ryan membuat pria itu terbangun membuat Ryan kesal sebenarnya karena Dayat menganggu tidurnya tapi saat mengingat jika dia harus pergi keluar negeri memaksanya untuk membuka mata. Saat dia membuka mata, Dayat masuk kedalam kamar Ryan dengan mengunakan kunci cadangan yang dia miliki. Dayat menghela nafasnya saat melihat Ryan masih terduduk diranjangnya.


"Bangun, bersih-bersih jangan sampai kita tertinggal pesawat."kata Dayat.


"Iya iya ini bangun, kamu itu kayak istriku saja tau gak cerewet banget."kata Ryan.


Ryan setelah berkata begitu langsung bangun lalu masuk kedalam kamar mandi. Dayat setelah kepergian Ryan melihat ada foto pernikahan Ryan dan Lydia hanya menghela nafas sambil berkata "kamu dimana Ly? Kasian Ryan hampir gila semenjak kepergianmu."kata Dayat lirih sambil meletakkan foto itu kembali ke tempatnya.


Saat Dayat sedang melamun Ryan keluar dari kamar mandi, Ryan yang melihat itu hanya menghela nafas sambil mendekati teman sekaligus asisten pribadinya itu. Ryan menepuk punggung Dayat membuat Dayat terkejut, saat Dayat tersadar dari lamunannya Ryan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Kali ini dia tak membawa baju banyak karena niatnya setelah melakukan kesepakatan dia akan langsung pulang ke Jakarta untuk mencari istrinya.


"Kamu hanya bawa ransel ini saja?"kata Dayat.


"Iya memangnya kenapa? Bukannya kita hanya menandatangani kontrak kerjasama dan membahas apa yang kurang saja jadi untuk apa bawa banyak pakaian?"kata Ryan.


"Kamu gak mau mencari Lydia diItali? Bukannya kamu bilang kalau Lydia suka dengan negara itu?"kata Dayat.


"Kalau memang kita harus cari Lydia disana, nanti bisa beli pakaian disana daripada bawa banyak bukannya sekarang sedang musim dingin?"kata Ryan membuat Dayat mengangguk.


"Kamu sekarang boros sekali gak seperti dulu?"kata Dayat.


"Buat apa uangku kalau tak buat kayak gini, lagian gak ada yang mengunakannya."kata Ryan sambil menghela nafasnya karena selama Lydia pergi istrinya itu tak pernah sekalipun mengambil uang yang dia berikan setiap bulannya.


"Memangnya Shinta saat jadi istrimu tak memakai uang itu? Lydia juga tak mengambil uang yang selama ini kamu berikan padanya?"kata Dayat.


"Dia pakai buat senang-senang dengan mama kandungnya sedangkan Lydia sama sekali tak memakai uang yang aku berikan. Sudah ayo berangkat."kata Ryan.


Mereka berdua pergi ke bandara seperti biasa tak ada yang mengantar, mereka sampai dibandara langsung diarahkan menuju pesawat pribadi mereka. Ryan beberapa bulan ini memang Ryan sering bolak-balik keluar negeri jadi dia memutuskan untuk membeli pesawat pribadi karena dia malas kalau harus mencari jadwal penerbangan. Dengan memiliki pesawat sendiri dia bebas kapan saja mengunakan pesawat. Berbeda dengan Lydia yang berada diItali, pagi ini perempuan itu tak tertidur lagi setelah menyusui Raka karena dia harus menyiapkan bahan untuk presentasi nanti. Dahlia yang mau mengambil air minum saat melihat kamar Lydia terbuka sedikit langsung saja melihat ke dalam karena kamar itu nyala dengan sangat terang.

__ADS_1


"Kamu belum tidur?"kata Dahlia membuat Lydia terkejut.


"Kamu sendiri ngapain jam segini bangun? Aku baru saja menyusui Raka dan teringat kalau nanti klien baru datang."kata Lydia.


"Aku mau ambil minum dan melihat kamarmu masih menyala makanya aku masuk siapa tau kamu kerepotan sama Raka aku 'kan bisa bantu?"kata Dahlia.


"Tadi dia menangis karena haus tapi setelah aku menyusuinya dia tertidur lagi."kata Lydia yang masih tetap fokus dengan laptopnya.


"Kamu ini memangnya gak capek apa jam segini masih kerja, pulang kerja jaga Raka? Ly, kamu gak ada keinginan kembali sama suamimu bukankah dengan kamu kembali padanya kamu bisa merawat Raka seutuhnya?"kata Dahlia.


"Aku bukannya sudah bilang, aku hanya ingin hidup tenang. Aku bahagia tingga berdua dengan Raka."kata Lydia.


"Raka butuh kasih sayang seorang ayah Ly, apa kamu tak mencintai suamimu lagi?"kata Dahlia.


"Aku sangat mencintainya tapi aku juga gak bisa dia dalam bahaya sudah cukup aku kehilangan Tiara. Dengan Ryan hidup bahagia disana sudah cukup bagiku."kata Lydia.


"Maksutmu apa?"kata Lydia.


"Ly, aku tau kamu sering melihat laptopmu didalam sana ada video Ryan, aku tanya sama kamu apa Ryan dulu sedingin dan sekejam itu saat dengan karyawannya?"kata Dahlia membuat Lydia terkejut.


"Aku gak tau soal itu tapi dia selalu bersikap lembut padaku."kata Lydia sambil tersenyum saat mengingat bagaimana Ryan memperhatikannya.


Dahlia ikut tersenyum saat melihat Lydia juga tersenyum, Dahlia berjanji dalam hatinya akan membuat Lydia tersenyum dan bahagia kembali. Dahlia akan mencaritau dimana suami Lydia tinggal dan akan memberitau dirinya kalau Lydia ada bersamanya tapi untuk mendapatkan maaf dan kesempatan biarlah dia berusaha sendiri.


"Habis ini tidur aku mau ambil air lagi besok pasti akan melelahkan bagi kita berdua, apalagi kamu yang akan bertemu klien entah bagaimana sifatnya?"kata Dahlia.


"Iya dikit lagi aku akan menyelesaikannya setelah itu aku akan tidur."kata Lydia.


"Ya sudah aku pergi ingat jaga kesehatanmu jangan sampai kamu sakit karena kalau sampai kamu sakit kasian Raka pasti dia juga akan merasakannya."kata Dahlia.

__ADS_1


"Iya, sudah sana bukannya nanti kamu punya kerja berat?"kata Lydia yang tau kalau hari ini Dahlia ada sidang.


"Iya iya aku yang khawatir sama kamu malah kamu yang ceramahin aku."kata Dahlia kesal membuat Lydia tersenyum.


"Maaf sudah sana kalau kamu bicara terus kapan aku bisa menyelesaikan pekerjaanku."kata Lydia.


"Baiklah, aku pergi."kata Dahlia.


Dahlia pergi meninggalkan kamar Lydia sedangkan Lydia kemballi sibuk dengan pekerjannya. Tapi belum selesai Lydia menyelesaikan pekerjanan itu dia sudah tertidur. Saat Lydia terbangun jam sudah menunjukan pukul 7 lebih membuatnya cepat-cepat masuk kamar mandi. Saat dia baru selesai mandi Lydia teringat Raka, Lydia mendekati box putranya tapi putranya itu tak ada didalam box membuatnya berlari keluar mencari Raka ternyata Raka sedang bermain dengan Dahlia. Lydia berjalan mendekati Raka lalu bayi kecil itu tersenyum saat melihat mommynya. Dahlia yang melihat itu berbalik ke belakang.


"Pantas saja kamu meronta ternyata kamu liat mommy?"kata Dahlia sambil tersenyum.


"Kapan kamu ambil Raka kok aku gak tau?"kata Lydia.


"Tadi pagi-pagi sekali mak Masnah yang ambil Raka karena aku juga belum bangun tadi."kata Dahlia sambil memberikan Raka pada mommynya bayi kecil itu selalu meronta jika bertemu dengan mommynya.


"Sekarang mak Masnah kemana kok gak ada?"kata Lydia sambil bermain dengan putranya.


"Dia mau ke supermarket bentar beli camilan buat Raka dan bahan makanan. Dia mau ajak Raka takutnya gak bisa beli banyak barang makanya dia titipkan Raka padaku."kata Dahlia.


"Memangnya kamu gak kerja?"kata Lydia.


"Aku langsung ke pengadilan jam 10 jadi masih banyak waktu untuk bermain dengan Raka."kata Dahlia.


"Syukurlah kalau begitu aku akan berangkat dengan tenang."kata Lydia.


"Sudah kamu makan dulu terus berangkat sana biar Raka sama aku, ayo sayang biar mommy makan terus berangkat kerja."kata Dahlia mengambil kemmbali Raka dari gendongan Lydia.


Bayi kecil itu mungkin mengerti dengan perkataan Dahlia sehingga dia tenang saat dia gendong lagi. Lydia juga makan sambil mengawasi putranya yang sedang disuapi oleh Dahlia bayi kecil itu biasanya kalau ada dirinya akan rewel dan harus dia yang menyuapi Raka tapi hari ini dia mau disuapi oleh Dahlia.

__ADS_1


__ADS_2